Rabu, 30 September 2009

Saya Katakan, "Sayalah yang di depan Pintu itu."

orang yang kucintai bertanya saat aku mengunjunginya,
siapa yang berdiri di depan pintu? jawabku, aku.
katanya, kau salah kenalkan diri ketika kita dipisahkan di dalamnya.
setahun telah berlalu dan tatkala aku mendatanginya,
kuketuk pintu dengan melemahkannya.
dia bertanya kepadaku, siapa engkau,
kujawab, kulihat hanya engkau di depan pintu.
dia berkata padaku, kau telah tepat kenalkan diri
dan kau tahu makna cinta, masuklah.*


*dikutip dari La Tahzan, halaman 331

mencapai kenangan

_tersebab rasti_

/1/
"dengan ujung matahari paling lindap
kenangan kita makin panjang ke barat
mencapai bulan yang kian karat
oleh malammalam cemar dan lagi pekat"

/2/
"kita sama dengan
daun yang goyang
dari pohon yang banyak
cabang"

Senin, 28 September 2009

tanah subuh

Burung telah datang membawa banyak benih biji dan sari yang terkandung dalam rahim tanah (tempat menggeraikan tubuh mereka saat gelombang hujan badai gulungan gerimis yang landai)

siang menepi membawa burung terbang

burung itu beramsalkan pohon yang banyak daun juga buah rambutan : yang asalnya dari benih biji yang banyak rambutnya
sama seperti bulu burung yang kadang rontok
menyentuh segala ujung pangkal yang
membikin banyak
tanaman
yang mengalir dalam rahim tanah di mana
pinggulnya :
subur
lebih dari segenap gerimis sebelum hujan mengalir
banih
baru bagi
banyak tanaman....


palembang, 2009

Kamis, 24 September 2009

Sebelum Sempat

malam tanpa sisa matahari dan sepenggal bulannya
adalah kesenyapan yang menuntaskan rindu
sebelum sempat tergelar di waktu subuh



2009

Sengai Perawan Tanpa Lelaki yang Datang

sepanjang perjalanan di hutanhutan
sungai tetap sama mengalir
mengairi tanahtanah
yang belum ditumbuhi benih
yang masih perawan
tanpa lelaki yang singgah
sekedar mencetak telapak kaki
yang penuh dengan kotoran

pada riaknya yang masih tenang
dan belum gelombang
semua masih bergelayut di tempat yang sama
tanpa tanda kedatangan

ada yang kosong di rahim mereka
(benihbenih yang belum ditanam)
"hai lelaki yang dulu singgah
kemana nakalmu yang telanjang
di sini telah berlapang
selaksa bulu tanpa benang"

sungai yang perawan
membawa dirinya
terus mengairi tanah
seperti anak mereka yang harus
diberi makan bekas kerinduan



palembang, september 2009

Paku

. . . . . . .




(begitulah ia menajamkan kepalanya,
meruncingkan ujungujung yang kian tajam
oleh segala lapis ranggas yang berkarat)



Begitulah kiranya




Palembang, September 2009

Kamis, 17 September 2009

Daun Yang Jatuh Bersama di Depan

Udara yang dihembuskan oleh burung yang bertengger di pohon mahoni ternyata lebih dingin dan lebih segar dari udara yang keluar dari nafas pohon-pohon itu sendiri. Saat semua panas tersedot ke dalam bulubulu hidung dan ronggarongga dada, mereka mencerna dan lalu menyimpannya di wadah yang kedap wangi (bau yang mencari kesegarannya).

Setelah burung itu menghembuskan untuk kedua kalinya
Basahlah semua tanah yang mengering karena terlalu banyak
Menguapkan kerinduan hujan yang masih jauh untuk sampai dan
Lagi membasahi setelah sempat lebih dulu udara itu menggamitnya.

(bukan main beningnya dibanding kaca di permukaan air dangkal yang banyak
ikannya)

Lalu udara itu menangkap semua yang gelombang. Pernah saat itu daun yang jatuh bersamasama di depan (yang dulu bergelayut pada induknya) di ambil lagi supaya jangan mengganggu tanah dan pohon tidak gundul merata. Semua harmoni (antara udara yang keluar melalui burung, daun yang lepas setelah bergelayut, dan tanah kering) menggumpal dan lagi tetap ada.


Sekayu, 13 September 2009

Gerimis pada Beribu Panjang

Sudah sampai di muara mulut kami
Bongkahan kerikil dari sisiran pinggir
Menuju lidah kami, menggiring
Masuk ke dalam dengan penuh
Dan memeram bulat wajah kami

Katakanlah telah sampai dari beribu panjang
Melalui hujan hutan yang runtuh
Oleh gelombang
Dengan segala riak batu yang
Menerjuni tebing tebing
Dan oleh pantai pesisir yang gerimis
Dengan pasir
Kami menjelma seperti kata
Di mana di setiap bunyinya
Di situ kami menangis pecah
Dan lagi menjelma gerimis

O sayup di pelupuk mulut
Dan lalu bermuara ke dalamnya
Bersama lekuklekuk
Yang kian menyempit
Ribuan denyut gerimis

Dan lagi kami menjelma
Pada gerimis kami tertahan
Menjadi tangis
Rasa garam dan asinnya
Dari beribu panjang
Kembali menjadi gerimis



Sekayu, 10 September 2009

Seperti tak Ada Hujan di Musim Panjang

Musimmusim masih sama saat tak ada hujan yang menenggelamkan pasirpasir ke dasar sungai, menenggelamkan asin ke badanbadan ikan, dan lagi mengembalikannya melalui angin mungkin juga pada pepohonan yang menanggalkan ketinggiannya. Bukan untuk hujan tapi agar sama rata dengan pohonpohon di hutan yang ditinggalkan oleh burung dan semut dan rayapnya.

Waktu kian meluap menuntaskan kering dan kebekuan zaman. Saat matahari mendidihkan segala permukaan, semua pun runtuh menjejak ke tanah, lebih dalam dari akar sekali pun yang menggurat. Dan lebih rendah dari rumput yang membongkokkan tubuhnya, bukan karena takut. Tapi rasa lapar yang mengakar setelah musim nambah panjang.

Masih sama dan lagilagi sama. Kering seakan menjadi bagian hidup. Saat kita laihat pohonpohon di luar pada goyang seraya merayu hujan untuk tidak merajuk dan kembali menjenguk musim lama. Dan di dalam : dinding tetap diam. Tetap tidur dan tak mau tahu tentang di luar.

Karena kekeringan, semua kepayahan. Gairah hidup makin berkurang. Semua yang awalnya dari hujan perlahan tenggelam melalui celahcelah rumputan. Asin menguap melalui badanbadan ikan dan terangkat kembali diambil hujan.

Dan musim tetap menunggu. Dengan sisa tangantangan ganjil yang tinggal satu, memanggil hujan yang masih bersembunyi atau malah tidur seperti dinding di dalam yang tak mau tahu tentang di luar.


September, 2009

Penghujung malam Tanpa Sisa Mataharinya

Telah digariskan batasbatas malam yang menggoyahkan dingin dan gigil lebih dalam dan lebih dulu tahu bahwa tak ada siang pada saat tebingtebing nambah curam, dan menerjuni setiap garis di penghujung malam.

Apalah arti sekian banyak waktu yang terbuang siasia, kami masih kosong, perut kami sesak oleh udara yang cemar, dan kami telanjang, karena telapak tangan dan kaki kami mengeras di pinggir tebingtebing.

Duh! Penghujung malam tak lebih dari segerombol burung yang lindap di bawah potongan bulan tanpa sisa sepenggal mataharinya. Dengan huruf P besar, kami makin mengecil tak karuan. Semua seolah tak ada zaman yang menggantikan batas-batas malam.

Puing malam pada garis-garis menggoyahkan kami, beserta dingin dan gigil lebih dalam, lebih dari tulang dan tembus di kelengangan jalan. Pada akhirnya kami terus mencari batas ujung dan awal dari segala malam.


2-8 September 2009

Dengan Menebang Aku Menghilang

di atas perapian, ku bungkam denyut kota dari segala jalan, hilir menujumu ku hentikan. bukit-bukit memanjang, menunggu,abu, dan asap yang gelombang.

(ah, sayang! Aku hanya bisa memahami dari bayang belakang yang tertahan di ujung badan, dan tak sempat masuk ke jari-jari untuk disimpan lekat-lekat sampai uasang).

Kau yang kian menggetarkanku sampai ke kulitkulit yak peka rangsang, di situ kusampaikan telah ku potong baris-baris bukit panjang, denyut dari segala kota yang lengang. Melalui itu, aku cukup mengenangmu, tanpa perlu memeras rambutku yang tergerai setelah sesaat kujadikan jembatan seberang. Dan kau pun tak sungkan berjalan dengan kaki setengah pincang.

Ada deretan bekas bukit belum ditebang yang terus mengikuti ke mana saja aku membuang tapak kaki, lalu telanjang tanpa benang, tanpa kandang. Barangkali mereka tahu aku tak berlaku demikian saat metahari pada siang dan bulan mendatangi petang.

Berkali-kali tetap sama. Bukit menyiksaku dengan tebang! tebang! katanya padaku agar sepertimu menghilang.


September, 2009