Kamis, 03 Juni 2010

Sore Itu

Sore itu

--tersebab dhini

Seperti ada hasrat di air-air mengalir
Lewat batu-batu di bawah kaki
Dan sungai-sungai kecil yang
Belum cukup dewasa

“itu, di atas kepalamu
Awan putih yang baru lahir
Ia bermain dalam lindungan ibunya
Dan kadang gemetar
Oleh panggilan ayahnya yang
Suka pecah sendiri”

Sampai tiba-tiba mataku memerah
Dan terkunci di antara lantai yang dingin dan licin
Bersama percikan air yang semakin basah
Seiring bertambahnya usia senja

Mungkin begitu mahal bagi orang-orang
Yang bermukim di tanah limbah
Untuk sekedar menukar jatuhan air pertama
Yang turun dari rahim langit di sana

”begini saja
Kalau besok waktuku masih cukup untuk keluar
Melihat air-air jatuh di depan jendela
Akan segera kukirimkan doa beserta sejuknya
Supaya orang-orang di tanah limbah
Mengingat kembali kanak-kanaknya
Untuk bermain, lalu berkejar-kejaran
Seperti senja kemarin!”



--sekayu, 2010 juni

Rabu, 02 Juni 2010

Untuk Tuan dan Kami di Tanah Palestin

menuliskan kata-kata mantera dari air mata yang bersumber di tanah
: palestin
kapal-kapal kami tandus dengan gurun, tanpa air, tanpa embun,
tanpa suatu apa pun

apakah kami akan menghubungi pasukan-pasukan patroli yang
berjaga-jaga dan bersenjata?

entahlah
di tangan kami
peledak pecah seketika.
jari kami menarik pelatuk
urat kami mengalirkan bubuk mesiu
dan nafas kami
tersengal sambil memburu orang-orang di atas
dengan baling-baling dan mesin-mesin pelacak

silahkan tuan!
ini rumah kami
di depannya cuma ada satu jendela
kemarin kami lupa memasangkan terali
terali jerami terali besi

masuklah tuan!
ini kamar kami
di hadapanmu kini
bantal-bantal basah dan melembab
sebab, bau anyir tangis dan jerit
sebelumnya pernah tumpah di sini

oh tuan, maafkanlah!
kami hanya sepotong daging
yang dilupakan penjagal di pasar-pasar tradisional
untuk dipotong dan dijual kepada pelanggannya

maka dari itu tuan
masaklah kami di atas nyala tungku
juga di mulut meriam
dan senjata laser yang siap ditembakkan

tapi dengan ini, catatlah tuan!
bahwa kepada pagi kami berserah diri
sampai matahari dan sinarnya terbenam
di balik bumi

begitu pun tanah ini
: di palestin
rumah ini
: di palestin
tuan mesti membakarnya selagi masih berisi
seluruh isinya, dan kenangannya juga kembang api anak kecilnya

jangan sampai
ada satu yang tersisa di mata kami
dan melihat apa-apa dari
kesia-siaan air mata di reruntuhan puing-puing
yang dibakar kembali ke muasalnya bersama abu



--sekayu, juni 2010

Carpe Diem atau Malah Sebaliknya

seribu kali
barangkali juga sepuluh ribu kali
sudah kukatakan
ini waktu sudah malam
kau mesti cepat-cepat istirah
mngemasi buku tulis dan pena hitam
di atas meja belajar
sebab sebentar lagi akan ada angin
bakal menyapu segala coretan
yang tadi telah ditulisi olehmu

atau bila kau
sedang tak ingin membereskannya
letakkan saja semuanya di atas meja belajar itu
termasuk mimpi basahmu disiram pak tani
di kebun kopi dekat pohon mangga yang baru tumbuh

cepatlah
setidaknya kurang dari satu mil lagi
angin akan sampai
dan kau tinggal pilih
memilih berkemas sampai rapi
atau memilih segalanya dibiarkan tergerai, tergeletak
kemudian berantakan
dan benar-benar telanjang




*catatan :
carpe diem memiliki maksud yang sama dengan "seize of the day" dan "better and better"



--sekayu, juni 2010