Kamis, 01 Oktober 2009

Yang Berasal Dari Potongan Bunyi

ada yang telah keluar dari
rumahnya,
bunyi yang lagi mengguncang.

pada setiap potongan-potongan
yang belum sempat ditafsirkan
laksa jejak yang retak terbentang

tidak berupa ombak yang
menderu
tembok-tembok di pantai,

pun bukan perahu-perahu cadik :
yang kian asin di dada laut panjang

pada setiap potongan
keluar bunyi yang lagi
mengguncang, meretakkan.



_untukmu padang_

30 September 2009

Rabu, 30 September 2009

Saya Katakan, "Sayalah yang di depan Pintu itu."

orang yang kucintai bertanya saat aku mengunjunginya,
siapa yang berdiri di depan pintu? jawabku, aku.
katanya, kau salah kenalkan diri ketika kita dipisahkan di dalamnya.
setahun telah berlalu dan tatkala aku mendatanginya,
kuketuk pintu dengan melemahkannya.
dia bertanya kepadaku, siapa engkau,
kujawab, kulihat hanya engkau di depan pintu.
dia berkata padaku, kau telah tepat kenalkan diri
dan kau tahu makna cinta, masuklah.*


*dikutip dari La Tahzan, halaman 331

mencapai kenangan

_tersebab rasti_

/1/
"dengan ujung matahari paling lindap
kenangan kita makin panjang ke barat
mencapai bulan yang kian karat
oleh malammalam cemar dan lagi pekat"

/2/
"kita sama dengan
daun yang goyang
dari pohon yang banyak
cabang"

Senin, 28 September 2009

tanah subuh

Burung telah datang membawa banyak benih biji dan sari yang terkandung dalam rahim tanah (tempat menggeraikan tubuh mereka saat gelombang hujan badai gulungan gerimis yang landai)

siang menepi membawa burung terbang

burung itu beramsalkan pohon yang banyak daun juga buah rambutan : yang asalnya dari benih biji yang banyak rambutnya
sama seperti bulu burung yang kadang rontok
menyentuh segala ujung pangkal yang
membikin banyak
tanaman
yang mengalir dalam rahim tanah di mana
pinggulnya :
subur
lebih dari segenap gerimis sebelum hujan mengalir
banih
baru bagi
banyak tanaman....


palembang, 2009

Kamis, 24 September 2009

Sebelum Sempat

malam tanpa sisa matahari dan sepenggal bulannya
adalah kesenyapan yang menuntaskan rindu
sebelum sempat tergelar di waktu subuh



2009

Sengai Perawan Tanpa Lelaki yang Datang

sepanjang perjalanan di hutanhutan
sungai tetap sama mengalir
mengairi tanahtanah
yang belum ditumbuhi benih
yang masih perawan
tanpa lelaki yang singgah
sekedar mencetak telapak kaki
yang penuh dengan kotoran

pada riaknya yang masih tenang
dan belum gelombang
semua masih bergelayut di tempat yang sama
tanpa tanda kedatangan

ada yang kosong di rahim mereka
(benihbenih yang belum ditanam)
"hai lelaki yang dulu singgah
kemana nakalmu yang telanjang
di sini telah berlapang
selaksa bulu tanpa benang"

sungai yang perawan
membawa dirinya
terus mengairi tanah
seperti anak mereka yang harus
diberi makan bekas kerinduan



palembang, september 2009

Paku

. . . . . . .




(begitulah ia menajamkan kepalanya,
meruncingkan ujungujung yang kian tajam
oleh segala lapis ranggas yang berkarat)



Begitulah kiranya




Palembang, September 2009

Kamis, 17 September 2009

Daun Yang Jatuh Bersama di Depan

Udara yang dihembuskan oleh burung yang bertengger di pohon mahoni ternyata lebih dingin dan lebih segar dari udara yang keluar dari nafas pohon-pohon itu sendiri. Saat semua panas tersedot ke dalam bulubulu hidung dan ronggarongga dada, mereka mencerna dan lalu menyimpannya di wadah yang kedap wangi (bau yang mencari kesegarannya).

Setelah burung itu menghembuskan untuk kedua kalinya
Basahlah semua tanah yang mengering karena terlalu banyak
Menguapkan kerinduan hujan yang masih jauh untuk sampai dan
Lagi membasahi setelah sempat lebih dulu udara itu menggamitnya.

(bukan main beningnya dibanding kaca di permukaan air dangkal yang banyak
ikannya)

Lalu udara itu menangkap semua yang gelombang. Pernah saat itu daun yang jatuh bersamasama di depan (yang dulu bergelayut pada induknya) di ambil lagi supaya jangan mengganggu tanah dan pohon tidak gundul merata. Semua harmoni (antara udara yang keluar melalui burung, daun yang lepas setelah bergelayut, dan tanah kering) menggumpal dan lagi tetap ada.


Sekayu, 13 September 2009

Gerimis pada Beribu Panjang

Sudah sampai di muara mulut kami
Bongkahan kerikil dari sisiran pinggir
Menuju lidah kami, menggiring
Masuk ke dalam dengan penuh
Dan memeram bulat wajah kami

Katakanlah telah sampai dari beribu panjang
Melalui hujan hutan yang runtuh
Oleh gelombang
Dengan segala riak batu yang
Menerjuni tebing tebing
Dan oleh pantai pesisir yang gerimis
Dengan pasir
Kami menjelma seperti kata
Di mana di setiap bunyinya
Di situ kami menangis pecah
Dan lagi menjelma gerimis

O sayup di pelupuk mulut
Dan lalu bermuara ke dalamnya
Bersama lekuklekuk
Yang kian menyempit
Ribuan denyut gerimis

Dan lagi kami menjelma
Pada gerimis kami tertahan
Menjadi tangis
Rasa garam dan asinnya
Dari beribu panjang
Kembali menjadi gerimis



Sekayu, 10 September 2009

Seperti tak Ada Hujan di Musim Panjang

Musimmusim masih sama saat tak ada hujan yang menenggelamkan pasirpasir ke dasar sungai, menenggelamkan asin ke badanbadan ikan, dan lagi mengembalikannya melalui angin mungkin juga pada pepohonan yang menanggalkan ketinggiannya. Bukan untuk hujan tapi agar sama rata dengan pohonpohon di hutan yang ditinggalkan oleh burung dan semut dan rayapnya.

Waktu kian meluap menuntaskan kering dan kebekuan zaman. Saat matahari mendidihkan segala permukaan, semua pun runtuh menjejak ke tanah, lebih dalam dari akar sekali pun yang menggurat. Dan lebih rendah dari rumput yang membongkokkan tubuhnya, bukan karena takut. Tapi rasa lapar yang mengakar setelah musim nambah panjang.

Masih sama dan lagilagi sama. Kering seakan menjadi bagian hidup. Saat kita laihat pohonpohon di luar pada goyang seraya merayu hujan untuk tidak merajuk dan kembali menjenguk musim lama. Dan di dalam : dinding tetap diam. Tetap tidur dan tak mau tahu tentang di luar.

Karena kekeringan, semua kepayahan. Gairah hidup makin berkurang. Semua yang awalnya dari hujan perlahan tenggelam melalui celahcelah rumputan. Asin menguap melalui badanbadan ikan dan terangkat kembali diambil hujan.

Dan musim tetap menunggu. Dengan sisa tangantangan ganjil yang tinggal satu, memanggil hujan yang masih bersembunyi atau malah tidur seperti dinding di dalam yang tak mau tahu tentang di luar.


September, 2009

Penghujung malam Tanpa Sisa Mataharinya

Telah digariskan batasbatas malam yang menggoyahkan dingin dan gigil lebih dalam dan lebih dulu tahu bahwa tak ada siang pada saat tebingtebing nambah curam, dan menerjuni setiap garis di penghujung malam.

Apalah arti sekian banyak waktu yang terbuang siasia, kami masih kosong, perut kami sesak oleh udara yang cemar, dan kami telanjang, karena telapak tangan dan kaki kami mengeras di pinggir tebingtebing.

Duh! Penghujung malam tak lebih dari segerombol burung yang lindap di bawah potongan bulan tanpa sisa sepenggal mataharinya. Dengan huruf P besar, kami makin mengecil tak karuan. Semua seolah tak ada zaman yang menggantikan batas-batas malam.

Puing malam pada garis-garis menggoyahkan kami, beserta dingin dan gigil lebih dalam, lebih dari tulang dan tembus di kelengangan jalan. Pada akhirnya kami terus mencari batas ujung dan awal dari segala malam.


2-8 September 2009

Dengan Menebang Aku Menghilang

di atas perapian, ku bungkam denyut kota dari segala jalan, hilir menujumu ku hentikan. bukit-bukit memanjang, menunggu,abu, dan asap yang gelombang.

(ah, sayang! Aku hanya bisa memahami dari bayang belakang yang tertahan di ujung badan, dan tak sempat masuk ke jari-jari untuk disimpan lekat-lekat sampai uasang).

Kau yang kian menggetarkanku sampai ke kulitkulit yak peka rangsang, di situ kusampaikan telah ku potong baris-baris bukit panjang, denyut dari segala kota yang lengang. Melalui itu, aku cukup mengenangmu, tanpa perlu memeras rambutku yang tergerai setelah sesaat kujadikan jembatan seberang. Dan kau pun tak sungkan berjalan dengan kaki setengah pincang.

Ada deretan bekas bukit belum ditebang yang terus mengikuti ke mana saja aku membuang tapak kaki, lalu telanjang tanpa benang, tanpa kandang. Barangkali mereka tahu aku tak berlaku demikian saat metahari pada siang dan bulan mendatangi petang.

Berkali-kali tetap sama. Bukit menyiksaku dengan tebang! tebang! katanya padaku agar sepertimu menghilang.


September, 2009

Jumat, 21 Agustus 2009

Menggenap di Garis Waktu

Ambillah aku dari segenap jiwa di tebingtebing
Di bawahnya yang mengalirkan banyak air
Lalu menggiringnya ke muara sungai yang tak kunjung kering

Dari sungai yang tak kunjung kering
Lahir tetes air yang setiap waktunya
Muncul sumber yang baru bagi kehidupan baru

Kehidupan baru setelahku
Menggenap di garisgaris waktu




2009

Tak Diam Lagi, Suara Kami Kembali

ah kami cuma bisa diam seperti dinding kamar kami yang menyaksikan debur ombak meraung lalu pecah bersama diam kami. Bertahun-tahun diam menua sendiri, bukan karena kami: tapi karena diam kami yang berbongkah-bongkah bertapa di mulut kami.

setelah diam berjumpa pada waktu yang lama, asin yang bermuara di lautnya yang panjang telah kembali kepada mulut kami yang kemudian memberi kami potongan-potongan kata yang akhirnya memberi suara pada diam kami.

lalu kami pungut lagi setelah kata-kata meluncur dari mulut kami, dari diam kami, supaya jangan habis asin yang telah kembali, yang setelah pulangnya dari laut yang panjang, bergelut dengan ombak; bergelut dengan badan-badan ikan, lalu akhirnya pecah di mulut kami.

suara kami telah kembali, setelah menahan senyap-sepi pada malam-malam ganjil dan bersama dinginnya yang gigil, pun anginnya yang telah sampai di menara paling tinggi, menggiring asin kami, tertuju pada mulut kami. Kami tak lagi diam seperti dinding kamar. Kami punya suara, dan suara kami pada akhirnya meraungkan sepi supaya pecah. Sesudahnya kami tak diam lagi.



2009

Bang

” Bang, lihatlah di atas lautan
yang lagi menderu-deru
bayangan kita terpajang di sana :
berlapis kepulan debu ;
kulit goni ; lalu
wewangian khas yang kita tunjukkan
sehabis lelah :
adalah asinmu yang telah mengerak
menjadi satu pada dada lautan, Bang!
Di sana kau hidupkan
benih dari segala didih
dari api yang mengikat buihbuih dengan sabunnya,
dengan gelombangnya bersamasama.
Maka kau, Bang!
Diriku berlapang.”




2009

Wajahmu Pengkremasian

Ada paras wajahmu
Yang lalu terbakar di dalam unggun
Setelah menenggak kopi
Yang disaji dengan roti
Di sana
Mungkin

Wajahmu yang kemerahan
Mulai kehitaman
Kedinginan atau kepanasan
Karena kau minum bir
Atau sekedar berbincang
Dengan tamu undangan
Di pesta kremasimu
Tadi siang

Wajahmu tak lagi kelihatan
Berkalikali samar
Lalu mulai menghilang, di balik
Api unggun pengkremasian
Tinggal abu sisa pembakaran,
Bersemayam di tembok zaman
Dan kami yang jadi kedinginan



2009

Musim di Jalan Kota

Duh : berkalikali awan memagutku
Dari kepak sayap yang rontok
Jatuh di binar mata
Setelah sesaat mengernyitkan alis
Bahwa musim ini : musim melati
Tak berbunga lagi

Jalan di kota nampak sepi
Bertahuntahun lengang lalu didih
Bersama api dari percikan matahari
Paras kota agaknya gosong
Dan merembeslah melalui pori pun celah
Menghitamkan segala, menarik daundaun
Patah dari batang pohon yang tak pernah goyah

Musim belum berganti
Kulo pasati tembokan jugo gedek kamar*
Tak ada fotomu menggantung
Hanya retak tua dan sawang membayang
Yang lagilagi jatuh bersama daun
Yang tadi patah dari batang

Duh : hanya kata yang masih sempat mengguyur kota
Turunlah sesuatu dari langit yang hanya diam
Tumbuhlah melati yang tadi padam
Lekatlah daun pada batang
Jangan sampai pada goyah
Karena pada akhirnya
Musim di jalan kota pasti tiba




*ku lihat jalan pun dinding kamar


2009

Di Perjalanan

Aku pergi
Setelah memeluk ibu
Dalam buaian sendiri

Aku pergi
Kala jalan masih kelam
Ada malam
Yang mengintai langkah
Jejakku tinggalkan

Aku pergi

Ibu tambah sepi
Jalan lelap
Dalam malam

Aku pergi




2009

Teh Manis : Kusaksikan

\1\
Hanya sebatas teh manis
Saat malam pertama
Yang mempertemukan antara kulit
(bertelanjang dada)
Dingin mengguyur
Kepadamu, kesaksian kukubur
Di atas ranjang
Di bawah bulan :
Ku titipkan segenap
Nafsu purba


\2\
Di atas kesaksian kubur
Ku saksikan :
Tubuhmu terlunta
Berlari mengejar-ngejar
Yang tertinggal
Yang sejak tadi
Telah dijemput di hari ketiga.





2009

Setelah Cinta

Setelah Cinta


Merdeka !





2009

Nak Kau Bedil

Nak kau bedil* berbongkah sukma yang mengeja atas dirimu,
kau : angin hidup dari segala lapis dinding bebal, selain
kata dan malam, yang menyekatmu : bulan



2009


*ingin kau belah

Afirah

”Yang tertuang di keningmu
terbayang di waktu malam masih gugu
meleleh melewati baris-baris nafas
antara dada dan jantungmu.
Begitu takut kau pada fajar
lalu sembunyi di bawah api.
Bukan pagi
bukan pula kau Afirah,
yang terselip di jeruji
sifatmu pada malam
mengenangkan yang telah padam!”




sekayu, 2009

Ah, Benalu

: dekap saja ia di lekuk dadamu
(yang kau pintal dari tumpukan
pita merah jambu)
ikatlah ia di lehermu,
supaya jinak. Dan kau
mabuk untuk itu,
lalu pun kau lupa segala benalu





Sekayu, Juli 2009

Sabtu, 18 Juli 2009

Melalui Ricik Akar

di luar : debu tanah (yang hidup menunggu kalaukalau langit menangis) menatap basah tentang kerinduan daun yang patah, bunga yang menajamkan warna, lalu membelai kita sejurus, juga masuk ke mulut jendela.

angin yang tibatiba lewat, setelah membelai kita, dan bersama gerainya badanbadan tanah, lekuklekuk dan cacing tanah, mengabarkan reruntuhan api yang menandakan kehidupan baru, yang pada mulanya tidak ada, hanya kosong semata.

lalu setelah yang terjadi pun terjadi, segala tanya : pada mulanya, debu dan tanah terpisah, di atas dan di bawah. apa yang membuatnya rindu pada daun dan bunga tanpa patah dan warna, lalu tak pula ke mulut jendela.

yang angin mengabarkan sebuah keruntuhan, bila api makin merah dan bertambah nyala, mana tanda kehidupan baru itu, atau bisa jadi tertunda.

pada akhir segalanya, yang berasal dari luar : debu tanah, angin, pun kosong semata. melalui ricik akar, dari yang kokoh itu ia bertapa.

Kamis, 09 Juli 2009

sebuah percakapan

Ibu, lekas aku mengerti

Yang dulu

Kala sesuap hari

Sesajak pagi

Kau bilang :

Bila matahari berlari

Dan debu menggamit langkah yang

Dijejaki :

Maka jiwa sudah dibebani

Janji mesti ditepati

Dan malammalam pasti diterangi

Lalu kau, dirimu sendiri :

Hidup yang utuh tanpa basabasi




Palembang, Juni 2009

yang diberi nama rindu


yang diberi nama rindu

1

tak ku dengar suaramu di musim itu. Telinga yang begitu lengang nampak dari sisi depan mukamu, berwarna merah menyala. dan remuk_lalu membusuk kala diterpa rindu di waktu suntuk. Lalu rindu yang mengguncang banyak getaran kantukku yang mrnggiringku lengah dalam mimpi_membaur bersama wangi tubuhmu.

2

sesaat itu, segalanya masih gelap. Inginku turuni tanggatangga yang memikat sekap yang lalu mencegah jejak mengikuti langkahku. tapi bolamatamu menyergap segenap lelalku_tibatiba. Dan hujan yang bernadanada sejenak terhenti saat tumpahnya. Lalu angin yang menggemagema memutar arah, dan rasa yang diberi nama rindu_menderadera tetap menyala dan makin memerah.

di jalan tua itu, ku lepas tanganmu yang dulu merogoh sukmaku_begitu dalam. Aku pun agaknya terpental ke lumpur hitam. Kau gunakan yang sedang merindu jadi sarat lapar dan haus purbamu. Mungkin edan. Tapi begitu jalang.

3

dari munculnya api yang menjalar di sebelah timur, maka lenyaplah kamu bersama lampu yang ada di atap rumahku waktu itu_malam lagi sendu. bayangmu membekas berkepingkeping hancurlebur kerna sukmaku yang menyatu dengan nafasmu.

lalu dahi lalu tengkuk lalu dada lalu pinggulmu ku koyak pada pertempuran di mana malam berwarna ungu dan lelap masih biru. haru tumpah dan tercecer rata. Bola lampu seakan tak kuasa mengintip kerinduan kita di singgasana, juga dinding yang ngilu kerna dingin merayu kulit kita untuk saling bertemu.

4

dan malam yang menggelar rasa yang diberi nama rindu_luntur sesingkat kita bertenu di ruang yang sesak haru lalu muncul ngilu. Muramnya mimpi itu. Dan dusta yang menyingkap tabir berlalu. Jejak jua yang semaikan suaramu di musim itu.

palembang, Juni 2009


Selasa, 07 Juli 2009

wajah-wajah langit

Langit menunggu jenuh sungguh
Pada pagi yang hampir tenggelam fajarnya
Pada senja yang hampir lenyap bulannya
Yang saat datangnya mereka pada dunia
Adalah seluruh wajah-wajah yang permukaannya
Pada kulit yang terjal sisinya
Jadi dupa
Dan langit merah
Jadi dewa
Dan langit murka
Pada lebar alasnya

Lalu dalam jenuh di baliknya
Ada wajah-wajah tanpa dusta
Mereka bermain, berlarian menuju bukit
Yang tak menunjukkan puncak
Segenap mereka telusuri ribuan matahari yang terangnya
Mereka tiduri ribuan bulan yang kelamnya
Bergiliran
Betapa gamangnya!

Dan senantiasa
langit menunggu jenuh sungguh
Adalah seluruh wajah-wajah
Yang tenggelam fajarnya
Yang lenyap bulannya



sekayu, 2009

lahirnya api

1
adakah lahir yang membawamu mengerti bahwa abu. yang terbakar di bawah ketiak api_yang menderadera dalam sunyi, telah bersemedi bersama muasalku. lalu lahirnya oleh waktu_cinta yang bertapa berwinduwindu, telah menjadikan aku lahir dari telunjukmu.

2
setelah asap mengepul membakar kerak cangkangmu, lalu bersama abu yang mengeringkan kesiasiaan_waktu genap yang telah menyimpan kakimu : adalah api_yang telah melebur bersama didih, yang kian menghablur.

you're always in my heart

smanda is our first home. by sharing each other, we can make it a better place : full of smiling, kidding, learning, and wow,,, so many things we can do here.. just like two body and soul, we can't be separated by anything. because we believe, the togetherness is like the jewel in the palace, where all peoples are gonna take and care it as their furtune... and at the long run,, smanda is our first home... ^_^

Senin, 06 Juli 2009

panas

saat yang dingin menghapusmu, masuklah kamu ke rumah kokoh itu, dan lahirlah kamu melalui telunjukku, karena ini ibumu, memintamu, mengipas diri di waktu panas

di bawah ketiak api


Andai Ayah_

andai ayah
mengetuk pintu yang semula
berpijar mengulum rindu
malam yang bergetar bersama waktu
'takkan pecah menanti senyum
yang tertahan di bibir berbekas debu
dalam malam larut dalam kelam
terdengar langkah menuju pintu
hanya angin bergumam, menggamit ngilu
ayah tak jua datang
melumat api yang padam
namun mataku tak pula terpejam
cahya semakin menusuk diam-diam
mengadukku dalam gamang yang makin didih
pasti, ayah_jiwaku sumbang mengingatmu dalam mimpi



sekayu, 2009





_menjadi puisi_

aku tertegun nyeri
kau bergumam
:wahai pengantinku
bergelutlah kamu bersama cintaku
biarkan kulitku melaipisi malammu
dan liarku menjadi
penobatan candi yang
kita tulis menjadi puisi



sekayu, 2009





_aku kembali_

ke pangkuan lama yang dikenal sepi
yang sejak dulu ku semai dalam lemari
akhirnya hablur menjadi buih

ke sinar lampu yang sering mati
terpejam karena tak ada pagi
menjalar bersama harum matahari

ke selimut yang menemani mimpi
di atas ranjang panuh puisi
katanya, sekarang menjadi rupa tak lagi



Sekayu, 2009



_mencari kamu_

aku mencari kamu
pada lapisan dinding tak ada celah
pada mulut tanpa suara
pada cakrawala hampa megah
kamu tetap tidak ada
menghilang bersama deru kabut
menyingkap di ujung rambut
ikalmu tinggal tergerai
menjadi puncak ketegangan lenyapmu



sekayu, 2009





Balada Kamarku


Kamar adalah bagian cerita purba
Dari megantrophus paleojavanikus hingga homo erectus
Kamar adalah gubuk cakrawala
Yang bikin sejuta mata
Yang memotret
Bersama hilangnya penat-penat
Saat mimpi mengemudi perahu menjauhi nirwana
Kamar adalah tirai tanpa rahasia
Terbuka apa adanya
Mulai matahari mencakar wajah
Dan bulan tiduri tanpa sengaja

Kamar adalah sajak dan prosa
Yang terbakar bersama kata
Yang berubah menjadi rupa
Rupa kita pada cermin tua

Kamar jadi langit yang mengawan
Naungi kehidupan bagai hujan
Didihkan gigil yang menyerang badan

Kamar adalah wajah jendela dan pintu yang muram
Lusuh, bau, berdebu, penuh coretan

kamar, tempat ibu bikin aku
dari ayah yang lelah sehabis kerja
dari nafsu yang mereka jaga
yang mereka tanam, pupuk, siram
lalu memanennya bersama



sekayu, 2009





Ku koyak, Ku Lumat


Ku koyak gunung
Ku koyak punggung
Agar angin bergulung-gulung
Dan sukma meraung-raung

Ku lumat malam
Ku lumat kelam
Agar gamang nambah cekam
Dan badanku hitam legam



sekayu,2009







Matahari, bulan mengalir
Dalam 1095 terangnya
Dalam 1095 gelapnya
Sejenak debu, asam, basa
Merasa mencerna angka-angka bersama
Tanpa menghasilkan rumus yang dapat diberi nama


”untuk kenangan”



sekayu, 2009





ang Mendera-dera*

Langit segar
Angin bergetar
Bunga mekar
Jiwa menggelegar
Saat riuh menaklukan sepi
Jadi runtuh
Saat senyum menanggalkan elegi
Adalah haru
Saat lalat sibuk pulang pergi
Jadi wangi

Jalanku yang merdeka
Ku jejaki kau penuh langkah
Sukma membara
Api menyala


Berkobarlah!
Berkobarlah!
Wahai yang mendera-dera!




*untuk kelulusan kakak-kakak sekalian



sekayu, 2009





_pada hari ini_

Tak ada yang dapat memaknai hari ini. Begitu sempit dan tercekik. Terasa tersedot ke lubang-lubang yang menyimpan banyak kenangan, mengenangmu jadi kepedihan. Lalu fitrah hidup perlahan-lahan berjalan, memburu waktu yang makin bergeser ke seberang.

Adakah yang bias saat ku tanya kau di laut mana? Apakah kabut menyibak setelah pelabuhan tua nampak, dan tak ku temui kau terbahak-bahak. Aku idiot seketika. Mulutku menganga sambil melumat karcis pertemuan kita. Aku autis tiba-tiba. Aku sibuk sendiri mencarimu ke sela-sela. Ke selaput, ke rongga-rongga, ke batas cakrawala. Jiwamu begitu kerdil untuk dijamah.

Gunda! Aku gemetar hebat kala kau tak ada. Menghilang ke layar maya. Terpampang wujudmu paling nyata di sana. Aku bertanya-tanya. Siang asik bicara. Malam asik tidur seenaknya. Apalah arti pencarian tanpa yang dikenal jua? Hanya menghabiskan sisa-sisa nafas yang terengah-engah.

Luka! Beribu ton besi dan baja menindih dan menindih badan atau pun jiwa. Awan pun menemani seolah tahu bahwa hujannya sama dengan air mata. Mega bersembunyi menyimpan senyumnya seolah setia. Dan malam masih tidur seenaknya, mengunci diri rapat-rapat hingga saatnya. Air berhenti ke hulu seolah mengalir ke salah muara. Dan orang-orangan sawah masih saja sibuk mengusir hama seolah tak lihat darah bersimabah.

Tak ada yang dapat memaknai hari ini. Ataukah esok, lusa berjuta tahun tiba, fitrah hidup merasa sesak lagi susah. Kala kau lenyap seketika. Dan pelukan kita sia-sia.



palembang, 2009






_yang kian melupakanmu

Biarlah angin membeku
Dan air berdebu
Lalu udara kian melupakanmu
Pada hari-hari yang mendidih
Dan sumbu yang masih menyala
Dan malam yang hampir padam bulannya...



sekayu, 2009





_menghadap maut_

Menghadapi maut
Ada yang tersenyum
Di balik lubang hitam
Pendarnya menaruh kelam



sekayu, 2009






_bersama muasalku_
bila angin tak padam
:air memecah kelam
di ambang, biarlah
sukma melebur bersama gamang
entahlah, fajar membara lalu
meradang membakar arang
bersama muasalku di pertapaan ibu..



palembang, 2009





Yang Melarikan Diri


Setelah lama menunggu mimpi :
Waktu menderuderu mengarungi
Pasti! Dalam setiap lelap yang
Membentangkan letih, dan bau asap
Fajar yang lama menanti
Membungkam dan menutup diri
Jadi bisu
Jadi tuli
Yang semula surut menjelang susut
Ke dalam mimpi yang agaknya makin kelam
Supaya sukma tak mengendusendus ke dalam
Jendela dan kaca, maka tabir mimpi
Menjauh dan berlayar ke arah yang lebih sepi
Ke laut yang dikenal senyapsunyi
Tanpa busana, tanpa senyum, tanpa angin
Yang membawa mimpi terus berlari.
Dari waktu lalu mimpi yang sudah disinggahi
Didapatlah sejumlah insan yang banyak elegi
Menjerit mereka, terbahakbahak mereka
Melihat mimpi yang mengurung sendiri
Lalu, dari awal waktu yang letih
Dalam dekapan mimpi
Akhirnya! Sungguh, terlelaplah jiwa yang memutih


Palembang, Juni 2009





Lahirnya dewi

Karena bulanbulan pagi
Lahirlah dewi yang agaknya
Menyombongkan diri
Setelah darah dari pertapaannya
Melarikan diri, dan malam yang
Melapisi sendi-sendi tak karuan
Kacau, hingarbingar membungkam sendiri

Lalu dewi itu bernyanyi :
Dari tempat yang kokoh itu
Jiwaku yang telah melebur
Jadi sukmaku, baru
Kelak merubah bulanbulan pagi
Bersama sinar yang membuat tuli
Pada malamnya lekas kelam
Dan bulan itu akan nambah cekam. Mesti!

Teruslah ia mengaisngais tanah
Seraya berkata :
Bilaman api dan air
Serta nyala dan mencair
Adalah sumbu yang tak kunjung nyala
Mendidih. Hingga matahari di atas kepala
Suhu tak ada sepi, lalu bermuara ke lereng
Di sana ditemui nafas bau melati
Yang dulu bekasku membasuh daki

Sejak itu, saat itu, waktu itu
Alam dan bumi dan langit
Yang mengaku paling bening
Menjadi dusta, dusta karena hening
Di waktu lahirnya dewi
Pada bulanbulan pagi


Palembang, Juni 2009






Di ujung jalan
Di depan pagar-pagar beton
Ku antar kau, angin
Ku lepas kau, dingin
Agar terbanglah daun-daun yang menguning
Dan lenyaplah hawa panas di sekeliling

Tinggal seikat roti di dalam jari-jari hari
Dalam pelukan mesra dan sentosa
Dan tak sampai satu matahari di hadapan
Dan tak habis satu bulan di pelipis mata
Itu..............................
Rupa yang jadi tabir kita
Akan tiba secara tiba-tiba

Lalu inikah bau bunga bakung
Dulu kita tanam bijinya
Agar dapat kita kembangnya
Setelah ia layu dan lagi terus memanen bunga
Sempat kita masih menanamnya

Di sinilah,
Di ujung jalan
Di depan pagar-pagar beton
Dan langit berbahan sutera
Jadi arloji akhir waktu semesta

Ya!
Akhir rupa melanda kita,
Badan,
Dan jas baru kita

Huh!
Tinggal cinta berbungkus kado merah jambu
Jadi sejuta mata kamera alam yang menyokong kita

Ternyata kita masih juga bajingan, ya!
Kita kebal pada tangisan
Kerna t’lah bosan pada kesedihan
Ya! Kita memang bajingan :
Bajingan untuk kehidupan
Kehidupan untuk bajingan

Sajak memori
Untuk kakak-kakak sekalian


sekayu, 2009






Tak Ada


Tak ada lagi puisi-puisimu
Tak ada lagi tembang-tembang dalam kamarku
Tak ada pula sepoi angin yang lepaskan
Penat-penat kita
Sehabis disuguhi bermacam angka-angka
Yang tak bisa dirumuskan
Dan seterusnya tak pernah ada


sekayu, 2009






Di Waktu Berdua

Senantiasa kita bertemu sehari lima waktu
Saat kita asyik berkencan
Jariku lebam kau lumat rapat-rapat
Bibirku kau hisap setelah berucap bahasa cinta
Keningku cadas sehabis puas mengetok batok
Kerna ku sering lupa waktu kita berduaan

Dan saat itu
Waktu terbuang kala rindu berkumandang
Sumur kerontang untuk mencuci badan
Jalan raya macet kala kita hendak bepergian

Tapi kasih!
Kasih yang berkuta
Percayakah pada keteguhan cinta
Cinta yang dapat saling membawa
Tubuh yang berdaki tak kan mampu berpaling dan murtad


sekayu, 2009






Gemercik Angin I

Rindu gurun adalah rindu stepa
Rindu senja adalah rindu purba
Rindu dunia :
Rindu yang terbuka lekuk isinya

Setelah rindu-rindu itu,
Tampak dirinya
Lusuh tanpa benang melilit tubuhnya
Manis, raut wajah Sang purnama

Lukisan potretnya pada bingkai foto
Yang hampir kusam
Yang menanggalkan keriputnya
Mengerak pada bilik pagi buta
Gemercik angin senja
Datang merembes
Menampar sukmanya

Maka saat itu
Ia menjerit ke arah bangunan tua
Ia robek baju di jalan yang penuh roda
Ia seret bukit setinggi pundaknya
Ia panjat tebing alisnya,
Tak ia temukan puncaknya
Hingga waktu mengekang langkahnya
Hingga debu buyarkan tulang kerangkanya
Hingga tanah mencerna sisa-sisa bangkainya






Gemercik Angin II

Kursi-kursi sofa
Kursi-kursi roda
Kursi-kursi pelana
Kursi-kursi pallawa
Kursi-kursi penyambung nyawa

Pada kosongnya malam bercahya
Cahya ilafi bulan sabit
Bulan sabit bersandar pada bintangnya
Bintangnya merindukan relief pelataran
Pelataran candi pada gubuk-gubuk kelam
Kelam jadi perekam, pemotret gemercik langkah angin
Gemercik yang tertahan di suatu sofa
Di suatu roda
Di atas pelana
Di huruf-huruf pallawa



sekayu, 2009






Padat Puisi


Puisi adalah senja
Yang menghabiskan pagi sebagaimana mestinya
Puisi adalah lagu lama
Yang jadi batu sandungan lahirnya kata pada dunia
Puisi jadi saksi mata
Yang menyaksikan zaman menuntun kita
Seberangi batas angan cakrawala
Tempat kita menyusun rupa
Hingga terbentuk manusia sempurna


sekayu, 2009






Dan Kerinduan


Betapa pun di waktu itu hujan
Ialah tangisan yang lagi merindukan
Bukan untuk menghidupkan kehidupan
Tapi segenap hawa dingin terasakan


sekayu, 2009






Paling


Ku tulis sajak paling sederhana
Sebab sering aku menulisnya
Agar dapat kau memadatkannya


sekayu, 2009






Setelah Jadi Mimpi

Jadi apakah mati itu sendiri setelah lama berdiskusi
Pada tiap-tiap cabang muda yang enggan berganti nama
Dan sepi setelah jadi mimpi
Adalah malam yang meninggalkan jejak di waktu pagi


sekayu, 2009






Selalu Habis

Malam selalu dihabiskan oleh pagi
Lalu pagi disapu kelamnya malam
Apa yang terjadi pada alam
Adalah materi soal ujian

Mata kita selalu merasa
Dan jiwa kita mulai memangsa
Dan pagi, serta malam
Adalah musuh yang paling nyata

Dalam keengganan menatap kemauan
Lalu pulih dengan percobaan
Merenggut sejumlah buku dan halaman

Dan ketika itu,
Aku pingsan
Matilah rohku dalam kejapan
Jasadku meraung kesakitan
Mencari yang tiba-tiba lenyap
Hilang dalam genggaman
Genggaman debu yang meradang


sekayu, 2009





Berteman Gelap


Tak mau aku berteman pada kegelapan
Yang bikin takutku semakin kencang
Yang biarkan pandanganku kabur mengekang................


sekayu, 2009






Penetral...........

Sajak-sajakmu jadi asam dan basa
Netralkan zat-zat kimia
Dari MSG hingga karbon monoksida


sekayu, 2009






Hari Ini................

Gembala tak lagi bercerita
Menggiring kerbau dan sapi ke kandangnya

Televisi tak lagi bicara
Mengisi warta
Dan dialog wawancara

Pasukan keamanan berpelor baja
Angkat senjata
Tembaki mahasiswa

Perut menganga
Setelah piring diganti daun kelapa

Hari ini
Sumbu menyala
Darah mengaliri darah
Menganak ke berbagai muara

Hari ini
Dalam tatanan alam
Berjalan sendirian
Jadi hantu gentayangan

Hari ini
Berwarna merah
Seterusnya
Hitam seketika

Hari ini
Adalah duka semesta
Semesta berduka

Hari ini
Gembala
Televisi
Keamanan berpelor baja
Perut nganga
Jadi duka semesta


sekayu, 2009






Dua

Dua matahari
Pantai menggigil
Bulan menggamit
Celah yang sempit

Dua bulan
Dada meradang
Malam mencekik
Siang mesti terik


sekayu, 2009






Bagi yang Maya, Bagi yang Hampa



Tak ada yang maya bagi yang maya
Tak ada yang hampa bagi yang hampa
Gulingkan seribu mata sebagaimana mestinya
Tataplah dengan tiada maya dan hampa
Mereka sungguh tiada .........................


sekayu, 2009





Saat Tak Ada


Saat tak ada lagi rupa
Muncullah rupamu dari segenap rupa

Saat tak ada lagi kata
Meruap kata-katamu dalam baris-baris sajak

Saat tak ada siang yang menyala
Terbakarlah baumu dari sumbu-sumbu yang menyala

Saat tak ada malam yang padam
Gamanglah kelam melihatmu hitam legam

Yang rupa
Yang kata
Yang nyala
Yang padam
Jadi wujudmu yang paling megah


sekayu, 2009






Ku peluk ombak
pada cadas kerikil
Ku teguk karang
Pada hening tahlil
Pada-Mu............
Ku terisak dan terbahak
Sekedar merayu seraya menggoda




*hanya Kau yang kutemukan saat ini


sekayu, 2009






Malam terselip di ketiak bulan
Bulan menggamit kelamnya
Begitu dalam dan agaknya tenggelam
Lalu turunlah cahya-cahya yang disebut fajar
Atau apa saja yang kusebut itu menjalar
Ia menghapus malam dan gelapnya dengan sabetan
Sabetan yang bikin gamang penghuni lautan

Dalam peperangan itu
Adalah waktu yang menanggalkan senyummu
Dan menjara duka-dukamu
Dalam pelukmu
Dalam tangismu
Dalam tidurmu
Dalam cita-cita yang meledek senyummu
Dalam hari-hari yang melupakanmu

Apakah ini yang kau sebut musibah
Yang katamu meluluhlantakan jiwa kembaramu

Sesaat kau mulai sadar dari mabukmu
Kau lumat gamisku
Kukumu yang tumpul mencabik danging, urat,
Lalu kau kunyah tulang-tulangnya
Kau jadi lapar
Setelah semalam kau bergelut dengan sendirimu
Dan kau terkulai terengah-engah

Diamlah kau menatap pohon rimbun
Sambil terbahak kau sesali pergulatan itu
Kau rangkul kursi yang ada dihadapanmu
Dengan tenaga yang tersisa dan jejak yang karatan
Kau pecahkan cermin-cermin yang meramal jiwa-jiwa
Kau jadi liar

Lalu kau terpukau
Saat kau melihat kepingan cermin yang telah mencair
Senyummu mengembang ke dua samudera

Otakmu mulai mencerna
Saraf-saraf mulai bekerja
Kau bilang :
Hidupku adalah istimewa
Malam tak mampu memadamkan
Siang pun tak mampu menyalakan

Kau mulai kerepotan sendiri dengan luka-luka
Kau coba tutupi kain kasa, percuma!
Lukamu nambah parah

Saat matahari terangnya
Saat bulan gelapnya
Kau kaku, kau kedinginan
Badanmu berontak menopang tubuh yang semakin dusta

Lalu nongollah yang kusebut ia pencabut nyawa
Ditariknyalah geliatmu :
Kepala, tangan, ikalmu kusut
Kau gamang, lalu kau masuk ke perut
ranjang yang kau semai pada laut

Dari saat malam terselip di ketiak bulan
Bulan menggamit kelamnya
Begitu dalam dan agaknya tenggelam
Menangislah kamu meminta penderitaan


sekayu, 2009






Aku melebur pada topik-topik petang
Pada gamis ku taruh pasrah meradang
Pada ujung kaki yang terjulur panjang
Mataku menatap ribuan elang
Terbang, dengan gerak yang tak berbilang

Wahai batu-batu karang yang melintas kencang
Memecah serpih-serpih yang nampak telanjang
Aku terkenang bilik-bilik malang
Bernaung genting-genting usang
Berselimut nyanyian-nyanyian peri hutan
Betapa gamang!

Tangan ku gamit wajah-wajah yang sesak dusta
Seraya melumat isyarat yang menyala-nyala
Dan sukma yang berteriak atas nama derita
Di ujung-ujung udara yang lengang suara
Riuhku meminta, menengadah pasrah
Aku bersimbah susah!
Lalu setelah beribu liter keringat yang berbau darah
Ku hisap lagi jadi tenaga
Sia-sia, tak mencukupi derita malam yang semakin dalam

Pada penghuni mayapada yang banyak bicara
Aku menyusup mencari kata-kata
Yang kelak aku jadikan rupa
Yang lagi mau menopang payah
Pada gorong-gorong yang kering sampah
Aku jadi mata-mata tikus yang berakhlak mulia
Yang kelak ku jadikan mainan warna-warna
Hidupku lekas punya makna!

Aku melebur pada topik-topik petang
Pada gamis ku taruh pasrah meradang
Sungguh bernada gamang


sekayu, 2009






Cahya Ilafi
Cahya menguning menyapu debu genting
Cahya bening
Cahya tembus pagi lenting
Menyergap segenap rawa pening
Hawa guling nafas bunting…


sekayu, 2009







Adakah cermin yang menolak bayangmu diam-diam
Dan batu yang meledek lahirmu di khalayak
Lalu sinar gersang yang mendidihkan sungai dari mata gagak
Yang mendiami raungmu jadi api yang
Meniduri lelah di ranjang mimpi yang
Menjajaki kaki angin pengap buih yang
Lenyap bersama fajar pagi yang
Larang sawah panen padi
Ialah sergap peri hutan di laut nyeri
Yang memperlambat nantimu
Dan kebutkan hari yang menindih lukamu...


sekayu, 2009






Seperti air menitik bebatuan
Cadas kecil jadi lubang dalam
Pada jalannya malam dan siang
Adalah cermin waktu yang terbuang.......


sekayu, 2009






Biarlah angin membeku
Dan air berdebu
Lalu udara kian melupakanmu
Pada hari-hari yang mendidih
Dan sumbu yang masih menyala
Dan malam yang hampir padam bulannya...


sekayu, 2009