Rabu, 29 Desember 2010

Astaga!

Bahkan langit akan mengutuk
Bagi siapa yang menghilangkan
Bulan malamharinya. Bahkan
Langit akan mengutuk
Bagi siapa yang pulas bersandar
Di pundak yang bukan milik kekasih
Yang sudah dibayar lunas kasihsayangnya.
Bahkan langit
Akan mengutuk bagi siapa
Yang menyebut batu pertama tujuh warna
Dan kuburbatu berundan sebagai mulut kematian
Yang menyimpan kenangan bagi yang
Hidup, keadaan bagi yang takut
Kecaman bagi yang tak merubah
Arah runcing mata senjata terhadap lawannya

2010

Senin, 27 Desember 2010

Pesan Singkat Pukul Sepuluh Malam

Hujan

tiba tiba Tuhan
menangisi bumi yang
masih tidur dekat perapian


Malam

sebab langit, Tuhan
datang dengan telapakkaki telanjang.
dituruni-Nya lembah yang panjang.
bagai udara, Dia
melayang membawa bulan
bersembunyi di bawah
selimut kerinduan

2010

Tidurmu Yaya

Tidurmu Yaya


Tidurnya naluri seorang anak
Dengan nafas panjang
Setelah ini hari
Berkali kali berlari di pinggir
Kolam mengejar bayangan sendiri

2010

Minggu, 26 Desember 2010

Alergi

Alergi


Cuaca dingin kembali datang
Setelah lima bulan pergi tanpa pamit
pada orang orang disekitar seperti lautan
Dan surat izin liburan di tengah musim
Dibuatnya bingung acak acakkan.

Cuaca dingin, saat ini
Apakah yang dapat membuatmu pergi
Kembali. Seperti lima bulan silam
Kamu kabur menyelinap di bawah
Gorong gorong rumah tikus yang kenyang
Dengan kejunya

Cuaca dingin, ini tubuhku sedang merinding
Hamper separo bulu dan rambutku
Pada berdiri. Pori poriku membesar
Dibiarkannya begitu saja keringat keluar
Tanpa mesti ada kompromi
Dan tatakrama semisal bilang
Mau pamitan cari angin.

Cuaca dingin, semestinya kamu tahu
Tentang kebiasaan alergiku yang tiap kali
Muncul saat kedatanganmu. Caladine
Di kamar sedang habis. Obat tablet
Di laci tinggal sepotong. Sisanya
Pecah jadi bubuk debu yang terbang.

Cuaca dingin, bukankah
Dulu kamu berjanji bersetia padaku
Pada orang orang terdekatku
Tak akan datang sekali pun
Waktu yang tertanda di ingatanmu
Membawamu kembali datang dengan alasan
Kamu ingin kembali

Cuaca dingin, tubuhku mulai gatal
Ini kuku baru saja dipotong dari ukurannya
Yang panjang. Ini kulit baru saja dicukur
Dari luka kering yang berdarah.

Cuaca dingin, kamu serupa kematian
Yang datang lewat gerbang perizinan
Tanpa bilang bilang
Orang orang pun kamu buat kebingungan.

2010

Sabtu, 25 Desember 2010

Matahari dan Burung yang Memakan Khuldi

Matahari dan Burung yang Memakan Khuldi

Naiklah matahari
Seperti naiknya burung burung
Yang memakan buah khuldi

Satu persatu buah itu
Tumbuh di mulutmu
Yang masih mengatakan
Cinta adalah hal dan ide
Mengenai mimpi yang paling khayal

Bahkan ketika yang betina
Datang merangkul matahari
Di pundak dan dada kirinya
Buah khuldi tumbuh perlahan
Pada lingkar puting merah mudanya

Buah khuldi itu kemudian tersenyum
Mengembangkan masing masing kemaluan
Yang lupa jalan pulang.
Membuka tubuh yang masih telanjang
Agar menjadi satu nama
Yang mengikrarkan bahwa ketiadaan
Berawal dari kepastian yang tak nyata pula.

2010

Teror

Teror


Kalau saja ada tubuh cinta
Yang masih terbang di dekat
Televisi, pasti senapan serdadu
Yang dicuri bapak tadi malam
Sedah saya tembakkan ke pantatnya
Yang tak bisa diam

Bayangkan, sudah enam acara
Gossip bianglala dilewatkan begitu saja
Padahal besok di kantor
Teman kanan kiri
Pasti ngerumpi selebiriti
Yang anu ini itu kawin lagi

Atau barangkali juga minta dicerai
Sama pasangan masing masing.
Apa untungnya kalau hidup ini
Berpisah lagi? Baru satu tahun
Tidur saling berpelukan
Merangkai rancangan baju anak anak
Menghitung banyak nutrisi untuk si bayi
Apa susahnya sekali lewat nonton televisi
Tanpa mesti diganggu tubuh cinta
Yang kemudian mesti ditembak
Lalu tewas seketika?

2010

Thallus

Thallus


-1-
Hallo!
Apakah tubuhmu masih di dalam tangkai mawar yang sengaja dipetik agar durinya mongering. Terkelupas satu persatu?

-1.2-
Hallo!
Apakah suara sesayup sunyi detelingamu terdengar berdenging mengiau seperti kucing yang tak mau mati ditikam pemiliknya?

-1.3-
Hello!
Apakah kamu suka sarapan lidah sepatu yang dipanaskan di wajan berminyak tanpa margarin tanpa keju tanpa gilingan kacang tanpa garam tanpa lada tanpa apa apa?

-1.4-
Hello
Apa yang masih kamu pikirkan? Foto telanjang bapak ibumukah? Atau perbincangan kita yang terlalu tak masuk akal?

-1.5-
Hello!
Apakah kamu mengerti dengan perkataanku sebelumnya?
Perkataan di mana tak ada pagi sedingin freezer kulkas yang baru saja didandani tukang becak yang mondar mandir mengawal penumpangnya ke pasar, ke swayalan, ke supermarket, ke gedung pernikahan, ke restoran kepiting asam?

-1.6-
Hello!
Apakah kamu tak suka perbincangan?
Apakah kamu lebih suka pertanyaan yang diam, pertanyaan orang orang bisu yang hanya memerlukan gerakan tangan, pertanyaan orang buta yang cukup mengatakan apa saja yang harus dikatakan?


-1.7-
Oh astaga!
Malam ini malam jumat yang menakutkan. Hantu hantu pasti berkeliaran. Tuhan lupa mengurung mereka jadi tahanan. Masjid masjid sepi pengajian.

Hello!
Hey kamu! Pantas daritadi diam! Tapi kenapa tak bilang?


2010

Pra dan Pasca

Pra dan Pasca


Kau percaya bagaimana
Batu mulanya menetes perlahan di kaca
Lalu menampar wajahmu hingga berdarah
Bibirmu kemudian lumer
Dan hati
Apakah akan ikut terjatuh
Luruh dari rumah perahunya
Sedang aku disini
Masih berdiri
Demi keinginan untuk masuk
Lewat jendela samping pintu rumah kemustahilanmu.
Lalu masihkah kau percaya
Tentang kegoyahan katakata
Yang sengaja dibuat berkelindan
Pada ingatan yang tiba-tiba akan menghilang
Berkumpul menjadi peledak yang
Meraung-raung. Memanggil cinta
Dan meminta doa sebagai suatu isyarat yang sacral?

2010

Rabu, 22 Desember 2010

Pleura

Atau ketika
Kita memilih menyalakan rindu
Dari tanah yang ditanak
Di dalam tungku yang menyalakan mekar mawar
Kita sepakat
Bahwa setelah Bapa dan Tuhan yang Satu
Masih ada ibu dan cintanya
Yang tak ingin
Benar-benar melupakan malam
Setelah berkali-kali bermimpi di sianghari
Mengejar anaknya
Bermain mobil-mobilan
Bermain sembunyi-sembunyi
Bermain music dan bunyian
Bermain kawin-kawinan
Sebab di antara usia yang menjadi batas waktu
Kelak kita akan dewasa juga
Dewasa memetik arti gugur bunga ditimpa tubuh angina yang gemuk
Dan selain batang yang begitu setia menjadi awal mula kejadian yang menyembulkan kita
Beserta niat ibu kita.

-Palembang, 2010

Senin, 06 Desember 2010

Mim

ini Mim
datang dari tiang alif yang panjang
dari mata bertingkap

-Sekayu, 2010

Kamis, 02 Desember 2010

Black Scarf Untuk Pecandukata

Ialah
Bapak dari dalam keyakinan
Yang kita percayai
Sebagai kemasygulan dan kemakmuran doa
Yang bertebaran di sepanjang perjalanan
Yang tak begitu saja dengan mudah
Dipaksakan untuk bersetia
Bersedia
Berlama dan berulangkali
Bertahan dari reruntuh waktu
Yang jatuh
Dan mengerat erat peluk pada
Tangan yang membawa dan
Memikul rindu yang berkembang
Dan tanpa hilang percuma


--Sekayu '10

Selasa, 30 November 2010

Plak

dari mata
mengalir nama matahari dan bulan.
dari mata
malam beramai-ramai menikam
kerinduan pada cinta
ingatan pada dada
letupan pada kaki yang sengaja
menggeliat, mengusap-usap telapaknya
hingga perih luka menjadi lading
dan bedil
dan matapisau
yang abadi



--Sekayu, 10

Senin, 29 November 2010

Dengan Mata

:
pertamakali kau lihat bulan dan kacamata orangorang di sekeliling sekolah



--2010

Dengan Singkat

nasihat itu ada pada tiap kata dan doa yang membentuk kau menjadi manusia yang mengaliri darah dan tubuhnya di antara sungai dan muara

di surga sana. dan jembatan adalah penghubung nikmat yang memasygulkan penciptaan dari seseorang yang menendang bola di lapangannya

dengan belah tengadah yang terus,
sampai hilang-tiada



--2010

Alamat

:
ditujukan
pada
kulit lehermu
pada
kulit bibirmu
pada
kulit kelopakmatamu
pada
kulit dadamu
pada
kulit yang menumbuhkan rambut di kepalamu
pada
kulit yang memelihara dengus dan gaung rindumu
pada
kulit yang menyembunyikan suara dari kemaluanmu
pada
kulit yang menyekutukan malam di dalam selimut
pada
kulit yang liar memburu iga wanita untuk usia keadamanmu
pada
kulit yang rapi dari pori keringat sehabis kita
kau aku samarsamar mulai paham makna baru tentang beberapa alamat bijak yang menafsirkan pergumulan di antara susah payah pengiriman rindurindu yang ditujukan pada kau-kulitmu



--2010

Sayang

sayang :

kau datang
angin datang
berpesiar di dekat jantung.
kau mengerang
angin mengerang
memeluk kau masuk ke jantung.



--2010

Sabtu, 06 November 2010

Mula-mula

Dari mana asalnya bunyi kalau tak dari jerit diam di dalam batu
Tempurung
Yang dibekam luka
Perih
 
2010

Alkisah Suatu Malam

-1-
tempat kau mengubur anak yang dalam perutnya terbelit kawat duri batas antara kota ibu kau ibuku pernah sama-sama menanam padi untuk diperebutkan oleh sanak suami.

-2-
tempat kau menikam suara dan jerit, menikam suara anak kecil yang tak punya batas yang terus ingin mati dikubur di liang padi.


-3-
tempat kau melempar gaduh yang bersumber dari kawat
lilitan
duri
perut
yang dibelit kawat duri


2010

Rabu, 03 November 2010

Sajak Pagi, Menghitung Waktu

sajak itu datang dari sepi warna di buku gambar anak yang masih usianya bertangkup di bawah batu dan piring makan seorang ibu

sajak itu menggeliat dan terbang di atas kepala yang berambut tebal bapak dan ibu yang usianya belum genap seribu tahun dan tigakali lipatnya dasawarsa kepalan bumi yang berayunayun pada langit

sajak itu berkata :wangi di tubuh wangi kembang pada sepatu yang berjamur di kaki di mulutmulut anak bapak ibu yang pada waktu bangunnya dari tidur panjang tibatiba melayu mendingin menggigil panas di tanahsalju.


Palembang, '10

Anak Itu Lapar

siapa paling cinta
pada kuah pada sayur pada nasi
pada lauk di atas meja
makan di perut makan di batu

:
bahwa seorang anak itu sedang lapar!


Palembang, '10

Cinta, Sajak di Ponsel Kita

kau aku mau. mau rindu. mau rindu itu datang dari matakau mataku. matakau mataku jadi rindu. rindu yang mau pada kau aku.


'10

Rabu, 27 Oktober 2010

Mukamu, yang

Di batas kecipak air dan meja makan yang kosong
Mukamu yang dikenang masalalu
Sepuluh tahun dijerat leher dan urat usus yang buntu dengan ide-ide
Menulis harapan, dan siang tanpa mengenal api
Yang menyuluk dari riak air tenang

Mukamu, di batas perih dan luka bakar tanpa api
Yang lebih dulu habis. Sebab matahari itu dendam
Kepada waktu yang lebih terang.

Tahun menjadi semakin kacau dan tak berangka
Anak-anak sekolah kehilangan makna
Sepatu-sepatu dan dasi merah kehilangan akal dan debu kuning
Yang mengotori ban sepeda, juga gerobak, juga mukamu.

Dan tentang tulisan di wajahmu yang menyisir bulu-bulu kenangan
Di depan cermin, sebelum berangkat sekolah
Harapan menjadi ketiadaan semata.
Harapan menjadi kulit kacang.
Harapan pergi, kemudian hilang begitu belum tutup jendela petang

Dari riak dan teriak air tenang yang jatuh di mukamu
Bersamanya datang itu luka
Datang itu perih
Datang itu segala lara yang kosong yang lalu yang buntu yang tanpa mengenal api
Yang tenang yang jatuh di mukamu



--Sekayu, '10

Nyanyian Selamat Datang

musim angin yang bergelayut di telinga
telah berlalu. berlari dari waktu.
bunga mawar mekar, daun ingatan di kepalamu
semakin hijau.
"kita serupa batang yang bergoyang
bercokol di tanah, tempat atap rumah
kita didirikan. dari balik matahari
dan sinarnya yang dibawa udara
musim angin akan dikenang"

sebab kenapa
di bumi kita yang belum cukup tua
untuk kakek kita
merasa bermanja-manja pada ibu bapak kita
minta digendong dibawa ke sana kemari
"saudara sayang
mari tidur siang
malam ini ada pesta di ladang
mawar akan mekar
musim angin akan datang di pelupuk mata
ibu bapak kamu dan aku
mesti bergadang, masak udang capit pedas
cumi goreng bumbu syomai

yang paling penting
nila dan tujuh loki arak dari pohon aren di hutan
yang bersebelah dengan bilah pengasah parang
penebang kayu kita"

atap kita akan tetap berdiri
meneduhi dari waktu tiba matahari
yang tembus pandang.
nyanyian kita
akan tetap dinamai selamat datang
kepada musim angin dan mawar yang
akan mekar



--Sekayu, '10

Minggu, 24 Oktober 2010

Mae, Dokumenter

Kasih di matamu bermain air
Menjadi api di tiap malam yang tak ingin dikuliti sepi
Lampu akan padam
Dan selimut bergemetar di tepi ranjang

Tidur pada nanar kamar itu, kamar waktu
Kamar tentang pengabadian
O mae*
Di pembuluh darahmu



*) berasal dari bahasa Portugis yang artinya ibu



'10

Ringtone

pusara di lagu yang bernada garis retak biola, dan listrik di malam
minggu yang masih ingin mendengar suara ”hai”
katakan, o kita masih saja merasa mesra di usia yang belia
di antara 89 tahun kandungan ibumu dan 94 kandungan ibuku
katakan ya kita masih berbicara dan tertawa geli, berbicara dan saling menggurui
bukan ini. tapi kita yang itu akan sepakat
melompat demi istirah pada tiang-tiang nada
lagu bertempo mars dan begitu cepat bermukim di tenggorokan
kita berdawai dan bergesekan lalu menjadi geram
mencubiti tiap lubang di pipi. Chubby kasihku, mana bisikan dan cintamu?
berujung pada pukul berapakah rindu jam pada arloji ponselmu?



'10

Adik Kita

tertanda Rasti


Ia menangis dalam mimpi
Lelakinya pergi dalam mimpi

: dinda, apa kau sedang bermimpi?




'10

Kamis, 21 Oktober 2010

Sapu Tangan di



sapu tangan
hilir di atas air
sepi pada asap dan dada

sapu tangan
di sisi matamu
meledak di tepi airmata
mengalir ke lembah pipi
dan tinggi hidungmu

sapu tangan
di sisi tanganmu
: sepi asap airmata
:sepi seka menuju dada
:sepi yang beriak dan bergema


  --Sekayu, '10

 

Mengenai Sapaan dan Cinta

hai, kata cinta
itu berpagut dari sinyal yang jauh
jatuh ditimpa badai ribut
badai yang meraung di dalam jantung
badai yang menyuluk di tiap belai bulu dan rambut

hai, kata cinta
suara mana yang masih dapat dikenali
di antara baris-baris senar cello yang begitu rapat?
suara apa yang mendentumkan nada
bertingkap, wajah terang langit di atas
bumi kita?

hai,
dan cinta
membawa kemari cinta
menari dengan sepatu cinta

hai,
siapa kini cinta
yang yakin atas segala denting-denting
di redup kamar istirah
yang mendengar dan berjinjit di atas
pukulan nyaring angit angin

hai,
o cinta
berayun-ayun di hilang daun yang selalu
ingin naik di gedung menghadap senja
berhati awan cinta
berangin di tiang dudukan
yang manis dan cinta yang
serupa ingin menerus pergi
bersama udara yang dingin

hai
hai
cinta dan
itu cinta
pergi kemana cinta?



--Sekayu, 2010

Minggu, 17 Oktober 2010

Pemondokan yang Sempat Diingat

datanglah badai itu. menggemuruh di lebar daun, di tipis pintu yang bersekat tubuhku.. sebab kali ini tak akan ada batas antara waktu yang lampau

aku baru ingat, pernah mengatakan tentang sebuah kubus bidang di lingkar puting ibuku. aku pun menyusu sampai tak ada air yang tergelincir di lubang kehausan tenggorokkanku.

aku baru ingat, pernah memikirkan orang berpakaian asing. di lehernya terlilit balutan syal biru. meski tak ada hujan dan dingin, keringat dan panasnya pasti melunak. menjadi penyejuk sampai habis angin malam

ini. "tidurlah pundak mana pun yang kau suka. tapi jenjang pundak yang kanan milikku masih ada bekas tusukan beling yang tak sudah gatal dan mengering. sewaktu-waktu aku pun akan bersandar melepas peluh di pundakmu."

:mengecilkan suara perih, luka cepat pulih


--sekayu, 2010

Sabtu, 16 Oktober 2010

DI BAWAH LAMPU JAM TIGA PAGI

Ganz Pecandukata

*

ada gambar wajah dan kakimu

telungkup pada baskom

berisi airmataku


**

pundak dan tangan yang kuberikan

rupanya susah menjadi huruf

di gelombang menuju kotamu;

kotamu yang masih rapi

tapi, tampak segalanya

seperti buritan


***

jika dua mata ini tak cukup

maka ambillah yang ada

pada dadaku,

sebab jantungku tau

kapan harus berdetak

kapan menyatu dengan detakmu


****

jam tiga pagi ini

ada tubuh yang puisi

penangkal remang-rindu

di bawah lampu

yang gelisah memijar tanya


apakah usiamu setara tangismu,

mataku?


http://ganzpecandukata.blogspot.com/2010/10/di-bawah-lampu-jam-tiga-pagi.html

saat itu

langit di batas kota
menguning. lampu di batas kota
kenangan di batas kota
menguning. dan suara gitar
piring makan, air minum di gelas yang bermuara
ke selaput tangan kita,
menguning. perjalanan
yang jauh, kemudian jatuh
menguning



palembang, 2010

Rabu, 06 Oktober 2010

Tuhan, “Kamu Mesti Tahu”

Tuhan tak mengenal wajah siapa yang tertidur di sampingnya. Suara roll kaset radio berderak kacau. ”ku tahu kau selalu ingin denganku”*. Lima bait lirik lagu tanpa judul. Tuhan bernyanyi. Rak buku, tempat tidur, dan suara pesan di ponsel berdering. Dan bergemincing kelap-kelip. Di tubuh itu, Tuhan menyenggolkan perutnya yang masih gatal. Getah yang turun dari hujan di bawah pohon pinus yang bergulung-gulung, tiba-tiba turun. Sambil menegang matanya, Tuhan berteriak, :jangan berkuda di sini!” awas lika liku luka di betis pahamu akan melebar!”

Hujan, dan rintik. Dibasuhnya keadaan yang menakutkan itu. Tuhan tak mau memekik. Wajah yang tertidur di sampingnya pasti terbangun. Mengusik ketenangan yang sudah lama tidak teratur. Debu, entah kuda siapa itu yang melaju. Pengelana yang datang jauh pasti tahu kemana jalan yang salah. Sepertinya di sini bukan jalan menuju tujuan dan jawaban.

”Aduhai! Turuti saja, dan kembalilah membelakangi hati yang sedang cemas ini.”

”Perkenalan wajah siapa lagi yang akan tidur di sampingku kali ini?”

”Tunggu.
Hai wajah!
Bergegaslah pulang ke pangkuan tanah dan air yang menjadikan bapak ibumu.
Seribu menara yang lebih panjang dari tubuhmu akan segera megejang.
Dan runtuh di jempol kakimu.
Tak ada lagi kuku yang sama besarnya dengan nyalimu.”

”Wajah siapakah yang kejam kali ini kepadaku?” Tuhan menjadi gelisah. Dilemparnya satupersatu batu terjal di punggung lereng yang memuncratkan larva kebingungan : tentang wajah itu. Yang masih tertidur di sampingnya. Dan Tuhan berkata tanpa mengenal maksud apa-apa, bersama kekhilafan diletupkannya wajah itu. Sampai gosong dan tiada


*) lirik lagu KU CINTA KAU yang dipopulerkan oleh Once

--sekayu 2010-10-06

Sabtu, 02 Oktober 2010

Suatu Ketika

: dinda rasti

"jangkrik itu mau datang ke kamar kita
menyembulkan suara keributan yang tak pecah-pecah."


--sekayu '10

 

Kamis, 30 September 2010

Jurnal Lesbi Kali Ini

dan merinding di sekujur tubuhmu, rendamlah agar timbul bola-bola sabun yang licin. jalan yang tak lelah dan terjal di sini tak hentinya mengaku tak ingin kalah. pasukan-pasukan cuaca tak henti mengirimkan wabah yang keji. sampul buku diari yang hilang judulnya, dan kaca stroberi di rumah-rumah kota, berlamburan.

dan terlempar. kamu tidah sedang bercanda dan tidak pula memainkan api pada kompor gas elpiji. kamu tidak sedang mencuci piring-piring nasi yang mengerakkan lemak daging dengan keras.

ayolah Enigma, kamu sudah cukup manis untuk dicicipi. buahbuah tangan dan pijakan kaki yang kusam bukankah telah kamu siram dan kamu poles dengan masker bengkoang. Supaya mulus dan putih.

putih pada kuku, putih yang selalu ingin tumbuh di tubuhku. sampai ketika burung-burung onta terbang lindap di gedung teater itu, kita masih sempat menyaksikan kemolekan sisa cahaya matahari yang tiba-tiba memerahkan pipimu.

Enigma, wanita mana yang tak ingin menyediakan hatinya yang terus-menerus merasa hati-hati. dan keseringan sakit hati akan membuatmu banyak belajar bagaimana cairan di liver itu menetralkan racun-racun tangis yang tak sudah-sudah melukai naluri

Seperti kamu, matamu pun ikut berbicara dan mendengar dengan bahasa batin. isyarat malam ini akan kelam pasti terjadi.

seperti katamu, tubuhmu pun menggeliat dengan lembut dan sangat teratur. ritme-ritme lagu di tahun 60an dan kostum busana panggung pilihan pasti menua dan menemu dirinya masing-masing dalam keadaan yang begitu mengenaskan.

kamulah yang menggemaskan. kamulah, yang membiarkan pinggul dan betis yang sintal aku hirup dalam-dalam. sekali lagi, kamu menggelinjang. sekali lagi, letakkan saja kepasrahanmu di bahu yang tak cukup panjang buat menopang seseorang yang ingin terlihat telanjang.

selimut di kamar, barangkali bisa terbuka dan membungkus aku kamu dalam kegalauan yang satu dan kerinduan yang tak ingin cepat-cepat dituntaskan.



--sekayu '10

After All

dari api dan matamu yang menyala, apakah langit di atas seribu kepala yang terbenam itu akan runtuh di pelukanmu. begitu kamu mengetatkan isi rongga dan jalur napas di kerongkongan, cahaya mustahil masuk berkaca di simpulan darah. dan kata yang bersembunyi masuk di pembuluhmu akan tetap menjadi kuli bangunan roboh dan arsitek jalanan yang ingin bersama-sama membikin jalan tanpa ada sisa-sisa kelengangan.

demi kamu, apalagi yang akan dipersembahkan sebagai upeti bayaran hidup dan mati bagi penulis deritanya sendiri? apakah pasir yang dimainkan seorang bapak di jempol kaki untuk anaknya di sore tadi? apakah kerajaan pasir yang lembab dan berbau lumut itu tak akan tergerus bersama ombak yang kabur dari peluhmu?

bertanya dan menanyakan kehidupan rumpun sembilan puluh sembilan bunga mawar di pot kembang, serupa membicarakan kegilaan yang tak pasti. kamu duduk, memainkan gitar berdawai sembilan. lubang hidung yang ada di wajahmu kamu sumbat menjadi terowongan buntu, kedap cahaya, kedap lampu, kedap suara kata-kata.

lalu apa bedanya api di tangan mulusmu? airmatakah yang mengalir menderu di selangkangan yang mekar pada telunjukmu? karatbesikah yang ditempa dan disepu oleh pertanda nasib yang digarisluruskan di telapak kering lenganmu?

kamu tenang tetapi ngilu perih sedih gemetar di urat lehermu yang mengkilat itu telah mengekalkan seribu kepala yang ingin bersandar membenam dan membekam di pelukanmu. kamu temukan apa itu tulang-tulang punggung yang terasa anyir dan terasa asin. kamu berlari di sekitaran bundaran cekung matamu, yang bernyala yang berapi yang tidak kalah dari kesibukan dan kelengangan di perumpamaan jalan. dan tikungan, menipumu dengan janji segala arah. yang memulangkan delapan mataangin dan mata bulat sembilanmu, hingga serupa rumpun bunga mawar adalah tandatanda yang tak habis berkeliaran membentuk pusara kata-pusara suara tanpa kata.



--sekayu '10

Pendekar

kekuatan yang tumbuh dari kelopak mawar
kekuatan yang tumbuh menjadi matang

kekuatan yang berselang sesudah waktu siang
kekuatan matahari naik sepenggalah

kekuatan di banjir air
kekuatan yang belum berakhir

kekuatan , tanpa waktu
kekuatan yang mendengar segala lemah dari pusar kepala

kekuatan , di lingkar kaki
kekuatan yang mengendap di dalam guci-guci padi

kekuatan itu ingin memakan segala pedih
kekuatan yang berdiri di atas ziarah makam cinta

kekuatan yang menyalib bau anyir peperangan
kekuatan yang mengabulkan segala nubuat pinta di atas mataruncingnya

kekuatan, pada para penguat kekuatan
kekuatan itu dijeritkan



--sekayu, '10



Minggu, 26 September 2010

Sembarangan!



tersebab Gie*


ada yang bertanya bagaimana bibir wanita dan gadis yang tipis
ada yang bertanya seperti apakah warna gincu wanita dan gadis
ada yang bertanya kepada siapa wanita dan gadis melumatkan bibirnya yang sekian kali pernah habis manis
ada yang bertanya . . .


lalu kujawab saja,
bibir wanita dan gadis itu berlipatan dua. di tengahnya ada patahan yang meliuk, yang kenyal dan empuk. di bibirnya, wanita dan gadis suka memakai gincu yang berwarna. entah merah, entah putih, entah hitam. wanita dan gadis juga cepat bosan. habis yang merah, mau yang putih. habis yang putih, mau yang hitam. habis yang hitam, lalu hilang. wanita dan gadis yang memesona sangat ingin melumat dan membekuk bibir teman-temannya, kekasihnya, teman kekasihnya, kekasih teman-temannya. wanita dan gadis akan tertawa, sebab bibirnya yang tak cepat menyerah itu dapat membuat yang lainnya bahagia.



*) baca Ganz Pecandukata

--sekayu, 2010

 

The Day of Wisdom

        : saturday night

di muara kaca jendela yang ingin dimasuki titik-titik air dan riciknya yang gerimis
seorang gadis duduk dan lama menatap ke atas ke arah langit yang padam
dan pekat. disekanya airmata yang jatuh yang leleh di lubang pipi itu. disapunya dengan tangan yang
saat dua jam lalu masih asik bermain dengan pancuran air di atas genting

ia tadahkan tangannya yang cekung seperti bentuk doa-doa yang tengadah.

ia tersenyum. dilihatnya bayangan yang pucat, yang masih punya kecemasan di tiap
waktu yang senantiasa datang saat suntuk. sebab suntuk sehabis mengolah lahan kata yang
adakalanya memiliki makna yang mesti dibuahi

ditanam, dipupuk, disiram, dan dibiarkan memanjang di pagihari.

"apakah aku masih dapat melihat suasana yang masih berkabut seperti saat ini? tiba-tiba aku mulai takut. pada air barangkali aku mengadu dan menangis. di sela waktu setelah cahaya tenggelam untuk beberapa jam, dan besok rasanya begitu singkat."

satu tarikan nafas dari kaca jendela, kabut di luar sana mengalir. sesampai di tanah kemudian lahir menjadi seorangdiri yang baru. yang akan memanggul air di kakinya berkali-kali. air dari langit, air yang berkubang di pori keringat kulitnya, air yang tumpah dengan irama yang berdenting.lalu suara gemericik memukul titik-titik air. maka masuklah mereka secara paksa. dibasuhnya muka pucat gadis itu seketika



--sekayu, 2010

 

Tersebab Hellen Keller


Bersisi 2 buah sajak yang ditujukan pada Hellen Keller, oleh Ganz Pecandukata


Sajak di Jalan Braille: Menuju Mata dan Telingamu -1-

tersebab memoar Hellen Keller

bunga-bunga lili liar menaruh sejumlah bentuk perasaan yang tumpah
ketika engkau bermain dengan bahasa-bahasa eja pada jemari
ke pemahaman bibirmu

lalu di antara semi pohon mimosa ada pikiran-pikiran tak terucap, jatuh
bersama dengan bunga-bunga keringnya dekat pagar rumahmu
dan hidung cabang-cabang basah mencium patahan
aksara mimpi-mimpimu melalui tebal kambium waktu;

kukira engkau benar bagaimana mengarahkan jendela-usia
menafsirkannya dengan cara hati-jemarimu, lantas mengatakan
kepada arakan anginlembah yang mengubah gerak awan merah jambu
ke atas pohon ek raksasa dan linden sehingga engkau dapati
nyanyian pipit mengirimkan pengharapan atas keindahan
merangkum segalanya di penghabisan februarimu
:
jika kita pernah melihat, maka
“hari itu serta apa yang ditunjukkannya adalah
milik kita”*





*) penggalan kalimat dari catatan Hellen Keller

2010

see :
http://ganzpecandukata.blogspot.com/2010/08/sajak-di-jalan-braille-menuju-mata-dan.html



Sajak di Jalan Braille: Menuju Mata dan Telingamu -2-

tersebab memoar Hellen Keller

ke pulau mana lagi, engkau tambatkan waktu-hatimu. hari-hari sudah begitu huruf
di jemarimu yang lapang. orang-orang kini menyimpan perasaan-perasaan bersama
pepatah hidup di balik tebal huruf-hurufmu. - mereka berseteru menyingkap
kejujuranmu, mengungkapnya dengan pertanda bahwasanya ada sesuatu yang lupa
terbaca -

ke bahasa mana lagi, engkau sederhanakan kebutaan dan ketulian. sebab, buta dan
tuli bukan lagi seperti sebuah novel atau puisi yang engkau renungkan berulang. bukan
seperti sebuah autobiografi atau catatan-catatan kecil penuh perjuangan dan kemalangan.
bahwa engkau telah memulainya dengan menerjemahkan bibir Anne Sullivan ke dalam
inderamu adalah muasal dari kesederhanaan itu. - buta dan tuli adalah bagaimana orang
melihat dan mendengarmu sebagai wanita dengan peninggalan sarat intuisi serta penciptaan.
seperti Dr. Bell memecah mitos Prometheus, seperti engkau meretas mitos braille -

Hellen, o Hellen...maka kitablah segala pengharapan, sebab sejatinya buta dan tuli
lepas mengupas kelopak matamu meremas gendang telingamu untuk sekedar
menjadi pagi di pecahan--kenangan meja belajarmu. sekedar menjadi pengucapan,
lafal pada lidahmu yang vokal tanpa menyatakan sedih bagi anugerah airmata
:
ada kebahagiaan saat engkau lupa pada keadaan dirimu.*




*) penggalan kalimat dari catatan Hellen Keller

2010


see :
http://ganzpecandukata.blogspot.com/2010/08/sajak-di-jalan-braille-menuju-mata-dan_16.html



Sajak Ganz Pecandukata di Hari Ulangtahunnya yang ke-21



dalam sajak ini terdapat 21 pasal yang menandakan usianya saat ini. mulai pada pasal 0 sebagai awal kelahirannya dari rahim Sang Ibu. kemudian disusul pasal 1 hingga seterusnya.

tertanda 100989

PASAL 0
bangunan lama rupanya telah mendirikan sesuatu
di hari minggu legi pagi sewaktu air ketuban melulur
dari rahim ibumu menuju tangismu. sesuatu itu
menubuatkan tentang nasihat

“kelahiran adalah ibuketiadaan.”

PASAL 1
maka terkuaklah bangunan lama
mengapa ia ada dan mencipta
riwayat di balik nama kanakmu. ketahuilah,
ia hanya terjadi karena pintu yang terbuka
setelah airmata mengetuk perlahan.

PASAL 2
ada nyanyian ninabobo, sayup
semakin kecil dan kecil
datang lewat puting susu eyangmu. nyanyian
itu menanggalkan sangkakala dari malaikat
yang mencoba menyerahkannya
kepada ibumu.

PASAL 3
apakah sakit yang kau kandung bermula
setelah bapakmu menghamili perasaan
tentang neraka. bahwa surga tak ada
di atas sana….tak ada di pikiranmu,
namun ada di perasaanmu yang sewaktu-
waktu bisa berlumur darah.

PASAL 4
siapa rumah yang merawat bayisepi
pada botol susu tawarmu saat kau teguk
di bawah pohon jambu bangkok,

nak?

PASAL 5
gigi-gigimu masih putih
berat badanmu masih normal
kulit tubuhmu masih kuning langsat
ingatanmu masih menyala
:
bau pasar yang terbakar di belakang
persinggahan simbah.
- maka berasaplah segalanya
gigi, berat badan dan kulit tubuh
bahkan ingatanmu -

PASAL 6
jangan malas menghafal siang
nanti kau tinggal tanpa mengenal
di mana bapak-ibu menghukummu
hampir setiap kali mata tak mau
pergi ke ranjang.

PASAL 7
ingatlah berapa buah jambu air
yang kau jatuhkan ke selokan
sehabis mual-mual mencium
air kencingmu.

PASAL 8
“tidurlah yang nyenyak, ya
biar cambuk di punggungmu
lekas merah.”

PASAL 9
di waktu maghrib, teras rumah
menjadi saksi nasihat bapakmu;
airmata tak mengenal waktu.

PASAL 10
sepeda baru untuk satu dekade
kaki baru untuk belajar mengayuh
menuju pengertian tentang
j a t u h.

PASAL 11
malam-malam ingin berkhianat
seperti teman sekampung
melarangmu bermain petak umpet.

PASAL 12
bagaimana penafsiran tentang kebodohan
pertanyaan yang mengakhiri jawaban
ke atas meja belajar,

“aku tak akan bertanya kepada bapak lagi?”

Semarang 2010

for more content, see this :
http://ganzpecandukata.blogspot.com/2010/09/alegori-pasal-pasal-di-kitab-usiamu.html

Senin, 20 September 2010

Sentir Dolor, Luci

Sentir Dolor, Luci*


Luci, dengan wanita yang membawakan sekeranjang pakaian basahmu, aku diam-diam menyelinap dan berselimut di bawah tetesan rembesan air sungai itu. Aku melihat seolah cermin di tanganku terbelah dua, memisahkan wajah kemarahanmu, antara emosi dan kejengkelan yang kadang ingin terus melumatku sampai habis.

Luci, aku memanggil namamu yang berdentum melimpahkan gigil sekaligus keringat yang menakutkan. Membuatku kerdil lalu jatuh di pinggiran tanah landai. Sampai tiba-tiba aku berpikir bahwa kamu telah melepaskanku dari segenap cinta yang dulu masih tampak bundar dan melingkar.

Luci, jelas aku merasa sakit, timbunan kekesalan dan ketidakberdayaan yang dulu menjadi sekadar teori kini benar-benar terjadi. Dan kelenyapan atas kamu telah menjadi ketiadaan yang sebentar lagi mengabadi dalam kesendirianku

Luci, kamu mesti memelukku malam ini. Sebab angin dan bulan akan bersatu menikam kepala dan leherku yang dulu pernah merendah di atas pinggulmu. Sebab angin dan bulan membenciku dengan alasan agar kamu tetap menjadi harum kembang yang melayang di masing-masing malam

Luci, kehangatan memang bukan segalanya. Begitu pun dengan rasa manis setelah kerinduan dapat dituntaskan sesegera di kedua bulu matamu. Tapi ada satu hal yang mesti diketahui, tak ada yang lain di sini dapat menggodaku untuk pergi menyelesaikan kewajiban yang lama ditinggal oleh airmata, kecuali tangis yang menjadi tangis itu sendiri

Luci, sejak aku mengenalmu aku pun mengenal sepi. Apalagi setelah kamu hanya menjadi keinginan bagi kenangan untuk diresapi mimpi malam ini. Di hadapan suasana nyeri yang semakin gelap, aku bersaksi bahwa kamu akan tetap bersatu di cermin yang sudah terbelah. Di tanganku yang tak lepas menggenggam genangan air yang masih basah itu, mengalir namamu yang begitu deras dan senantiasa akan terus berseteru menemu muara yang buas dan jauh.



* Be in Pain, Luci

--sekayu, '10

Kamis, 16 September 2010

Kubur

di baris-baris kematian dan ketiadaan
kami mengubur tubuh di ladang-ladang gandum
yang dipenuhi bubuk-bubuk racun

darah kami mengalir dan bergerak cepat begitu saja

kami menumpulkan barang dan biji yang kadang bersemi
tepat pada waktunya. berbuah dan berdaging
seolaah waktu itu kami senantiasa akan kenyang
tanpa takut merasa mati dan kelaparan

tiba di waktu hujan yang telah hilang
kami ikut merasa hilang dan
terbungkuk mengerang. mengerami tetesan airmata
yang lama-lama akan menjadi butiran hujan palsu

di tubuh kami
rambut dipanen, kulit dibajak
dan dibakar dihunus sampai ke tulang-tulang

hingga suatu hari ada seseorang
setengah lelaki dan setengah baya
sambil tersenyum ditikamlah kami
sampai meraung sejadijadinya

kami pun kemudian ingat
bahwa kubur kami yang dulu
pernah memberikan pesan
yang begitu panjang dan penuh kelemahan

andai kami saat ini masih menjadi
suatu O yang berdengung dan meraung dengan kejam
merakit rasa mati di tubuh kami
mengubur rasa mati di tubuh kami
lalu berletupan dengan erat betapa kami tak ingin merakit dan mengubur diri sendiri



--palembang '10

Traditions



Tradition includes a number of related ideas:
  1. Beliefs or customs taught by one generation to the next, often orally. For example, we can speak of the tradition of sending birth announcements, and family traditions at Christmas.
  2. Beliefs, customs and practices maintained by social interaction, such as saying "thank you", sending birth announcements, greeting cards, etc.
  3. Beliefs, customs and practices maintained by societies and governments, such as Federal holidays in the United States.
  4. Beliefs, customs and practices maintained by religious denominations and church bodies that share history, customs, culture, and, to some extent, body of teachings. For example, one can speak of Islam's Sufi tradition or Christianity's Lutheran tradition.
  5. Beliefs, customs and practices that are Prehistoric or have lost/arcane origins, such as trade, the teaching of language and education in general.
Traditions serve to preserve a wide range of culturally significant ideas, specific practices and the various methods used by distinct cultures. The word tradition comes from the Latin traditionem which is the accusative case of traditio which means "handing over, passing on".


--see

http://en.wikipedia.org/wiki/Traditions

Theatre

Theatre (or theater, see spelling differences) is a branch of the performing arts. While any performance may be considered theatre, as a performing art, it focuses almost exclusively on live performers creating a self-contained drama.[1] A performance qualifies as dramatic by creating a representational illusion.[2] By this broad definition, theatre had existed since the dawn of man, as a result of the human tendency for storytelling. Since its inception, theatre has come to take on many forms, utilizing speech, gesture, music, dance, and spectacle, combining the other performing arts, often as well as the visual arts, into a single artistic form.
The word derives from the Ancient Greek theatron (θέατρον) meaning "the seeing place."[3]


next pages find in

http://en.wikipedia.org/wiki/Theatre

Praying

Prayer is a form of religious practice that seeks to activate a volitional connection to a god, deity or spirit, through deliberate practice. Prayer may be either individual or communal and take place in public or in private. It may involve the use of words or song. When language is used, prayer may take the form of a hymn, incantation, formal creedal statement, or a spontaneous utterance in the praying person. There are different forms of prayer such as petitionary prayer, prayers of supplication, thanksgiving, and worship/praise. Prayer may be directed towards a deity, spirit, deceased person, or lofty idea, for the purpose of worshiping, requesting guidance, requesting assistance, confessing sins or to express one's thoughts and emotions. Thus, people pray for many reasons such as personal benefit or for the sake of others.
Most major religions involve prayer in one way or another. Some ritualize the act of prayer, requiring a strict sequence of actions or placing a restriction on who is permitted to pray, while others teach that prayer may be practiced spontaneously by anyone at any time.
Scientific studies regarding the use of prayer have mostly concentrated on its effect on the healing of sick or injured people. The efficacy of petition in prayer for physical healing to a deity has been evaluated in numerous studies, with contradictory results.[1][2][3][4] There has been some criticism of the way the studies were conducted.[5][6]

--will be continued in
http://en.wikipedia.org/wiki/Praying

Senin, 13 September 2010

Ningsih

Aku pergi
Suara-suara musik di karavan
Tengah meninggalkan kota
Sebelum pagi menjadi puisi
Dan matahari masih cantik jelita

Aku pergi
Dengan sekantung benang-benang kabel
Yang dililitkan di pinggang gitar tua
Agar menjadi bunyi
Yang tak sekadar mendengar bunyinya sendiri

Aku pergi
Meski ketiadaan telah banyak melahirkan
Nama-nama penulis cerita sejarah
Raja dan ratu hidup di istana
Kakek dan cucunya kehabisan roti
Pedagang berteriak dengan seikat kain wol di tenggorokannya
Gadis kecil yang bermain-main dengan gambar bapak ibunya
Yang di tanah kubur
Mereka hidup. Saling berpegangan tangan
Menatap masing-masing alat kelamin mereka
Apakah masih dapat menuturkan cerita
Seperti ketika dulu mereka masih bersama-sama berbicara dengan anaknya

Aku pergi
Sebab suara surau di waktu mendung itu
Mendatangkan banjir kiriman di kelopak mataku
Tubuhku hanyut. Kamu tidak ada
Kamu keluar rumah tiba-tiba
Kamu jebol pintu kecil yang meloloskan tikus-tikus angin
Kamu curi gaun abu-abu muda yang diwariskan ibuku,
Ibu mertuamu, juga ibu adik-adikku

Sesudah itu, setelah aku pergi
Kamu tak perlu berkelahi dengan pohon-pohon cemara
Yang tak sempat menangkap kedua kakiku
Kamu taku perlu memasang kamera tersembunyi
Untuk mengintai dimana aku akan singgah

Aku pergi
Membawa cinta yang lekas menjadi batas duka
Dan tabir takdir
Yang tak pernah ingin kembali
Menjadi sebuah kepergian
Setelah kamu, semuanya, dan puisi
Memilih pulang lalu merasa sendiri



--palembang, 10

 

Jumat, 10 September 2010

Rabu, 08 September 2010

Se-ngi-lu





sampai terakhir kali aku memutuskan
untuk menikmati kesendirian lebih dalam lagi
mengagumi bagaimana deru di tangan menjadi abu
mengagumi bagaimana lagu di pantai menjadi landai
kemudian menerjang matamu mataku
yang lama dibiarkan telanjang

Heaven



dalam komposisi dan larik puisi sesudah kematian itu,
hujan terbakar dalam mimpi



--palembang '10

Cavatina



di remuk muka angin
pipa-pipa bergetar
salah satu yang masih kosong
berbicara dengan harapan yang masih pelan keinginannya
untuk dijadikan tiang lampu jalanan




--palembang '10

Sabtu, 04 September 2010

Little Sixteen

Siapa saja hari ini
Di dalam jala yang memukat asin
Menjadi lebih panjang tangisannya
Mengadu ke dadamu
Agar dihangatkan. Matahari di kepala
Dan pelangi yang turun tiba-tiba
Melangkahi bayangan yang sedang bermain
Dengan kecapi dan butiran senja di laut
Semakin menguning memadatkan
Isi perutnya.
Lalu siapa lagi yang akan merasa kedinginan
Mengenakan selimut berlubang
Mata yang berkubang menjadi airmata?



--palembang ’10

Dawning (Yoake)



Membawa kenangan menjadi nasib
Hai, kamu dengar suara itu beriak darimana?
Dalam kalbu masing-masing bunga yang akan runtuh
Angin akan membawanya menjadi lagu




--palembang '10

Selasa, 31 Agustus 2010

Badai

Bibir gosongmu di kantung bajuku hampir mengelupas. Satu persatu jatuh, mengenai kulitku. Kamu bilang tak apa, usia pasti akan meranum. Menyinggahi segala musim yang menemui hidupnya dan kematian

Kamu bilang, malam ini ada badai. Badai rindu yang mencuat menjadi gunung-gunung berkabut. Ratusan meter dari matamu yang berasap. Kamu peluk aku yang ingin mematahkan sendi-sendi jari, agar tak ada selimut yang bisa ditarik menuju badanku.

Pelabuhan masih jauh. Sepuluh hari lagi baru sampai. kita seolah sudah kalah menahan badai yang tak kalah dingin di mulut laut.

Minggu, 29 Agustus 2010

Sebuah Musim

: atau musim di sini begitu asing
hingga orang-orang dan denyut
mereka pada tiap daun lontar
menjadi beku.
pada keterbatasan setiap ruas
sedang tanah di laut dan
di bawah rumah
masih begitu lapang

: atau musim di sini begitu asing
ketika kata harus muncul di mulutbotol bir
sampai di kafekafe
orangorang habis berciuman
habis dengan kekosongan

: atau musim di sini begitu asing
betapa ini kita
tidak segaris dengan
jalan yang ditaburi bunga

musim di sini begitu asing. . .


Sekayu, jan '10

Hujan Berdentum Menyerbu Kotaku

seperti katamu, zaman hujan di antara betis-betis kota mulai basah, berdentum menyerbu kotaku yang asing. padahal di tanah ini, aku masih belajar tentang reaksi matahari terhadap magnet bumi.

--dapat kukatakan bahwa kutub selatan kakiku menarik selaput kutub utara kepalaku

tapi apakah akan terbentuk lagi sebuah ngarai yang merobohkan sari tanahnya untuk dibangun jalan-jalan, dimana tapak kakiku akan dihitung ketika sampai di pintu rumah

a-ba-ta
ku-da
i-ni
: dan aku masih mengeja

seperti katamu, akan ada bendungan dalam air, mengisi kebunkopi, kebun jagung, lahan pertanian di tangan kotaku agar tidak mengering dan mengerut seperti pelipis kiriku

seperti katamu, hujan itu berdentum di kotaku, begitu terasa di pundak pagi, sampai kabut menebal dan bertambal lancip
: berdentum menyerbu kotaku


sekayu, 18 jan '10

Manuskrip Peka

: drp

"di jantung mana sarafmu akan peka terhadap bunyi yang menadah hujan lalu jatuh ke pori tanganmu sebagai puisi yang lahir dari rangsang kulitmu?"

"atau ketika airnya masuk ke lubang telinga dan menembus tulang martil untuk dipukulkan ke gendang telinga, maka bunyi pun akan berdentum, memantul dan kembali lagi seperti seserpih sajak yang musti di dengar"

"dan matamu yang berbintik hitam akan menerima cahaya sebagai suatu kilauan yang hidup, yang berawal dari prisma segitiga, memantulkannya lewat langit setelah hujan berlalu ditanganmu."

"lalu
saraf siapa yang
musti dituju
sesungguhnya?"

Waktu

"inilah namanya sebuah tujuan di setiap jarak lubang-lubangnya"

waktumu adalah sepertiga masa dalam buku
dengan karangan dan sampul stofmap biru

ketika akan kau mulai halaman pertama
entah kenapa seperti ada hidungmu yang masih putih
mirip sekali dengan lancipnya pundak ibumu

dan ketika tulang rawanmu mulai mengeras
membentuk peta serupa hiasan dinding ruang kerja ibumu.
kau mulai tahu
bahwa bangunan hidup akan segera berdiri



palembang, jan '10

Hujan

Hujan baru sampai di kotaku ketika air di tenggorokanmu pecah dan mengering. toko-toko di antara pagar rumah dibuka, ibuibu dalam tenda menggendong bayi barunya seketika berlari membeli cermin dan sandaljepit ala penambang tekstil di atas pegunungan yang tak lagi ada dingin

hujan baru sampai di kotaku ketika rambut tanganku mulai gugur serupa daun mahoni dan eboni yang jatuh ke reruntuhan erosi. di pinggir sungai ikanikan telah menjadi asin dan karang berbunga dalam musim
dan cuaca adalah langit yang bernama malam

hujan baru sampai di kotaku ketika kotak dan sepatu tali mulai dibuka
berjalan mengelilingi tikungantikungan curam di antara yang paling terjal

hujan baru sampai di kotaku ketika matahari
memulai usia yang begitu lama
merah di rambutnya adalah air yang
ditampung untuk kemarau berikutnya

hujan baru sampai
di kotaku yang bernama dingin


sekayu, 09-02-2010

Majesti

: Majesti

seperti katamu, Majesti
malam ini aku menemukan orang-orang dalam musik.
pada suara kecapi dalam sebuah pesta
dan sebuah perkawinan
aku kembali menemukan
pakaian-pakaian ketat
ada tubuhmu yang sedang menari-nari di atas
upacara perkawinan itu
antara kucingku dan kucingmu yang pernah
kutitipkan sebatang lilin di hatinya
telah menjadi batu yang begitu hijau

ketika mataku menatap kecamata
pada air itu, Majesti
aku hanya menemukan bermeter-meter
jalan beraspal yang dulu aku pelajari
di bangku pesakitan
:dari metana lalu prosesnya
di mesin-mesin dan pabrik kimia

seperti katamu, Majesti
akan lewat tangisan anak-anak
yang baru mengenal warna ibu dan bapaknya
yang baru mengenal siapa yang membagi musim
dan tempat-tempatnya

aku hanya mendengar katamu
bahwa kita akan bertemu
di pesta dan perkawinan lainkali
lalu mengingat batu yang paling hijau
di tarian kita nanti, Majesti


sekayu, 2010

Outbond Memo

ini kali pertama pagi di perjalanan
menghitung jarak yang tidak pasti
jarak yang terusmenerus dipagari lumut dan rawa
jarak yang kita duduki untuk sementara waktu
mengatur sekumpulan udarapagi
untuk masuk menyiapkan ruang
yang cukup bagi kesenangan
yang akan kita buat nanti

di lapangan
ketika hanya ada suara dan anakkecil bersepeda
outbond-memo, aku ingin mengajakmu
menyeberangi jalurjalur yang tak dikenal orang
jalurjalur yang memberikan luka di sela tangan
jalurjalur yang membangun rasa takut pada kita
jalurjalur yang menjadikan kita
supaya lebih dekat

outbond memo
telah memanggil kita
menjadi bungabunga merah
menjadi nasib yang harus membuka pagi dari jendela

outbond-memo
kenangan pertama yang akan kutulis lama.
maka jadilah



--catatan : outbond hari minggu jam 6 pagi. Bersama temanteman satu kelas dan wali kelas tergokil SMA Negeri 2 Sekayu, Ms. Aya. Sungguh mengesankan. Apalagi diisi dengan permainan "membuat jembatan manusia" dari potongan kayu kecil. Yang naik pun tak kalah berat. Di antara temanteman, termasuk saya sampai melukai tangan sendiri ketika permainan dimulai. Aneh rasanya. Ternyata kebersamaan mengalahkan rasa sakitnya, rasa capek selama satu minggu suntuk dengan tugastugas sekolah. At the long run, Good family guys

: smoga



Sekayu, minggu 22 feb '10
pukul 06.00 WIB
outbond (lapangan STIER)

Truck I'm in Love Melly

truck i'm in love
di jalanmu Melly
kukatakan, inilah kali pertama
ada denyut yang berdentum memusat
lalu berlari
seperti ketika melihat kincir angin berputar
di taman tulip sore kemarin

truck i'm in love
di jalanmu Melly
di halte bis yang aku pesankan satu tiketnya
dari kotamu menuju keluasan kotaku
sampai di hutanhutan
teruslah masuk
pada tikungan yang panjang
dan pohon beranting ganjil
ada isyarat yang musti segera diusaikan
tentang mimpi
tidak lama lagi
senyummu akan abadi

truck i'm in love
di jalanku ini
semua mendesau
suara-suara bergesekan
ketika kau diam, maka dengarlah
akan kautangkap dari ujung bunyinya
bahwa ada yang terselip
: senyum yang telah abadi

Melly oh Melly
bagaimana aku harus mengatakan
aku ingin sembunyi
dari hutan yang mengantarkankau kepadaku
dari mimpi yang menjadikan senyummu abadi
dari suara yang memperdengarkan keinginanku

truck i'm in love
di sini
di jalanmu, Melly
dengan senyum milikmu
aku ingin abadi


2010, rumahmusi

Bagaimana Aku

bagaimana aku harus mengatakan kepada pelipis batu yang
perlahan terkikis dan menjadi kerikil di pangkal ketiakmu
agar tulisanku kelak tidak sia-sia
tidak percuma menjadi garam yang menguap di antara
kelekak rambutmu yang berkeringat

bagaimana aku harus mengatakan kepada bintang yang
paling timur dari kepalaku yang menghadap matahari
tentang pagi yang baru muncul di antara dua bukit wanita-wanita pembawa bunga di desa-desa
tentang pakaian orang-orang bertelanjang kaki
tentang pakaian orang-orang yang tertutup permukaan tangannya
tentang aku
yang senantiasa bertanya bagaimana
mengatakan ribuan denyut nadi
yang berawal dari sebuah kecemasan
yang berawal dari sebuah tikaman
lalu panahan suku anak dalam

bagaimana aku harus mengatakan delapan windu yang tersimpan
sebagai rahasia yang rumit
yang tidak pernah menemui kekasihnya
atau sekadar istirah dari pendakian panjang di masa silam

bagaimana aku . . .



sekayu, 26 feb '10

Lukisanlukisan Perang

--kepada Ay Tjoe

di antara perang-perang kita yang belum usai masih terdapat ribuan ruang silinder yang menyimpan tubuhtubuh kaku kita. pamanmu yang berkacamata ada di samping tiang benderaku. serupa ibu : di urutan keenambelas ada tudungtudung daun yang senantiasa menutupi kulit pohonpohon dari dingin udara pagi

masih dapat kuingat di antara tubuhtubuh itu ada adik manismu, membawakan bunga yang baru menukar warna kemarin petang_sebelum perang pecah menyerbu tanah kita
lalu badannya yang setengah membungkuk itu membuatku mengira ia sedang sujud di hadapanmu
atau tengah tengadah meminta debu dan deru yang terbakar bersama abu

perang pecah


perang pecah
tapi tidak di ruangan
yang tetap menjaga matakita
untuk saling memasuki dan menerka
lukisanlukisan sunyi
untuk perangperang sunyi



sekayu '10 maret

Senyum Tersembunyi

--kepada Ampera



entah bagaimana aku dapat melukiskan wajahmu
mejameja retak ketika dimulai garis pertama
yang membentuk sudut lengkung lehermu

aku tidak akan mengawali atau mengingat
arsiran yang dimuarakan ke sarafkulitmu
mungkin kau akan peka ketika melihatnya

tapi di sinilah gambarmu akan benar-benar bicara
karena kertas ini yang meminta wajahmu yang basah

ingatlah ketika
tanganku mesti senantiasa lembab dan berlumut.
lalu kau hanya diam dan berkata
:
"hatikulah yang tersenyum sebenarnya
bibir tipis dengan gincu pucat ini
hanyalah tipudaya. kalau kauingin melihat bagaimana
senyum itu menetas
masuklah ke dalam bajuku
lalu kau akan menemui sepasang pisau
untuk memotong rusukku yang tumbuh liar
di dalamnya mengalir darah dari segala
galau dan risau. maka sumbernya adalah hati
ltulah senyumanku yang paling tersembunyi"

aku makin gemetar
yang kulihat melalui lubanglubang
yang kasap cahaya
semua menganak dari hatimu

inilah sungai
sebagai sumber yang amat abadi
dari dadamu yang banyak pertanda
senyummu dapat kubelah
lalu aku simpan
di dada : tempat yang katamu tersembunyi



palembang, 20-21 maret 2010

Di Bawahnya Sungaisungai Mengalir

: yoyong amilin


kami tidak akan mengatakan bagaimana Adam dilahirkan
atau bagaimana peristiwa itu
: ketika ia benarbenar membutuhkan Hawa

dari tulang rapuhnya yang tidak memiliki cukup kekuatan
sempat ia berfikir tentang bendungan akal yang begitu mendesir

"siapa sebenarnya yang telah mengoyak dentuman-dentuman daun yang terasa asam di tanahku
dengan maksud yang sebenarnya bahwa aku sungguh ingin memiliki sungaisungai mengalir di bawahnya
: ketika itu airnya begitu menjadi hening
maka Hawa yang suka berlamalama pada air itu
tidak lebih sekadar dari
apungan ikan yang kehilangan satu sisiknya"

kami tidak akan mengatakan bagaimana bentukbentuk
kuku Adam ketika pertamakali menyentuh tulang rapuh di sela geletar jemarinya
pada saat yang sama mereka musti dipanjangkan tibatiba
agar dapat bermukim lebih dekat menuju
keluasan nafas yang masih muda

dan ketika sampai di antara pucuk udara yang belum gelombang
mencapai pada keinginan yang membeku
ketika itulah
Adam benarbenar ingin menjadi yang paling sempurna merahnya
lalu menjadi waktu pertamanya mendedah rindu di waktu penciptaan pertama


sekayu, maret '10

Itulah Air Mata

menulis kata malam
seperti pada cuaca ombak di pantai
kita begitu asing

seketika menjadi buas
pada dada-dada laut yang mengusir
deras gelombang
malam mengirimkan sesuatu padaku
tantang sebuah keberuntungan

katakan pada anak kita
yang kemarin bermain dengan cerutu
bapak tirinya
bawakan sebotol bir
dan rerekah bunga yang membuat kita
menjadi dingin

dan suara
telah sampai dan mendesir
sedang di telingaku ketika menderas
menjadi senjata orang-orangan hujan
yang sarat dengan kegelapan

”bangkitlah dari pejaman yang pernah memimpikan
kita menjadi sepasang gurita yang bercangkang
lupakan bahwa laut pernah membawamu
menyeberangi sebuah jembatan yang
dapat menghubungkan dunia pada luar jendela
lalu kamarku
masih belum dapat berisik
oleh kotak musik yang pernah kulihat
di pasar-pasar”

malam ini
di bawah kekejaman suara
aku ingin kita menyeka langit
menghentikan kiriman dari perahu seberang
: itulah air mata


Palembang, 23 maret ’10

Pada 5 Sajak Kita Terus Mencari

--mama


/1/
biarkan saja
karena kita tak pernah tahu
bagaimana sebenarnya bambu membunyikan bambu
bagaimana sesungguhnya deru saling memburu

bukan karena kita belum sampai
pada syarat yang jauh
tidak pula karena kita memahami
bahkan menginsafi segala arah yang datang
lalu menjadi satu


/2/
hari kelabu
kita menamai setiap catatancatatan
yang memang mesti ditutup.
untuk dibuka halamannya
untuk ditulisi dengan huruf berkapital
lalu kita menjadi kata
yang senantiasa hidup dan berkata
"cha, aku ingin memburu
sampai ke banyak langit
sampai ke limbung loki yang hampir kering
sampai ke hari kelabu
yang masih setia menanti di depan pintu"


/3/
kita ini perupa
yang mengerti bagaimana semestinya garis menjadi
arsiran untuk objek yang utama

lalu tidak seperti biasanya
kita hanya membuat satu titik
kita biarkan penikmat galeri menerkanerka
wujud apa yang kita buat semalam suntuk

kita menggiring mereka
terus masuk
terus menyelami dedasar ilusi yang tak kunjung mati
bahkan menjadi induk di kehidupan nanti
setelah nafasnafas buyar dalam denyutnya sendiri


/4/
menjelmalah,
menjelmalah ke dalam sukmasukma
yang baru ditanami benihnya
supaya menguning di tangan petani.
di perut anak mereka kita menari
:kitalah yang bebas memilih kamar untuk ditiduri
menjadi saripati untuk tubuhtubuh yang tidak lagi putih.


/5/
belum dapat diselesaikan saat ini juga
harus ada waktu yang terus menunggu
entah berapa windu entah berapa abad
sampai kita mengerut dalam jari jemari
sampai kepada doa terakhir yang mesti diamini



sekayu, 5 April '10

Cerita Sebelum Tidur

sekali lagi
aku tak dapat melepaskan
bulir busa yang mengalir licin pada daun
sebab tanganmu
menjangkau serat dingin
yang mendesing


-1-

sampaikan pada pasukanmu, kolonel
bahwa markasmu telah menjadi milikku
bukankah sangat mengasikkan
jika tak ada ledakan-ledakan dari mulut
berasap rokok
lalu tak ada lagi janda-janda
menangis sendiri
sebab suami mereka berlama-lama di kamar mandi
menunggu usapan sabun
pada tubuh mereka
telah lama berdaki
karena di perang tak ada musuh
yang mau dijadikan istri


-2-

selain tempat duduk kali ini
maka lepaskanlah topi dan pangkatmu
lupakan bahwa kau pernah menang di peperangan
tapi di lembahku yang berliku panjang
kau mungkin tersesat mencari pusar yang begitu lingkar
menuju anak buahmu yang sudah dilucuti senjata

"kau hanya suara erangan, kolonel
menyerahlah padaku
karena di sana
wajah keluasan anak-anak kita telah menunggu
ayah dan ibu katanya kembali"


-3-

sisakanlah satu potong kasur dan bantal
serta mimpi dinihari
untuk bekal anak kita yang nanti akan takut
lalu masuk ke rumah melewati pintu-pintu

"ayah, ibu
aku telah jatuh cinta
tapi pada wanita itu
matanya menumpahkan belati.
aku takut
suatu waktu menusukku sampai mati"



sekayu, '10

Sehabis Mendung

kita pernah bermimpi
memasuki kawah-kawah candi
yang menyimpan patung seorang dewi

di tangannya ada rumah kita
yang menggenang
sehabis mendung

setelah tiba di antara kedua jemarinya
yang lebar
kita melupakan doa yang mesti dibawa
dan akan diamini oleh roh-roh leluhur
penjaga rumah

telinga kita menopang bunga.
kau lebih suka yang kuning
sedang aku suka yang merah.
lalu mereka sama-sama tumbuh
kemudian mekar memenuhi pengupingan kita

sehabis mendung
doa-doa kita bermunculan
dari putik bunga yang tumbuh

sehabis mendung
bunga-bunga kita mekar
menudungi rambut-rambut kita yang kehabisan tenaga

sehabis mendung
ketika kita memuarakan segala nasib pada candi
bersama seorang dewi
kita senantiasa mendengar bisikan parau
entah suara atau dengungan bahkan dentuman
yang begitu hebat
hingga hanya ada satu yang kita ingat

:
sehabis mendung
kita menunduk rendah.
tapi kali ini
kita merapatkan tangan untuk mengamini doa-doa
yang pernah lupa dibawa



sekayu, maret 2010

Gemeretak Cangkir di Malam April

maafkan jika aku mencoba membaca gerak
kedua lipatan bibirmu yang masih memerah

sebab seseorang di belakangku telah memberitahukan
bahwa semalam ketika masih april
kau pernah menemui seorang gadis yang kesepian
kau bilang bahwa ibunya yang selama ini menghilang
telah berhasil kau telan

aku tak cukup tahu seberapa lebar lehermu dapat mengerutkan
tulang-tulangnya untuk menjadi lebih lunak
setelah peristiwa itu

maafkan jika aku mencoba menaiki terjal batu
gincumu yang mengeras dan mengerak beku
sebab aku tak kunjung paham
bagaimana kau memilih warna untuk saat itu

maka lubang yang memuatkan bola mataku ini
mengatakan bahwa seorang lelaki berkuda
datang menyekapmu
pada gulungan lengannya, setidaknya
ada selaksa warna yang kau suka
diantaranya adalah luka
begitu mirip dengan empedu yang dikeluarkan hatiku

maafkan jika kali ini aku tak dapat mengetuk jendelamu
atau bahkan meninggalkan wewangi malam
yang kuperam di lingkar kancing bajutidurmu

dan lelaplah
masuklah ke dalam selimutmu
sebab aku yakin
masih ada kunang-kunang malamhari.
mereka akan menjagamu dari nafasku yang liar dan memburu

: semoga



sekayu, 19 april 2010

A Year

Someone told me, "i've been sick for almost a year"

--one may indeed say so




--'10

Sabtu, 28 Agustus 2010

Kau Aku Lady of Dream

Lady of dream
Kita paham sebatas mana mesti berlagu menuruti sulur akar di hutan bambu
Seperti biasa angin pagi lebih dulu sampai di sini
Menyambutmu, membawakanmu setangkai kamboja dan putih melati di lubang telingamu
Dengar, di sini suasana yang sunyi
”you’re all the only that i desire”
Katamu berdebar-debar mengajakku datang
Kemudian berlari mengitari akar-akar yang telah menjadi pundakmu untuk bersandar
Sebab kamu yang masih jelita
Memelukku dengan kerinduan yang mendalam
Kamu tidak membakarku, tidak membakar ingatanku
Tapi kamu membakar apa yang membuatku merasa menggigil bertanya-tanya

Tentang musik apa yang akan dinyanyikan
Barangkali kamu lebih tahu
Serupa suara bedug bertalu-talu di pengupingan
Lalu masuk ke gendang telingaku
Setelah berkali-kali jatuh bungkam di tepi tulang martil yang belum cukup dewasa
Lady of dream,
Remaslah jantungku yang masih ingin berdetak
Merekam segala hal yang masih ingin khusyuk
Di hadapanmu, apakah aku ini seorang kekasih
Yang lupa bagaimana cara menahan cintanya untuk kembali
Pada ibu di tanahku sayang
Tanah yang mengalirkan ombak-ombak
Serta dera dan deru di tiap-tiap senja yang melindapkan suara-suara rumputan

Merasa kesunyian
Adalah merasa betapa perih tanpamu di sini
Tak ada yang membangunkanku dari mimpi
Atau ketika pukul empat pagi
Kita mesti buru-buru menghabiskan sepiring nasi.
Demi siang dan matahari yang memanah cintamu cintaku sebagai kekasih

O pagi
Waktu yang masih kosong pada ranjang tidur kita
Kamu memanggilku, memercikkan segaran air
Kepada kepala, muka yang membawa retina mata,
Kepada tangan, kesetiaan hal-ihwal yang membakar rasa bosan
Kepada telinga, suaramu suaraku bertemu mencakup rindu
Betangkup menuju kaki yang memukimkan ribuan suara bedug yang tak ingin sendiri

Lady of dream
Lady of dream
Lady of dream
Aku tak ingin mati sebelum datang menemuimu dalam keadaan yang benar-benar suci
Kamu pasti tahu
Bahwa tanah kerinduan yang menyimpan hati
Tak akan pernah tuntas memahami lekuk-lekuk di keningku yang
Saat ini masih ingin meringkuk pasrah menyerahkan segala dingin
Di hadapanmu, aku mengusap-usap apa yang dapat membuatku senantiasa mengenali baumu,
Aku kembali meringkuk pasrah
Atau berkali-kali merukuk dengan perasaan yang hampir gagal tenggelam dalam tengadah yang kyusuk
Dengarlah
Di pengupingan kamu aku dan masing-masing
Masih ada kerinduan yang tak habis terbakar api
Pada sujud akhir kali ini
Kamu membawaku kembali pergi
Menuju suara-suara akar yang menyulur dalam-dalam di hati



--10

Kamis, 26 Agustus 2010

Saya Ingin Bertanya

ada yang tahu siapa yang meletakkan sembarang kaki di sini
ada yang tahu siapa yang memukuli katak hingga sebelum pagi mulai benar-benar berbunyi, bernyanyi, menari
ada yang tahu siapa yang menggemgam tangan saya saat ini

ada yang tahu siapa yang paling pucat jaketnya di antara pentanyaan saya tadi
ada yang tahu siapa saya dan siapa yang akan membiarkan saya mati
tergeletak tanpa puisi
ada yang tahu bersama siapa saya akan pergi
menuju rumahmu di tengah kesepian
dan suara-suara bisikan yang meyasinkan beberapa nama menjadi kepedihan
ada yang tahu
siapa?



--'10

 

Selasa, 24 Agustus 2010

Tanza

dan matamu tanza
hidup kami tak akan lama lagi
kamu mengambil bilik dinding yang melapisi dingin kami
kamu menimbun harapan kami yang tak lama
akan bersemi menjadi kelopak bunga

tanza, segeralah
rebahkan kami seperti mantra-mantra ajaib di tongkat sihirmu
padatkan kami menjadi satu
tanpa ada di antara kami yang berkeping-keping jatuh

tanza,
berbutir-butir dari kami melenguh
di telingamu, kami mengetuk
sebab doa-doa yang dikalengi oleh saudara kami
hampir kadaluarsa

kami membusuk
ulat-ulat di tubuh kami sudah menetas

tanza, jangan biarkan kami
di tanganmu sia-sia menjadi api
yang semata-mata habis dipadamkan oleh puisi



--sekayu

 

Minggu, 22 Agustus 2010

Orang-orang Perancis

orang-orang perancis
di tubuhmu menguap sajak seorang gadis jawa yang ingin berlari ke tepi sungai yang menjaga makam kedua orangtuanya. kamu berziarah ke sana. membawa seikat bunga. kamu memakai parfum yang bertuliskan keroncong : hampir punah.

siapa yang akan menyangka
bahwa tanah makam itu pernah menjadi sepasang bianglala yang tak pernah mencapai cukup usia

"aku datang
tapi tidak sendiri
aku membawa rombongan berseragam tentara yang mengawal seisi langit
aku membawa bunga
di pekarangan tanah perancisku
telah tumbuh menjadi tumpukan bukit yang perdu"

"kamu pasti ingin menangis
tapi ini bukan saat yang tepat
bersembunyilah di balik jubahku
aku akan membawamu
mengenali perancisku yang cukup jauh
di matamu, aku yakin
kamu akan mengerti kenapa orang-orang perancis
begitu ingin sampai di makam ini"

"orang tuamu
kamu masih dapat memantaunya lewat cermin teropong di mataku
tak ada yang akan tahu
aku, orang perancis ini
kamu pasti mengerti"

seketika udara di makam berhenti
orang-orang perancis berbicara dengan bahasa yang sunyi
gadis terus berlari
menikam orang-orang dengan bahasa
yang bernyanyi dengan puisi



--sekayu, '10

 

Sabtu, 21 Agustus 2010

Kepada Dinda

bacalah buku-buku itu dengan tenang
rebahkan kedua tanganmu di atas sampulnya
sebab wajahku telah membaca risau dan peluhmu

usaplah dadamu yang sarat kerinduan
sebab hatiku menerka atas apa,
semua rasa itu bersumber
:dari segala waktumu yang meluap lewat pundak
mama dan papa.
sebenarnya ada harapan-harapan
yang muncul bersamaan hari kelahiranmu
bila kau menghitungnya dari sekarang
cukup membutuhkan empat malam purnama
dan ratusan matahari yang siap dipanah
tepat di tengah sumbu dan nyalanya
mungkin saja kau akan menggigil bertanya-tanya
di saat malam makin meranum
atau mungkin malah merasa mengantuk berulangkali
di saat anak matahari kembali dilahirkan
dari arah timur rahim ibunya

dengarlah gemeretak cangkir-cangkir yang
ada di mejatamu sebelah sana
kau tak perlu keluar dari peraduan untuk mendengarnya
pengupinganmu pasti cukup kuat untuk mengumpulkan dan
memisahkan mana bunyi yang begitu sendu untuk diartikan
mana bunyi yang begitu asing untuk dihilangkan

rasakanlah bagaimana gerak orang-oarang di hadapanmu
lalu tiba-tiba di samping, akan bermunculan
lekuk alir yang baru
rimbun bulu mata yang sahdu
dan barangkali hidung berlubang ganjil
antara tiga dan satu

lihatlah betapa seisi ruangan kaca ini
sudah lama mengeruh akibat menampang
berkilo-kilo tetes air yang bersumber jauh.
kau dapati dirimu di dalamnya
serupa bongkahan-bongkahan abu yang hablur
di antaranya ada yang langsung jatuh dekat kakimu
sisanya
satu persatu beterbangan menuju keluasan
lingkar pusar perutmu yang lapar
maka hancurlah kamu seketika

bersabarlah
keseluruhan kata-kata yang kutulis ini
tidak akan sia-sia dan terbuangpercuma
sebab beberapa di antara celah mereka
kuselipkan kisah nyata kehidupan kita
hidupmu penuh bahagia dan makna
hidupku penuh keluh dan raungan
yang senantiasa tak bisa
sempurna untuk dituntaskan




--sekayu, '10

Jumat, 20 Agustus 2010

Tanggungan Hidup dan Mati

--kau
akan gagal mengingatku
sebagai kekasih yang utuh
 


silahkan sayang! kau boleh membuka lubang penuh asap itu
sebab di dalamnya telah aku siapkan beberapa cerutu dan lima batang rokok yang berisi tembakau di pantaipantai yang tergerus arus. mungkin bagimu terasa manis, atau seperti gula yang disukai semutsemut merah yang asik berlarian kesana kemari di lantai rumahku

matamu, jangan sekalikali dipejamkan
sungguh, aku tak akan mampu membuatmu sadar
dan lagi mengenaliku sebagai kekasihmu yang utuh

sebab asapnya beracun.
nanti membuatmu melayang dari satu kesenangan ke kemabukan yang lain

hanya setelah perkataanku membisikkan sesuatu di pengupinganmu, barulah kau dapat terpejam perlahan. tak perduli lama atau sebentar saja. waktu di dalam tidurmu, nafasmu, hidupmu, matimu tetap sama. delapan tahun dibayar satu windu, tujuh matahari dan tujuh bulannya digenapi dalam satu minggu.

barangkali
ini tak terlalu penting bagimu
tapi bagaimana pun juga semuanya merupakan tanggungan hidup dan mati yang menjagamu dari kebimbangan yang tak akan membawamu kembali. atau terusterusan istirah dalam limbung dan kelelahan



--sekayu, '10