Jumat, 21 Agustus 2009

Menggenap di Garis Waktu

Ambillah aku dari segenap jiwa di tebingtebing
Di bawahnya yang mengalirkan banyak air
Lalu menggiringnya ke muara sungai yang tak kunjung kering

Dari sungai yang tak kunjung kering
Lahir tetes air yang setiap waktunya
Muncul sumber yang baru bagi kehidupan baru

Kehidupan baru setelahku
Menggenap di garisgaris waktu




2009

Tak Diam Lagi, Suara Kami Kembali

ah kami cuma bisa diam seperti dinding kamar kami yang menyaksikan debur ombak meraung lalu pecah bersama diam kami. Bertahun-tahun diam menua sendiri, bukan karena kami: tapi karena diam kami yang berbongkah-bongkah bertapa di mulut kami.

setelah diam berjumpa pada waktu yang lama, asin yang bermuara di lautnya yang panjang telah kembali kepada mulut kami yang kemudian memberi kami potongan-potongan kata yang akhirnya memberi suara pada diam kami.

lalu kami pungut lagi setelah kata-kata meluncur dari mulut kami, dari diam kami, supaya jangan habis asin yang telah kembali, yang setelah pulangnya dari laut yang panjang, bergelut dengan ombak; bergelut dengan badan-badan ikan, lalu akhirnya pecah di mulut kami.

suara kami telah kembali, setelah menahan senyap-sepi pada malam-malam ganjil dan bersama dinginnya yang gigil, pun anginnya yang telah sampai di menara paling tinggi, menggiring asin kami, tertuju pada mulut kami. Kami tak lagi diam seperti dinding kamar. Kami punya suara, dan suara kami pada akhirnya meraungkan sepi supaya pecah. Sesudahnya kami tak diam lagi.



2009

Bang

” Bang, lihatlah di atas lautan
yang lagi menderu-deru
bayangan kita terpajang di sana :
berlapis kepulan debu ;
kulit goni ; lalu
wewangian khas yang kita tunjukkan
sehabis lelah :
adalah asinmu yang telah mengerak
menjadi satu pada dada lautan, Bang!
Di sana kau hidupkan
benih dari segala didih
dari api yang mengikat buihbuih dengan sabunnya,
dengan gelombangnya bersamasama.
Maka kau, Bang!
Diriku berlapang.”




2009

Wajahmu Pengkremasian

Ada paras wajahmu
Yang lalu terbakar di dalam unggun
Setelah menenggak kopi
Yang disaji dengan roti
Di sana
Mungkin

Wajahmu yang kemerahan
Mulai kehitaman
Kedinginan atau kepanasan
Karena kau minum bir
Atau sekedar berbincang
Dengan tamu undangan
Di pesta kremasimu
Tadi siang

Wajahmu tak lagi kelihatan
Berkalikali samar
Lalu mulai menghilang, di balik
Api unggun pengkremasian
Tinggal abu sisa pembakaran,
Bersemayam di tembok zaman
Dan kami yang jadi kedinginan



2009

Musim di Jalan Kota

Duh : berkalikali awan memagutku
Dari kepak sayap yang rontok
Jatuh di binar mata
Setelah sesaat mengernyitkan alis
Bahwa musim ini : musim melati
Tak berbunga lagi

Jalan di kota nampak sepi
Bertahuntahun lengang lalu didih
Bersama api dari percikan matahari
Paras kota agaknya gosong
Dan merembeslah melalui pori pun celah
Menghitamkan segala, menarik daundaun
Patah dari batang pohon yang tak pernah goyah

Musim belum berganti
Kulo pasati tembokan jugo gedek kamar*
Tak ada fotomu menggantung
Hanya retak tua dan sawang membayang
Yang lagilagi jatuh bersama daun
Yang tadi patah dari batang

Duh : hanya kata yang masih sempat mengguyur kota
Turunlah sesuatu dari langit yang hanya diam
Tumbuhlah melati yang tadi padam
Lekatlah daun pada batang
Jangan sampai pada goyah
Karena pada akhirnya
Musim di jalan kota pasti tiba




*ku lihat jalan pun dinding kamar


2009

Di Perjalanan

Aku pergi
Setelah memeluk ibu
Dalam buaian sendiri

Aku pergi
Kala jalan masih kelam
Ada malam
Yang mengintai langkah
Jejakku tinggalkan

Aku pergi

Ibu tambah sepi
Jalan lelap
Dalam malam

Aku pergi




2009

Teh Manis : Kusaksikan

\1\
Hanya sebatas teh manis
Saat malam pertama
Yang mempertemukan antara kulit
(bertelanjang dada)
Dingin mengguyur
Kepadamu, kesaksian kukubur
Di atas ranjang
Di bawah bulan :
Ku titipkan segenap
Nafsu purba


\2\
Di atas kesaksian kubur
Ku saksikan :
Tubuhmu terlunta
Berlari mengejar-ngejar
Yang tertinggal
Yang sejak tadi
Telah dijemput di hari ketiga.





2009

Setelah Cinta

Setelah Cinta


Merdeka !





2009

Nak Kau Bedil

Nak kau bedil* berbongkah sukma yang mengeja atas dirimu,
kau : angin hidup dari segala lapis dinding bebal, selain
kata dan malam, yang menyekatmu : bulan



2009


*ingin kau belah

Afirah

”Yang tertuang di keningmu
terbayang di waktu malam masih gugu
meleleh melewati baris-baris nafas
antara dada dan jantungmu.
Begitu takut kau pada fajar
lalu sembunyi di bawah api.
Bukan pagi
bukan pula kau Afirah,
yang terselip di jeruji
sifatmu pada malam
mengenangkan yang telah padam!”




sekayu, 2009

Ah, Benalu

: dekap saja ia di lekuk dadamu
(yang kau pintal dari tumpukan
pita merah jambu)
ikatlah ia di lehermu,
supaya jinak. Dan kau
mabuk untuk itu,
lalu pun kau lupa segala benalu





Sekayu, Juli 2009