Selasa, 23 Maret 2010

Dari Sergapan Serdadu

apa yang mesti aku bawa dari persinggahan
sementara di jemarimu?

ataukah cincin berbatu giok dari
dinasti-dinasti cina
yang lalu menyilangkan tangan kita dulu

menjadi apakah tiga lekukan itu nanti?


: may it be

'10 maret

Sabtu, 06 Maret 2010

Dapar

di balik angka-angka yang telah selesai kita hitung dengan tidak percuma, Ayah sebenarnya seperti apa bunyi nafas dari akar bilangan berpangkat itu. kau hanya bilang padaku, "bila ibu membeli sebotol tuak di warung yang berjarak lima kilometer, kau hanya perlu menghitung berapa jumlah nol di baris kedua yang harus kau bawa, lalu dengan kuda mana kau akan sampai di sana"

Ayah, kau pernah bilang padaku
arloji yang ada di tangan kiriku
pernah dibuat oleh seorang anak yang
setiap saat setelah datang waktu matahari
naik sepenggalah, dia hanya mengerti
rumus-rumus balok dan deretan-deretan yang
begitu sulit untuk dipahami"

"tulis angka-angka yang sudah pernah kau coba
lupakan di setiap basah nafasmu!"

mungkin itulah yang dapat kupelajari dari
hari-hari menjadi anakmu
anak yang selalu ingin tahu bagaimana
menemukan angka-angka baru yang senantiasa
lahir dari setiap penambahan
tinggi badanku, dari setiap perkalian jarak
dan titik pandanganku

atau mungkin Ayah
mengisyaratkan suatu hal lain
tidak menggunakan rumus-rumus itu
tidak dengan cara memperhatikan ibu
dan botol tuak dari warung-warung
yang terdiri dari kilometer yang jauh

lalu seperti apakah yang
musti aku pelajari dari
cara menghitung
yang belum aku pahami itu?



Sekayu, '10


(mar)

Rabu, 03 Maret 2010

Potret




-- satu potret kita yang menyisakan satu cerita


kucing dan muka tirus

/1/
dimulai dari sore itu
kita memamerkan sepasang mata kucing
di depan cermin tua orang-orang Persia
:
"kucingku yang ini bulunya halus
berbibir manis tepat seperti lolipop persegi
yang pernah kita cicipi di perayaan
pernikahan orang tuamu"

/2/
"kucingku yang ini bertulang rusuk
maka kulitnya yang menggambarkan
muka tirus membuatku bersusah payah
sambil melumat kertas dan alas pupur
dari tepung itu
supaya terlihat makin putih kucingku"

-- di kaca jendela yang memantulkan bayangan kedua kita


rambut sebatas bahu

/1/
"rambutku hari ini sengaja kubuat merah
orang-orang mengira aku tekena
lelehan timah gunung di waktu dulu
lalu mengering. tak sengaja ketika aku
ingin membasuhnya, rambutku berkilat-kilat
dan berasap. terbakar kataku!
Tidak!
ternyata cuma api yang lebih dingin dari dugaanku"

/2/
sengaja kulukai tanganku dengan ujung-ujung
tumpul kayu di pagarku
agar orang-orang melihat inilah batas rumah
yang sering mereka masuki tanpa
melepas sandal. bahkan
mengetuk pintu kian dirasakan mustahil.
mereka tuli seperti kucing-kucing ini.
telinga mereka cuma beban di wajah mereka
supaya terbentuklah wajah tirus.
tepatnya cantik kataku, melebihi kelipatan
urat-urat daun cemara yang tinggal satu
dan belum sempat tanggal di percakapan yang lalu"


yang tersisa

"apakah kita sudah selesai
untuk cukup menggambarkan
dan merekam mata asing
pada wajah asing yang kita miliki
dan menyudahi perkara singkat untuk percakapan
berikutnya : tentang kucing dan wajah tirus
yang mengenangkan potret kita?"



sekayu, maret '10