Senin, 26 Juli 2010

Classroom 9

dan demikianlah
di antara kami ini
saling menyalurkan pikiran
bagaimana teori-teori
seseorang untuk menarik tali
di atas gedung-gedung berkoridor
dapat berkumpul menjadi
cerita yang panjang
dan kepahaman
atas bacaan yang menarik
untuk dipahami

maka kami ingin
bertepuk tangan sekali lagi
tanpa berhenti memaki
rumus-rumus buta
di papan tulis putih

sebab terang di sini
bukan matahari untuk
kembali digelapkan
dalam lumatan kertas koran

kami terus dibawa berjalan
membicarakan ledakan tabung-tabung
di kepala kami

kami tak ingin masalah
apalagi inti dari jiwa kami
benar-benar sudah berdarah
dan lemas dalam menyusun
bacaan
membaca
kami membaca
atas kepahaman

:
kami beringin demikian




sekayu, juli 2010

 

Minggu, 25 Juli 2010

Lelaki yang Menuliskan Kata di Atas Pasir, Ia Berlalu

lelaki yang menuliskan kata di atas pasir, ia berlalu

begitulah kami mengenangnya dari
muara yang jauh.
melepaskan segala mata sumber

dengan riak-riak dangkalnya.
menyelamlah kami

sebagai ikan pari
dengan pemangsa
yang ingin memburu
lautan di tangannya.

daratan,
dengan deretan pulaunya yang jukung.
aku inginkan dada

yang berhenti terbuka
bagi tiap kaum
yang saling menikam
dengan masing bedil.

tapi kami pun mesti
berlari mengikuti
ke mana usia akan hidup
untuk hari ini saja.

bukan kemarin dan esok

lelaki, kami akan lepas
dan melepaskan
keanggunan yang
pernah menari di
pantai pembantaian itu :keturunan yang
lama dihantam.
lumpur menguap


dari batas pori yang berkeringat,
apakah lelaki akan mengerti

tentang pembebasan
yang tiada habisnya
meledak dan buyar
memecah pemukiman ruh
yang ada di
genangan helai
rambut kami.

maka akan jadi gambut. Ketika
semuanya mesti
benar-benar kembali
pada fitrah. dan waktu

membawa lelaki, kami
semakin dewasa
dengan kacamata orang-orang pribumi
berkaki gemuk

pada kehidupan
sesungguhnya kini,
lelaki
kami
siapa yang akan
berakhir lebuh lama
di sini?



sekayu, 20 juli 2010

 

Sabtu, 24 Juli 2010

Gie

"tertawalah
karena aku rindu pada bibirmu
juga putih gigimu"

sebab tujuh hari yang lalu
kita pernah berciuman
memagut kenangan
menumpahkan segala ingatan

bahwa Musi telah meluap
hingga di batas kota
antara kau
aku

"mari
aku pegangi tangan mungilmu
naik ke perahu berjukung"

memang diperlukan kehati-hatian 
yang cukup serius

bisa-bisa ombak mencuri kakimu
mengambilmu
bersama tawar ikan di dasar sungainya

dan aku
mesti berkali-kali
menangkapmu
melepas ranjau pada licin kakimu



sekayu, 2010

Surat dari Ibu Kepada Anaknya

"nak, kemari
ibu mau bertanya
bagaimana hari-harimu satu minggu ini
apakah bahagia
apakah sedih?

maaf ibu tak sempat meneleponmu
tak sempat berkirim paket susu
ke rumah

berat badanmu pasti berkurang,
mengingat kemarin satu minggu lalu
kita berkumpul
memupuk kesejahteraan
lewat senyuman dan
belaian manis yang menimang-nimang
pagi dan petang.
itulah waktu yang penuh kegetiran
untuk tetap melewati
kecemasan dan kemarahan

nak, ibu saat ini sedang di kantor
meeting dengan tamu kerja yang
minta dipuaskan seharian

mata ibu memar
menahan leleran kesedihan
memikirkanmu yang kurang perhatian

nak, apakah kau pun
merindukan ibu
seperti kesetiaan ibu
yang senantiasa memelukmu lewat kejauhan
dan pertikaian melawan waktu

--beginilah jika ibu sudah
mesti menggadaikan semua kepemilikan
dan aset-aset kasihsayang
kepada anaknya yang sendirian di rumah


yang kau lakukan malam ini
nak, apa kau sedang menonton televisi
atau bermain dengan game-game yang
menguras kerinduan dan menyusahkan
gelombang-gelombang kepekaan dari
sebuah naluri keibuan

sinyal di sini terasa putus-putus
ketika ibu ingin meneleponmu
menyampaikan doa-doa supaya
sekolahmu penuh berkah

nak, di mejakerja
ibu sedang duduk sendiri
menuliskan surat ini
barangkali besoklusa bisa pulang

seperti biasa
kau mesti tahu
di mana stasiun kereta api yang paling gemar disinggahi
oleh orang-orang suntuk
sepulang kerja

sambutlah ibu di sana
dengan membawa keperihan luka
bercampur keringat peluh
melawan kepedihan
dan tikaman waktu
yang sering kita tahan

ibu terus menunggu
sampai pada akhirnya
kita kembali menuntaskan
kerinduan atas perpisahan
dan perjumpaan yang mesti dibayar
setelah kasih sayang ibu pernah tergadaikan

sekian"




sekayu, mei 2010

Dimulai dari Sini

ada yang menggoyang-goyangkan kakibawahnya di atas
lantai teras rumah. kemudian sambil memerhatikan semut-semut
yang beriringan dengan suara knalpot beserta polusi

jika aku masih memiliki telinga, pasti ada ribuan suara yang
melengking dan berteriak menggila ingin bebas dari sebab-sebab kebisingan
saat ini.

padahal di beranda depan, seorang balita berlengan telanjang
masih asik berlompatan menangkap sekumpulan
uadar di kedua tangannya

oh bunga, kepada siapa saja
katakan
apakah mataku ini telah diberi warna
sayap kupu sianghari dan pagar besi
yang karatan di sorehari

langit bercuaca telah tiada
burung-burung dan sarangnya juga terbakar
serupa udara
:menghambur

aku tidak dapat membiarkan hujan turun begitu saja
memenuhi tiap ruang kolam ikan di halaman rumah
memandikan daun-daun
kehijauan

aku ingin menjadi masing-masing makanan semut yang
cepat habis di malam-malam pesta pernikahan adat desa
lalu menjadi piring-piring kotor yang siap dicuci masalalunya


bahkan,
air pun sudah tidak lagi menjadi sumber kekuatan orang-orang
untuk menyihir airmatanya menjadi lebih subur

tapi malah mengering dan retak di atas tanah

matahari
tertutuplah di dadaku yang menangkap ribuan gerimis
sebab saat ini
aku telah kosong
menjadi sebuah ketiadaan




sekayu, 2010

Tersebab Cinta

setiap cinta yang meretas di dadaku
maka terbukalah segala anak putik
bunga, benang sari
mereka terbang ke mana angin melingkarkan paruhnya

reruntuhan kesunyian malam ini
pukul 10 dengan musik bernada cepat
wajahmu kembali mengasingkan
nafas-nafas yang berasal dari jalan di arah rumahku

dan waktunya orang-orang tidur
berlarian memusnahkan mimpi
tentang pacar mereka yang menyediakan susu
sarapan pagi dengan nasi goreng
:butir-butir dikunyah perlahan

siapa di antara kita, mereka
yang lebih dulu kenyang dan kembali lapar?


o kita yang juga di ruang kamar
seperti katamu saat itu
meninabobokkan segala yang masih terjaga
dalam pejam kelopak matamu
rekahan doa selamat tidur bermunculan
dengan bunga-bunga di kebun satu hari lalu

maka cinta
sebab di sana, kita, mereka tidak akan berlalu
tanpa membawa apa-apa



sekayu, 2010

Hari Itu, Sebelum Pulang

dari tanganmu aku mengerat rindu
setelah selama hampir sepanjang malam
dilewatkan tanpa acara hiburan di televisi
suara di radio hilang
bersembunyi di balik lubang-lubang speaker
menelan tubuhmu tubuhku

pada pajangan lukisan pasukan berkuda
di dinding ruangtamu
aku hidup pada pisau-pisau mereka
yang membunuh banyak pasukan
tanah seberang

pun penyamun yang melupakan anak perawan
di desa kelahirannya
yang masih berdarah melati

kesucian dan keyakinan atas kehidupanku
pada tanganmu yang merangkum hari-hariku
dan terjaga dari segala lelah
sebenarnya telah ada dalam ramalan suku-suku bulan
bertengger di janggut nenek yang
telah lama mengenal usia

dari tanganmu aku mengerat rindu
kau mengantarku menuju pagar yang tinggi
untuk pulang



sekayu, 2010

Jumat, 23 Juli 2010

Termaktub

jika aku bukanlah anak kecil dengan
lolipop yang kecil di kedua tangannya
hari ini, kau akan segera paham
betapa rindu yang sederhana ini banyak tertahan
dan bertambah penuh
serupa botol-botol minuman bersoda di kantin sekolah
dan tugas-tugas terjemahan di kampus mahasiswa

"kenanglah aku,
ketika masa berlalu menjadi lampauan tahun-tahun
yang terbungkus
tersusun hampir sempurna
sebagai anak kecil yang memohon lugu
pada ibunya
pada airmata



palembang, juli 2010

Yang Memiliki Selaput Cinta di Kakinya

kita pernah bersandar
memanggul waktu pada lain dada
pada lain waktu kita juga wanita



--sekayu, juli 2010

Kamis, 08 Juli 2010

Dan Mimpi

dini hari
lelaki itu
datang padaku

ia menangis
sambil menyebut nama istrinya
: Rukmini

lima menit aku di sampingnya
memutar-mutar lagu di handphone
membaca pesan yang penuh di kotak masuk
lalu memandangi wajah tirusnya
(ada air mata istrinya yang mengalir dari bulatan matanya)

lima menit aku masih di sampingnya
ada angin dan suasana dingin
tapi aku malah tertidur

segera di dalam mimpi
aku mengetahui
lelaki itu bapakku
dan istri dan air matanya
adalah ibuku yang sudah tiada



palembang, juli 2010

Senin, 05 Juli 2010

Nyanyian Buat Gie

-tak ada yang lebih sederhana dari suara-suara parau yang menyanyi untuk tuannya sendiri. sebab dari kerongkongan yang bersusahpayah itu, ada ribuan bibit makna yang akan diterjemahkan oleh rasa dan hati. tiap-tiap orang lalu akan menegrti
kenapa mesti ada pagi tanpa harus memaksa purnama pergi
kenapa mesti ada mata wanita yang tajam menahan tikaman cinta dari banyak lelaki-

: I can see that you’ve been crying
You can’t hide it with a lie
What’s the use in you denying
That what you have is wrong
I heard him promise you forever
But forever’s come and gone
He would say whatever
It takes to keep you blind
To the truth between the lines*



*lirik lagu more than that dari backstreet boys

Ritus : Menangkap mimpi

dalam ritus, ingatan kita terhadap masalalu kembali basah
sudah terlalu lama kita berendam dalam air deterjen
beraroma pinus. dan hati kita semakin bertambah runcing
menusuk kulit kenangan. kering dan pecah-pecah.

kita pernah menghidupi tetumbuhan berwarna perak
dari perut tanah yang dilubangi
kita curi serbuk pupuk airmata
menderas melalui sulur bulu halus tangan yang semakin kuat menggenggam tangkainya
kita ikat satu persatu
kita potong batang yang meranjau bebas
agar mata kita tetap sejuk tanpa merasa perih tertusuk

"nah, sekarang giliranmu mengikat rambut tergeraiku
sudah lama mereka berkubang di kepala
bermukim membuat ledakan baru
memerangi tiap-tiap anak yang ingin mekar
mengganti tugas bapaknya yang hangus dibakar meriam"
katamu sesaat memutar balikkan perasaanku

bagaimana pun kekerasan keinginan kita untuk menjadi dua orang yang tetap hidup
sekiranya butuh kepercayaan dan ikrar setia yang enak didengar
bukan saja terdengar oleh pengupingan
lalu dipantulkan dengan bebas oleh tulang-tulang martil
ke dalam saraf-saraf pendengar yang paling paham untuk ditaati

"ini kulit berlemakku.
masih lengkap dengan tonjolan bekas gigitanmu
pada malam pertama ritus ini. aku ingin meneruskan
percakapan janji kita sampai mulut meranum
habis kata-kata. mata kita berair menahan kantuk.
telinga mendengung menahan tekanan angin yang
ingin merenggut suara-suara yang saling berpantul"

dan di masing-masing pundak
kita telah kalah oleh lelah
malam pertama ritus kita berhasil
mendiamkan puputan angin pada dua orang : menangkap mimpi


palembang, juli 2010

Juli

"bila aku mesti menerima pagi tanpamu
itulah yang dinamakan perih"

-selamat malam!

00.36 am

langit di rumah
masih terang

ada sepasang lampu menguning
membungkus kekacauan

mereka menangkap mimpi
dalam risalah resah
menunggu pagi

bulan masih terus naik
di atas kepala
menampakkan tapak kakinya
yang utuh

lima jam lagi
waktu memeluk subuh
mengurung dalam larung berhawa dingin
namun ikhlas

sujudku
menghambur membawa pergi doa-doa
yang siap rekah

"ibu,
apakah aku sudah bersama pagi?"


palembang, juli 2010