Sabtu, 22 Mei 2010

Sudah Lewat Enam Puluh Menit

aku kali ini sedang duduk di kursi
dan mendengar bunyi telepon-telepon
barangkali ditujukan padamu

dari urat leher hingga keningmu
aku dapat melihat di antara saraf-saraf itu berdenyut
mereka berlari dengan mata yang limbung

di depan
tiang-tiang listrik masih mendengungkan suara yang sunyi
dan memperhatikan kita yang tak kunjung bertegur sapa
beramsalkan debu
yang tiba-tiba menghambur
tapi tak juga mampu mengedipkan mata kita
untuk sekadar basa-basi memburu
atau sejenak saling tertawa dengan lepas

semuanya terasa seperti mustahil terjadi
karena orang-orang di luar mobil
telah berganti pakaian
ada yang ber-jeans
ada yang bersarung di pusar perut
dan terlihat menggantung di antara betis-betis dan dengkul-dengkulnya

sudah lewat enam puluh menit
aku masih terus diam
mengumpulkan kata-kata yang pas
buatmu yang semakin banyak bicara

lalu sampai kapan, Nun
kita terus-terusan menghindar dari godaan
seperti anak muda lainnya
untuk saling memahami
dan berbagi sesuatu setelah hampir
lima belas tahun tertunda?



--sekayu, 16 Mei 2010

Kamis, 13 Mei 2010

Aku Menantinya, Ma!

“semoga aku tak melupakan suatu pagi ketika mama membuka dapur
mencari air di cangkir-cangkir kopi yang kotor.” lalu di meja makan
kakinya yang menyentuh sebuah catatan-catatan tagihan nasi dan ikan-ikan di swalayan

begitulan kenangan-kenangan minggu kemarin
aku masih menyimpannya di lemari berkala yang memantulkan raut mukanya
raut muka yang senantiasa pucat saat menjelang pagi
sebab catatan-catatan tagihan di dapur
selalu berjatuhan di telapak kakinya
mungkin sudah begitu lama
mama menyimpan angka-angka yang menumpuk
mungkin dalam pikirannya yang nanti akan meledak
satu per satu memori wajah dan bonekaku telah mulai terhapus
atau bahkan habis dengan percuma

”Ma, aku mencium pagi yang cemas lagi di sini
bibirku selalu bergetar ketika menahan deras air-air
yang bersumber dari segala tangis. Kacamataku dipenuhi
percikan-percikannya. Meja belajarku basah
sama seperti keringat yang memandikan dingin tubuh mama”

dapat kuperas cermin kenangan itu
lalu menjatuhkannya di antara rerumputan hijau yang
baru tumbuh: setelah semalam berhasil bertarung melawan
pekikan bulan. Di antara jemuran catatan-catatan tagihan
yang ikut hanyut, tintanya seketika luntur
mereka mungkin mengenal wajahku
:anak yang bertanya-tanya akan gelisah yang
diperam lama mamanya

semua masih sama
di kiri kacaku, masih ada jendela
yang memancing tubuh belakangmu, Ma
memalingkan muka dari kecemasan yang nantinya tak akan sia-sia

kepadaku yang mengingat sekaligus merindui pagi-pagi mama yang dulu
semoga dapat ku dengar untuk sekian kali
suara pertama dari mulut mama yang mengucapkan selamat pagi
bukan suara derit cangkir dan meja makan
atau pun catatan-catatan tagihan

aku menantikannya, Ma!

Holocaust yang Akut

Cerpen


Holocaust yang Akut


”berita hari ini, sekelompok remaja sekolah menengah atas melancarkan aksi lempar botol di depan kantor bupati sebagai wujud protes akan nilai standar kelulusan yang akan mereka hadapi.” ucap salah seorang reporter di salah satu stasiun televisi swasta.

”huuuaaahhh, tiap hari hanya berita keributan. Di sana perang, di sini perang, di situ ikut-ikutan perang. Aku jadi ngantuk. Yang ada hanya semacam pergulatan yang meneteskan banyak darah. Lama-lama aku makin muak” seorang lelaki menyambar ucapan tiba-tiba.

Kalau dihitung-hitung memang ada benarnya juga, tanpa perang mungkin aku tak akan merdeka. Bahkan merasa was-was. Ya, walaupun sedikit dibuat-buat. Setidaknya aku akan menjadi manusia normal seperti yang lainnya. Untunglah tak banyak yang tahu siapa dalang kerusuhannya. Andai saja aku yang menjadi dalangnya, aku tak perlu repot-repot mesti ikut terjun ke lapangan. Itulah mengapa banyak provokator tertangkap dengan sia-sia. Membusuk di buih penjara.

”Dunia memang kejam, sekejam pembantaian yang terjadi seratus tahun lalu. Ah, Holocaust. Sang Fuhrer memang idolaku. Kharismanya pun mampu memikat hatiku dalam-dalam. Pun terhadap pengaruh dan teori-teorinya yang sedikit membual.”

Apalagi tak sedikit yang menjadi korban keganasannya. Lebih dari dua juta rakyat disiksa di kamp-kamp. Dikuliti, dibakar, bahkan diracuni hingga benar-benar mati. Mungkin kalau aku diberi kesempatan untuk menjadi asisten Sang Fuhrer, aku akan menyarankannya agar tidak langsung membunuh mereka yang membantah. Dengan cara yang sedikit keji tapi mengerikan bagi mereka yang tak terbiasa.

”Holocaust? Mungkin aku bisa menciptakannya sendiri. Dengan fitnah, atau bahkan lontaran kata-kata secara langsung. Toh juga pasti ada kakitangan yang ikut memanaskan. Asal saja dompetku cukup tebal, Holocaust kedua pasti akan dimunculkan.”


*********************************************


”selamat siang pak! Maaf mengganggu, saya mau tanya. Di sini apakah ada siswa yang bernama Mardah? Dia saudara saya. Kebetulan saya ke sini untuk berlibur sekaligus ingin bertemu dengannya. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan padanya.”

Ah, salah! Kok rasanya canggung sih? Kenapa aku jadi sopan begini? Hey, ayolah! Kau itu dirimu, bukan orang lain. Jangan bertele-tele. To the point ya!

“selamat siang pak! Saya mau tanya, Mardahnya ada? Saya mau bicara padanya. Ada yang ingin saya sampaikan.”

Nah ini baru pas. Ya, besok tujuan berikutnya, Mardah. Wahai gadis, tunggulah. Ada banyak kejutan untukmu nantinya. Dan kau pasti tak menduga bahwa akulah yang menaruh darah-darah beku di lemari pendinginmu. Kau akan suka, percayalah!

Bungkusan satu sudah selesai. Bungkusan dua terkemas dengan rapi. Hahaha, kado yang unik untukmu manis. Begitu manis. Aku tak dapat membayangkan bagaimana nantinya ketakutan memenuhi wajahmu yang pucat. Atau bahkan melihat otot-ototmu gemetar tak karuan. Jatuhlah kamu ke dalam kehidupanku. Holocaust akan segera dimulai untuk yang kedua kalinya.

Berkali-kali, berhari-hari bungkusan-bungkusan dikirimkan ke Mardah. Tapi tak satu pun teriakan pecah. Wajahnya yang tenang dan dingin tetap saja selalu ada. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Ataukah ini hanya lelucon yang mesti dibasmi dengan racun tikus. Entahlah, gadis yang aneh. Sekali pun aku menaruh darah di lemari pendinginnya, Mardah tetap tak begidik.

”Mardah, aku semakin penasaran denganmu. Siapa sebenarnya yang telah membekukan hatimu. Jangan katakan kalau darah-darah kirimanku kemarin yang melakukannya. Ini hanya permainan. Dan anak kecil pun pasti menyukainya. Santai Mardah, sebab masih banyak permainan yang akan kutunjukkan padamu untuk dimainkan ke banyak orang.”


*********************************************


Tik tok, tik tok. Bunyi jam dimana-mana tetap sama. Walau pun ada yang sedikit lebih cepat gerakannya. Tapi tujuannya tetap satu menunjukkan waktu.

”ternyata sudah siang. Mau makan tempatnya jauh. Uangku, seribu, dua ribu, sepuluh ribu, lima belas ribu, lima puluh ribu. Lumayanlah, ayam bakar dan es jeruk. Setidaknya setimpal dengan penantian kepadamu, Mardah. Makanya Tuan, kalau mau kerjaku bagus dan rapi, kau harus memberiku imbalan yang banyak. Biar aku tambah semangat. Untung yang satu ini Mardah, kalau tidak aku sudah menolaknya mentah-mentah.”

Mardah dalam ingatanku belum begitu jelas. Cepatlah Mardah, sampailah di sini. Agar aku tidak berlama-lama menunggu. Dari tadi aku hanya menggaruk-garuk kepala. Membunyikan sendok di atas piring makan yang telanjur bersih kujilat.

Mardah, samapi kapan aku menyimpan rasa penasaran yang tak kunjung pecah. Darahku mengalir kencang, gigiku gemeretak satu per satu. Aku hanya menyimpan bingkisan-bingkisan busuk di telapak tanganku. Seseorang telah memberikan isyarat padaku. Tapi tugas tetaplah tugas. Dan kau nanti akan menjadi debu. Mardah!

Lima jam lagi tuan pasti menelponku. Bertanya hini-hitu tentangmu. Perkaranya mudah, asal menjawab ya, semua pasti beres. Tapi bagaimana dengan pembuktian mayatmu Mardah? Haruskan aku ganti dengan tubuh kumal kambing-kambing di desa? Tidak mungkin. Tuaku tidak buta, dan kau tahu hal itu Mardah. Aku dalam kebimbangan. Memilih antara rasa penasaranku padamu dan uang-uang dari tuanku.

Baiklah, pilihan pertama :
Menemuimu dengan bungkusan-bungkusan bodoh ini. Lalu mengajakmu berbicara dengan bahasa asing. Sebab kata tuanku, kau mahir berbahasa asing. Makanya itu hal yang mudah bagiku.
Pilihan kedua :
Aku akan sedikit berbohong tentangmu, lalu membawakan sekantung darah segar. Dan aku akan mengatakan bahwa itu darahmu yang sesungguhnya. Tapi ini terlalu beresiko. Kalau saja penciuman Tuanku setajam anjing-anjing geladak, aku pasti dibunuh. Lalu biaya penanggung hidupku akan ditarik dengan percuma.dan aku tinggal sendiri. Mengurusi penerbangan ruhku ke langit ke tujuh. Ya, mungkin hanya orang-orang berhati manusia yang akan mengantarkan jasadku ke pusara tanpa nama.
Pilihan ketiga :
Hahaha, sungguh menggelikan. Aku harus lari dari kasus ini. Meninggalkanmu Mardah, serta tuanku yang dungu. Lalu mengambil uang-uang jaminan atas hidupku. Tapi, kemana aku mesti berlari? Menyusul orang tuaku yang telah lebih dulu mati? Itu sama saja dengan bunuh diri. Bodoh!

Sudahlah, yang penting aku akan mencobanya dulu. Lagipula, Tuanku tidak setiap waktu mengawasi. Lalu tentangmu Mardah, kau memang misteri. Pun sampai aku mati. Itulah sebabnya aku bertahan pada tugas dari tuanku ini. Dan kau, harus membayar semuanya, Mardah!

*******************************************

”Mardah! Perkenalkan namaku Si Anu. Aku tahu banyak tentangmu. Tentang jejak kaki yang kau tinggalkan di pagar sekolah. Lalu kau mengambilnya lagi untuk dibawa pulang. Katakan padaku, apa yang sebenarnya membuatmu tak pernah takut pada hidup? Atau bahkan padaku yang banyak bicara ini? Bukankah aku ini orang yang baru kau kenal? Tiba-tiba langsung memanggil namamu yang tak lagi asing bagiku, Mardah.”

Bahasa tubuh, bahasa mulut, bahasa asing telah diucapan bergilir. Tapi aku tetap hanyut. Karena diammu melelehkan waktu di sekujur tubuhku. Panas siang ini ikut membakarku dalam tanda tanya besar, siapa dirimu dan kenapa denganmu.

Matahari telah bergeser ke arah yang lebih barat. Tetap saja kau menjadi misteri. Mardah, bicaralah. Mungkin ketika kau mengucapkan kata ”a” aku bisa memahami tugas dari tuanku. Sebenarnya ini sangat meynusahkanku. Hari-hariku bisa saja sia-sia. Kebedohan meliputi seluruh hatiku. Ruang lingkup nafasku buyar seiring dengan tubuhmu yang dengan sempurna menghilang.

Katakan Mardah! Aku makin gila di sudut kota ini. Tinggal menghitung detik tuanku akan menelpon dan lagi-lagi menanyakan kesudahan tentangmu. Darahku bergejolak. Makin lama aku makin limbung. Bahkan mengering sebelum sempat matahari menutup matanya di sisi bulan yang purnama.

Oh tuan, maafkan aku. Sebab di sini ada sedikit maslah. Mardah yang kucari ternyata telah pergi. Ia tidak pamit padaku. Padahal sebelumnya kami telah membuat janji. Maafkan aku tuan. Aku tak kuasa mencegahnya. Ia begitu cepat. Gerakanku disihirnya menjadi lebih lambat. Mataku hitam, mengabur ke dalam bayang-bayang yang menyayat.

Andai saja kau tahu tuan, dari ujung gagang telpon ini aku mendesis. Menelan setiap gelombang yang datang. Kalau-kalau gelombang Mardah ikut terkirim. Dan aku bisa kembali melacaknya. Lalu meneruskan tugasmu tuan.

Satu, dua, tiga. Aku menarik langkah. Dari depan aku memulai dengan angka sepuluh. Dari samping aku memulainya dari angka dua puluh. Dan ini, dimulai dengan angka seratus jika aku memulainya dari arah belakang. Tak pernah aku merasakan guncangan sehebat ini sebelumnya.

Luar biasa, Mardah. Aku takjub, aku terkesima. Misteri yang ada padamu membuatku hampir menggagalkan tugas ini. Padahal ini menyangkut hajat hidup matiku. Mungkin juga masa depan dan masa laluku. Tapi aku tak perduli. Tuanku pasti mengerti.

”ya Tuan. Ini saya. Untuk yang kedua kalinya maafkan aku tuan. Aku memang bodoh kali ini. Tapi untuk alasan yang tepat. Bukan karena main-main. Suatu saat aku akan menceritakan semuanya pada tuan. Untuk saat ini, aku hanya ingin sendiri. Selamat tinggal tuan. Aku akan berjalan lurus ke depan. Sekadar menemui Mardah. Mengajaknya bercengkrama. Minum segelas teh panas di warung sederhana. Sekali lagi maafkan saya tuan.”

********************************************

Menyusuri tanah-tanah lembab oleh ingatan tentangmu Mardah, tak menyurutkan langkahku. Hari-hariku terasa begitu bersemangat. Waktu memacu dengan cepat. Nafasku berkejar-kejaran saling memburu.

Aku gemetar. Ya inilah Mardah baumu yang khas. Bau gadis yang merekah. Bermekaran di rongga hidungku.

”Mardah! Itukah kau? Dimana? Katakan padaku. Jangan lama-lama. Di sini gelap. Gelap hampir membunuhku. Tapi baumu, telah menuntunku untuk tetap hidup. Menarik nafas dalam-dalam. Mardah, bicaralah! Aku sendiri. Tidak membawa apa-apa. Tak ada lagi bungkusan darah di tanganku. Ini hanya membuatku bodoh berkepanjangan. Mardah, perlihatkan dirimu padaku. Kau sungguh misterius. Tapi saat ini, jangan permainkan aku yang sedang kalut. Tolonglah!”

Tik tok, tik tok. Tak ada yang menjawab. Udara semakin sepi. Waktu semakin larut. Bayangan telah menyempit. Kata-kata semakin menyudut. Di dinding berlumut aku memukul-mukul diri. Membanting ingatan yang semakin menjadi-jadi. Semakin putus asa.

”Mardah jangan salahkan dirku jika tanpa sengaja menarik lecutan senjata yang ada di saku celanaku. Mardah! Akan kuulangi sekali lagi, jawablah pertanyaaku. Dimana dan tunjukkan sebenarnya dirimu. Buang saja semua hal tentangmu yang masih misteri!”

Masih tak ada jawaban. Udara kembali hening. Dingin yang melembabkan keringat ternyata membuat pencarianku sia-sia.

”bila ini memang maumu, baiklah jangan sekali-kali kau menyalahkanku. Tembakan pertama kupastikan mengenai kakimu. Tembakan kedua akan sampai di perutmu. Tembakan ketiga ada di atas kepalamu. Satu, dua, tiga. Argh, Mardah! Kau membuatku membabi buta. Empat, lima...”

Tembakan kelima mengenai salah satu lampu di sudut ruangan yang menjadikannya terang tiba-tiba.

”Mardah? Mardah? Mardah? Kau? Tidak, ini tidak mungkin. Kau, kau tidak mungkin Mardah yang kumaksud. Sebab penembak jitu sepertiku tidak akan pernah salah dengan semua yang ditujunya. Termasuk kepadamu. Mardah! Bicaralah. Katakan padaku bahwa semuanya tidak benar. Tidak mungkin selama ini aku mencari bayangan. Tidak mungkin. Sebab mataku merasakan kehadiranmu dan hidungku masih tajam mengenali baumu. Kenapa dengan bayangan ini? Kenapa ada darah? Kenapa ada suara tembakan. Semua tidak mengarah padamu. Tetapi mengarah padaku. Kaki, perut, dan kepala. Tembakan pertama, kedua, ketiga, lalu keempat, dan kelima mengarah padaku.”

Teriakan tiba-tiba pecah. Menggetarkan seluruh isi ruangan. Debu-debu berhamburan. Semua lumut satu-per satu meengelupas. Dinding-dinding roboh.

”mataku nanar. Darah mengucur deras. Dari keringatku yang asin dan merah. Kaki, perut, dan kepalaku terluka. Mardah katakan, sebenarnya apa ini? Ini pasti hanya sebuah kekonyolan. Kau pasti benar-benar ada Mardah. Tapi kenapa diriku yang dijadikan sarang peluru yang membabi buta.”

Diam sejenak menahan air mata. ”Tuan? Ya! Tuan?” Lalu tersenyum sendiri, ”tuan tidak mungkin menipuku. Kalau pun ini terjadi, dari awal aku sudah bisa membacanya. Tapi ada apa denganku kali ini? Tuan, bukankah sudah jelas siapa-siapa yang kaumaksudkan dri tugasmu kali ini? Dan aku tidak mungkin, tidak mungkin. Tidak mungkin aku yang kau maksudkan dengan Mardah. Kau pasti bercanda tuan. Ini pasti sebuah kesalahan. Ssst, diam. Aku tak perlu lagi bicara. Mulut dan gerakanku terasa kaku.”

Perlahan, perlahan semakin banyak nampak bayangan bermunculan. Tuan, Mardah telah menipu. ”Tapi kenapa mesti diriku yang melakukan? Inikah yang dinamakan kejahatan . kejahatan memang kejam. Aku korbannya yang sangat menderita! Holocaust, hentikan! Ini hanya permainan bukan?”

Setelah itu tubuhku terjatuh mengenai lantai. Masa lalu, masa kini, masa depan telah pecah. Mengeras dan terbakar menjadi abu. Setelah angin, kembali menjadi debu.



sekayu, 02 mei 2010

Sajak di Usia Empat Belas Tahun

Mengajak Pena Berkencan


Kata-kata dari keramaian duka
Gerimis, mata air yang tumpah
Goresan pena itu dilumuri tinta darah
Segenap tenaga diukir, terpahat, jauh lamunan
Selongsong peluru dalam senapan
Ku pacu dengan lincah menembus hutan

Jari yang terluka di suatu senja
Mendongeng jejak hujan, teks kehidupan
Tumpah dari wadah, bungkuk berlutut harapan
Kala senja itu ada kesedihan
Jari yang terluka, teriris menganga, kepedihan
Ketika ku mengajak pena berkencan
Bercerita nostalgia roda zaman

Andai jari manis tak pernah tahu
Andai luka tak bertanya begitu
Mengapa senja tumpah haru
Ketika jari terluka di senja biru



-----sajak saya di usia empat belas tahun

(cukup berantakan)


jan, 2009

Dari Monitor, Kita

----tersebab t.t



Sejak tadi layar monitor menampilkan desktop dengan wajahmu
Juga kenangan kita yang sudah lama
Menahan sakit yang menahun

Aku akan menyebutkannya satu persatu
Dimulai saat kita memotong kabel komputer di laboratorium
Sebab memang tak ada guru
Atau pun pelajaran yang mampu mengusik gunting dan pisau tajam kita

”aku memustuskan kabel yang ini
Supaya tak menghalangi sinyal-sinyal yang nanti akan kuantarkan ke lembar kerjamu
Sampai jam dua belas malam
Pastikan hanya ada angka nol dan satu
Karena kode-kode yang sederhana itu
Yang paling bersedia terjaga samapi esok hari
Sampai kita menemu mata lagi
: mata dari keyboard menuju tulisan di desktop”

Lalu yang kedua
Ketika kita menaiki satu kursi yang kehilangan kaki
Tembok-tembok bungkam
Beramsal huruf-huruf yang senantiasa menuruti
Apa-apa yang kita taruh dan kita simpan melalui sepuluh jemari

seterusnya
Kita melakukan hal yang lain
Berulangkali

Kalau pun lonceng di sekolah
Tak punya arti
Pasti sampai saat ini
Sampai monitor mengabur
Sampai kabel-kabel putus
Sampai keyboard kehilangan huruf
Sampai kita berhenti
Mengisi dan memandangi kenangan di desktop
Yang telah lama sakit



sekayu, mei '10

Masih Kurenungi

sebab masih kurenungi
"lubang-lubang di sepanjang aspal ini pasti memiliki ceritanya sendiri"
begitu katamu di suatu perjalanan menuju masjid




sekayu, 06 mei '10

Subhi

pada satu garis yang melintang di ujung kedua alisku
dan satu garis yang lurus di belahan kerut keningmu
tertulis nama Tuhan yang kerap kita panjatkan
tepat di waktu subuh mengantarkan tanganku kepada air wudhu yang dingin

bila kita berdekatan
mungkin saja tak ada lagi tanda kurang
kali dan bagi
dan hanya akan ada tanda tambah
yang makin menambah kehidmatan
dalam sujud-sujud akhir

aku bermohon kepada-Nya untukku dan untukmu
semoga senantiasa dalam damai
semoga senantiasa lupa segala risau
semoga senantiasa menggumamkan bunyi-bunyi kasih
dari tempat tersembunyi yang kusebut itu hati

assalamu'alaikum warohmatullah!
assalamu'alaikum warohmatullah!
dalam salam perjumpaan yang paling hening
bersama-Nya, lalu bersamamu dalam mata yang menahan keruh di atas tengadah
dalam salam menemu yang sedang menanti
bersama-Nya, dan bersamamu dalam pejam yang lelah yang berairmata



Sekayu, mei '10

Sabtu, 01 Mei 2010

Bersabarlah

bagaimana pun malam ini kau tetap datang kepadaku
menemui wajahku yang bulat
sebab semalaman aku menatap bulan
menghitung senyummu yang masih berkata: Mei

”izinkan aku duduk
ribuan jangkrik di tenggorokanku
akan berkeringat
mereka akan merloncatan di atas pundakmu”
pintamu dengan pucat

bukankah kau tahu
kita mesti sabar
mengukur-ukur langkah yang tepat
dari kamar hingga meja belajar
dari pintu hingga kembali lagi ke pintu

bagaimana pun malam ini tetaplah sama
tidak akan menjadi lebih pendek dan panjang
”dan kau, bersabarlah!”



sekayu, 1 mei '10

Aku Menantikannya, Ma!

“semoga aku tak melupakan suatu pagi ketika mama membuka dapur
mencari air di cangkir-cangkir kopi yang kotor.” lalu di meja makan
kakinya yang menyentuh sebuah catatan-catatan tagihan nasi dan ikan-ikan di swalayan

begitulan kenangan-kenangan minggu kemarin
aku masih menyimpannya di lemari berkala yang memantulkan raut mukanya
raut muka yang senantiasa pucat saat menjelang pagi
sebab catatan-catatan tagihan di dapur
selalu berjatuhan di telapak kakinya
mungkin sudah begitu lama
mama menyimpan angka-angka yang menumpuk
mungkin dalam pikirannya yang nanti akan meledak
satu per satu memori wajah dan bonekaku telah mulai terhapus
atau bahkan habis dengan percuma

”Ma, aku mencium pagi yang cemas lagi di sini
bibirku selalu bergetar ketika menahan deras air-air
yang bersumber dari segala tangis. Kacamataku dipenuhi
percikan-percikannya. Meja belajarku basah
sama seperti keringat yang memandikan dingin tubuh mama”

dapat kuperas cermin kenangan itu
lalu menjatuhkannya di antara rerumputan hijau yang
baru tumbuh: setelah semalam berhasil bertarung melawan
pekikan bulan. Di antara jemuran catatan-catatan tagihan
yang ikut hanyut, tintanya seketika luntur
mereka mungkin mengenal wajahku
:anak yang bertanya-tanya akan gelisah yang
diperam lama mamanya

semua masih sama
di kiri kacaku, masih ada jendela
yang memancing tubuh belakangmu, Ma
memalingkan muka dari kecemasan yang nantinya tak akan sia-sia

kepadaku yang mengingat sekaligus merindui pagi-pagi mama yang dulu
semoga dapat ku dengar untuk sekian kali
suara pertama dari mulut mama yang mengucapkan selamat pagi
bukan suara derit cangkir dan meja makan
atau pun catatan-catatan tagihan

aku menantikannya, Ma!



sekayu, 28 april '10