Rabu, 27 Oktober 2010

Mukamu, yang

Di batas kecipak air dan meja makan yang kosong
Mukamu yang dikenang masalalu
Sepuluh tahun dijerat leher dan urat usus yang buntu dengan ide-ide
Menulis harapan, dan siang tanpa mengenal api
Yang menyuluk dari riak air tenang

Mukamu, di batas perih dan luka bakar tanpa api
Yang lebih dulu habis. Sebab matahari itu dendam
Kepada waktu yang lebih terang.

Tahun menjadi semakin kacau dan tak berangka
Anak-anak sekolah kehilangan makna
Sepatu-sepatu dan dasi merah kehilangan akal dan debu kuning
Yang mengotori ban sepeda, juga gerobak, juga mukamu.

Dan tentang tulisan di wajahmu yang menyisir bulu-bulu kenangan
Di depan cermin, sebelum berangkat sekolah
Harapan menjadi ketiadaan semata.
Harapan menjadi kulit kacang.
Harapan pergi, kemudian hilang begitu belum tutup jendela petang

Dari riak dan teriak air tenang yang jatuh di mukamu
Bersamanya datang itu luka
Datang itu perih
Datang itu segala lara yang kosong yang lalu yang buntu yang tanpa mengenal api
Yang tenang yang jatuh di mukamu



--Sekayu, '10

Nyanyian Selamat Datang

musim angin yang bergelayut di telinga
telah berlalu. berlari dari waktu.
bunga mawar mekar, daun ingatan di kepalamu
semakin hijau.
"kita serupa batang yang bergoyang
bercokol di tanah, tempat atap rumah
kita didirikan. dari balik matahari
dan sinarnya yang dibawa udara
musim angin akan dikenang"

sebab kenapa
di bumi kita yang belum cukup tua
untuk kakek kita
merasa bermanja-manja pada ibu bapak kita
minta digendong dibawa ke sana kemari
"saudara sayang
mari tidur siang
malam ini ada pesta di ladang
mawar akan mekar
musim angin akan datang di pelupuk mata
ibu bapak kamu dan aku
mesti bergadang, masak udang capit pedas
cumi goreng bumbu syomai

yang paling penting
nila dan tujuh loki arak dari pohon aren di hutan
yang bersebelah dengan bilah pengasah parang
penebang kayu kita"

atap kita akan tetap berdiri
meneduhi dari waktu tiba matahari
yang tembus pandang.
nyanyian kita
akan tetap dinamai selamat datang
kepada musim angin dan mawar yang
akan mekar



--Sekayu, '10

Minggu, 24 Oktober 2010

Mae, Dokumenter

Kasih di matamu bermain air
Menjadi api di tiap malam yang tak ingin dikuliti sepi
Lampu akan padam
Dan selimut bergemetar di tepi ranjang

Tidur pada nanar kamar itu, kamar waktu
Kamar tentang pengabadian
O mae*
Di pembuluh darahmu



*) berasal dari bahasa Portugis yang artinya ibu



'10

Ringtone

pusara di lagu yang bernada garis retak biola, dan listrik di malam
minggu yang masih ingin mendengar suara ”hai”
katakan, o kita masih saja merasa mesra di usia yang belia
di antara 89 tahun kandungan ibumu dan 94 kandungan ibuku
katakan ya kita masih berbicara dan tertawa geli, berbicara dan saling menggurui
bukan ini. tapi kita yang itu akan sepakat
melompat demi istirah pada tiang-tiang nada
lagu bertempo mars dan begitu cepat bermukim di tenggorokan
kita berdawai dan bergesekan lalu menjadi geram
mencubiti tiap lubang di pipi. Chubby kasihku, mana bisikan dan cintamu?
berujung pada pukul berapakah rindu jam pada arloji ponselmu?



'10

Adik Kita

tertanda Rasti


Ia menangis dalam mimpi
Lelakinya pergi dalam mimpi

: dinda, apa kau sedang bermimpi?




'10

Kamis, 21 Oktober 2010

Sapu Tangan di



sapu tangan
hilir di atas air
sepi pada asap dan dada

sapu tangan
di sisi matamu
meledak di tepi airmata
mengalir ke lembah pipi
dan tinggi hidungmu

sapu tangan
di sisi tanganmu
: sepi asap airmata
:sepi seka menuju dada
:sepi yang beriak dan bergema


  --Sekayu, '10

 

Mengenai Sapaan dan Cinta

hai, kata cinta
itu berpagut dari sinyal yang jauh
jatuh ditimpa badai ribut
badai yang meraung di dalam jantung
badai yang menyuluk di tiap belai bulu dan rambut

hai, kata cinta
suara mana yang masih dapat dikenali
di antara baris-baris senar cello yang begitu rapat?
suara apa yang mendentumkan nada
bertingkap, wajah terang langit di atas
bumi kita?

hai,
dan cinta
membawa kemari cinta
menari dengan sepatu cinta

hai,
siapa kini cinta
yang yakin atas segala denting-denting
di redup kamar istirah
yang mendengar dan berjinjit di atas
pukulan nyaring angit angin

hai,
o cinta
berayun-ayun di hilang daun yang selalu
ingin naik di gedung menghadap senja
berhati awan cinta
berangin di tiang dudukan
yang manis dan cinta yang
serupa ingin menerus pergi
bersama udara yang dingin

hai
hai
cinta dan
itu cinta
pergi kemana cinta?



--Sekayu, 2010

Minggu, 17 Oktober 2010

Pemondokan yang Sempat Diingat

datanglah badai itu. menggemuruh di lebar daun, di tipis pintu yang bersekat tubuhku.. sebab kali ini tak akan ada batas antara waktu yang lampau

aku baru ingat, pernah mengatakan tentang sebuah kubus bidang di lingkar puting ibuku. aku pun menyusu sampai tak ada air yang tergelincir di lubang kehausan tenggorokkanku.

aku baru ingat, pernah memikirkan orang berpakaian asing. di lehernya terlilit balutan syal biru. meski tak ada hujan dan dingin, keringat dan panasnya pasti melunak. menjadi penyejuk sampai habis angin malam

ini. "tidurlah pundak mana pun yang kau suka. tapi jenjang pundak yang kanan milikku masih ada bekas tusukan beling yang tak sudah gatal dan mengering. sewaktu-waktu aku pun akan bersandar melepas peluh di pundakmu."

:mengecilkan suara perih, luka cepat pulih


--sekayu, 2010

Sabtu, 16 Oktober 2010

DI BAWAH LAMPU JAM TIGA PAGI

Ganz Pecandukata

*

ada gambar wajah dan kakimu

telungkup pada baskom

berisi airmataku


**

pundak dan tangan yang kuberikan

rupanya susah menjadi huruf

di gelombang menuju kotamu;

kotamu yang masih rapi

tapi, tampak segalanya

seperti buritan


***

jika dua mata ini tak cukup

maka ambillah yang ada

pada dadaku,

sebab jantungku tau

kapan harus berdetak

kapan menyatu dengan detakmu


****

jam tiga pagi ini

ada tubuh yang puisi

penangkal remang-rindu

di bawah lampu

yang gelisah memijar tanya


apakah usiamu setara tangismu,

mataku?


http://ganzpecandukata.blogspot.com/2010/10/di-bawah-lampu-jam-tiga-pagi.html

saat itu

langit di batas kota
menguning. lampu di batas kota
kenangan di batas kota
menguning. dan suara gitar
piring makan, air minum di gelas yang bermuara
ke selaput tangan kita,
menguning. perjalanan
yang jauh, kemudian jatuh
menguning



palembang, 2010

Rabu, 06 Oktober 2010

Tuhan, “Kamu Mesti Tahu”

Tuhan tak mengenal wajah siapa yang tertidur di sampingnya. Suara roll kaset radio berderak kacau. ”ku tahu kau selalu ingin denganku”*. Lima bait lirik lagu tanpa judul. Tuhan bernyanyi. Rak buku, tempat tidur, dan suara pesan di ponsel berdering. Dan bergemincing kelap-kelip. Di tubuh itu, Tuhan menyenggolkan perutnya yang masih gatal. Getah yang turun dari hujan di bawah pohon pinus yang bergulung-gulung, tiba-tiba turun. Sambil menegang matanya, Tuhan berteriak, :jangan berkuda di sini!” awas lika liku luka di betis pahamu akan melebar!”

Hujan, dan rintik. Dibasuhnya keadaan yang menakutkan itu. Tuhan tak mau memekik. Wajah yang tertidur di sampingnya pasti terbangun. Mengusik ketenangan yang sudah lama tidak teratur. Debu, entah kuda siapa itu yang melaju. Pengelana yang datang jauh pasti tahu kemana jalan yang salah. Sepertinya di sini bukan jalan menuju tujuan dan jawaban.

”Aduhai! Turuti saja, dan kembalilah membelakangi hati yang sedang cemas ini.”

”Perkenalan wajah siapa lagi yang akan tidur di sampingku kali ini?”

”Tunggu.
Hai wajah!
Bergegaslah pulang ke pangkuan tanah dan air yang menjadikan bapak ibumu.
Seribu menara yang lebih panjang dari tubuhmu akan segera megejang.
Dan runtuh di jempol kakimu.
Tak ada lagi kuku yang sama besarnya dengan nyalimu.”

”Wajah siapakah yang kejam kali ini kepadaku?” Tuhan menjadi gelisah. Dilemparnya satupersatu batu terjal di punggung lereng yang memuncratkan larva kebingungan : tentang wajah itu. Yang masih tertidur di sampingnya. Dan Tuhan berkata tanpa mengenal maksud apa-apa, bersama kekhilafan diletupkannya wajah itu. Sampai gosong dan tiada


*) lirik lagu KU CINTA KAU yang dipopulerkan oleh Once

--sekayu 2010-10-06

Sabtu, 02 Oktober 2010

Suatu Ketika

: dinda rasti

"jangkrik itu mau datang ke kamar kita
menyembulkan suara keributan yang tak pecah-pecah."


--sekayu '10