Kamis, 30 September 2010

Jurnal Lesbi Kali Ini

dan merinding di sekujur tubuhmu, rendamlah agar timbul bola-bola sabun yang licin. jalan yang tak lelah dan terjal di sini tak hentinya mengaku tak ingin kalah. pasukan-pasukan cuaca tak henti mengirimkan wabah yang keji. sampul buku diari yang hilang judulnya, dan kaca stroberi di rumah-rumah kota, berlamburan.

dan terlempar. kamu tidah sedang bercanda dan tidak pula memainkan api pada kompor gas elpiji. kamu tidak sedang mencuci piring-piring nasi yang mengerakkan lemak daging dengan keras.

ayolah Enigma, kamu sudah cukup manis untuk dicicipi. buahbuah tangan dan pijakan kaki yang kusam bukankah telah kamu siram dan kamu poles dengan masker bengkoang. Supaya mulus dan putih.

putih pada kuku, putih yang selalu ingin tumbuh di tubuhku. sampai ketika burung-burung onta terbang lindap di gedung teater itu, kita masih sempat menyaksikan kemolekan sisa cahaya matahari yang tiba-tiba memerahkan pipimu.

Enigma, wanita mana yang tak ingin menyediakan hatinya yang terus-menerus merasa hati-hati. dan keseringan sakit hati akan membuatmu banyak belajar bagaimana cairan di liver itu menetralkan racun-racun tangis yang tak sudah-sudah melukai naluri

Seperti kamu, matamu pun ikut berbicara dan mendengar dengan bahasa batin. isyarat malam ini akan kelam pasti terjadi.

seperti katamu, tubuhmu pun menggeliat dengan lembut dan sangat teratur. ritme-ritme lagu di tahun 60an dan kostum busana panggung pilihan pasti menua dan menemu dirinya masing-masing dalam keadaan yang begitu mengenaskan.

kamulah yang menggemaskan. kamulah, yang membiarkan pinggul dan betis yang sintal aku hirup dalam-dalam. sekali lagi, kamu menggelinjang. sekali lagi, letakkan saja kepasrahanmu di bahu yang tak cukup panjang buat menopang seseorang yang ingin terlihat telanjang.

selimut di kamar, barangkali bisa terbuka dan membungkus aku kamu dalam kegalauan yang satu dan kerinduan yang tak ingin cepat-cepat dituntaskan.



--sekayu '10

After All

dari api dan matamu yang menyala, apakah langit di atas seribu kepala yang terbenam itu akan runtuh di pelukanmu. begitu kamu mengetatkan isi rongga dan jalur napas di kerongkongan, cahaya mustahil masuk berkaca di simpulan darah. dan kata yang bersembunyi masuk di pembuluhmu akan tetap menjadi kuli bangunan roboh dan arsitek jalanan yang ingin bersama-sama membikin jalan tanpa ada sisa-sisa kelengangan.

demi kamu, apalagi yang akan dipersembahkan sebagai upeti bayaran hidup dan mati bagi penulis deritanya sendiri? apakah pasir yang dimainkan seorang bapak di jempol kaki untuk anaknya di sore tadi? apakah kerajaan pasir yang lembab dan berbau lumut itu tak akan tergerus bersama ombak yang kabur dari peluhmu?

bertanya dan menanyakan kehidupan rumpun sembilan puluh sembilan bunga mawar di pot kembang, serupa membicarakan kegilaan yang tak pasti. kamu duduk, memainkan gitar berdawai sembilan. lubang hidung yang ada di wajahmu kamu sumbat menjadi terowongan buntu, kedap cahaya, kedap lampu, kedap suara kata-kata.

lalu apa bedanya api di tangan mulusmu? airmatakah yang mengalir menderu di selangkangan yang mekar pada telunjukmu? karatbesikah yang ditempa dan disepu oleh pertanda nasib yang digarisluruskan di telapak kering lenganmu?

kamu tenang tetapi ngilu perih sedih gemetar di urat lehermu yang mengkilat itu telah mengekalkan seribu kepala yang ingin bersandar membenam dan membekam di pelukanmu. kamu temukan apa itu tulang-tulang punggung yang terasa anyir dan terasa asin. kamu berlari di sekitaran bundaran cekung matamu, yang bernyala yang berapi yang tidak kalah dari kesibukan dan kelengangan di perumpamaan jalan. dan tikungan, menipumu dengan janji segala arah. yang memulangkan delapan mataangin dan mata bulat sembilanmu, hingga serupa rumpun bunga mawar adalah tandatanda yang tak habis berkeliaran membentuk pusara kata-pusara suara tanpa kata.



--sekayu '10

Pendekar

kekuatan yang tumbuh dari kelopak mawar
kekuatan yang tumbuh menjadi matang

kekuatan yang berselang sesudah waktu siang
kekuatan matahari naik sepenggalah

kekuatan di banjir air
kekuatan yang belum berakhir

kekuatan , tanpa waktu
kekuatan yang mendengar segala lemah dari pusar kepala

kekuatan , di lingkar kaki
kekuatan yang mengendap di dalam guci-guci padi

kekuatan itu ingin memakan segala pedih
kekuatan yang berdiri di atas ziarah makam cinta

kekuatan yang menyalib bau anyir peperangan
kekuatan yang mengabulkan segala nubuat pinta di atas mataruncingnya

kekuatan, pada para penguat kekuatan
kekuatan itu dijeritkan



--sekayu, '10



Minggu, 26 September 2010

Sembarangan!



tersebab Gie*


ada yang bertanya bagaimana bibir wanita dan gadis yang tipis
ada yang bertanya seperti apakah warna gincu wanita dan gadis
ada yang bertanya kepada siapa wanita dan gadis melumatkan bibirnya yang sekian kali pernah habis manis
ada yang bertanya . . .


lalu kujawab saja,
bibir wanita dan gadis itu berlipatan dua. di tengahnya ada patahan yang meliuk, yang kenyal dan empuk. di bibirnya, wanita dan gadis suka memakai gincu yang berwarna. entah merah, entah putih, entah hitam. wanita dan gadis juga cepat bosan. habis yang merah, mau yang putih. habis yang putih, mau yang hitam. habis yang hitam, lalu hilang. wanita dan gadis yang memesona sangat ingin melumat dan membekuk bibir teman-temannya, kekasihnya, teman kekasihnya, kekasih teman-temannya. wanita dan gadis akan tertawa, sebab bibirnya yang tak cepat menyerah itu dapat membuat yang lainnya bahagia.



*) baca Ganz Pecandukata

--sekayu, 2010

 

The Day of Wisdom

        : saturday night

di muara kaca jendela yang ingin dimasuki titik-titik air dan riciknya yang gerimis
seorang gadis duduk dan lama menatap ke atas ke arah langit yang padam
dan pekat. disekanya airmata yang jatuh yang leleh di lubang pipi itu. disapunya dengan tangan yang
saat dua jam lalu masih asik bermain dengan pancuran air di atas genting

ia tadahkan tangannya yang cekung seperti bentuk doa-doa yang tengadah.

ia tersenyum. dilihatnya bayangan yang pucat, yang masih punya kecemasan di tiap
waktu yang senantiasa datang saat suntuk. sebab suntuk sehabis mengolah lahan kata yang
adakalanya memiliki makna yang mesti dibuahi

ditanam, dipupuk, disiram, dan dibiarkan memanjang di pagihari.

"apakah aku masih dapat melihat suasana yang masih berkabut seperti saat ini? tiba-tiba aku mulai takut. pada air barangkali aku mengadu dan menangis. di sela waktu setelah cahaya tenggelam untuk beberapa jam, dan besok rasanya begitu singkat."

satu tarikan nafas dari kaca jendela, kabut di luar sana mengalir. sesampai di tanah kemudian lahir menjadi seorangdiri yang baru. yang akan memanggul air di kakinya berkali-kali. air dari langit, air yang berkubang di pori keringat kulitnya, air yang tumpah dengan irama yang berdenting.lalu suara gemericik memukul titik-titik air. maka masuklah mereka secara paksa. dibasuhnya muka pucat gadis itu seketika



--sekayu, 2010

 

Tersebab Hellen Keller


Bersisi 2 buah sajak yang ditujukan pada Hellen Keller, oleh Ganz Pecandukata


Sajak di Jalan Braille: Menuju Mata dan Telingamu -1-

tersebab memoar Hellen Keller

bunga-bunga lili liar menaruh sejumlah bentuk perasaan yang tumpah
ketika engkau bermain dengan bahasa-bahasa eja pada jemari
ke pemahaman bibirmu

lalu di antara semi pohon mimosa ada pikiran-pikiran tak terucap, jatuh
bersama dengan bunga-bunga keringnya dekat pagar rumahmu
dan hidung cabang-cabang basah mencium patahan
aksara mimpi-mimpimu melalui tebal kambium waktu;

kukira engkau benar bagaimana mengarahkan jendela-usia
menafsirkannya dengan cara hati-jemarimu, lantas mengatakan
kepada arakan anginlembah yang mengubah gerak awan merah jambu
ke atas pohon ek raksasa dan linden sehingga engkau dapati
nyanyian pipit mengirimkan pengharapan atas keindahan
merangkum segalanya di penghabisan februarimu
:
jika kita pernah melihat, maka
“hari itu serta apa yang ditunjukkannya adalah
milik kita”*





*) penggalan kalimat dari catatan Hellen Keller

2010

see :
http://ganzpecandukata.blogspot.com/2010/08/sajak-di-jalan-braille-menuju-mata-dan.html



Sajak di Jalan Braille: Menuju Mata dan Telingamu -2-

tersebab memoar Hellen Keller

ke pulau mana lagi, engkau tambatkan waktu-hatimu. hari-hari sudah begitu huruf
di jemarimu yang lapang. orang-orang kini menyimpan perasaan-perasaan bersama
pepatah hidup di balik tebal huruf-hurufmu. - mereka berseteru menyingkap
kejujuranmu, mengungkapnya dengan pertanda bahwasanya ada sesuatu yang lupa
terbaca -

ke bahasa mana lagi, engkau sederhanakan kebutaan dan ketulian. sebab, buta dan
tuli bukan lagi seperti sebuah novel atau puisi yang engkau renungkan berulang. bukan
seperti sebuah autobiografi atau catatan-catatan kecil penuh perjuangan dan kemalangan.
bahwa engkau telah memulainya dengan menerjemahkan bibir Anne Sullivan ke dalam
inderamu adalah muasal dari kesederhanaan itu. - buta dan tuli adalah bagaimana orang
melihat dan mendengarmu sebagai wanita dengan peninggalan sarat intuisi serta penciptaan.
seperti Dr. Bell memecah mitos Prometheus, seperti engkau meretas mitos braille -

Hellen, o Hellen...maka kitablah segala pengharapan, sebab sejatinya buta dan tuli
lepas mengupas kelopak matamu meremas gendang telingamu untuk sekedar
menjadi pagi di pecahan--kenangan meja belajarmu. sekedar menjadi pengucapan,
lafal pada lidahmu yang vokal tanpa menyatakan sedih bagi anugerah airmata
:
ada kebahagiaan saat engkau lupa pada keadaan dirimu.*




*) penggalan kalimat dari catatan Hellen Keller

2010


see :
http://ganzpecandukata.blogspot.com/2010/08/sajak-di-jalan-braille-menuju-mata-dan_16.html



Sajak Ganz Pecandukata di Hari Ulangtahunnya yang ke-21



dalam sajak ini terdapat 21 pasal yang menandakan usianya saat ini. mulai pada pasal 0 sebagai awal kelahirannya dari rahim Sang Ibu. kemudian disusul pasal 1 hingga seterusnya.

tertanda 100989

PASAL 0
bangunan lama rupanya telah mendirikan sesuatu
di hari minggu legi pagi sewaktu air ketuban melulur
dari rahim ibumu menuju tangismu. sesuatu itu
menubuatkan tentang nasihat

“kelahiran adalah ibuketiadaan.”

PASAL 1
maka terkuaklah bangunan lama
mengapa ia ada dan mencipta
riwayat di balik nama kanakmu. ketahuilah,
ia hanya terjadi karena pintu yang terbuka
setelah airmata mengetuk perlahan.

PASAL 2
ada nyanyian ninabobo, sayup
semakin kecil dan kecil
datang lewat puting susu eyangmu. nyanyian
itu menanggalkan sangkakala dari malaikat
yang mencoba menyerahkannya
kepada ibumu.

PASAL 3
apakah sakit yang kau kandung bermula
setelah bapakmu menghamili perasaan
tentang neraka. bahwa surga tak ada
di atas sana….tak ada di pikiranmu,
namun ada di perasaanmu yang sewaktu-
waktu bisa berlumur darah.

PASAL 4
siapa rumah yang merawat bayisepi
pada botol susu tawarmu saat kau teguk
di bawah pohon jambu bangkok,

nak?

PASAL 5
gigi-gigimu masih putih
berat badanmu masih normal
kulit tubuhmu masih kuning langsat
ingatanmu masih menyala
:
bau pasar yang terbakar di belakang
persinggahan simbah.
- maka berasaplah segalanya
gigi, berat badan dan kulit tubuh
bahkan ingatanmu -

PASAL 6
jangan malas menghafal siang
nanti kau tinggal tanpa mengenal
di mana bapak-ibu menghukummu
hampir setiap kali mata tak mau
pergi ke ranjang.

PASAL 7
ingatlah berapa buah jambu air
yang kau jatuhkan ke selokan
sehabis mual-mual mencium
air kencingmu.

PASAL 8
“tidurlah yang nyenyak, ya
biar cambuk di punggungmu
lekas merah.”

PASAL 9
di waktu maghrib, teras rumah
menjadi saksi nasihat bapakmu;
airmata tak mengenal waktu.

PASAL 10
sepeda baru untuk satu dekade
kaki baru untuk belajar mengayuh
menuju pengertian tentang
j a t u h.

PASAL 11
malam-malam ingin berkhianat
seperti teman sekampung
melarangmu bermain petak umpet.

PASAL 12
bagaimana penafsiran tentang kebodohan
pertanyaan yang mengakhiri jawaban
ke atas meja belajar,

“aku tak akan bertanya kepada bapak lagi?”

Semarang 2010

for more content, see this :
http://ganzpecandukata.blogspot.com/2010/09/alegori-pasal-pasal-di-kitab-usiamu.html

Senin, 20 September 2010

Sentir Dolor, Luci

Sentir Dolor, Luci*


Luci, dengan wanita yang membawakan sekeranjang pakaian basahmu, aku diam-diam menyelinap dan berselimut di bawah tetesan rembesan air sungai itu. Aku melihat seolah cermin di tanganku terbelah dua, memisahkan wajah kemarahanmu, antara emosi dan kejengkelan yang kadang ingin terus melumatku sampai habis.

Luci, aku memanggil namamu yang berdentum melimpahkan gigil sekaligus keringat yang menakutkan. Membuatku kerdil lalu jatuh di pinggiran tanah landai. Sampai tiba-tiba aku berpikir bahwa kamu telah melepaskanku dari segenap cinta yang dulu masih tampak bundar dan melingkar.

Luci, jelas aku merasa sakit, timbunan kekesalan dan ketidakberdayaan yang dulu menjadi sekadar teori kini benar-benar terjadi. Dan kelenyapan atas kamu telah menjadi ketiadaan yang sebentar lagi mengabadi dalam kesendirianku

Luci, kamu mesti memelukku malam ini. Sebab angin dan bulan akan bersatu menikam kepala dan leherku yang dulu pernah merendah di atas pinggulmu. Sebab angin dan bulan membenciku dengan alasan agar kamu tetap menjadi harum kembang yang melayang di masing-masing malam

Luci, kehangatan memang bukan segalanya. Begitu pun dengan rasa manis setelah kerinduan dapat dituntaskan sesegera di kedua bulu matamu. Tapi ada satu hal yang mesti diketahui, tak ada yang lain di sini dapat menggodaku untuk pergi menyelesaikan kewajiban yang lama ditinggal oleh airmata, kecuali tangis yang menjadi tangis itu sendiri

Luci, sejak aku mengenalmu aku pun mengenal sepi. Apalagi setelah kamu hanya menjadi keinginan bagi kenangan untuk diresapi mimpi malam ini. Di hadapan suasana nyeri yang semakin gelap, aku bersaksi bahwa kamu akan tetap bersatu di cermin yang sudah terbelah. Di tanganku yang tak lepas menggenggam genangan air yang masih basah itu, mengalir namamu yang begitu deras dan senantiasa akan terus berseteru menemu muara yang buas dan jauh.



* Be in Pain, Luci

--sekayu, '10

Kamis, 16 September 2010

Kubur

di baris-baris kematian dan ketiadaan
kami mengubur tubuh di ladang-ladang gandum
yang dipenuhi bubuk-bubuk racun

darah kami mengalir dan bergerak cepat begitu saja

kami menumpulkan barang dan biji yang kadang bersemi
tepat pada waktunya. berbuah dan berdaging
seolaah waktu itu kami senantiasa akan kenyang
tanpa takut merasa mati dan kelaparan

tiba di waktu hujan yang telah hilang
kami ikut merasa hilang dan
terbungkuk mengerang. mengerami tetesan airmata
yang lama-lama akan menjadi butiran hujan palsu

di tubuh kami
rambut dipanen, kulit dibajak
dan dibakar dihunus sampai ke tulang-tulang

hingga suatu hari ada seseorang
setengah lelaki dan setengah baya
sambil tersenyum ditikamlah kami
sampai meraung sejadijadinya

kami pun kemudian ingat
bahwa kubur kami yang dulu
pernah memberikan pesan
yang begitu panjang dan penuh kelemahan

andai kami saat ini masih menjadi
suatu O yang berdengung dan meraung dengan kejam
merakit rasa mati di tubuh kami
mengubur rasa mati di tubuh kami
lalu berletupan dengan erat betapa kami tak ingin merakit dan mengubur diri sendiri



--palembang '10

Traditions



Tradition includes a number of related ideas:
  1. Beliefs or customs taught by one generation to the next, often orally. For example, we can speak of the tradition of sending birth announcements, and family traditions at Christmas.
  2. Beliefs, customs and practices maintained by social interaction, such as saying "thank you", sending birth announcements, greeting cards, etc.
  3. Beliefs, customs and practices maintained by societies and governments, such as Federal holidays in the United States.
  4. Beliefs, customs and practices maintained by religious denominations and church bodies that share history, customs, culture, and, to some extent, body of teachings. For example, one can speak of Islam's Sufi tradition or Christianity's Lutheran tradition.
  5. Beliefs, customs and practices that are Prehistoric or have lost/arcane origins, such as trade, the teaching of language and education in general.
Traditions serve to preserve a wide range of culturally significant ideas, specific practices and the various methods used by distinct cultures. The word tradition comes from the Latin traditionem which is the accusative case of traditio which means "handing over, passing on".


--see

http://en.wikipedia.org/wiki/Traditions

Theatre

Theatre (or theater, see spelling differences) is a branch of the performing arts. While any performance may be considered theatre, as a performing art, it focuses almost exclusively on live performers creating a self-contained drama.[1] A performance qualifies as dramatic by creating a representational illusion.[2] By this broad definition, theatre had existed since the dawn of man, as a result of the human tendency for storytelling. Since its inception, theatre has come to take on many forms, utilizing speech, gesture, music, dance, and spectacle, combining the other performing arts, often as well as the visual arts, into a single artistic form.
The word derives from the Ancient Greek theatron (θέατρον) meaning "the seeing place."[3]


next pages find in

http://en.wikipedia.org/wiki/Theatre

Praying

Prayer is a form of religious practice that seeks to activate a volitional connection to a god, deity or spirit, through deliberate practice. Prayer may be either individual or communal and take place in public or in private. It may involve the use of words or song. When language is used, prayer may take the form of a hymn, incantation, formal creedal statement, or a spontaneous utterance in the praying person. There are different forms of prayer such as petitionary prayer, prayers of supplication, thanksgiving, and worship/praise. Prayer may be directed towards a deity, spirit, deceased person, or lofty idea, for the purpose of worshiping, requesting guidance, requesting assistance, confessing sins or to express one's thoughts and emotions. Thus, people pray for many reasons such as personal benefit or for the sake of others.
Most major religions involve prayer in one way or another. Some ritualize the act of prayer, requiring a strict sequence of actions or placing a restriction on who is permitted to pray, while others teach that prayer may be practiced spontaneously by anyone at any time.
Scientific studies regarding the use of prayer have mostly concentrated on its effect on the healing of sick or injured people. The efficacy of petition in prayer for physical healing to a deity has been evaluated in numerous studies, with contradictory results.[1][2][3][4] There has been some criticism of the way the studies were conducted.[5][6]

--will be continued in
http://en.wikipedia.org/wiki/Praying

Senin, 13 September 2010

Ningsih

Aku pergi
Suara-suara musik di karavan
Tengah meninggalkan kota
Sebelum pagi menjadi puisi
Dan matahari masih cantik jelita

Aku pergi
Dengan sekantung benang-benang kabel
Yang dililitkan di pinggang gitar tua
Agar menjadi bunyi
Yang tak sekadar mendengar bunyinya sendiri

Aku pergi
Meski ketiadaan telah banyak melahirkan
Nama-nama penulis cerita sejarah
Raja dan ratu hidup di istana
Kakek dan cucunya kehabisan roti
Pedagang berteriak dengan seikat kain wol di tenggorokannya
Gadis kecil yang bermain-main dengan gambar bapak ibunya
Yang di tanah kubur
Mereka hidup. Saling berpegangan tangan
Menatap masing-masing alat kelamin mereka
Apakah masih dapat menuturkan cerita
Seperti ketika dulu mereka masih bersama-sama berbicara dengan anaknya

Aku pergi
Sebab suara surau di waktu mendung itu
Mendatangkan banjir kiriman di kelopak mataku
Tubuhku hanyut. Kamu tidak ada
Kamu keluar rumah tiba-tiba
Kamu jebol pintu kecil yang meloloskan tikus-tikus angin
Kamu curi gaun abu-abu muda yang diwariskan ibuku,
Ibu mertuamu, juga ibu adik-adikku

Sesudah itu, setelah aku pergi
Kamu tak perlu berkelahi dengan pohon-pohon cemara
Yang tak sempat menangkap kedua kakiku
Kamu taku perlu memasang kamera tersembunyi
Untuk mengintai dimana aku akan singgah

Aku pergi
Membawa cinta yang lekas menjadi batas duka
Dan tabir takdir
Yang tak pernah ingin kembali
Menjadi sebuah kepergian
Setelah kamu, semuanya, dan puisi
Memilih pulang lalu merasa sendiri



--palembang, 10

 

Jumat, 10 September 2010

Rabu, 08 September 2010

Se-ngi-lu





sampai terakhir kali aku memutuskan
untuk menikmati kesendirian lebih dalam lagi
mengagumi bagaimana deru di tangan menjadi abu
mengagumi bagaimana lagu di pantai menjadi landai
kemudian menerjang matamu mataku
yang lama dibiarkan telanjang

Heaven



dalam komposisi dan larik puisi sesudah kematian itu,
hujan terbakar dalam mimpi



--palembang '10

Cavatina



di remuk muka angin
pipa-pipa bergetar
salah satu yang masih kosong
berbicara dengan harapan yang masih pelan keinginannya
untuk dijadikan tiang lampu jalanan




--palembang '10

Sabtu, 04 September 2010

Little Sixteen

Siapa saja hari ini
Di dalam jala yang memukat asin
Menjadi lebih panjang tangisannya
Mengadu ke dadamu
Agar dihangatkan. Matahari di kepala
Dan pelangi yang turun tiba-tiba
Melangkahi bayangan yang sedang bermain
Dengan kecapi dan butiran senja di laut
Semakin menguning memadatkan
Isi perutnya.
Lalu siapa lagi yang akan merasa kedinginan
Mengenakan selimut berlubang
Mata yang berkubang menjadi airmata?



--palembang ’10

Dawning (Yoake)



Membawa kenangan menjadi nasib
Hai, kamu dengar suara itu beriak darimana?
Dalam kalbu masing-masing bunga yang akan runtuh
Angin akan membawanya menjadi lagu




--palembang '10