Sabtu, 18 Juli 2009

Melalui Ricik Akar

di luar : debu tanah (yang hidup menunggu kalaukalau langit menangis) menatap basah tentang kerinduan daun yang patah, bunga yang menajamkan warna, lalu membelai kita sejurus, juga masuk ke mulut jendela.

angin yang tibatiba lewat, setelah membelai kita, dan bersama gerainya badanbadan tanah, lekuklekuk dan cacing tanah, mengabarkan reruntuhan api yang menandakan kehidupan baru, yang pada mulanya tidak ada, hanya kosong semata.

lalu setelah yang terjadi pun terjadi, segala tanya : pada mulanya, debu dan tanah terpisah, di atas dan di bawah. apa yang membuatnya rindu pada daun dan bunga tanpa patah dan warna, lalu tak pula ke mulut jendela.

yang angin mengabarkan sebuah keruntuhan, bila api makin merah dan bertambah nyala, mana tanda kehidupan baru itu, atau bisa jadi tertunda.

pada akhir segalanya, yang berasal dari luar : debu tanah, angin, pun kosong semata. melalui ricik akar, dari yang kokoh itu ia bertapa.

Kamis, 09 Juli 2009

sebuah percakapan

Ibu, lekas aku mengerti

Yang dulu

Kala sesuap hari

Sesajak pagi

Kau bilang :

Bila matahari berlari

Dan debu menggamit langkah yang

Dijejaki :

Maka jiwa sudah dibebani

Janji mesti ditepati

Dan malammalam pasti diterangi

Lalu kau, dirimu sendiri :

Hidup yang utuh tanpa basabasi




Palembang, Juni 2009

yang diberi nama rindu


yang diberi nama rindu

1

tak ku dengar suaramu di musim itu. Telinga yang begitu lengang nampak dari sisi depan mukamu, berwarna merah menyala. dan remuk_lalu membusuk kala diterpa rindu di waktu suntuk. Lalu rindu yang mengguncang banyak getaran kantukku yang mrnggiringku lengah dalam mimpi_membaur bersama wangi tubuhmu.

2

sesaat itu, segalanya masih gelap. Inginku turuni tanggatangga yang memikat sekap yang lalu mencegah jejak mengikuti langkahku. tapi bolamatamu menyergap segenap lelalku_tibatiba. Dan hujan yang bernadanada sejenak terhenti saat tumpahnya. Lalu angin yang menggemagema memutar arah, dan rasa yang diberi nama rindu_menderadera tetap menyala dan makin memerah.

di jalan tua itu, ku lepas tanganmu yang dulu merogoh sukmaku_begitu dalam. Aku pun agaknya terpental ke lumpur hitam. Kau gunakan yang sedang merindu jadi sarat lapar dan haus purbamu. Mungkin edan. Tapi begitu jalang.

3

dari munculnya api yang menjalar di sebelah timur, maka lenyaplah kamu bersama lampu yang ada di atap rumahku waktu itu_malam lagi sendu. bayangmu membekas berkepingkeping hancurlebur kerna sukmaku yang menyatu dengan nafasmu.

lalu dahi lalu tengkuk lalu dada lalu pinggulmu ku koyak pada pertempuran di mana malam berwarna ungu dan lelap masih biru. haru tumpah dan tercecer rata. Bola lampu seakan tak kuasa mengintip kerinduan kita di singgasana, juga dinding yang ngilu kerna dingin merayu kulit kita untuk saling bertemu.

4

dan malam yang menggelar rasa yang diberi nama rindu_luntur sesingkat kita bertenu di ruang yang sesak haru lalu muncul ngilu. Muramnya mimpi itu. Dan dusta yang menyingkap tabir berlalu. Jejak jua yang semaikan suaramu di musim itu.

palembang, Juni 2009


Selasa, 07 Juli 2009

wajah-wajah langit

Langit menunggu jenuh sungguh
Pada pagi yang hampir tenggelam fajarnya
Pada senja yang hampir lenyap bulannya
Yang saat datangnya mereka pada dunia
Adalah seluruh wajah-wajah yang permukaannya
Pada kulit yang terjal sisinya
Jadi dupa
Dan langit merah
Jadi dewa
Dan langit murka
Pada lebar alasnya

Lalu dalam jenuh di baliknya
Ada wajah-wajah tanpa dusta
Mereka bermain, berlarian menuju bukit
Yang tak menunjukkan puncak
Segenap mereka telusuri ribuan matahari yang terangnya
Mereka tiduri ribuan bulan yang kelamnya
Bergiliran
Betapa gamangnya!

Dan senantiasa
langit menunggu jenuh sungguh
Adalah seluruh wajah-wajah
Yang tenggelam fajarnya
Yang lenyap bulannya



sekayu, 2009

lahirnya api

1
adakah lahir yang membawamu mengerti bahwa abu. yang terbakar di bawah ketiak api_yang menderadera dalam sunyi, telah bersemedi bersama muasalku. lalu lahirnya oleh waktu_cinta yang bertapa berwinduwindu, telah menjadikan aku lahir dari telunjukmu.

2
setelah asap mengepul membakar kerak cangkangmu, lalu bersama abu yang mengeringkan kesiasiaan_waktu genap yang telah menyimpan kakimu : adalah api_yang telah melebur bersama didih, yang kian menghablur.

you're always in my heart

smanda is our first home. by sharing each other, we can make it a better place : full of smiling, kidding, learning, and wow,,, so many things we can do here.. just like two body and soul, we can't be separated by anything. because we believe, the togetherness is like the jewel in the palace, where all peoples are gonna take and care it as their furtune... and at the long run,, smanda is our first home... ^_^

Senin, 06 Juli 2009

panas

saat yang dingin menghapusmu, masuklah kamu ke rumah kokoh itu, dan lahirlah kamu melalui telunjukku, karena ini ibumu, memintamu, mengipas diri di waktu panas

di bawah ketiak api


Andai Ayah_

andai ayah
mengetuk pintu yang semula
berpijar mengulum rindu
malam yang bergetar bersama waktu
'takkan pecah menanti senyum
yang tertahan di bibir berbekas debu
dalam malam larut dalam kelam
terdengar langkah menuju pintu
hanya angin bergumam, menggamit ngilu
ayah tak jua datang
melumat api yang padam
namun mataku tak pula terpejam
cahya semakin menusuk diam-diam
mengadukku dalam gamang yang makin didih
pasti, ayah_jiwaku sumbang mengingatmu dalam mimpi



sekayu, 2009





_menjadi puisi_

aku tertegun nyeri
kau bergumam
:wahai pengantinku
bergelutlah kamu bersama cintaku
biarkan kulitku melaipisi malammu
dan liarku menjadi
penobatan candi yang
kita tulis menjadi puisi



sekayu, 2009





_aku kembali_

ke pangkuan lama yang dikenal sepi
yang sejak dulu ku semai dalam lemari
akhirnya hablur menjadi buih

ke sinar lampu yang sering mati
terpejam karena tak ada pagi
menjalar bersama harum matahari

ke selimut yang menemani mimpi
di atas ranjang panuh puisi
katanya, sekarang menjadi rupa tak lagi



Sekayu, 2009



_mencari kamu_

aku mencari kamu
pada lapisan dinding tak ada celah
pada mulut tanpa suara
pada cakrawala hampa megah
kamu tetap tidak ada
menghilang bersama deru kabut
menyingkap di ujung rambut
ikalmu tinggal tergerai
menjadi puncak ketegangan lenyapmu



sekayu, 2009





Balada Kamarku


Kamar adalah bagian cerita purba
Dari megantrophus paleojavanikus hingga homo erectus
Kamar adalah gubuk cakrawala
Yang bikin sejuta mata
Yang memotret
Bersama hilangnya penat-penat
Saat mimpi mengemudi perahu menjauhi nirwana
Kamar adalah tirai tanpa rahasia
Terbuka apa adanya
Mulai matahari mencakar wajah
Dan bulan tiduri tanpa sengaja

Kamar adalah sajak dan prosa
Yang terbakar bersama kata
Yang berubah menjadi rupa
Rupa kita pada cermin tua

Kamar jadi langit yang mengawan
Naungi kehidupan bagai hujan
Didihkan gigil yang menyerang badan

Kamar adalah wajah jendela dan pintu yang muram
Lusuh, bau, berdebu, penuh coretan

kamar, tempat ibu bikin aku
dari ayah yang lelah sehabis kerja
dari nafsu yang mereka jaga
yang mereka tanam, pupuk, siram
lalu memanennya bersama



sekayu, 2009





Ku koyak, Ku Lumat


Ku koyak gunung
Ku koyak punggung
Agar angin bergulung-gulung
Dan sukma meraung-raung

Ku lumat malam
Ku lumat kelam
Agar gamang nambah cekam
Dan badanku hitam legam



sekayu,2009







Matahari, bulan mengalir
Dalam 1095 terangnya
Dalam 1095 gelapnya
Sejenak debu, asam, basa
Merasa mencerna angka-angka bersama
Tanpa menghasilkan rumus yang dapat diberi nama


”untuk kenangan”



sekayu, 2009





ang Mendera-dera*

Langit segar
Angin bergetar
Bunga mekar
Jiwa menggelegar
Saat riuh menaklukan sepi
Jadi runtuh
Saat senyum menanggalkan elegi
Adalah haru
Saat lalat sibuk pulang pergi
Jadi wangi

Jalanku yang merdeka
Ku jejaki kau penuh langkah
Sukma membara
Api menyala


Berkobarlah!
Berkobarlah!
Wahai yang mendera-dera!




*untuk kelulusan kakak-kakak sekalian



sekayu, 2009





_pada hari ini_

Tak ada yang dapat memaknai hari ini. Begitu sempit dan tercekik. Terasa tersedot ke lubang-lubang yang menyimpan banyak kenangan, mengenangmu jadi kepedihan. Lalu fitrah hidup perlahan-lahan berjalan, memburu waktu yang makin bergeser ke seberang.

Adakah yang bias saat ku tanya kau di laut mana? Apakah kabut menyibak setelah pelabuhan tua nampak, dan tak ku temui kau terbahak-bahak. Aku idiot seketika. Mulutku menganga sambil melumat karcis pertemuan kita. Aku autis tiba-tiba. Aku sibuk sendiri mencarimu ke sela-sela. Ke selaput, ke rongga-rongga, ke batas cakrawala. Jiwamu begitu kerdil untuk dijamah.

Gunda! Aku gemetar hebat kala kau tak ada. Menghilang ke layar maya. Terpampang wujudmu paling nyata di sana. Aku bertanya-tanya. Siang asik bicara. Malam asik tidur seenaknya. Apalah arti pencarian tanpa yang dikenal jua? Hanya menghabiskan sisa-sisa nafas yang terengah-engah.

Luka! Beribu ton besi dan baja menindih dan menindih badan atau pun jiwa. Awan pun menemani seolah tahu bahwa hujannya sama dengan air mata. Mega bersembunyi menyimpan senyumnya seolah setia. Dan malam masih tidur seenaknya, mengunci diri rapat-rapat hingga saatnya. Air berhenti ke hulu seolah mengalir ke salah muara. Dan orang-orangan sawah masih saja sibuk mengusir hama seolah tak lihat darah bersimabah.

Tak ada yang dapat memaknai hari ini. Ataukah esok, lusa berjuta tahun tiba, fitrah hidup merasa sesak lagi susah. Kala kau lenyap seketika. Dan pelukan kita sia-sia.



palembang, 2009






_yang kian melupakanmu

Biarlah angin membeku
Dan air berdebu
Lalu udara kian melupakanmu
Pada hari-hari yang mendidih
Dan sumbu yang masih menyala
Dan malam yang hampir padam bulannya...



sekayu, 2009





_menghadap maut_

Menghadapi maut
Ada yang tersenyum
Di balik lubang hitam
Pendarnya menaruh kelam



sekayu, 2009






_bersama muasalku_
bila angin tak padam
:air memecah kelam
di ambang, biarlah
sukma melebur bersama gamang
entahlah, fajar membara lalu
meradang membakar arang
bersama muasalku di pertapaan ibu..



palembang, 2009





Yang Melarikan Diri


Setelah lama menunggu mimpi :
Waktu menderuderu mengarungi
Pasti! Dalam setiap lelap yang
Membentangkan letih, dan bau asap
Fajar yang lama menanti
Membungkam dan menutup diri
Jadi bisu
Jadi tuli
Yang semula surut menjelang susut
Ke dalam mimpi yang agaknya makin kelam
Supaya sukma tak mengendusendus ke dalam
Jendela dan kaca, maka tabir mimpi
Menjauh dan berlayar ke arah yang lebih sepi
Ke laut yang dikenal senyapsunyi
Tanpa busana, tanpa senyum, tanpa angin
Yang membawa mimpi terus berlari.
Dari waktu lalu mimpi yang sudah disinggahi
Didapatlah sejumlah insan yang banyak elegi
Menjerit mereka, terbahakbahak mereka
Melihat mimpi yang mengurung sendiri
Lalu, dari awal waktu yang letih
Dalam dekapan mimpi
Akhirnya! Sungguh, terlelaplah jiwa yang memutih


Palembang, Juni 2009





Lahirnya dewi

Karena bulanbulan pagi
Lahirlah dewi yang agaknya
Menyombongkan diri
Setelah darah dari pertapaannya
Melarikan diri, dan malam yang
Melapisi sendi-sendi tak karuan
Kacau, hingarbingar membungkam sendiri

Lalu dewi itu bernyanyi :
Dari tempat yang kokoh itu
Jiwaku yang telah melebur
Jadi sukmaku, baru
Kelak merubah bulanbulan pagi
Bersama sinar yang membuat tuli
Pada malamnya lekas kelam
Dan bulan itu akan nambah cekam. Mesti!

Teruslah ia mengaisngais tanah
Seraya berkata :
Bilaman api dan air
Serta nyala dan mencair
Adalah sumbu yang tak kunjung nyala
Mendidih. Hingga matahari di atas kepala
Suhu tak ada sepi, lalu bermuara ke lereng
Di sana ditemui nafas bau melati
Yang dulu bekasku membasuh daki

Sejak itu, saat itu, waktu itu
Alam dan bumi dan langit
Yang mengaku paling bening
Menjadi dusta, dusta karena hening
Di waktu lahirnya dewi
Pada bulanbulan pagi


Palembang, Juni 2009






Di ujung jalan
Di depan pagar-pagar beton
Ku antar kau, angin
Ku lepas kau, dingin
Agar terbanglah daun-daun yang menguning
Dan lenyaplah hawa panas di sekeliling

Tinggal seikat roti di dalam jari-jari hari
Dalam pelukan mesra dan sentosa
Dan tak sampai satu matahari di hadapan
Dan tak habis satu bulan di pelipis mata
Itu..............................
Rupa yang jadi tabir kita
Akan tiba secara tiba-tiba

Lalu inikah bau bunga bakung
Dulu kita tanam bijinya
Agar dapat kita kembangnya
Setelah ia layu dan lagi terus memanen bunga
Sempat kita masih menanamnya

Di sinilah,
Di ujung jalan
Di depan pagar-pagar beton
Dan langit berbahan sutera
Jadi arloji akhir waktu semesta

Ya!
Akhir rupa melanda kita,
Badan,
Dan jas baru kita

Huh!
Tinggal cinta berbungkus kado merah jambu
Jadi sejuta mata kamera alam yang menyokong kita

Ternyata kita masih juga bajingan, ya!
Kita kebal pada tangisan
Kerna t’lah bosan pada kesedihan
Ya! Kita memang bajingan :
Bajingan untuk kehidupan
Kehidupan untuk bajingan

Sajak memori
Untuk kakak-kakak sekalian


sekayu, 2009






Tak Ada


Tak ada lagi puisi-puisimu
Tak ada lagi tembang-tembang dalam kamarku
Tak ada pula sepoi angin yang lepaskan
Penat-penat kita
Sehabis disuguhi bermacam angka-angka
Yang tak bisa dirumuskan
Dan seterusnya tak pernah ada


sekayu, 2009






Di Waktu Berdua

Senantiasa kita bertemu sehari lima waktu
Saat kita asyik berkencan
Jariku lebam kau lumat rapat-rapat
Bibirku kau hisap setelah berucap bahasa cinta
Keningku cadas sehabis puas mengetok batok
Kerna ku sering lupa waktu kita berduaan

Dan saat itu
Waktu terbuang kala rindu berkumandang
Sumur kerontang untuk mencuci badan
Jalan raya macet kala kita hendak bepergian

Tapi kasih!
Kasih yang berkuta
Percayakah pada keteguhan cinta
Cinta yang dapat saling membawa
Tubuh yang berdaki tak kan mampu berpaling dan murtad


sekayu, 2009






Gemercik Angin I

Rindu gurun adalah rindu stepa
Rindu senja adalah rindu purba
Rindu dunia :
Rindu yang terbuka lekuk isinya

Setelah rindu-rindu itu,
Tampak dirinya
Lusuh tanpa benang melilit tubuhnya
Manis, raut wajah Sang purnama

Lukisan potretnya pada bingkai foto
Yang hampir kusam
Yang menanggalkan keriputnya
Mengerak pada bilik pagi buta
Gemercik angin senja
Datang merembes
Menampar sukmanya

Maka saat itu
Ia menjerit ke arah bangunan tua
Ia robek baju di jalan yang penuh roda
Ia seret bukit setinggi pundaknya
Ia panjat tebing alisnya,
Tak ia temukan puncaknya
Hingga waktu mengekang langkahnya
Hingga debu buyarkan tulang kerangkanya
Hingga tanah mencerna sisa-sisa bangkainya






Gemercik Angin II

Kursi-kursi sofa
Kursi-kursi roda
Kursi-kursi pelana
Kursi-kursi pallawa
Kursi-kursi penyambung nyawa

Pada kosongnya malam bercahya
Cahya ilafi bulan sabit
Bulan sabit bersandar pada bintangnya
Bintangnya merindukan relief pelataran
Pelataran candi pada gubuk-gubuk kelam
Kelam jadi perekam, pemotret gemercik langkah angin
Gemercik yang tertahan di suatu sofa
Di suatu roda
Di atas pelana
Di huruf-huruf pallawa



sekayu, 2009






Padat Puisi


Puisi adalah senja
Yang menghabiskan pagi sebagaimana mestinya
Puisi adalah lagu lama
Yang jadi batu sandungan lahirnya kata pada dunia
Puisi jadi saksi mata
Yang menyaksikan zaman menuntun kita
Seberangi batas angan cakrawala
Tempat kita menyusun rupa
Hingga terbentuk manusia sempurna


sekayu, 2009






Dan Kerinduan


Betapa pun di waktu itu hujan
Ialah tangisan yang lagi merindukan
Bukan untuk menghidupkan kehidupan
Tapi segenap hawa dingin terasakan


sekayu, 2009






Paling


Ku tulis sajak paling sederhana
Sebab sering aku menulisnya
Agar dapat kau memadatkannya


sekayu, 2009






Setelah Jadi Mimpi

Jadi apakah mati itu sendiri setelah lama berdiskusi
Pada tiap-tiap cabang muda yang enggan berganti nama
Dan sepi setelah jadi mimpi
Adalah malam yang meninggalkan jejak di waktu pagi


sekayu, 2009






Selalu Habis

Malam selalu dihabiskan oleh pagi
Lalu pagi disapu kelamnya malam
Apa yang terjadi pada alam
Adalah materi soal ujian

Mata kita selalu merasa
Dan jiwa kita mulai memangsa
Dan pagi, serta malam
Adalah musuh yang paling nyata

Dalam keengganan menatap kemauan
Lalu pulih dengan percobaan
Merenggut sejumlah buku dan halaman

Dan ketika itu,
Aku pingsan
Matilah rohku dalam kejapan
Jasadku meraung kesakitan
Mencari yang tiba-tiba lenyap
Hilang dalam genggaman
Genggaman debu yang meradang


sekayu, 2009





Berteman Gelap


Tak mau aku berteman pada kegelapan
Yang bikin takutku semakin kencang
Yang biarkan pandanganku kabur mengekang................


sekayu, 2009






Penetral...........

Sajak-sajakmu jadi asam dan basa
Netralkan zat-zat kimia
Dari MSG hingga karbon monoksida


sekayu, 2009






Hari Ini................

Gembala tak lagi bercerita
Menggiring kerbau dan sapi ke kandangnya

Televisi tak lagi bicara
Mengisi warta
Dan dialog wawancara

Pasukan keamanan berpelor baja
Angkat senjata
Tembaki mahasiswa

Perut menganga
Setelah piring diganti daun kelapa

Hari ini
Sumbu menyala
Darah mengaliri darah
Menganak ke berbagai muara

Hari ini
Dalam tatanan alam
Berjalan sendirian
Jadi hantu gentayangan

Hari ini
Berwarna merah
Seterusnya
Hitam seketika

Hari ini
Adalah duka semesta
Semesta berduka

Hari ini
Gembala
Televisi
Keamanan berpelor baja
Perut nganga
Jadi duka semesta


sekayu, 2009






Dua

Dua matahari
Pantai menggigil
Bulan menggamit
Celah yang sempit

Dua bulan
Dada meradang
Malam mencekik
Siang mesti terik


sekayu, 2009






Bagi yang Maya, Bagi yang Hampa



Tak ada yang maya bagi yang maya
Tak ada yang hampa bagi yang hampa
Gulingkan seribu mata sebagaimana mestinya
Tataplah dengan tiada maya dan hampa
Mereka sungguh tiada .........................


sekayu, 2009





Saat Tak Ada


Saat tak ada lagi rupa
Muncullah rupamu dari segenap rupa

Saat tak ada lagi kata
Meruap kata-katamu dalam baris-baris sajak

Saat tak ada siang yang menyala
Terbakarlah baumu dari sumbu-sumbu yang menyala

Saat tak ada malam yang padam
Gamanglah kelam melihatmu hitam legam

Yang rupa
Yang kata
Yang nyala
Yang padam
Jadi wujudmu yang paling megah


sekayu, 2009






Ku peluk ombak
pada cadas kerikil
Ku teguk karang
Pada hening tahlil
Pada-Mu............
Ku terisak dan terbahak
Sekedar merayu seraya menggoda




*hanya Kau yang kutemukan saat ini


sekayu, 2009






Malam terselip di ketiak bulan
Bulan menggamit kelamnya
Begitu dalam dan agaknya tenggelam
Lalu turunlah cahya-cahya yang disebut fajar
Atau apa saja yang kusebut itu menjalar
Ia menghapus malam dan gelapnya dengan sabetan
Sabetan yang bikin gamang penghuni lautan

Dalam peperangan itu
Adalah waktu yang menanggalkan senyummu
Dan menjara duka-dukamu
Dalam pelukmu
Dalam tangismu
Dalam tidurmu
Dalam cita-cita yang meledek senyummu
Dalam hari-hari yang melupakanmu

Apakah ini yang kau sebut musibah
Yang katamu meluluhlantakan jiwa kembaramu

Sesaat kau mulai sadar dari mabukmu
Kau lumat gamisku
Kukumu yang tumpul mencabik danging, urat,
Lalu kau kunyah tulang-tulangnya
Kau jadi lapar
Setelah semalam kau bergelut dengan sendirimu
Dan kau terkulai terengah-engah

Diamlah kau menatap pohon rimbun
Sambil terbahak kau sesali pergulatan itu
Kau rangkul kursi yang ada dihadapanmu
Dengan tenaga yang tersisa dan jejak yang karatan
Kau pecahkan cermin-cermin yang meramal jiwa-jiwa
Kau jadi liar

Lalu kau terpukau
Saat kau melihat kepingan cermin yang telah mencair
Senyummu mengembang ke dua samudera

Otakmu mulai mencerna
Saraf-saraf mulai bekerja
Kau bilang :
Hidupku adalah istimewa
Malam tak mampu memadamkan
Siang pun tak mampu menyalakan

Kau mulai kerepotan sendiri dengan luka-luka
Kau coba tutupi kain kasa, percuma!
Lukamu nambah parah

Saat matahari terangnya
Saat bulan gelapnya
Kau kaku, kau kedinginan
Badanmu berontak menopang tubuh yang semakin dusta

Lalu nongollah yang kusebut ia pencabut nyawa
Ditariknyalah geliatmu :
Kepala, tangan, ikalmu kusut
Kau gamang, lalu kau masuk ke perut
ranjang yang kau semai pada laut

Dari saat malam terselip di ketiak bulan
Bulan menggamit kelamnya
Begitu dalam dan agaknya tenggelam
Menangislah kamu meminta penderitaan


sekayu, 2009






Aku melebur pada topik-topik petang
Pada gamis ku taruh pasrah meradang
Pada ujung kaki yang terjulur panjang
Mataku menatap ribuan elang
Terbang, dengan gerak yang tak berbilang

Wahai batu-batu karang yang melintas kencang
Memecah serpih-serpih yang nampak telanjang
Aku terkenang bilik-bilik malang
Bernaung genting-genting usang
Berselimut nyanyian-nyanyian peri hutan
Betapa gamang!

Tangan ku gamit wajah-wajah yang sesak dusta
Seraya melumat isyarat yang menyala-nyala
Dan sukma yang berteriak atas nama derita
Di ujung-ujung udara yang lengang suara
Riuhku meminta, menengadah pasrah
Aku bersimbah susah!
Lalu setelah beribu liter keringat yang berbau darah
Ku hisap lagi jadi tenaga
Sia-sia, tak mencukupi derita malam yang semakin dalam

Pada penghuni mayapada yang banyak bicara
Aku menyusup mencari kata-kata
Yang kelak aku jadikan rupa
Yang lagi mau menopang payah
Pada gorong-gorong yang kering sampah
Aku jadi mata-mata tikus yang berakhlak mulia
Yang kelak ku jadikan mainan warna-warna
Hidupku lekas punya makna!

Aku melebur pada topik-topik petang
Pada gamis ku taruh pasrah meradang
Sungguh bernada gamang


sekayu, 2009






Cahya Ilafi
Cahya menguning menyapu debu genting
Cahya bening
Cahya tembus pagi lenting
Menyergap segenap rawa pening
Hawa guling nafas bunting…


sekayu, 2009







Adakah cermin yang menolak bayangmu diam-diam
Dan batu yang meledek lahirmu di khalayak
Lalu sinar gersang yang mendidihkan sungai dari mata gagak
Yang mendiami raungmu jadi api yang
Meniduri lelah di ranjang mimpi yang
Menjajaki kaki angin pengap buih yang
Lenyap bersama fajar pagi yang
Larang sawah panen padi
Ialah sergap peri hutan di laut nyeri
Yang memperlambat nantimu
Dan kebutkan hari yang menindih lukamu...


sekayu, 2009






Seperti air menitik bebatuan
Cadas kecil jadi lubang dalam
Pada jalannya malam dan siang
Adalah cermin waktu yang terbuang.......


sekayu, 2009






Biarlah angin membeku
Dan air berdebu
Lalu udara kian melupakanmu
Pada hari-hari yang mendidih
Dan sumbu yang masih menyala
Dan malam yang hampir padam bulannya...


sekayu, 2009