Kamis, 07 Januari 2010

Jalan : Penghuni Malam yang Asing

: wi

jalan 1

dimana aku harus memadamkan api
sedang ini waktu hujan adalah malam
dan penghuninya yang asing
dengan banban motor
mengalir denyut mereka yang dikejarkejar para laron
dan penyinggahan adalah tempat pemadaman itu sendiri

jalan 2

dari mana aku harus memulai sajak ini
bila kata habis terpotong
lalu bunting tibatiba
tanpa ada sedikit sanggama dan bibir yang basah
: sajak ini siasia

jalan 3

siapa yang harusku kutuk di sini
atau melempari rambut dengan gumpalan batu
memagari tubuh dengan kerangkeng besi
atau meniduri setiap geletar nafas
luruh oleh ribuan gerimis gelombang
leherku tersekat
laut begitu asin dan pekat
badan perahu badan ikan
aku kini lebih memahamimu
: sebagai penghuni malam yang memakai baju kedodoran

jalan 4

jarak di sini musti kutuntaskan
penghuni malam yang asing
di setiap pemahaman akan jalan
terselip makna entah segala apa

jalan yang asing
aku jadi jelma penghuni malam yang asing
yang juga siasia


sekayu, 19 nov 09

Edelweis

: ma

karang 1

suatu saat akan datang gurun berbatu
dimana debu adalah satu
meruntuh di setiap tebingan
dan gunung siap menganakkan perutnya
memulai musim baru
sedang cuaca di sini masih abadi
dengan salju di puncak paling tinggi

karang 2

lalu kau hidup serupa batang
dengan daundaun yang siap mekar
dan putik yang lagi menangkap suara pagi
: dimana tempat yang baru ini sesungguhnya

karang 3

burungburung yang menyangkar di sini
berkomentar
: ada anak baru yang ingin terjun dan meluruh
seperti batu yang dahulu.

karang 4

lalu kau merasa kesunyian yang amat lengkap
dengan sisa gelinciran bulan yang ditata untuk matahari selanjutnya
kesepian makin tergenapkan

karang 5

(sebenarnya, kehadiranmu di bibir yang baru mengganti keganjilan dimana waktu tetaplah batu dan sampai akhirnya meluruh)


sekayu, 24 nov 09

Kepada Kita yang Menyairkan Mimpi

: kanda

tinggal satu mimpi lagi. malam di bawah langit bercuaca adalah kesunyian melihat ke dalam rohnya_pada kainkain selimut sprei dan bantalbantal yang belum tuntas kuramalkan.

malam ini aku memeluk mereka. penglepasan akan penghabisan makna sebuah pelayaran di sana : akan sampaikah kepada mimpi yang dituju?

menyairkan suara gemuruh takkan habis di bawah rakrak buku
pun debu yang senantiasa mengembara keliling kota, bumi juga dipan yang berikutnya

malam ini mari kita terjaga. menjaga bakal mimpi supaya besar sebagaimana mustinya

gedunggedung di depan serupa hantaman yang berhenti menyairkan mimpi_pada tangan kita akan sampai di lekuk paling basah oleh keringat yang geletar, dan pada bulunya yang paling kering kita mengembara. entah sampai dimana kita berpegangan sampai di bahu atau pundak

ketika sudah tiba di alis sendiri maka mata adalah hak segalanya_turun melewati rambut keriting kusut yang mengalirkan denyut gelombang lalu detak jantung yang bernafas : kita adalah hidung yang menyaring kepulan asap mimpi di selaputnya

sampai di mana waktu tergadaikan malam ini, sedang ribuan suara lalu dengan bahasa yang sulit terbaca : kesunyian adalah mimpi atau sebaliknya yang terjaga di bawah langit bercuaca


kemis, nov 09

Ini Cerita di Jalan

Oleh Mutiah Ayu Rasta

ketika orangorang sampai pada waktu untuk mengemasi perjalanan yang sungguh gelisah, di antara mereka ada yang telah lebih dulu lewat sambil menyilang tangan, di pematang dan kursi mobil yang berjejeran : di situ mereka lekatkan sandaran berbungkus harapan tentang tanah yang mereka tinggalkan

udara di balik kaca senantiasa menerpa kulit, tapi matahari yang dulunya menetaskan mereka tetap menyalanyala sebagai bayi 'tak cuma ditetaskan semata

(kutitipkan meja makan dan dapur siang ini. bila malam ini paling temaram, di ceruknya panggillah bulan dengan seribu nama bahwa kau sedang kesepian. tentang jalan yang dititipkan untuk hari ini berilah lampu di tepian supaya orangorang tetap melaluinya dan lalu menyepikannya kembali)

rentetan lagu selamat tinggal dipasang di pengupingan masingmasing : samasama mandi langit senja

sudah waktunya harus ditutup
rumahrumah dikunci
tidak lagi sebagai kenangan
bahwa kita pernah membangunnya
untuk anakanak yang menetas di meja makan

(hanya kepadamu
dan simpanlah
sampai
aku
kembali
membawa bungkusan harapan baru dan rapi.
kita menaburnya sebagai perjumpaan
yang penah dilalui di perjalanan)


sekayu, 4 des 09

Di Persimpangan Refleksi

: tod

menyudahi malam di bawah unggun dan api merah sebagai tanda peziarah yang luput di kepalanmu berloncat melewati hembusan sepi dengan segala kekosongan. ini denyut nadi yang telah terbakar sebelum kau mengerti lebih panas dari keinginan sendiri. jika dari bongkahan batu yang kerikil kau mendampar di samodra, maka harus ada yang ditumpangi sedang kau adalah penumpang dari zaman yang telah abadi oleh waktu dan kembali menyala di dalam tungku. orangorang yang kau sebut beramsal dawai di tanganmu, setelah ribuan hari dalam kepala hampir meledak dan kembali memusnahkan kota yang kau susun berwinduwindu. dan inilah rahim kata yang berawal dari tongtong sampah__lalat dan larva sebagai pekerja yang kau perintahkan untuk memakan sisasisa dengus nafas yang telah lelah. kau akan sampai di malammu yang tua ini? api padam dan tungku adalah kealpaan dan musti dinyalakan. atau tetap menjadi tumpangan ketika di samodra pada zaman dan waktu telah abadi.


Rumahsekayu, 5 des 09

Wanita Lengang

: mama

mengenang lumut di pinggulmu
kursikursi patah
embun dan pakaian di pagi hari
aku mengenakannya sebagai wujudmu pada air
pun pada kursikursi di ruangan berikutnya
menyediakan waktu yang lebih lapang
untuk menyimpan kenangan di tamankota
: musim berkejarkejaran
cuaca seketika dalam kabut
"aku wanita lengang yang ingin menemuimu
dengan sebungkus coklat
hampir leleh di tangan"
matahari begitu panas
kenangan kita menjerit
mobilmobil dengan klakson
adalah jasad yang terbakar tanpa ayah


pantaimusi, 09

Sampai Matahari

aku akan tidur melebihi waktu
sampai malam : hujan turun dari mata
mengulang sajak pasir
yang kautuang ke dalam cangkir
buat ibu katamu
dalam ranjang serta dipan pendek
busa dan kapuk yang tertahan di hidungmu
kita batuk
sambil membawa mantra
semalam ditahan dalam kantung suara

hingga kembali terbangun
matahari masih pagi
lewat dindingdinding kamar
burung mematuk daun kuping
kita tuli
tidak lagi mendengar ibu
kamar menjelma jadi ingatan paling kosong
di atas bantal
kita menaruh mimpi hingga malam

nanti, bila tangantangan
dan jemari mulai rapat
beringsut dari satu per satu ubin di rumah
kau akan tidur pada gilirannya
bertemu ibu di kelekak loronglorong
sepanduk pada warung
itu fotonya yang paling dikenal
sambil menawar senyum
dan sarapan pagi

kita samasama akan tidur
tidak hanya kamar
kepada rumah dan ingatan
kita bawa menuju perempuan
waktu kepada ibu
semua dibangunkan
sampai matahari
terbatas pada malam


pantaimusi, 12-12-09

Menunggu Siapakah Bunyi

duduk di antara ketipisan suara angin
cahaya dinyalakan
malam dalam pergantian cuaca
saat waktu paling tua akan sampai
berhadaphadapan
dan saling menutup diri

mungkin pada satu atau dua sajak lagi
akan tiba penyempurnaan
di mana langit mulai bertangga
meminjamkan waktu untuk dipulangkan

kita akan duduk di taman
merah adalah bunga mekar yang dipetik
jauh sebelum matang
disadap untuk bangkubangku pengunjung
supaya malam paling hidup
tidak sekadar jangkrik
tapi juga reok
patahan bangku yang makin panjang

"menunggu siapakah bunyi hingga semua langkah di pengupingan terus sepi?"


pantaimusi 09

Berjalan di Kelopak Mata

-Ganz

(akan seperti apakah perut hidup yang berpuisi itu?
mungkin kataku
dan kau?)

kerikil yang menggugus di halaman telah lama menjadi dingin, saat bulan menutup kornea malam dan membuka tubuhnya untuk dilapangkan bahwa malam adalah langit paling ganas.

seketika orangorang dengan rangkaian bunga di telinganya mencoba terbang dengan kaki, lalu seperti apakah mereka merajut bulu dengan jarum dari sebuah cerita ayam dan elang.

di situlah bayangan dikukuhkan. dan ketika ia sampai pada puncak altar, seluruh tubuh akhirnya setengah melingkar. dalam tengadah terbalik : ribuan mantra yang tersimpan di bawah laci lidah dirapalkan

dengan sedikit kidung yang terasing, lalu hendak dipejamkan di mana mata. hendah ditenggelamkan di mana kornea

alis yang tumbuh menanjak di setiap kening waktu: serupa kita yang hendak terbang. mengendapkan beberapa langkah di jembatanmata. hingga menjadi dada langit yang mengapungkan waktu. dan malam : berjalan di kelopak mata


palembang, 2009-2010

Jadilah

berada di bawah langit pekat
setiap kata yang ditetaskan
melalui lelembut sepi
harus ada birahi yang mendarat

di bibir, mengenali bentuk dada
puting dan lingkar pusar
karena mereka ada pada tangan.
tiaptiapnya senantiasa terbakar denyut kota
denyut nadi
denyut istirah
denyut yang berdentum

dengan rapalrapal yang tak musti diusaikan
maka pantaimuka sewajarnya menyepi
serupa ombak yang mencapai ke kedalaman
terus mendasar di bawah air.
pepohon seketika ungu
bunga memekarkan kuncup

menyisir dataran yang berundakundak
menaiki setiap tangga setinggi kepala
atau geletar yang diciptakan
hanya sematamata akan kembali
menjadi anak gunung
oleh akar dan jejak puisi
dan lalu batang
pada daunnya akan luruh
mata embun. karena
matahari pun sebenarnya malam


palembang, 251209

Sebelum Samadi

/1/
menggunakan arus yang tak pernah pecah, aku mengayuh segenap sampan sampai ke tepi hulu. mungkin pohon kelapa berdaun rambutmu akan membuka kulitkulitnya sebagai pintu dan jalan keluar

menuju kata dan tulisan abadi di kertaskertas pernah ada pensil yang menulisi dirinya karena dulu tersimpan di almari dekat meja cokelatmu

kacamata di atasnya. mengarah ke sejarah dulu saat masih banyak bantal berkapuk dan mimpi lapuk. sekian banyak harapan dari mataku yang berbusa ketika menatap ke luar jendela

: kau selalu menjelma bayangan di balik tenggelamnya malam, padahal malam tak pernah sampai pada malam sebenarnya. lalu kaumenghilang di perutawan setelah burung pagi melintas di mukamatahari

/2/
: karena waktu itu aku masih belum genap meninggalkan uraturat yang menggaris di tangan dan membentuk nasib

lalu aku membolakbalik halamanhalaman bergambar bajumu dan saat ditemukan sebuah kantung, aku seperti mengingat tentang arus lalu bahwa tak pernah pecah

/3/
ombak di rimbapulau belum merendah, mereka membangun kepalakepala air dari jala perahu yang kusut, daun kelapa yang kusut, dan bulumata yang kusut

aku berniat mengembalikan lagi banyak halaman. tentang ombak yang sudah dituntaskan, sedang kau masih dalam selubung paling misteri_ujudmu dalam bayangan atau bahkan menghilang

/4/
senja akan tiba di atas genting yang meneduhkan meja cokelatmu. saat kau bersiapsiap dalam samadi sebelumnya untuk kali ini kau memakai kacamata: menguji ketebalan waktu katamu


palembang, des 09