Selasa, 31 Agustus 2010

Badai

Bibir gosongmu di kantung bajuku hampir mengelupas. Satu persatu jatuh, mengenai kulitku. Kamu bilang tak apa, usia pasti akan meranum. Menyinggahi segala musim yang menemui hidupnya dan kematian

Kamu bilang, malam ini ada badai. Badai rindu yang mencuat menjadi gunung-gunung berkabut. Ratusan meter dari matamu yang berasap. Kamu peluk aku yang ingin mematahkan sendi-sendi jari, agar tak ada selimut yang bisa ditarik menuju badanku.

Pelabuhan masih jauh. Sepuluh hari lagi baru sampai. kita seolah sudah kalah menahan badai yang tak kalah dingin di mulut laut.

Minggu, 29 Agustus 2010

Sebuah Musim

: atau musim di sini begitu asing
hingga orang-orang dan denyut
mereka pada tiap daun lontar
menjadi beku.
pada keterbatasan setiap ruas
sedang tanah di laut dan
di bawah rumah
masih begitu lapang

: atau musim di sini begitu asing
ketika kata harus muncul di mulutbotol bir
sampai di kafekafe
orangorang habis berciuman
habis dengan kekosongan

: atau musim di sini begitu asing
betapa ini kita
tidak segaris dengan
jalan yang ditaburi bunga

musim di sini begitu asing. . .


Sekayu, jan '10

Hujan Berdentum Menyerbu Kotaku

seperti katamu, zaman hujan di antara betis-betis kota mulai basah, berdentum menyerbu kotaku yang asing. padahal di tanah ini, aku masih belajar tentang reaksi matahari terhadap magnet bumi.

--dapat kukatakan bahwa kutub selatan kakiku menarik selaput kutub utara kepalaku

tapi apakah akan terbentuk lagi sebuah ngarai yang merobohkan sari tanahnya untuk dibangun jalan-jalan, dimana tapak kakiku akan dihitung ketika sampai di pintu rumah

a-ba-ta
ku-da
i-ni
: dan aku masih mengeja

seperti katamu, akan ada bendungan dalam air, mengisi kebunkopi, kebun jagung, lahan pertanian di tangan kotaku agar tidak mengering dan mengerut seperti pelipis kiriku

seperti katamu, hujan itu berdentum di kotaku, begitu terasa di pundak pagi, sampai kabut menebal dan bertambal lancip
: berdentum menyerbu kotaku


sekayu, 18 jan '10

Manuskrip Peka

: drp

"di jantung mana sarafmu akan peka terhadap bunyi yang menadah hujan lalu jatuh ke pori tanganmu sebagai puisi yang lahir dari rangsang kulitmu?"

"atau ketika airnya masuk ke lubang telinga dan menembus tulang martil untuk dipukulkan ke gendang telinga, maka bunyi pun akan berdentum, memantul dan kembali lagi seperti seserpih sajak yang musti di dengar"

"dan matamu yang berbintik hitam akan menerima cahaya sebagai suatu kilauan yang hidup, yang berawal dari prisma segitiga, memantulkannya lewat langit setelah hujan berlalu ditanganmu."

"lalu
saraf siapa yang
musti dituju
sesungguhnya?"

Waktu

"inilah namanya sebuah tujuan di setiap jarak lubang-lubangnya"

waktumu adalah sepertiga masa dalam buku
dengan karangan dan sampul stofmap biru

ketika akan kau mulai halaman pertama
entah kenapa seperti ada hidungmu yang masih putih
mirip sekali dengan lancipnya pundak ibumu

dan ketika tulang rawanmu mulai mengeras
membentuk peta serupa hiasan dinding ruang kerja ibumu.
kau mulai tahu
bahwa bangunan hidup akan segera berdiri



palembang, jan '10

Hujan

Hujan baru sampai di kotaku ketika air di tenggorokanmu pecah dan mengering. toko-toko di antara pagar rumah dibuka, ibuibu dalam tenda menggendong bayi barunya seketika berlari membeli cermin dan sandaljepit ala penambang tekstil di atas pegunungan yang tak lagi ada dingin

hujan baru sampai di kotaku ketika rambut tanganku mulai gugur serupa daun mahoni dan eboni yang jatuh ke reruntuhan erosi. di pinggir sungai ikanikan telah menjadi asin dan karang berbunga dalam musim
dan cuaca adalah langit yang bernama malam

hujan baru sampai di kotaku ketika kotak dan sepatu tali mulai dibuka
berjalan mengelilingi tikungantikungan curam di antara yang paling terjal

hujan baru sampai di kotaku ketika matahari
memulai usia yang begitu lama
merah di rambutnya adalah air yang
ditampung untuk kemarau berikutnya

hujan baru sampai
di kotaku yang bernama dingin


sekayu, 09-02-2010

Majesti

: Majesti

seperti katamu, Majesti
malam ini aku menemukan orang-orang dalam musik.
pada suara kecapi dalam sebuah pesta
dan sebuah perkawinan
aku kembali menemukan
pakaian-pakaian ketat
ada tubuhmu yang sedang menari-nari di atas
upacara perkawinan itu
antara kucingku dan kucingmu yang pernah
kutitipkan sebatang lilin di hatinya
telah menjadi batu yang begitu hijau

ketika mataku menatap kecamata
pada air itu, Majesti
aku hanya menemukan bermeter-meter
jalan beraspal yang dulu aku pelajari
di bangku pesakitan
:dari metana lalu prosesnya
di mesin-mesin dan pabrik kimia

seperti katamu, Majesti
akan lewat tangisan anak-anak
yang baru mengenal warna ibu dan bapaknya
yang baru mengenal siapa yang membagi musim
dan tempat-tempatnya

aku hanya mendengar katamu
bahwa kita akan bertemu
di pesta dan perkawinan lainkali
lalu mengingat batu yang paling hijau
di tarian kita nanti, Majesti


sekayu, 2010

Outbond Memo

ini kali pertama pagi di perjalanan
menghitung jarak yang tidak pasti
jarak yang terusmenerus dipagari lumut dan rawa
jarak yang kita duduki untuk sementara waktu
mengatur sekumpulan udarapagi
untuk masuk menyiapkan ruang
yang cukup bagi kesenangan
yang akan kita buat nanti

di lapangan
ketika hanya ada suara dan anakkecil bersepeda
outbond-memo, aku ingin mengajakmu
menyeberangi jalurjalur yang tak dikenal orang
jalurjalur yang memberikan luka di sela tangan
jalurjalur yang membangun rasa takut pada kita
jalurjalur yang menjadikan kita
supaya lebih dekat

outbond memo
telah memanggil kita
menjadi bungabunga merah
menjadi nasib yang harus membuka pagi dari jendela

outbond-memo
kenangan pertama yang akan kutulis lama.
maka jadilah



--catatan : outbond hari minggu jam 6 pagi. Bersama temanteman satu kelas dan wali kelas tergokil SMA Negeri 2 Sekayu, Ms. Aya. Sungguh mengesankan. Apalagi diisi dengan permainan "membuat jembatan manusia" dari potongan kayu kecil. Yang naik pun tak kalah berat. Di antara temanteman, termasuk saya sampai melukai tangan sendiri ketika permainan dimulai. Aneh rasanya. Ternyata kebersamaan mengalahkan rasa sakitnya, rasa capek selama satu minggu suntuk dengan tugastugas sekolah. At the long run, Good family guys

: smoga



Sekayu, minggu 22 feb '10
pukul 06.00 WIB
outbond (lapangan STIER)

Truck I'm in Love Melly

truck i'm in love
di jalanmu Melly
kukatakan, inilah kali pertama
ada denyut yang berdentum memusat
lalu berlari
seperti ketika melihat kincir angin berputar
di taman tulip sore kemarin

truck i'm in love
di jalanmu Melly
di halte bis yang aku pesankan satu tiketnya
dari kotamu menuju keluasan kotaku
sampai di hutanhutan
teruslah masuk
pada tikungan yang panjang
dan pohon beranting ganjil
ada isyarat yang musti segera diusaikan
tentang mimpi
tidak lama lagi
senyummu akan abadi

truck i'm in love
di jalanku ini
semua mendesau
suara-suara bergesekan
ketika kau diam, maka dengarlah
akan kautangkap dari ujung bunyinya
bahwa ada yang terselip
: senyum yang telah abadi

Melly oh Melly
bagaimana aku harus mengatakan
aku ingin sembunyi
dari hutan yang mengantarkankau kepadaku
dari mimpi yang menjadikan senyummu abadi
dari suara yang memperdengarkan keinginanku

truck i'm in love
di sini
di jalanmu, Melly
dengan senyum milikmu
aku ingin abadi


2010, rumahmusi

Bagaimana Aku

bagaimana aku harus mengatakan kepada pelipis batu yang
perlahan terkikis dan menjadi kerikil di pangkal ketiakmu
agar tulisanku kelak tidak sia-sia
tidak percuma menjadi garam yang menguap di antara
kelekak rambutmu yang berkeringat

bagaimana aku harus mengatakan kepada bintang yang
paling timur dari kepalaku yang menghadap matahari
tentang pagi yang baru muncul di antara dua bukit wanita-wanita pembawa bunga di desa-desa
tentang pakaian orang-orang bertelanjang kaki
tentang pakaian orang-orang yang tertutup permukaan tangannya
tentang aku
yang senantiasa bertanya bagaimana
mengatakan ribuan denyut nadi
yang berawal dari sebuah kecemasan
yang berawal dari sebuah tikaman
lalu panahan suku anak dalam

bagaimana aku harus mengatakan delapan windu yang tersimpan
sebagai rahasia yang rumit
yang tidak pernah menemui kekasihnya
atau sekadar istirah dari pendakian panjang di masa silam

bagaimana aku . . .



sekayu, 26 feb '10

Lukisanlukisan Perang

--kepada Ay Tjoe

di antara perang-perang kita yang belum usai masih terdapat ribuan ruang silinder yang menyimpan tubuhtubuh kaku kita. pamanmu yang berkacamata ada di samping tiang benderaku. serupa ibu : di urutan keenambelas ada tudungtudung daun yang senantiasa menutupi kulit pohonpohon dari dingin udara pagi

masih dapat kuingat di antara tubuhtubuh itu ada adik manismu, membawakan bunga yang baru menukar warna kemarin petang_sebelum perang pecah menyerbu tanah kita
lalu badannya yang setengah membungkuk itu membuatku mengira ia sedang sujud di hadapanmu
atau tengah tengadah meminta debu dan deru yang terbakar bersama abu

perang pecah


perang pecah
tapi tidak di ruangan
yang tetap menjaga matakita
untuk saling memasuki dan menerka
lukisanlukisan sunyi
untuk perangperang sunyi



sekayu '10 maret

Senyum Tersembunyi

--kepada Ampera



entah bagaimana aku dapat melukiskan wajahmu
mejameja retak ketika dimulai garis pertama
yang membentuk sudut lengkung lehermu

aku tidak akan mengawali atau mengingat
arsiran yang dimuarakan ke sarafkulitmu
mungkin kau akan peka ketika melihatnya

tapi di sinilah gambarmu akan benar-benar bicara
karena kertas ini yang meminta wajahmu yang basah

ingatlah ketika
tanganku mesti senantiasa lembab dan berlumut.
lalu kau hanya diam dan berkata
:
"hatikulah yang tersenyum sebenarnya
bibir tipis dengan gincu pucat ini
hanyalah tipudaya. kalau kauingin melihat bagaimana
senyum itu menetas
masuklah ke dalam bajuku
lalu kau akan menemui sepasang pisau
untuk memotong rusukku yang tumbuh liar
di dalamnya mengalir darah dari segala
galau dan risau. maka sumbernya adalah hati
ltulah senyumanku yang paling tersembunyi"

aku makin gemetar
yang kulihat melalui lubanglubang
yang kasap cahaya
semua menganak dari hatimu

inilah sungai
sebagai sumber yang amat abadi
dari dadamu yang banyak pertanda
senyummu dapat kubelah
lalu aku simpan
di dada : tempat yang katamu tersembunyi



palembang, 20-21 maret 2010

Di Bawahnya Sungaisungai Mengalir

: yoyong amilin


kami tidak akan mengatakan bagaimana Adam dilahirkan
atau bagaimana peristiwa itu
: ketika ia benarbenar membutuhkan Hawa

dari tulang rapuhnya yang tidak memiliki cukup kekuatan
sempat ia berfikir tentang bendungan akal yang begitu mendesir

"siapa sebenarnya yang telah mengoyak dentuman-dentuman daun yang terasa asam di tanahku
dengan maksud yang sebenarnya bahwa aku sungguh ingin memiliki sungaisungai mengalir di bawahnya
: ketika itu airnya begitu menjadi hening
maka Hawa yang suka berlamalama pada air itu
tidak lebih sekadar dari
apungan ikan yang kehilangan satu sisiknya"

kami tidak akan mengatakan bagaimana bentukbentuk
kuku Adam ketika pertamakali menyentuh tulang rapuh di sela geletar jemarinya
pada saat yang sama mereka musti dipanjangkan tibatiba
agar dapat bermukim lebih dekat menuju
keluasan nafas yang masih muda

dan ketika sampai di antara pucuk udara yang belum gelombang
mencapai pada keinginan yang membeku
ketika itulah
Adam benarbenar ingin menjadi yang paling sempurna merahnya
lalu menjadi waktu pertamanya mendedah rindu di waktu penciptaan pertama


sekayu, maret '10

Itulah Air Mata

menulis kata malam
seperti pada cuaca ombak di pantai
kita begitu asing

seketika menjadi buas
pada dada-dada laut yang mengusir
deras gelombang
malam mengirimkan sesuatu padaku
tantang sebuah keberuntungan

katakan pada anak kita
yang kemarin bermain dengan cerutu
bapak tirinya
bawakan sebotol bir
dan rerekah bunga yang membuat kita
menjadi dingin

dan suara
telah sampai dan mendesir
sedang di telingaku ketika menderas
menjadi senjata orang-orangan hujan
yang sarat dengan kegelapan

”bangkitlah dari pejaman yang pernah memimpikan
kita menjadi sepasang gurita yang bercangkang
lupakan bahwa laut pernah membawamu
menyeberangi sebuah jembatan yang
dapat menghubungkan dunia pada luar jendela
lalu kamarku
masih belum dapat berisik
oleh kotak musik yang pernah kulihat
di pasar-pasar”

malam ini
di bawah kekejaman suara
aku ingin kita menyeka langit
menghentikan kiriman dari perahu seberang
: itulah air mata


Palembang, 23 maret ’10

Pada 5 Sajak Kita Terus Mencari

--mama


/1/
biarkan saja
karena kita tak pernah tahu
bagaimana sebenarnya bambu membunyikan bambu
bagaimana sesungguhnya deru saling memburu

bukan karena kita belum sampai
pada syarat yang jauh
tidak pula karena kita memahami
bahkan menginsafi segala arah yang datang
lalu menjadi satu


/2/
hari kelabu
kita menamai setiap catatancatatan
yang memang mesti ditutup.
untuk dibuka halamannya
untuk ditulisi dengan huruf berkapital
lalu kita menjadi kata
yang senantiasa hidup dan berkata
"cha, aku ingin memburu
sampai ke banyak langit
sampai ke limbung loki yang hampir kering
sampai ke hari kelabu
yang masih setia menanti di depan pintu"


/3/
kita ini perupa
yang mengerti bagaimana semestinya garis menjadi
arsiran untuk objek yang utama

lalu tidak seperti biasanya
kita hanya membuat satu titik
kita biarkan penikmat galeri menerkanerka
wujud apa yang kita buat semalam suntuk

kita menggiring mereka
terus masuk
terus menyelami dedasar ilusi yang tak kunjung mati
bahkan menjadi induk di kehidupan nanti
setelah nafasnafas buyar dalam denyutnya sendiri


/4/
menjelmalah,
menjelmalah ke dalam sukmasukma
yang baru ditanami benihnya
supaya menguning di tangan petani.
di perut anak mereka kita menari
:kitalah yang bebas memilih kamar untuk ditiduri
menjadi saripati untuk tubuhtubuh yang tidak lagi putih.


/5/
belum dapat diselesaikan saat ini juga
harus ada waktu yang terus menunggu
entah berapa windu entah berapa abad
sampai kita mengerut dalam jari jemari
sampai kepada doa terakhir yang mesti diamini



sekayu, 5 April '10

Cerita Sebelum Tidur

sekali lagi
aku tak dapat melepaskan
bulir busa yang mengalir licin pada daun
sebab tanganmu
menjangkau serat dingin
yang mendesing


-1-

sampaikan pada pasukanmu, kolonel
bahwa markasmu telah menjadi milikku
bukankah sangat mengasikkan
jika tak ada ledakan-ledakan dari mulut
berasap rokok
lalu tak ada lagi janda-janda
menangis sendiri
sebab suami mereka berlama-lama di kamar mandi
menunggu usapan sabun
pada tubuh mereka
telah lama berdaki
karena di perang tak ada musuh
yang mau dijadikan istri


-2-

selain tempat duduk kali ini
maka lepaskanlah topi dan pangkatmu
lupakan bahwa kau pernah menang di peperangan
tapi di lembahku yang berliku panjang
kau mungkin tersesat mencari pusar yang begitu lingkar
menuju anak buahmu yang sudah dilucuti senjata

"kau hanya suara erangan, kolonel
menyerahlah padaku
karena di sana
wajah keluasan anak-anak kita telah menunggu
ayah dan ibu katanya kembali"


-3-

sisakanlah satu potong kasur dan bantal
serta mimpi dinihari
untuk bekal anak kita yang nanti akan takut
lalu masuk ke rumah melewati pintu-pintu

"ayah, ibu
aku telah jatuh cinta
tapi pada wanita itu
matanya menumpahkan belati.
aku takut
suatu waktu menusukku sampai mati"



sekayu, '10

Sehabis Mendung

kita pernah bermimpi
memasuki kawah-kawah candi
yang menyimpan patung seorang dewi

di tangannya ada rumah kita
yang menggenang
sehabis mendung

setelah tiba di antara kedua jemarinya
yang lebar
kita melupakan doa yang mesti dibawa
dan akan diamini oleh roh-roh leluhur
penjaga rumah

telinga kita menopang bunga.
kau lebih suka yang kuning
sedang aku suka yang merah.
lalu mereka sama-sama tumbuh
kemudian mekar memenuhi pengupingan kita

sehabis mendung
doa-doa kita bermunculan
dari putik bunga yang tumbuh

sehabis mendung
bunga-bunga kita mekar
menudungi rambut-rambut kita yang kehabisan tenaga

sehabis mendung
ketika kita memuarakan segala nasib pada candi
bersama seorang dewi
kita senantiasa mendengar bisikan parau
entah suara atau dengungan bahkan dentuman
yang begitu hebat
hingga hanya ada satu yang kita ingat

:
sehabis mendung
kita menunduk rendah.
tapi kali ini
kita merapatkan tangan untuk mengamini doa-doa
yang pernah lupa dibawa



sekayu, maret 2010

Gemeretak Cangkir di Malam April

maafkan jika aku mencoba membaca gerak
kedua lipatan bibirmu yang masih memerah

sebab seseorang di belakangku telah memberitahukan
bahwa semalam ketika masih april
kau pernah menemui seorang gadis yang kesepian
kau bilang bahwa ibunya yang selama ini menghilang
telah berhasil kau telan

aku tak cukup tahu seberapa lebar lehermu dapat mengerutkan
tulang-tulangnya untuk menjadi lebih lunak
setelah peristiwa itu

maafkan jika aku mencoba menaiki terjal batu
gincumu yang mengeras dan mengerak beku
sebab aku tak kunjung paham
bagaimana kau memilih warna untuk saat itu

maka lubang yang memuatkan bola mataku ini
mengatakan bahwa seorang lelaki berkuda
datang menyekapmu
pada gulungan lengannya, setidaknya
ada selaksa warna yang kau suka
diantaranya adalah luka
begitu mirip dengan empedu yang dikeluarkan hatiku

maafkan jika kali ini aku tak dapat mengetuk jendelamu
atau bahkan meninggalkan wewangi malam
yang kuperam di lingkar kancing bajutidurmu

dan lelaplah
masuklah ke dalam selimutmu
sebab aku yakin
masih ada kunang-kunang malamhari.
mereka akan menjagamu dari nafasku yang liar dan memburu

: semoga



sekayu, 19 april 2010

A Year

Someone told me, "i've been sick for almost a year"

--one may indeed say so




--'10

Sabtu, 28 Agustus 2010

Kau Aku Lady of Dream

Lady of dream
Kita paham sebatas mana mesti berlagu menuruti sulur akar di hutan bambu
Seperti biasa angin pagi lebih dulu sampai di sini
Menyambutmu, membawakanmu setangkai kamboja dan putih melati di lubang telingamu
Dengar, di sini suasana yang sunyi
”you’re all the only that i desire”
Katamu berdebar-debar mengajakku datang
Kemudian berlari mengitari akar-akar yang telah menjadi pundakmu untuk bersandar
Sebab kamu yang masih jelita
Memelukku dengan kerinduan yang mendalam
Kamu tidak membakarku, tidak membakar ingatanku
Tapi kamu membakar apa yang membuatku merasa menggigil bertanya-tanya

Tentang musik apa yang akan dinyanyikan
Barangkali kamu lebih tahu
Serupa suara bedug bertalu-talu di pengupingan
Lalu masuk ke gendang telingaku
Setelah berkali-kali jatuh bungkam di tepi tulang martil yang belum cukup dewasa
Lady of dream,
Remaslah jantungku yang masih ingin berdetak
Merekam segala hal yang masih ingin khusyuk
Di hadapanmu, apakah aku ini seorang kekasih
Yang lupa bagaimana cara menahan cintanya untuk kembali
Pada ibu di tanahku sayang
Tanah yang mengalirkan ombak-ombak
Serta dera dan deru di tiap-tiap senja yang melindapkan suara-suara rumputan

Merasa kesunyian
Adalah merasa betapa perih tanpamu di sini
Tak ada yang membangunkanku dari mimpi
Atau ketika pukul empat pagi
Kita mesti buru-buru menghabiskan sepiring nasi.
Demi siang dan matahari yang memanah cintamu cintaku sebagai kekasih

O pagi
Waktu yang masih kosong pada ranjang tidur kita
Kamu memanggilku, memercikkan segaran air
Kepada kepala, muka yang membawa retina mata,
Kepada tangan, kesetiaan hal-ihwal yang membakar rasa bosan
Kepada telinga, suaramu suaraku bertemu mencakup rindu
Betangkup menuju kaki yang memukimkan ribuan suara bedug yang tak ingin sendiri

Lady of dream
Lady of dream
Lady of dream
Aku tak ingin mati sebelum datang menemuimu dalam keadaan yang benar-benar suci
Kamu pasti tahu
Bahwa tanah kerinduan yang menyimpan hati
Tak akan pernah tuntas memahami lekuk-lekuk di keningku yang
Saat ini masih ingin meringkuk pasrah menyerahkan segala dingin
Di hadapanmu, aku mengusap-usap apa yang dapat membuatku senantiasa mengenali baumu,
Aku kembali meringkuk pasrah
Atau berkali-kali merukuk dengan perasaan yang hampir gagal tenggelam dalam tengadah yang kyusuk
Dengarlah
Di pengupingan kamu aku dan masing-masing
Masih ada kerinduan yang tak habis terbakar api
Pada sujud akhir kali ini
Kamu membawaku kembali pergi
Menuju suara-suara akar yang menyulur dalam-dalam di hati



--10

Kamis, 26 Agustus 2010

Saya Ingin Bertanya

ada yang tahu siapa yang meletakkan sembarang kaki di sini
ada yang tahu siapa yang memukuli katak hingga sebelum pagi mulai benar-benar berbunyi, bernyanyi, menari
ada yang tahu siapa yang menggemgam tangan saya saat ini

ada yang tahu siapa yang paling pucat jaketnya di antara pentanyaan saya tadi
ada yang tahu siapa saya dan siapa yang akan membiarkan saya mati
tergeletak tanpa puisi
ada yang tahu bersama siapa saya akan pergi
menuju rumahmu di tengah kesepian
dan suara-suara bisikan yang meyasinkan beberapa nama menjadi kepedihan
ada yang tahu
siapa?



--'10

 

Selasa, 24 Agustus 2010

Tanza

dan matamu tanza
hidup kami tak akan lama lagi
kamu mengambil bilik dinding yang melapisi dingin kami
kamu menimbun harapan kami yang tak lama
akan bersemi menjadi kelopak bunga

tanza, segeralah
rebahkan kami seperti mantra-mantra ajaib di tongkat sihirmu
padatkan kami menjadi satu
tanpa ada di antara kami yang berkeping-keping jatuh

tanza,
berbutir-butir dari kami melenguh
di telingamu, kami mengetuk
sebab doa-doa yang dikalengi oleh saudara kami
hampir kadaluarsa

kami membusuk
ulat-ulat di tubuh kami sudah menetas

tanza, jangan biarkan kami
di tanganmu sia-sia menjadi api
yang semata-mata habis dipadamkan oleh puisi



--sekayu

 

Minggu, 22 Agustus 2010

Orang-orang Perancis

orang-orang perancis
di tubuhmu menguap sajak seorang gadis jawa yang ingin berlari ke tepi sungai yang menjaga makam kedua orangtuanya. kamu berziarah ke sana. membawa seikat bunga. kamu memakai parfum yang bertuliskan keroncong : hampir punah.

siapa yang akan menyangka
bahwa tanah makam itu pernah menjadi sepasang bianglala yang tak pernah mencapai cukup usia

"aku datang
tapi tidak sendiri
aku membawa rombongan berseragam tentara yang mengawal seisi langit
aku membawa bunga
di pekarangan tanah perancisku
telah tumbuh menjadi tumpukan bukit yang perdu"

"kamu pasti ingin menangis
tapi ini bukan saat yang tepat
bersembunyilah di balik jubahku
aku akan membawamu
mengenali perancisku yang cukup jauh
di matamu, aku yakin
kamu akan mengerti kenapa orang-orang perancis
begitu ingin sampai di makam ini"

"orang tuamu
kamu masih dapat memantaunya lewat cermin teropong di mataku
tak ada yang akan tahu
aku, orang perancis ini
kamu pasti mengerti"

seketika udara di makam berhenti
orang-orang perancis berbicara dengan bahasa yang sunyi
gadis terus berlari
menikam orang-orang dengan bahasa
yang bernyanyi dengan puisi



--sekayu, '10

 

Sabtu, 21 Agustus 2010

Kepada Dinda

bacalah buku-buku itu dengan tenang
rebahkan kedua tanganmu di atas sampulnya
sebab wajahku telah membaca risau dan peluhmu

usaplah dadamu yang sarat kerinduan
sebab hatiku menerka atas apa,
semua rasa itu bersumber
:dari segala waktumu yang meluap lewat pundak
mama dan papa.
sebenarnya ada harapan-harapan
yang muncul bersamaan hari kelahiranmu
bila kau menghitungnya dari sekarang
cukup membutuhkan empat malam purnama
dan ratusan matahari yang siap dipanah
tepat di tengah sumbu dan nyalanya
mungkin saja kau akan menggigil bertanya-tanya
di saat malam makin meranum
atau mungkin malah merasa mengantuk berulangkali
di saat anak matahari kembali dilahirkan
dari arah timur rahim ibunya

dengarlah gemeretak cangkir-cangkir yang
ada di mejatamu sebelah sana
kau tak perlu keluar dari peraduan untuk mendengarnya
pengupinganmu pasti cukup kuat untuk mengumpulkan dan
memisahkan mana bunyi yang begitu sendu untuk diartikan
mana bunyi yang begitu asing untuk dihilangkan

rasakanlah bagaimana gerak orang-oarang di hadapanmu
lalu tiba-tiba di samping, akan bermunculan
lekuk alir yang baru
rimbun bulu mata yang sahdu
dan barangkali hidung berlubang ganjil
antara tiga dan satu

lihatlah betapa seisi ruangan kaca ini
sudah lama mengeruh akibat menampang
berkilo-kilo tetes air yang bersumber jauh.
kau dapati dirimu di dalamnya
serupa bongkahan-bongkahan abu yang hablur
di antaranya ada yang langsung jatuh dekat kakimu
sisanya
satu persatu beterbangan menuju keluasan
lingkar pusar perutmu yang lapar
maka hancurlah kamu seketika

bersabarlah
keseluruhan kata-kata yang kutulis ini
tidak akan sia-sia dan terbuangpercuma
sebab beberapa di antara celah mereka
kuselipkan kisah nyata kehidupan kita
hidupmu penuh bahagia dan makna
hidupku penuh keluh dan raungan
yang senantiasa tak bisa
sempurna untuk dituntaskan




--sekayu, '10

Jumat, 20 Agustus 2010

Tanggungan Hidup dan Mati

--kau
akan gagal mengingatku
sebagai kekasih yang utuh
 


silahkan sayang! kau boleh membuka lubang penuh asap itu
sebab di dalamnya telah aku siapkan beberapa cerutu dan lima batang rokok yang berisi tembakau di pantaipantai yang tergerus arus. mungkin bagimu terasa manis, atau seperti gula yang disukai semutsemut merah yang asik berlarian kesana kemari di lantai rumahku

matamu, jangan sekalikali dipejamkan
sungguh, aku tak akan mampu membuatmu sadar
dan lagi mengenaliku sebagai kekasihmu yang utuh

sebab asapnya beracun.
nanti membuatmu melayang dari satu kesenangan ke kemabukan yang lain

hanya setelah perkataanku membisikkan sesuatu di pengupinganmu, barulah kau dapat terpejam perlahan. tak perduli lama atau sebentar saja. waktu di dalam tidurmu, nafasmu, hidupmu, matimu tetap sama. delapan tahun dibayar satu windu, tujuh matahari dan tujuh bulannya digenapi dalam satu minggu.

barangkali
ini tak terlalu penting bagimu
tapi bagaimana pun juga semuanya merupakan tanggungan hidup dan mati yang menjagamu dari kebimbangan yang tak akan membawamu kembali. atau terusterusan istirah dalam limbung dan kelelahan



--sekayu, '10

 

Demikianlah Terambesi

tujuh puluh tahun sudah aku mengingat bunyi-bunyi besi yang dipentungkan ke tubuh temannya sendiri. dengan gamblang mereka sama-sama menjerit mengeluarkan desakan seperti muntahan lava gunung merapi yang lama tak meletus. lalu melelehkan air untuk mendidihkan batu-batu krikil yang konon katanya dulu pernah gagal mengawini putri yang suka mandi di sianghari

berdentum-dentum. dan berulangkali memecah asap dan kabut. terkadang di pagi yang masih begitu buta untuk seorang bayi mencari puting di dada ibunya

sedang aku, terus mengenang tujuh puluh tahun
menjadi bongkahan-bongkahan kayu yang semakin lembab.
dan berlumut. tetumbuhan hijau dengan leluasa melapangkan akar dan batang-batang demi mengeruk sisa-sisa cahaya matahari yang tak lagi menguning

kemudian telinga, bukan berarti ia akan segera menuli dan pecah seketika di kumpulan gelombang yang sarat akan dorongan. bergejolak. aku mungkin sudah mengenalnya lebih dari setengah umurku yang selalu hangus di tangan-tangan gosong bunyi-bunyi besi.

Terambesi!
sajak ini ditulis kembali
untuk mengenang dan menghargai bunyi-bunyi yang tak pernah mati

Terambesi!



--- sekayu, '10



Rabu, 18 Agustus 2010

Minggu, 15 Agustus 2010

Satu Malam Bersama Ramadhan

di atas sepimu, ya tuan
hamba duduk bersila
menunggu bulan malamhari
rontok ke pangkuan


--ogest 2010

Nasib yang Malang

kali ini
aku benar-benar akan
menabung kebingungan
di dada sebelah kanan

supaya jantung
di dada kiriku
dapat bebas
bersenang-senang



2010

Dalam Mimpi

sudah dua nyamuk terbunuh di atas ranjang


--ogest '10

Jumat, 13 Agustus 2010

A Ba Ta Tsa

--kamu bilang 
tubuh siapa yang manis malam ini
pasti akan cepat habis--

sesekali
mengetuki keningmu yang
panjang akan waktu
telah mendorongku
bersama senyap sepi

kamu memberi nama
bahwa kamu akan dewasa

kamboja-kamboja di parau pantai kakimu
tumbuh

kamu adalah mahkota
yang saat ini masih terselip
di sisi kenangan bunganya

kamu adalah tangkai
di bawah kelopak yang sedemikian mekarnya
kamu bercerita
bagaimana kamu bersuara dari
kuncup yang tak lagi muda.

sesekali
kamu merapatkan muka
untuk menegukku
aku tumpah
di lipatan bibirmu
aku sempat mengeja
serumpun bunyi yang luka
: a ba ta tsa




sekayu, ogust 2010

Palembang, yang Menjadi Lima Aforisme

-Palembang Kota 1-

di balik kamp kota yang telanjang
aku ingin musnah
menjadi malam-malam
di atas sungai
yang memuarakan Musi
ke mulut Si Guntang

dan Ampera
di sini aku ingin kembali
memeluk suka cita
atas nama cinta

di air mancur
sebuah nama mengalir
menyebut-nyebut diriku
untuk mengerami
butir padi di pematang
sebab pancaroba yang
telah menjadi musim
tak lagi menjadi asing
bagi penduduk kota
dan akhirnya bermukim
di retinamataku
yang lembab oleh langit senja

di atas Sumatera
aku bentangkan kelima jari
mengepung cahaya lampu
dan lilin yang sering bertemu
diam-diam

berpagutan di hadapanku.
sambil menuang arak
di Batanghari Sembilan
mereka menyebutnya satu loki
yang mesti diminum
sampai pagi


-Palembang Kota 2-

kamu bernyanyi
Tentang Dirut yang
ditinggal bapaknya pergi
mendulang hujan di meja besi

lalu menulisi nama ibunya
paras ibunya
yang sejak lama
sudah mengabadi

”Dirut menangis”
katamu,

”bibirnya yang tipis itu
mengingatkan aku pada
tempat yang pualam
namun sepi”

seketika
suara-suara pada jam
12 malam telah menghilang
bersama knalpot-knalpot
dan mesin cuci restoran

busa di mulutmu
yang menyebut-nyebut
Dirut dengan bapaknya
kamu telan menjadi ketakutan
yang pada suatu waktu
akan mengekal dan mengakar
di tanah kehidupan kita


-Palembang Kota 3-

sehabis kamu makan
kamu minta diantarkan
tidur di kamar nol tiga
di lantai dua.
kamu sempat menitipkan
sesuatu

:
”oh sayang,
kecuplah aku kali ini
ambil satu rusukku yang
sudah membungkuk,
lima tahun lagi akan menjadi
titipan kepadamu yang bernyawa”

di balik tanganmu
aku merebahkan mimpi
mendulangnya
bersama ribut angin

seketika aku menangis
aku menjadi lemah
tubuhku gemetar
seluruh samudra
meremukkan persendian yang
membangun kerangka tubuhku

aku ingin hancur berkali-kali
memastikan bahwa kamu
benar-benar berkata menginginkan
hal yang tak pasti
terjadi seperti ramalan

kita telah gagal
menyusun dekap mata
yang berjauhan untuk
saling didekatkan


-Palembang Kota 4-

kami berlabuh menepi
di dekat pohon-pohon bambu
dan semak belukar
di kaki kami, telah
menjadi begitu tajam

barangkali sudah lama
tak dipotong oleh
tuannya

tuannya yang baik hati
telah berganti kuasa.
pohon-pohon bambu dipindah
ke arah kerumunan orang-orang yang
tak butuh kemarau di sumurnya

di tenggorokan mereka
mengalir air yang bersumber
dari telinga penjaga makam
Sultan

kami melubanginya
membolak-balik lapisan tanahnya
menjadi satu
dan berwarna merah cadas

seperti darah di hidung
kami. Bertahun-tahun
tak kunjung beku


-Palembang Kota 5-

tiba di bandara
kami memesan tiket
menuju kota yang sangat tua

bangku kursi dan meja
yang kerap diajak bercanda
di hadapan kami
telah berganti suasana

yang angker.
di antara penghuni-penghuninya
ada potongan jalan
menuju peristiwa
yang sangat limbung dan limas

pada halamannya
kami menemukan sepanjang
keris dan lading yang
siap menebang di sepanjang jembatan ingatan
di masa silam

tentang sejarah bagaimana
Musi diberi nama
dan mulai dikenal
menjadi tujuan utama berdagang. Demi
menggadaikan kasih sayang di antara
orang-orang yang tak
lagi berambut panjang

kami menyebut mereka
lelaki yang
mendalami hujan
atas kehendaknya sendiri

dan belum lama ini
lelaki itu telah
berusia selaksa pasukan
perangnya

bubuk mesiu di mukanya
berhamburan di ladang-ladang
yang menarikan Tanggai
lebih dalam
dan lebih mengerikan dari ledakan
yang akan memakan
semua kenangan
di suatu malam



Sekayu, 2010

Jumat, 06 Agustus 2010

Kamu Akan Segera Tahu, Pagi Ini

bulan kita terbit di pinggul pagi, pukul lima

”ma, sudah bangunkah kamu
dari ringkuk dada dan baju daster
yang bergulung?
aku menyingkap jendela,
menerima telpon, memakai
celana pendek. dingin sekali di sini,
tak ada hujan, tapi ada salju
yang turun perlahan mengguyur
tapak kering di tanganmu.
aku menangis, basahlah sekujur
tubuhmu.”

”aku berbisik di telinga kirimu
tapi kamu tersenyum. panggilan
sayang kali ini berbeda.
terasa lebih manis.
aku ingin mengecupnya
menjadi puting yang meraung
pada kekasihnya”

”di jalan yang membentur,
bukalah langkahmu, ma!
aku ingin berselimut
ingin sekali lagi mengulang
bagaimana meniduri harapan silam
yang kadang tumbuh
merambat seperti bulu kakiku.”

”mimpimu, segeralah bermukim
menjadi lagu-lagu
hidupku akan terus bernyanyi
berdegup kencang dengan kerlip lelampu
yang senantiasa memendar
dan menguning

di bawah hujan itu, ma.”
”tapi malam meringkuk begitu jauh
dari sumbernya”


”bukankah bagimu
bagiku itu juga akan menjadi
terang seiring asap-asap
di jalan yang kian terbang
menghinggapi wajah kita
untuk dibasuh. disapu dari lelah”

”ini ma,
hatiku hanya satu
kita hanya berdua
dan tak mungkin lagi
berbagi, selain dengan cinta”

”terkadang, mata ini buta
menyambutmu dari keluasan
laut yang tak bernama sesiapa”

kamu menoleh
aku hidup sekali lagi
kamu bicara
aku bernafas berkali-kali

kita tersenyum
mematikan tivi-tivi kisah remaja

:
sebab tak mungkin aku menguburnya
di perutmu. cukuplah anak kita
yang menempatinya dengan damai.

timbunan lemakku
bertambah. aku akan gemuk
tapi kamu tidak takut


”aku makin menggila, ma
menelan bulat genangan keringat
dingin di kepalamu. rasa asinnya
membuatku tak pernah suka”

”sebab itulah
kenapa asin di lautku
banyak yang tenggelam.
lautku menjadi lava
garam di dalam, garam di rambutmu
aku telan.”

satu
dua
tiga

aku mulai menghitung
kapan kamu akan terbangun
menggenggam pipiku dengan gemas

satu
dua
tiga

kamu gembira
aku tertawa
membuka mata,
matahari, bantal, dan kaca jendela
sudah basah

hujan di sini tiba-tiba turun

”aku ingin berteduh di rimbun alismu
aku ini bersih, bau sabun, lotion,
parfum, semuanya
aku pakai tiap menjelang pagi akan lahir
di pundak rebahmu yang berat”

satu
dua
tiga


”kamu bangun
aku mengenakan celana

:
mari, kita bercanda”




-Sekayu, Ogust 2010-

Kamis, 05 Agustus 2010

Agustus Siang Ini

-Peta-
bagi siapa yang tak mengenalmu
membaca nama-nama pulau
yang telah memunculkan banyak peradaban
di musim baru, akan senantiasa merasa
tercekam dalam tiap tikaman gelembung
yang menderu dera dalam hati
lalu menangis mengaliri air mata orang-orang
yang mengering.

-Biru-
bahwa laut ini adalah milik engkau yang
menyudahi teriakan anak-anak yang
tertikam di kedalaman senja
:pisau telah menjaga mereka
dari api

-Hati-
dalam hati, senyum mereka sembunyikan
menghalangi dentuman
tanah-tanah bakaran

-Mesiu-
mereka menjadi ledakan, senjata-senjata
yang telah bermukim di tiap-tiap liangmata
orangtua mereka. bersarang
menjadi kemarahan yang lama ditunggu
untuk tiba, memakan debu-debu
menghabur pada muka yang sedih
dan luka.

-Membaca Puisi-
dan puisi, mereka bertulis dengan
air mata yang banyak membendung
longsor-longsor kerinduan batin
kepada tanah lapang, untuk dibacakan
: merekalah puisi

-Layang-layang-
mereka berkejar-kejaran, memburu angin matahari
dalam lelap
dalam sengal nafas yang dinyanyikan.
hari-hari menjelma angin

-Sisa-
serupa waktu di tangan mereka
menggenang dan meraung
lalu menyatu
menjelma jadi selaksa kata
selaksa cinta

-Orang Tua-
pada akhirnya
mereka berbicara tentang
bagaimana mengolah derita yang mengatap dan
menggunung, hingga melumat gemuruh geram

-O...-
mereka akan habis
tenggelam dalam tanah gemburan
tanah dengungan
tanah yang berawal dari kehidupan tanpa
mesti merasa kematian

-Mereka-
sendirian memanggul usia
yang semakin merunduk
mencandu segenap jiwa
lalu timbul menjadi mimpitidur mereka
yang berayun-ayun
dan mendaun di batang-batang
yang tumbuh menahun


-Sungai-
dan mereka mengering.
ilalang dan kenangan menghilang



--sekayu, ogus 2010

 

Rabu, 04 Agustus 2010

Sebab Nasib

di dadamu, ma
aku ingin menggeliat manja
menjadi anak kecil yang masih balita

(sebab nasib mengubahku
menjadi lebih kecil di usia yang senja)



--sekayu, agustus 2010

 

Gadis

katamu
"ada gadis yang keluar dari telinga seseorang
tangannya gemetar, dan menggenggam api yang sebenarnya bersulut.
dan bunyi halimun di pagihari
tiba-tiba menimbulkan ketakutan
kekacauan masuk ke dalam hati
membuka segala celah tentang puisi"

dan tulisan:
a pen in her hand
is a pen in our hand
kebersamaan kami secara berurutan
telah menjelma kecekaman

"tak ada cinta dan lagu malam ini"
all day long we're alone
sebab segala perenungan yang mentautkan nama kami,
melahirkan anak-anak buta yang tak mengenal rahim ibunya
yang sepi.

:
kami meraung nyeri

sebab kami di sini tak pernah yakin
dengan keajaiban palsu

serupa bagaimana penyihir yang memabukkan kucingnya
mematikan orang dari kehidupan

kami pergi ke mimpi yang abadi 

--gadis itu menyusul kami
seikat kamboja yang hampir layu di tangannya,
ternyata masih wangi

towards us
all names had been waiting

lumut
tanaman
dan batu
begitulah kami
pada akhirnya menyatu

after arriving in our peace home
we died!




--sekayu, juli 2010