Sabtu, 31 Desember 2011

Dalam Senggama


ada yang bersenang-senang
dan ada yang kesepian.
namun keduanya
sama-sama sendirian

melankoli


Jakarta, 2011-2012

Jumat, 30 Desember 2011

Dan Tak Ada Jalan Lain


à G.M.


AKU keluarkan KAU dari derita
dari perut busung
orang-orang akan berdoa
mereka siap mati
siap berair mata
"inilah doa! matikan lampu
dan biarkan kami hidup dengan mimpi!"
tanda cahaya perlahan akan hidup

dari dua jalan yang rahasia ini
sebuah sungai panjang
mengalir.

Jakarta, Desember

Dalam Dekade



à Sitor Situmorang

seperti apakah lagu?
--seperti luka di dalam benakmu

ENGKAU berkata pada cermin
angin menyampaikannya padaku

tidak ada yang boleh ragu
sebab ENGKAU yang dikenal tumbuh bersama
sepotong kayu
walau pun terkelupas
syarafmu yang satu
tetap di dalam perahu
di atas tanah air mengalir
ikan-ikan hidup dan bertelur

Jakarta, Desember

Sabtu, 26 November 2011

7h 30


Kita mesti berlari jauh
Matahari yang bulat dan bulan yang pucat
Akan segera menghabisi  waktu

Dan bagi siang yang mencintai burung-burung di langit
Dan malam yang membangunkan suara-suara dari kegaiban
Tiba-tiba kosong dan terluka

Jakarta, '11

Kamis, 24 November 2011

Aforisme Hari Ini

-
bagi yang bernafas dengan bau dan warna kuning menyengat
kereta api adalah sepotong keju yang tumbuh di perut kita


--
kemudian setangkai mawar yang menyelinap di kelopak mata
adalah manusia dengan kening basah


Depok, 2011

Jumat, 11 November 2011

How Should I

:
i burn the room
i buy the smile
i bury my second husband

i am
completely
fly
over
the
sun
as
the night
slept
within
an arm
the earth
moved around
as
a galaxy
lost
to die
Jakarta, Nov 2011

Sabtu, 15 Oktober 2011

Dari Ruas Tol

: Tomas Transtromer
menghindari banyak nama dari jalan yang menyilang dekat rumah
meski tengah malam dan siang sedikit sama
teriakan kita akan terasa lebih melengking dan istimewa
ketimbang teriakan anak kecil berusia lima belas tahun
yang berpikir sudah banyak mengenal usia

dari kedua tangannya yang menggenggam sepasang lolipop
ulat dan semut merah benyanyi
bermain musik meski di kota
sudah banyak pemusik yang berjalan kaki
menuju bis kota untuk menjual suara musik
dan suara mereka

"kami butuh malam dan siang yang bisa disimpan dalam saku"
. . .
kemudian mereka masuk lewat pintu dari tiap-tiap wajah penumpang
yang kehabisan oksigen dengan sepotong koin emas berangka
lima ratus rupiah mungkin cukup menutupi perut yang bocor dan basah
Jakarta, Oct 2011

: ditujukan pada puisinya yang berjudul Open and Closed Space

Minggu, 18 September 2011

MAHASISWA

: Ganjar A. Sudibyo
berulangkali aku jatuh cinta pada bulan yang rontok
dari wajahmu yang berpaling dan jauh
kunang-kunang bermain cahaya
pohon hilang di dalam gaun
aku jatuh cinta
pada bulan yang rontok
yang sesekali mengatupkan mata
"mari bercinta
mari membuka dada
mari bersembunyi di bawah cahaya
sebelum hujan matang di tubuh kita!"


Jakarta, Sept 2011

Jumat, 16 September 2011

Une Ile


: Kinu 
kita baru saja menciptakan langit
awan tersenyum
melihat kita dari perut yang buncit
entah kenapa tak ada mata lain
selain mata kucing yang jauh di sana
berkali-kali mencoba menewaskan kita
dengan sepuluh cakarnya

bau kerupuk dan metafor
mengelabui kita dalam perahu
mengayuh darisatu sampan ke sampan berikutnya

sesekali kita mengeluh
pada rintik dan jerami
tempat kita menjatuhkan jarum jam

kia bertengkar
saling memaki
dan baling-baling berhenti 
 Jakarta, Sept 2011

Yang Ingin Kukatakan

adalah bahwa
puisi kita satu-satunya cinta yang meradang
sebab tuhan yang mengatakan

Jakarta, Sept 2011

3 Menit Sebelum Berhenti dari Kereta


: Herpinus Simanjuntak

ada yang tak ingin kita lupakan
sebuah nama yang menengok dari belakangmu
yang kau teriakkan berkali-kali
lewat suara yang berasal dari suara
dan kematian yang begitu dekat
seperti musim gandum
hilang sebelum cahaya

s'il vous plait, mounseour!

silahkan tuan!

untuk kedua kalinya kita berbicara mengenai bahasa
yang gaib
yang lekas musnah

a bientot!

selamat jalan!

kita memang tak mesti hidup sekarang
kita mesti berjalan dulu
mencari jalan pulang

Jakarta, Sept 2011

Selasa, 06 September 2011

KEMBANG API

seperti mimpi anak kecil yang bermain
kita terus bermain dan melompat melewati pagar yang ada pada mulut kita
mengajak dunia menjadi bola yang berputar
mengajaknya semakin liar dan nakal

dari kedua mata kita
angin bergerak ke utara
menggiring sepasang burung yang sedang terbakar lautan matahari
menuju sepasang bukit yang terbakar pula

di kaki gunung yang tidak begitu jauh
kita menyaksikan awan bergerak dengan seksama
sesekali kita petik beberapa buah hujan yang tumbuh di atas langit
kita kumpulkan gemuruh
kita jadikan suara di telinga untuk di dengar

kita tak pernah bertanya
kapan doa menjadi lelah
kapan amin menjadi prasangka di atas tengadah
setelah kita tidur
kembali menghadap langit yang mulai reda

Jakarta, Sept 2011

Kamis, 01 September 2011

Puisi Bilingual

A Game

A fish jumps from thy chest
A little funny boy squirms
An old woman sleeps soundly
From the mouth of soaking
a lizard chills
loving the winter in the refrigerator
living a little longer in the ice
trees of lie begin to grow
a fatty goat kept chewing the leaves
a mother down the hill
a blade attached at the hip
a ran and killed sheep
of a green fields
a name to the poem
lie to lie
something that can be said to be free of fifty years ago
merely be an abomination
rivers flowing from the hands of
from the river widens into the estuary
a puzzle began to play


Permainan

Seekor ikan melompat-lompat dari dadamu
Seorang lelaki kecil menggeliat lucu
Seorang wanita tua tidur nyenyak
Dari mulutnya yang kuyup
seekor cicak menggigil
mencintai musim dingin di kulkas
bermukim sedikit lebih lama dalam kebekuan
pohon-pohon kebohongan mulai tumbuh
seekor kambing yang gemuk terus mengunyah daun-daunnya
seorang ibu turun dari bukit
sebuah pisau yang terikat di pinggul
seekor domba berlari dan terbunuh
dari ladang hijau
sebuah nama menjadi puisi
kebohongan menjadi dusta
sesuatu yang dapat dikatakan bebas lima puluh tahun silam
semata-mata menjadi kekejian
dari tangan mengalir sungai
dari sungai yang melebar ke muara
sebuah teka-teki mulai dimainkan
Jakarta, Sept 2011
http://ano3grahgroup.com/puzzle/

Suatu Ketika di Laut Lepas



i
Seketika kita mesti hanyut
Berenang lebih dalam di mana gelombang pesisir yang kacau
Setidaknya pagi ini sampai di pantai
ii 
Seorang anak wanita yang terkapar
Dengan wajah memar
Memeluk boneka yang juga ikut hanyut bersamanya
Serupa buah anggur
Maka ia tersenyum sambil membayangkan
Beberapa yang rontok
Akan matang tepat di atas tangannya
 iii
Sebuah perahu dengan seorang lelaki yang baru saja menghadap ke utara
Wajahnya yang terbenam matahari
Diam-diam mengelupas
Ia keluarkan seekor ular yang baru terbakar
Sebab ia yang habis basah di air laut
Merasa ingin hidup dengan insang yang lunak
Dari seekor ular yang hangus itu
Tumbuhlah sayap yang gagal
Sebuah insang yang menyelinap tumbuh dan membesar

Jakarta, Ogust 2011

 

Selasa, 30 Agustus 2011

SITA


: nanoq da kansas

cintaku padamu SITA
adalah cinta seikat rambut pada kepala 

2011, Ogust

Yang Mesti Dikatakan


kita tak sedang berbicara mengenai disket berisi adegan penyanyi saling memukuli penontonnya, Adinda. kita pun tak sedang menonton seorang pemain sirkus sedang telanjang dan menari-nari di atas papan bertali. 

demikian yang mesti kukatakan padamu sebelum berkali-kali ingin menuang air dalam gelas yang pecah. sepasang jendela terbuka, matahari yang panas, lampu diskotik tidak menyala, deretan mall ibukota, tidak dapat melunasi pembayaran tiket tidur nyenyak kita malam ini. mimipi-mimpi yang putus pada seekor cicak, menyembunyikan mataku yang bergerak.

menghisap keringatmu dari rasa dan bau, apakah mesti begitu mimpi berlaku adil padaku, Adinda?


2011, Ogust

KANSAS


lepaskan aku dari cinta
sebab aku ingin menjerit

suara-suara mesin penggiling
yang berkeliaran di dekat kamar
mengganggu mimpiku yang merdeka dengan nasibnya

sepotong apel dari kebun
yang tumbuh di atas leher
melarangku bernafas
sedang di bibirmu aku tersedak
merindukan bulan
bukan lagi sekedar merindukan namamu
yang masih harum bersama wangi kegelisahan

Bale, aku tak ingin pulang
pada paruh penari yang menjual pinggulnya

aku ingin hidup
lepaskan aku dari cinta
sebab aku ingin menjerit
aku ingin hidup
lepas dari cinta


2011, Ogust

Rabu, 06 Juli 2011

21.15

: piy
dari sepucuk surat dan dingin tembaga, seorang ibu dengan sebakul derita menggali liang di matanya

"untuk anak-anakku kalau tumbuh dewasa"

begitulah katanya ketika kami bersiap-siap membagi mimpinya dan mimpi anaknya agar bisa bangun dan merayapi tugu batu di tengah kepalanya yang kopong dan jingga

"barangkali ibu juga tak mau sia-sia. mengenai hal menggali seperti ini, ibu sudah terlatih sejak kecil dalam buaian. ibu masih ingat saat itu hujan turun sendirian. daun masih tumbuh di batang"

sebab itulah kenangan berbicara dengan panjang. dengan sabar ditelannya tubuh kami perlahan. wajah kami tenggelam. tangan kami melambai, memeluk angin, menggendong segenap gemuruh di langit yang tengah gerimis

--tahoen Dua Nol Sebelas

Senin, 06 Juni 2011

Inception


T
etapi kita melihat pada jalan yang lolong dan langit tanpa malam di atas kepala. Tetapi kita hirup sesak napas dan debu dan deru berupa gas alam yang hancur kesabarannya untuk tetap hidup di antara tipis daun di bukit atas kepala. Tetapi kita yang mendengar lagu dan menulis lagu dan suara dan lagu parau, dari tenggorokan kita yang terluka oleh kata dan bedil kata yang nakal bermain-main dengan pisau, kekecewaan mengalir menjadi darah di atas kepala. Tetapi kita yang hilang jalan sepulang bepergian di pasar swayalan dengan sepotong peta yang kita lentangkan dadanya selebar lautan yang meminum tetumbuhan dan tanah dan ranah, menuju kedalaman nubuat hingga menjadi makbul doa dan mantra di atas kepala. Tetapi kita yang menengadah tangan ke arah utara, di mana hidup awalnya muncul karena derita dan kesepian, telah menjadi-jadi bersama-sama raung yang dalam di atas air danau hijau di atas kepala. Tetapi kita tak mengerti apa-apa. Selain remuk keinginan yang tumbuh dewasa dan liar bersama alam yang menyusuinya.

2011

Jumat, 03 Juni 2011

HAMMOCK


Ever found a lady
And a man
One in a hammock
Between two palm trees
And a scissor under a leaf

Ever found a lady
And a man
And his legs
Cut down under the lips
Of a kissing before the long road
Sees the winding wind

Ever found a lady
And a man
Of sleeping nor night and day
One must be awaken up
No longer after the name were framed
Inside a lady
And a man

2011

Kamis, 02 Juni 2011

Perihal ORANG

: Gie
ORANG lahir
dari suara anjing
dari patung yang menuang air

ORANG hidup
dengan setangkup payung di atas kepalanya
dengan sepasang pipa susu yang mengalir dari bukit hijau yang beku

ORANG memakan daging
lewat sebilah pisau runcing di hutan ketiak yang bau

ORANG memancing seekor ikan mirip belalang
mirip kesabaran api panggang di tengah unggun sebelum jadi abu

ORANG mulai khawatir
melihat petir sebagai musuh yang dikirim Tuhan

melihat makam di atas langit
angin berteriak lewat knalpot kendaraan

ORANG yang tak ingin pulang
:
bertikaman maut di tengah jalan sebelum gerbang rumah
bersitegang  nyala lampu yang nyaris telanjang

2011

Kamis, 12 Mei 2011

Stoikiometri

B
entara

dan pulau
dari lima puluh lima kilometer
batok kepala yang bulat
menelan sepasang lengan dan tubuh
sebidang kaki yang pincan
                     melompat-lompat menuju lubang kancing baju

2011

Selasa, 03 Mei 2011

Semua yang Suka KEJU


T
entang sebatang KEJU dari mulut kita
Adalah waktu kanak yang berjarak lima ratus kilometer dari jurang yang mengisahkan seorang pengeran negeri seberang
Dari pelabuhan dinyalakannya lilin
Membangun bayangan yang tak pernah disaksikan lewat jendela sore

Tentang parutan KEJU dari bilah pisau
Adalah sejenak amuk yang ingin kita bangun dari sepasang taring
Yang berupa sinyal kartu dan ponsel yang kadang terlalu sering mengingat senyum jauh
Atau bahkan beberapa pasang stiker yang akrab dijumpai di pintu kulkas
Senyum dingin di atas bahu beruas
Senyum lekat di bawah gigitan seekor nyamuk betina yang gemuk
Sepintas mondar-mandir dengan sekantung darah yang dicuri dari catatan kita

Tentang apa saja yang menjadi KEJU dan rasa asin tubuhnya
Adalah kita yang mengerjakan puisi lewat jalan pintas yang tak selalu mulus melewati kegilaan
Antara kita yang bilang tawa cukup dengan haha
Tangis yang cuma jadi dengan akhiran baca titik koma
sederet tangga yang diinjak dengan kereta dan Volvo perak
kue dengan loyang lonjong dan serbuk sabit sekarat dan pucat
busway dan penumpang yang merengek di tengah jalan menuju pabrik
percakapan yang dimulai dengan vokal dan bunyi yang gaib

tentang KEJU dan penggemarnya yang menderita luka bakar
luka yang dijahit luar dalam
adalah rumah sakit dan rumah sejuk buat opa
menjelang kejutan hari jadi ke tujuh puluh
lebaran disimpan melalui kabut
yasin yang dibingkai dalam foto

: semoga anda diberi jalan dan tempat tidur super empuk ala perhotelan

2011

Jumat, 22 April 2011

Pukul Delapan April

S
esuatu yang paling sabar adalah ketika kita berjalan sendirian. Melihat burung-burung membuat sarang. Mendengar langit bergemuruh, beramai-ramai memanggil hujan. Jatuh perlahan di tubuh. Kita tak akan berlari dan menepi di bawah teras yang luas. Kita lebih merindukan dingin yang mengerat tulang. Berkali-kali bertalu menggigiti pengupingan kita. Meraibkan suara yang memanggil, menjadikan kita dibesarkan oleh mata: sepasang ruh yang kesepian.

Sebelum kita sempat melarikan diri membawa kedua kaki, tanaman kangkung dan teratai yang bernafas lebih lama dari musim tahun depan telah lebih dulu sampai mencegah langkah. Tak ada detak jantung yang ditakuti. Bahkan perpisahan dengan bumi hanya menjadi perumpamaan kelahiran tunggal paling fatal. Sebab kesalahan apa pun sudah tentu bisa dimaafkan kecuali ada yang bersalah dan disakiti.

Kereta api pukul empat sore, melaju kencang. Pemandangan hijau yang basah. Awan yang limbung di atas kawah. Serbuan hujan runtuh menyerbu badan. Pendengaran yang berkabut. Ketulian yang membuat kita melupakan mana daratan yang lembap dan berawa.

Kita bertanya, apakah hidup juga merupakan kejahatan paling konyol. Dimana kita nanti akan dikurung sepertinya tak jadi setumpuk kebebalan yang berupaya ditutupi. Mulut yang mengunci kesetiaan bahwa saksi dan sanksi sangat sulit dibedakan. Barangkali hanya nama dan nama yang terus kita hapal berpuluh tahun, enam puluh delapan rambut dan jenggot bercabang di pinggul dekat urat nadi.

Apakah, akan ada tukang besi selain kita, yang akan menulis bagaimana laut menikahi tiap gadis di malam sempurna. Atau perakit mesin ketik, yang beralih merakit alat perang-perangan untuk dijadikan rudal yang menghanguskan tanah dan cacing-cacing gambut terbakar  │?│

2011

Kamis, 21 April 2011

ASAS FRUSTASI Ayat 5


Aku lebih suka menggulung lidah kalau berbicara masalah cinta. Pagi-pagi sebelum jam tiga sudah bangun. Merapikan selimut suami yang masih ngopi sama teman kencannya si mimpi. Anak-anak kecil yang melukis wajah mereka dengan kencing.

Aku lebih suka mandi dan sabunan agak lama sebelum ke warung menyiapkan materi perkuliahan atau sembari menggosip tentang seorang penyair yang menjual ikan di dalam celana dan sajaknya. Konon fermentasi atau pengawetan dengan butir keringat di tubuhnya lebih aman dan lebih menggemukkan peternak babi yang tengah bisnis jamu MELANGSINGKAN.

Aku lebih suka manyun sambil melototi sejumlah iklan televisi yang menampilkan tubuh telanjang lelaki yang banyak ditempeli janda beranak tiga hingga tujuh kali. Sesekali dari bibir mereka, tumbuh sepasang payudara yang begitu merah dan padat.

Atau ketika seorang penjual roti dengan selai empedu hati dan usus duabelasjari sengaja mondar-mandir dan kakinya yang masih ingin memanjang satu senti tiap hari, aku lebih suka membayangkan ia bekerja di rumahku. Memasak ikan dengan rebusan sabun berkaleng. Sedang ini zaman serba modern bikin sulit kalau sudah waktunya menuju kantor dengan lebar kredit yang makin sempit.

2011

Di Jalan (PETAK) 1 Kebayoran


Kalau luka pisau tak sembuh dari rasa sakit dan nyeri, coba kau basuh dengan segelas air garam yang dikumurkan dekat gigi geraham yang berlubang. Kalau masih tak sembuh dari rasa iritasi dan gatal, cepat panggil pacarmu agar membawa kijang yang bisa ngebut sampai di rumah mantri atau dukun yang sakti di kota sebelah. Kalau luka itu, belum juga terbakar di dalam jeritan yang sepi, jalanmu yang berdampingan dengan sebuah toko rangkaian bunga yang ditulisi “kami sedang berduka dengan nyanyian” akan penuh besok pagi. Salah satu di antara mereka adalah dirimu sendiri. Diri yang ditinggal sepotong daging dengan ucapan “sampai bertemu lain kali”.

2011

Sakit INGATAN


Bertanyalah selagi belum kambuh
Selagi udara masih rindu pada usia
Dan sekantung darah di dalamnya

Tusuk bagian mana pun yang disuka
Selagi pak polisi dan hansip masih menjadi musuh
Selagi maling dan perakit peledak yang gelisah di atas hotel
Selagi banyak bintang dan kembang rontok di jalan

Oi,
Selagi kita mencium aroma ikan yang bertelur di bawah tembakau
Selagi sampai tak ingin mengatakan selamat tinggal
Selagi nanti tak ada saat kita benar-benar ligat
Menunggu dan berpeluk
Mencapai geliat yang padu. padi pada merunduk
Ilmu kita tak akan masuk surga selagi rumah sakit belum resmi tewas
Kemudian bebas dari hijrah kubur yang mawas siksa
2011

SAKIT Ingatan

Seorang lelaki datang ke rumah pacarnya dengan teka-teki. Seorang perempuan berlari, ia berteriak sambil melempar sebuah kail pada semangkuk sup kekasihnya yang tinggal separuh. Seekor ikan berenang-renang di wajahnya. Seorang ibu menghitung jumlah bulan yang tidur di kamar suaminya. Seorang anak memukul teman perempuannya yang tak pandai menendang bola ke dadanya sendiri. Sambil menangis, ia pulang mengunci diri. Dibantingnya cermin yang berdiri. Diinjaknya lantai yang baru saja nyenyak tidur sehari. Seorang nenek yang menyaksikan cucunya yang marah itu tertawa geli namun akhirnya ia kalap. Seekor burung bangkai dilepaskan dari tubuh bangkainya yang hamper mati. selepas itu ia lepaskan tulangnya satu persatu, tulang ditubuhnya yang gemelutuk segera diganti. Seekor ular betina bertelur. Lima ekor anak mereka menetas bergantian. Namun di antara mereka yang malu-malu mengaku jadi ibu cuma satu. Lantaran si anak punya sepasang kaki. Lantaran si anak lelaki yang bicara dengan bahasa mesin dan pemotong bawang bertanya apa aku seorang wanita : subuh hari turun dari gundukan gunung dengan sebakul marmer yang digali dari prasangka : sebuah perasaan yang merambat diam-diam. Menghisap debu. Kepul ombak yang diterjang. Sesampir sajak dan sesajen masa panen di sebuah lumbung di mana tuhannya lebih dulu takut kekeringan ketimbang kematian. Atau sepasang burung pipit dan burung apa saja yang melihat awan siklik berkemas datang dengan sekantung kesakitan.
2011

Sabtu, 16 April 2011

Di Bawah Langit AMPERA


: ayah bayu

Menunggu siapa lagi selain gang dan lorong yang kami umpamakan terus memaki dan berusaha bunuh diri?”

Ada banyak perempuan
Di jalan panglima yang lebar
Tikungan kota dan kawasan kota dekat muara
Paling tidak 
hidup yang berlayar di bawah Ampera
menjadi tempat tinggal paling mencekam 
di sepanjang bangun kami

Pukul tiga pagi waktu matahari
Tak banyak yang lewat
Pintu rumah dikunci
anak-anak kecil yang mengamuk manja dalam mimpi
Meneriaki rumah kami
anjing-anjing menggeliat di gerbang pabrik
listrik menjadi pucat
kerusakan arus terkadang memaksa kami terdampar dan hanyut
entah apakah teluk pun mengenal lautnya yang tak pernah kering

sebongkah batu yang makin larut
menyumbat ususparau kami yang terdengar nyaring
namun terpotong-potong

Ai... 
siapa pun yang memutar jalan di depan pagar kami
Apakah serumpun istri yang menetaskan telur di lingkar kepalanya 
tak kuat sekadar menjadi lindu yang ditunda kehancurannya  
Sedang dingin yang masuk percuma atas kami 
telah menjadi percikan meteor yang jatuh
Kerinduan di tanah
diamdiam berlubang
luput di dalam detak
luput di dalam jantung
luput dari apa pun yang membawa kesepian
mengutuk kami pada khusyuk
dan telungkup doa dengan bergantian

2011

Minggu, 10 April 2011

Palingkan Mana Saja yang Kita Anggap Sebagai Hal yang Merugikan

--mama

Kalau kau mengerti cara menghitung kapal dan induknya lautan
Mari serempak kita melangkah dengan meloncatkan kedua moncong kaki kita lebih jauh
Lebih tinggi di atas langit
Lebih dalam daripada kematian

Kelak, sebelum matahari terbit di Gordon : kota tua yang membuat kata menjadi adil. Kota yang layak menjadikan kata berbicara dari mata ke mata –menuju ke lain arah: arah di mana setumpuk surat menjadi asap-

Kalau kau arungi sesisir pantai dan kenangan di pucuk tembakau
Seribu wajah pelukis dan lukisannya berdiri di sana
-apakah mereka akan bertelur di pundakmu aku tak tahu pasti letak kebenarannya-

Kelak, sebelum matahari memagut keraguan di Gordon : rumah di atas bukit yang meninggikan bebatuan menjadi orang-orangan, kita akan mengenang ada kelembutan di tiap tusukan mereka yang suka berperang.
2011

Jumat, 08 April 2011

Neither Fondness nor Forest

tertanda rasti, pii


--terkadang orang-orang memojokkanku dengan ciuman yang menyebalkan.

Nama-nama berikut akan membantumu mengutuk batu menjadi seorang peri. Mengutuk seekor lalat menjadi sorang pelayan yang menyiapkan sarapan pagi. Meniupkan terompet untuk bangun, menyikat kamar mandi, memotong rumput, mencuci pakaian kulit, memandikan kuda jantan, menimba air laut ke dalam sumur, melubangi sungai menjadi daratan, mendengarkan music dan suara seksofon yang seksi, menulis surat iseng, berkaca sambil senyum sendiri, memberi makan ternak, menggiring kereta kuda, memadamkan lahan gambut dan kopi, memangkas bulu kenangan yang tumbuh subur di pipi



Suatu waktu
bila tak ada telinga yang benar-benar sanggup mendengar dengan mata terpejam, seorang gadis penyihir manis yang bengkak mata kanannya akan datang padamu. Menyihir bola matamu dengan seikat mantra racun tikus, menggelitiki pengupinganmu agar tak ada tanda perang yang meledak di ujung mesiu. Memberikan isyarat penting untuk hari esok tepat jam satu : hutan di rumahmu akan terbakar dan menangis. Menggigit perlahan lehermu dengan sedikit gemas. Kemudian memelukmu seperti tak ingin melepas bumi dari bawah kaki mungilnya.

Atau ketika pada suatu ruangan sumpek yang kehabisan parfum, lolongan anjing dan nakalnya malam tak dapat dihindari lagi. Kamu menjadi iri dan merengek manja membanting tubuh di dekat tangga. Kamu tidak takut luka dan lebam karena sering menyakiti dan disakiti. Itu sudah biasa. Dadamu bicara. Menusuk rumah siput secara paksa.

“aku seorang kompeni yang cantik. Seratus tahun yang tak habis, seratus tahun yang kuhitung dulu, aku sangat laris. Pinggang di tubuhku adalah pulau kelapa yang menyajikan penginapan harga murah. Siapa saja bagi pelanggan, termasuk kamu kalau mau, bisa mencobanya dengan cuma-cuma. Asal sudah buat janji dengan uang transaksi tunai. Bank mana pun di daerah ini tak akan meminjami hutang dengan alasan pribadi. Makanya, sekali-kali kamu mesti mengajakku. Berkencan dengan petugas keamanan, sesungguhnya dapat menangkupkan kedua tanganmu dengan segepok emas.

Dengan begitu, aku bisa dijadikan perempuan mainanmu. Bukankah kamu tak punya masa kecil yang bahagia? Kamu mengenal pagi, tapi kamu juga tak mengenal sekarung kabut yang kenyal dan putih. Jantungmu bisa tak karuan memompa darah. Bulu matamu terkadang merontok tiba-tiba kalau melototi prajurit yang mendorong gerobak gandum lapuk dan merah. Kamu sangat ingin kaya, tetapi lupa pada kepalamu yang mengingat wanita teriris dadu di piring makan.

Aku boleh dikuliti asal kau tahu caranya. Tak sembarang pisau tumpul bisa memotong. Telunjuk dan garis di telapak tanganmu menjadi taruhannya. Kamu akan ikut denganku karena kehabisan darah. Aku akan punya teman yang bisa diajak berdiskusi, bercinta, berbagi setan lelaki lainnya. Aku akan tersenyum dengan melupakan gincu. Aku akan berjalan dengan melepas rusuk yang patah. Aku akan pergi ke pantai dengan sepotong pohon kelapa bungkuk, di tanahku pohon itu mujarab bagi segala rahasia yang begitu takut terbuka menjadi api dan gunung yang sia-sia.”
2011

Kamis, 07 April 2011

Ganjar

-- Ganz
Mengenang petuah tak sama dengan ketika kau meneriaki kata-kata dari dalam kertas. Kertas di tangan kirimu yang sampai pada mata, membayangi kenangan saat itu :

“aku masih meraba, membayangkan seorang kakek dengan cerutu dan gading kesayangannya sedang bermain-main. Padahal seusia itu, memang wajar waktu membuatku keriput. Tapi kau menolak. Cuma kutukan yang membuatku tua dan mengenal seperti apa nikmatnya tanah.

Aku tahu Tuhan itu baik. Bukankah dalam rambutku yang berangka delapan pernah menyimpan gambar-gambar tubuh telanjang? Tujuh puluh tahun sebelum aku berkenalan dengan iblis dan setan, aku masih disebut kanak-kanak. Ibu sangat rajin memandikanku dengan sabun yang kelewat wangi. Bapak juga sering ngomel tak karuan dibuatnya.”

Seorang kakek, dari tubuh itu meluap keramahan yang hidup. Pelukan dadanya selalu bidang.
Seorang kakek, apakah kau marah kalau aku tumbuh dan tua, apakah kau akan mecubit pipiku bila besok menemukanku mencintai bunga yang merah?


--Gie
:
Oh sayang,
Dengarkan aku kali ini saja. Aku mau mengeluh terakhir kalinya.
Tentang tenggorokan dan perasaanku kemarin, sebenarnya tak benar-benar ada. Microphone di hadapanku tak akan pernah menjadi seorang kekasih yang setia. Barangkali aku pernah bilang padamu. Dalam dunia yang aku umpamakan bejana ini, microphone itu sebetulnya hidup dari seorang lelaki yang pandai menyambung kabel.

“suatu sore, tepatnya pukul empat pagi. Lelaki itu menyelinap memasuki perkampungan kami. Dua pasang gadis periang bernama Air dan Nyala telah pergi. Tak ada yang tahu. Kami saling menuduh. Membakar rumah. Berlari dan kadang terjatuh di kaki pohon, menghindar dari tujuh senjata yang konon sakti dan keramat.

Desa kami hangus. Darah menjadi keringat.”


--Pii
Aku tak pernah memaksamu memakai baju kecoklatan.

Cukup dengan nafasmu saja, aku bodoh dan buta. Kamu memang wanita. Di matamu, nasib dan air mata menjadi kawanan gagak yang menyantap kulit. Aku tak suka. Aku akui karena ini menyangkut lekukan dahi yang bertahun-tahun menghadiahiku keberanian, untuk tetap rapi. Melupakan kaos dan celana usang. Menyisir rambut dengan sekilo minyak goring murah. Menanam kancing putih di lubang kemaaluan kemeja.

Aku tak bisa mengatakan, kedua kacamata merah mudamu sangan lucu. Keanehan itu tiba-tiba saja muncul. Lenganmu yang telanjang membawa raib sepuluh celana dalamku. Kamu tersenyum. Menyeka kecemasan dan menukarnya dengan seikat gandum bertuliskan :

“akulah satu-satunya cinta. Dewi laut yang hidup tanpa jantung. Aku menghisap darah. Merokok. Memotong bayam tak rata. Aku tak mengenal asin yang melengkapi matinya sepasang panci dan kuali. Biasa saja. Aku yakin kamu mengerti. Kamu tak lelah. Kamu lelaki. Sepasang merpati tak akan menjadi utuh tanpa menikah dan kawin di depan gereja.

Tapi aku juga menyukai nabi. Dari kepala mereka, pujian dan paksaan berloncatan sebelum meledak. Aku juga akan melahap orang-orang yang sangat takut maut dan suka pada kematian. Sebab dari cucu mereka yang jujur itu, Tuhan pernah kecewa. Lalu diciptakannyalah aku padamu. Demi kesakitan yang akan membunuh kehidupan, kelahiran, aku akan senantiasa datang di sampingmu. Kamu boleh memilih. Tapi kamu tak boleh tak suka. Aku sangat suka memaksa. Bila kamu tak terima, aku akan menempeleng gundukan lemak yang lama berkuasa dengan nyenyak di perutmu!”


--Kita
Doa yang abadi, mi
Doa yang memancar dari bibirmu, bibirku.

Seorang ahli surga pernah murka, memantrai ubun-ubunku agar ketika aku menemukanmu tak berdaya, aku menjadi tersiksa. Kedua cekung alis yang dewasa dari sebatang leher yang matirasa, membuat keadaan terbalik.

Aku dibuatnya sesak. Tolol. Bengong. Jengah. Putus asa.

Harapan yang semula menjadi sepetak bukit bunga, saat ini hanya menjadi sepetak ladang yang gundul tanpa nutrisi. Rasanya, berapa kali pun aku sujud, menggeruskan hidung dan nyawa di atas pengampunan, tetap tak ada fitrah yang berubah. Dunia layar di belakangku tetap menjelma nenek-nenek yang mengunyah sirih di mulutnya. Kelengangan menjadi sangat berbisa. Masalaluku menjadi sangat dekat. Orang-orang hanya menyaksikan dan mendengar, tidak ada yang mengemini. Bulan berganti bulan. Malam juga mendung.

Selain menduga-duga, saat ini usia gagal menyiksaku menjadi pipimu yang takwa. Menyerahkan diri pada panggung tanpa dibayar sama saja dengan mengembalikan waktu pada usia. Aku pasti mati. tapi aku tak pernah yakin, kamu pun ikut mati. aku ingin menyerah. Tapi padamu, aku melarang!
2011

Kamis, 31 Maret 2011

Kaspia

Mana ada lelaki berpendidikan yang mau mendekati perempuan tambun sepertinya. Selain uang, apalagi. Hanya lelaki tolol dan brengsek yang hanya ingin menikmati uangnya.

“Sudah berapa lama kau mengenalnya”

"Belum lama. Baru dua bulan sebelas hari. Kenapa?”

“Jauhi dia. Kalau perlu pergi dari hidupnya. Kau baru mengenal luarnya. Saat ini kau masih buta. Buta cinta. Buta muka.”

“Memangnya apa yang kau tahu dari lelaki itu?”

“Banyak. Sangat sulit diceritakan. Lagi pula kau tak akan percaya.”

“Ayolah! Jangan membuatku penasaran seperti ini.”

“Yang kupikirkan bukan semata kau adalah sahabatku. Tapi kenapa dengan mudahnya, kau beri ruang masuk untuk lelaki jahanam seperti dia.”

“Aku tak mengerti maksudmu.”

“Kau tak akan mengerti. Dengan seribu satu bukti dan saksi pun, dapat kupastikan kau tetap tidak mengerti. Harusnya kau merasakan hal aneh ketika pergi berduaan dengannya.”

“Apalagi itu? Cepat ceritakan. Kau membuatku takut.”

“Sebelumnya aku pun tak percaya dengan gossip murahan yang akhir-akhir ini kudengar. Sampai suatu hari, kebenaran itu muncul dengan tiba-tiba. Ya, tak semua gosip selamanya menjadi gosip.”

“Pacarku?”

“Jangan menyebutnya pacarmu. Aku muak!”

“Kenapa Win? Jangan merahasiakan masalah ini padaku. Ceritakan apa yang mereka dank au ketahui.”

“Mungkin kau merasa jijik setelah aku membeberkan semuanya padamu. Satu hal yang mesti kau ingat. Di dunia ini tak hanya ada satu lelaki. Masih banyak lelaki yang lebih baik, lebih dapat dihargai bukan karena mukanya yang menjual. Tetapi karena komitmennya yang bisa dibuktikan.”

“Iya aku mengerti. Lalu?”

“Kau tahu kan kalau ibuku sudah lama menjanda?”

“Kalau itu sih, memang iya. Masalahnya apa?”

“Begini. Ibuku pernah bilang, sejak perceraiannya dengan mantan bapakku yang lebih memilih pelacur jalanan yang murahan itu, ia tak pernah keluar rumah. Rasa malu dan rasa sakit hati yang dirasakannya sungguh sangat menyiksa. Apalagi kalau bukan kelakuan bejat bapakku yang kerjanya cuma bisa buat ibu bunting sampai lima kali. Hasilnya, dari kelima anak itu, hanya dua yang dapat bertahan. Secara ekonomi keluargaku bisa dibilang memiliki semuanya. Mulai dari hal sepeleh sampai hal yang seketika bisa membuatmu ingin meledak.

Suatu ketika, bapak menelepon ibu. Katanya sih rindu. Alah gombal! Mana ada pasangan suami istri yang sudah pisah ranjang, tiba-tiba datang menelepon terus bilang rindu. Memangnya ibuku bodoh? Walau pun ibuku tugasnya cuma di dapur, ia masih punya hati dan akal yang bisa difungsikan dengan baik. Spontan saja ibuku marah.”

“Lelaki brengsek! Buat apa kau bilang rindu padaku? Bukankah rindumu sudah lama membusuk.”

“Kau jangan begitu padaku. Bagaimana pun, di tubuh anakmu mengalir darahku. Kalau pun aku brengsek itu karena ulahmu sendiri yang tak bisa memahami lelaki. Tiap pulang kerja bukannya disambut dengan kasih sayang, malah makian. Kerja tak bereslah. Gaji sedikitlah. Memangnya selain aku, siapa yang mau menanggung seluruh beban hidup borosmu?”

“Kau memang pandai. Pandai menipu keadaan. Pandai melipat lidah dengan begitu rapi. Lalu siapa yang saat itu berduaan bersamamu. Menginap di hotel. Tiga hari tak pulang. Kau lupa pada anak istrimu. Kami ini bukan pelayanmu yang hanya membutuhkan nafkah lahir batin.”

“Itu tidak benar. Semua yang kau lihat itu hanyalah pemandangan biasa.”

“Biasa katamu? Kau tahu kalau selama pernikahan, airmataku tak pernah jatuh sekali pun mengeluh. Tapi setelah kejadian itu, semua berubah. Kasih sayang yang kutanam hingga tumbuh akar dan daun dengan subur menjadi sia-sia.”

“Aku lelah.”

“Kau pikir dirimu saja yang merasa lelah. Dengar jahanam! Aku bisa saja membunuh atau mencincang tubuhmu dengan liar. Lalu membakar mayatmu dan membuangnya ke laut. Tapi dimana letak harga diriku?

Susah payah dua puluh lima tahun aku belajar. Demi kesetiaan yang aku percayakan padamu.”

“Bu...”

“Jangan ucapkan sebutan itu pada mantan wanitamu! Aku merasa jijik. Sakit. Bodoh. Hina”

“Kau boleh marah sesukamu. Tapi yang perlu kau ingat adalah aku terpaksa melakukannya. Tanpanya, aku tak akan bisa menyekolahkan ketiga anak kita.”

“Apa kau sudah mati rasa? Selama ini, apa yang telah kau berikan padaku, pada ketiga anakmu? Tidak ada. Semuanya sampah. Entah dari dapur mana kau memungutnya.”

“Cara bicaramu tak berubah. Terserah. Menyesal aku berlama-lama meneleponmu. Kebenaran pun mulai taka da. Keadilan sudah mati. Seperti kebutaanmu yang selalu dipenuhi rasa curiga. Wajar saja akhir hubungan ini sangat kacau.”

“Menyesal? Munafik! Aku muak denganmu!”


“Aku kaget setengah mati. Seorang ibu yang selama ini kukenal penuh kelembutan, bahkan kemarahan tampak selalu padam dari matanya tiba-tiba saja lepas. Hilang kendali.”

“Kau merasa asing?”

“Asing? Asing gimana?”

“Asing dengan fakta yang kau temukan setelah beberapa waktu tak pernah tampak dalam hidupmu.”

“Ya, mungkin saja. Tapi aku tak mau ambil pusing. Ibu tetaplah ibu. Yang memiliki kemauan keras untuk bertahan hidup.”

“Lalu dengan pacarku?”

“Hey! Kau tuli ya? Sudah kubilangkan jangan sebut dia pacarmu di hadapanku!”

“Kau jangan sinis begitu. Kau belum mengenalnya. Dia orang baik. Coba kau perhatikan matanya. Tiap wanita yang menatapnya pasti langsung luluh. Menggelepar. Atau mati saat itu juga.”

“Kau berlebihan. Dengan Tuhan pun kau tak pernah begitu. Tuhanmu pasti cemburu berat. Kau gombal!”

“Hari gini, masih gombal?”

Lah nyatanya lelakimu sendiri seperti itu. Sampai-sampai ibuku kepincut dengan tipuannya.”

“Apa?”

“Ya!”

“Win…”

“Tiga minggu yang lalu, aku tak sengaja melihat ibu merasa begitu senang. Mukanya merah. Senyum tirusnya mengembang persis sebelum petaka menimpa ibu berpisah dari bapak. Kira-kira empat puluh menit aku memperhatikannya tak pernah pergi dari depan kaca. Aku tak begitu yakin apa yang sedang iya rasakan. Hal apa yang bisa membuatnya kembali terlihat muda selain dengan bapak yang dulu. Bapak yang mengasihi ibu.
Aku perlahan masuk. Lalu sedikit menggodanya dengan gemas.

“Duh ibu. Tumben senyum-senyum sendiri. Ada apa bu? Ketiban rejeki nomplok ya?

“Ah kamu ini, bisa saja. Nggak, hanya saja ibu bosan terus terlena karena lelaki brengsek itu!”

“Ibu…”

“Tenang, ibu tahu kalau pilihan ibu sudah sangat tepat.”

Tiba-tiba ibu langsung keluar kamar. Mengambil high heelsnya yang kecoklatan. Ibu sangat suka dengan warna coklat. Katanya warna itu sangat manis dan menantang. Wanita mana saja pasti suka bila lelaki yang dikasihinya memberikan sekotak coklat dengan berbagai bentuk. Lucu. Terkesan romantic.

“Ya ampun, Bu. Ingat usia. Tahun depan usia ibu sudah menginjak empat puluh lima. Ibu tak risih melihat tetangga kita yang suka berceloteh tak karuan melihat ibu seperti ini?"

“Masa bodoh. Memangnya mereka mengerti apa tentang ibu? Toh mereka tak rugi. Ibu juga tak mengganggu mereka.”

“Ibu tak berubah.”

“Bagi wanita, perubahan itu adalah yang merugikan. Bukankah prinsip pun adalah bagian dari hidupnya?
Memang terdengar sangat mudah. Tapi nyatanya, tak semudah membalik telapak tangan. Hanya orang-orang terkasihlah yang memiliki kekuatan untuk mengubah wanita.”

“Apa ibu pernah berubah setelah mengenal bapak?”

“Hampir. Tapi tak jadi untungnya.”

“Maksud ibu?”

“Untung kejadian itu membuatku tak lagi limbung. Wanita yang berduaan dengan bapakmu, barangkali lonte yang diangkatnya jadi pegawai. Maklum, hanya wanita bodoh yang mau dipeluk suami orang tanpa ikatan yang sah. Baik hukum dan agama.”

Aku hanya tersenyum. Benar kata ibu. Jangan pernah menjadi wanita tolol. Apalagi gila harta. Ternyata tak seindah dugaanku. Hidup dikelilingi banyak uang yang melimpah, ternyata bikin buta. Lebih baik buta aksara daripada buta hati. Tapi yang namanya buta, masak ia disuruh milih? Mana ada orang yang mau terlahir buta. Ya Tuhan!


“Win? Win...”

“Iya. Ada apa?”

“Kamu masih mau cerita kan?”

“Tentang lelaki itu?”

“Iya. Siapa lagi? Habis, dari tadi kamu tiba-tiba diam. Matamu berubah merah padam. Kasian tuh, bibir digigitin sampai-sampai girigi gigimu berbekas.”

“Yang benar?”

“Kau ini. Kan cuma kita berdua yang ada di sini. Selain aku, siapa yang dari tadi serius memerhatikan pembicaraan dan raut wajahmu.”

Aku selalu tak sadar dengan apa yang kulakukan dengan bibirku. Apa pun yang aku pikirkan, semua menjadi taka da rasa. Pernah saat itu bibirku yang merah tiba-tiba mengeluarkan cairan merah. Aku mengira cairan itu jus tomat yang tumpah dari mulut. Ternyata yang keluar bukannya jus malah darah. Menyebalkan!

“Kau harus paham. Di saat kondisi wanita mabuk kepayang, lelaki dengan mudah akan menyita perhatianmu. Termasuk harta. Harta di tubuhmu saja bisa ludes dirampoknya. Dengan cuma-cuma!”

“Aku makin takut, Win.”

“Yang kau rasakan sekarang belum ada apa-apanya dibanding setelah kau mendengar cerita dariku. Kau seperti gulali atau nano-nano tiga rasa yang sering dijual di samping stasiun kereta kota ini.”

“Kenapa dengannya?”

“Kau tau kenapa ibuku berlaku begitu? Berdandan dengan make-up berlebihan. Pakaian dengan warna mencolok. Parfum mahal super wangi. Kau tahu kenapa?”

Nggak tahu. Ayolah win langsung saja.”

“Semua itu terjadi karena ulah lelakimu yang genit. Matanya mencuri hati ibuku. Aku meresa kasihan. Pada ibuku, padamu, juga lelakimu. Kenapa kalian berdua mau dan dengan suka rela diploroti habis-habisan oleh lelaki bajingan itu. Apa yang dipunya olehnya? Aku tahu, kamu sahabatku yang baik. Cerdas. Walau pun secara edukasi kamu bukan seorang sarjana. Tapi dengan menunjukkan keluluhanmu pada lelaki itu, sama saja kau menunjukkan kekuranganmu yang begitu naïf. Yang sebenarnya dapat kau tutupi dengan apa yang kau miliki.

Pukul sepuluh malam. Aku pulang ke rumah. Seharian suntuk bekerja membuat lelah. Klien yang protes pelayanan di hotel kurang memuaskan. Sebagai seorang manager, aku merasa dilecehkan. Andai mereka tahu sebenarnya aku tak mengurusi masalah di hotel saja. Tapi apa daya. Mereka juga masa bodoh dengan kehidupanku. Intinya, masalah itu hanya aku yang memiliki.

Aku sangat heran dengan pintu masuk yang tak dikunci. Lampu yang tak dinyalakan. Bau asap rokok. Padahal ibu tak pernah merokok. Apalagi ceroboh membiarkan rumah begitu saja tak dikunci. Kalau pun lampu tak menyala, mungkin ibu sudah tidur di kamar. Aku buru-buru masuk. Khawatir dengan apa yang terjadi di dalam.

Keadaan rumah sepi. Kedua adikku sudah tidur pulas. Tumpukan buku di meja belajarnya berantakan. Mungkin sumpek terus-terusan mengerjakan tugas. Selimut pun tidak pada tempatnya. Untung mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Kupikir hal itu wajar. Anak seusia mereka mengerti apa selain bosan, merengek minta dibelikan mainan.

Aku keluar kamar. Barangkali ibu juga sudah tidur. Apalagi yang dikerjakannya malam begini. Bersih-bersih? Lagi pula ada yang membersihkan. Meja ruang tamu masih bening. Kaca tak berdebu. Udara bersih.
Di dapur, aku bergegas mengambil sebotol air segar dari lemari pendingin. Dengan santainya, aku diam-diam masuk ke kamar ibu. Tapi tertahan oleh suara aneh. Ibu mengerang. Barangkali mengerang kenikmatan. Pintu kamar langsung kubuka.

Ibu tanpa busana. Seorang lelaki ada di atasnya. Kedua bukit ibu yang melar dihisap rakus. Bayi yang kelapan pun akan menghisap putting wanita dengan penuh kasih sayang. Binatang! Jahanam! Lelakikah ia yang telah menancapkan pisau berlendir di tubuh ibuku? Lelaki itukah yang kau pilih, yang sebut-sebut paling setia, yang kau cinta melebihi harga dirimu?

Airmataku tiba-tiba mongering. Ingin ku telan bulat-bulat bumi dan langit. Tapi mulutku tak cukup besar. Petaka, hinaan, fitnah, bahkan kutukan pun datang ke rumah. Jahanam mana yang tega menutuk janda beranak tiga? Ibuku tidur dengan lelaki yang kebuasaannya melebihi binatang di hutan. Kenikmatan seperti apa yang ia cari dari lelakimu? Aku muak. Aku jijik menceritakannya padamu. Karena dengan membuka semuanya, aku pun membuka aib wanita yang rela meminjamkan rahimnya bagi sebuah janin yang kelak menjadi diriku."

“Win, semua yang kau ceritakan tak benar kan? Lelakiku tak mungkin sehina itu. Aku mengenalnya dengan baik. Aku tahu siapa dia. Dari keseharian, gaya bicara, senyuman, dan tingkah lakunya tak mencerminkan ia lelaki seperti itu.”

“Masa bodoh dengan lelakimu. Aku tak mengenalnya. Bagiku lelakimu tak beda dengan binatang. Wujudnya memang manusia. Tapi hatinya iblis dungu. Liar. Gila. Saat ini ibuku dibuatnya terus-menerus gila. Gila pada kenikmatan pisau lelakimu. Aku tahu dimatanya cinta menjadi sampah. Wanita itu mengubur kekagumanku seketika. Lalu siapa aku? Apakah aku ini cinta yang dianggapnya sampah?

Sumpahku barangkali tak bisa dimaafkan. Menjadi wanita memang merugikan. Hidup, komitmen, prinsip luhur yang ditanamkan ibu menjadi sia-sia. Wanita itu sendiri yang melakukannya. Ia jual murah nasehatnya. Tubuh mulus wanita itu, bagiku penuh luka. Bau, dan tak tak enak bila disentuh. Kebiasaan sujud di tangannya tiap pagi sebelum bekerja pun sirna.

Bapak dan ibuku ternyata sama. Manusia mengerikan yang berhati iblis. Bernafsu binatang. Makanya kau jangan heran, akhir-akhir ini aku sangat gemar berceramah. Bukannya aku sok suci. Tapi melihat kondisi keluargaku yang tak beres, aku merasa malu. Aku sendiri pun tak mengerti malu pada siapa. Aku pun membenci tubuh lelaki. Tubuh penuh belatung. Lengket. Bau".

“Win, aku tak pernah melihatmu semarah ini. Aku tahu kamu kecewa. Luka batinmu mustahil sembuh seperti semula. Tapi lelakiku. Win, jagalah aku seperti roh wanita yang mendiami tubuhmu. Aku tak pedulu sesakit apa pun lukamu. Lelaki itu harusnya mati. Tak pantas hidup.”

“Kau tenang saja. Aku tak sama dengan ibuku. Punya nasehat tapi diingkari. Aku masih percaya, Tuhan atau kekuatan gaib mana pun, akan memelihara niat baik samapi niat itu terlaksana. Aku menjagamu. Kamu juga menjagaku. Aku sahabatmu. Kau juga sahabatku.”

“Aku bingung mesti kuapakan lelaki satu itu. Dibunuh?”

“Jangan. Kalau kau membunuhnya, kau sama binatangnya dengan lelakimu.”

Hush! Lagian siapa yang mau membunuhnya dengan tanganku? Bisa-bisa aku pun terkena kutukan sepertimu.”

“Brengsek kau! Kata-katamu jalang juga.”

“Ah ibumu juga jalang kok.”

Hey, jangan memulai!”

“Aku serius! Serius bercanda. Tapi, Kaspia ibumu sekarang dimana?”

“Sudah mati!”

“Kau tak bilang.”

“Buat apa?”

“Aku kan jadi tak enak mendengar ceritamu.”

“Itu biasa.”

“Biasa katamu?”

“Iya. Wanita itu mati dengan sangat mudah. Dua minggu yang lalu dengan sengaja kuselipkan banyak paku ditempat tidurnya. Saat wanita itu berbaring, ia menjerit kesakitan. Aku membiarkannya berteriak. Meraung di siang bolong. Satu jam berlalu. Tepat pukul dua belas, tak ada lagi suara. Suasana menjadi dingin. Tubuhnya menyembulkan darah. Amis dan pekat.”

“Astaga! Kau kejam!”

“Aku? Kau bilang kejam?”

“Ibumu sendiri dibunuh.”

“Mau apalagi? Nasi tak mungkin jadi padi. Terlanjur sakit hati. Wanita itu lebih baik mati!”


Sekayu, Maret 31 2011

Jumat, 25 Maret 2011

Yoshiki San


Lalu tak ada gadis yang berjalan mengitari matamu
Kecuali nampak air
Dari seberang kolam yang bening

Masturbia
Di antara lubang angina
Rambutmu menjadi gelombang yang panik

Bulan kelima mengarat dibibirmu
Kemudian mongering

suara yang muncul
dengan rapat dan mendesis
adalah tuak sepanjang lima loki dari tanganmu
hinggap pada masing-masing kuku yang berkeringat

Ketika itu rumput
Yang malu-malu membelai wajahmu
Menyelinap masuk lewat usus

Tak ada yang lebih paham
Mengenai jalan sempit
yang bermuara pada lorong becek
pada lambungmu
sebab ia mendekat
maka dikoyaknyalah kulitmu perlahan
agar hilang pedih
sampai tiba darah mengental
membusung di dadamu yang terbakar

2011

http://3.bp.blogspot.com/_rJVT53UElYs/SncxtbCUv5I/AAAAAAAACks/YOeRYK-U9Cg/s1600-h/Yoshiki+(21).jpg

Selasa, 22 Maret 2011

Fermentasi Pukul 19.24

mama

tiga ruang berdarah menekuk tepat pada rindang matamu
saat itu tak pernah engkau lupa
bagaimana terburu-buru berkemas menuju waktu
yang sudah sepuluh tahun tiba dengan terbuka
dan telentang memeluk langit
serupa wajah yang mengembang
di antara panas pemanggang

seketika matahari yang berlepasan dari kancing kemejamu
berlarian dan berloncatan
menuju lekuk bukit hidung yang tercatat telah tujuh kali
menerbitkan almanak-almanak gaib

demi kesepian yang memanggil engkau berdiam dalam tungku
serta kesakralan yang sekiranya paling lincah sekali pun
engkau akan percaya malam ini
kekasih yang engkau tinggalkan diam-diam di atas kematian
dulu sempat memiliki rindu
dari perih lipatan tangan yang mengerami kedua telapak tangannya
engkau pergi mengutuk malam
engkau berjalan dan gentayangan
2011

Kamis, 17 Maret 2011

Tak Lain Sebab Aku Sayang Padamu


Nasihatku
Bukan semata-mata menyuruhmu meringkuk sendirian tanpa mengenal api yang disulut malam hari


Kalau kau mau pulang
Keluarkan dulu semua yang masih lekat pada gigimu
Termasuk janji yang kemarin kau sangkutkan pada pipa cerutu
Bukannya sudah kubilang
Kau bisa tolol bahkan menjadi seribu kali lipat lebih tolol dari seribu keturunanmu

Begini sajalah,
Biar lebih mudah dan lebih cepat diserap
Pukul dua belas tepat nanti
Tengoklah sebentar telepon genggammu
Dari sebuah pesan yang sampai itulah
Aku sampaikan bahwa cicak-cicak nakal
yang melubangi jalan pulang yang melingkar di mulutmu
Telah menghalangiku dengan begitu kejam
Sederetan tembok-tembok penyekat mengikat leherku dengan erat
Aku dilarang berlari menuju rumahmu
Padahal kalau pun mau dihitung
Akulah yang lebih lama hapal alamat jalan rumah ketujuhmu

Walau pun aku bukanlah yang pertama
dan satu-satunya yang berada di samping rumahmu waktu itu
Setidaknya cukuplah bagi nasihatku ini
Membuatmu paham maksud hati

Jangan kau toleh lagi yang masih lekat pada gigimu!

Kalau ada kaca
Coba sekali-kali
Kau perhatikan aku

Tak ada manusia yang merasa lebih kesepian kecuali bagi mereka yang kurang perhatian
Makanya, pulanglah dengan matamu yang garang
Sebab itu sangat membantuku ngomel dan melototimu nanti di rumah

Jangan coba-coba lari
Kalau kau memang lelaki yang berani bertaruh demi cintaku
Maka datanglah
Dan lemparkan semua janji yang masih lekat pada gigimu
2011

Sabtu, 12 Maret 2011

A LA LUZ DE

a la luz de

E laluna
Engkau yang paham bahasa tubuh
Aku ingin menggeliat di wajahmu
Sebagai mata, aku ingin masuk serupa cahaya
Terang retina, terang yang menembus lubang jantungmu
Entah seperti napas mana yang paling kau sukai
Tapi konon
Dari merah lesung pipimu
Ada sebuah tanda sedalam lubang sumur
Sebab gelap, aku tak ingin masuk lagi
Kecuali engkau, E laluna
Menyalakan lampu-lampu neon
Apa pun warnanya engkau boleh memilih
Dengan cahaya mana pun
E laluna, engkau tetap memijar
menyala-nyala di hadapanku

2011

http://2.bp.blogspot.com/_0to2WKdaZko/S_pQkM_FWlI/AAAAAAAAAOA/8wFT68oP3Hg/s1600/lampu-pijar.jpg

Jumat, 04 Maret 2011

Replika

Barangkali malam sabtu
Ada banyak kelelawar keluar jendela
Di antara kota yang mati
Dan lenyap dalam peta
Seorang anak duduk menepi
Memeluk tubuhnya sendiri
Sebatang korek di keranjang
Namun lembap
Masih begitu terasa hangat

Bubuk mesiu di permukaan
Sesekali menyembul malu-malu
Dinyalakannya api
Tapi cahaya naik dan surut
dari mata mengalir sumber air
Langit beramsal lensa yang cekung
Kantung mata yang lebam
Tak bedanya seperti rumah-rumah kayu
Yang dimakan rayap
Namun sebuah ruang yang masih kosong
Dan nampak mungil
Tak cukup lebar untuk dimasuki
Kecuali beban udara
Melenguh, dan bernapas

--maaf,
Saya ini dulunya angin
Sebelum tidur
Orang-orang biasa berdoa
Kuil dan dupa terbakar
Dari mulut
Berbagai ingin, dan murka memancar
Menunjuk ke arah awan yang bergerak
Seorang dewa tertegun
Maka atas nama kesaksian di kota ini
Saya rela hidup untuk ditampar

Hingga kulit menipis
Sinyal ombak mengerut
Saya yang dibiarkan cepat busuk
Pasti nanti datang dewa memeluk
kemudian lupa
bahwa tak ada lagi suara
yang minta diberkati
diburu dengan kejam
sampai akhir lusa--
2011

Kamis, 03 Maret 2011

Gombal

menyimpan sebidang dada pada sebuah nama dapat membuat kita kesepian

Kesepian macam ini
Ketika larut datang pada sepi
Mengusap-usap hidung kita
Dengan mesra udara masuk
Pembuluh tapis, segenap itu juga
Perlahan menyapu sesisir ombak
Yang ikut tergerai dari pantai yang jauh
Hingga tiba-tiba sampai pada kamar kita
Yang belum sempat diberi warna merah jambu
Padahal sepasang cermin sudah saling barhadapan
Memburu mata kita
Bayangan lalu jatuh
Satu persatu pecah
Namun tak jauh dari bekas langkah kita duapuluh menit yang lalu
Kemudian ada suara
Angin mengetuk-ngetuk
Pintu dan jendela terbuka
Saling berpeluk
Kita memandang masing-masing mata
Ini tangan
Dan demi jantung yang pernah kita tusuk bersama
Hingga bocor dan berdarah

Nama kita melingkar serupa putting
sepasang cincin yang lekat dan mampat
Makin sempit di tubuh
Ini waktu
Mungkin sudah begitu dingin dan subuh
Atau
Ini laron yang gemar pada lampu
Kita mengalir pada tik toknya
Sampai menangkap mimpi paling aneh

O serbuk yang dahulu mengenal mantera jenis apa pun
Mata yang mana mesti kita benamkan di atas tanah dan kuburan
Agar tumbuh di atasnya tunas yang dipanah
Atau pagi bisa nyangkut berkali-kali
Dari salah satu ranting di puncaknya
Menengok kita tiap hari
2011

Senin, 28 Februari 2011

Perkenalan

selamat sore
perkenalkan saya pikun yang sering mondar-mandir tiap sore di depan warung anda
maaf mengganggu
saya saat ini bingung
anak kelima saya, si buta
dari pagi tadi belum pulang juga
maklum, pagi tadi saya menyuruhnya membeli racun ginjal tikus
di rumah saya ibu-ibu tikus pada gemar kawin
saya khawatir
nantinya si buta malah lupa jalan pulang
apalagi di persimpangan jalan rumah saya ada selokan
lubang
kuburan
tanah kosong
yang katanya mau dibuat gedung-gedung bertingkat
padahal kalau bangunan tersebut resmi dibangun
pasti keluarga saya dipaksa pindah
rumah saya digusur
hak milik tanah dibeli
dan dipindah secara paksa
jadi, saya datang ke warung anda saat ini
mau bertanya apakah anda melihat
atau bahkan sempat berbicara banyak pada si buta
rambutnya gimbal sebahu
pinggangnya agak sedikit menjorok ke dalam
dadanya lebar
mukanya runcing
alis kirinya ada garis putus-putus
kalau dia bicara seka sekali menyebut nama kekasihnya si pincang
dan yang terpenting usianya masih enam belas tahun
karena si buta
istri
adik
orang tua saya ikut ke sana kemari
keliling kampung
masuk ke rumah-rumah warga
bahkan nyelonong ke kantor pak kepala desa
sampai-sampai adik saya
si pikun dikira maling dan hampir dihakimi oleh masa
yang mungkin jumlahnya ribuan atau bahkan ratusan ribu
nah, ketakutan saya tak sampai di sini saja
baru dua jam yang lalu
tetangga saya bilang kalau si buta ditemukan tewas alias tak bernyawa
tulang rusuk kanannya retak
otaknya meleleh keluar akibat kepalanya yang pecah
konon si buta tewas karena ditabrak mobil sedan yang kebut-kebutan
tapi ada juga yang bilang si buta tewas akibat disetrum oleh petir
barangkali juga tiang listrik yang hampir semua kabelnya menyentuh tanah
oh, astaga
apakah anda dari pagi hingga sore ini melihat si buta
atau mungkin sedikit mengenali ciri-ciri anak yang sudah saya sebutkan lima menit yang lalu
tolonglah, kaki saya tak kuat lagi untuk lebih jauh berjalan
anda juga pasti sudah tahu jalan di kampung ini sangat panjang
berkelok
naik turun tanjakan
bahkan kalau dihitung-hitung mencapai dua puluh simpangan
oleh karena itu
selain saya panjang lebar bertanya sekaligus menjelaskan ciri-ciri anak saya si buta
sekalian saya mau beli kopi susu di warung anda
tapi saya maunya gak pake madu lebah
saya punya penyakit gula darah yang melebihi ukuran dari orang biasa
makanya perut saya buncit dan terdapat banyak luka yang tak sembuh di kepala saya
satu lagi
kalau tak salah di warung anda juga menyediakan jasa pijat yang istimewa
pekerjanya di datangkan langsung dari negara tetangga
ya mungkin saja dengan jasa pijat ini
semua kekesalan, kepanikan, ketakutan saya perlahan hilang
semoga!
sekian perkenalan saya pada anda
semoga perkenalan atau informasi yang sudah disampakan
dapat memberikan manfaat sekaligus mendatangkan rejeki yang banyak
amin!
terima kasih atas waktu yang telah disediakan
2011

Sabtu, 19 Februari 2011

no na in nona's no


no
na
no nona
in nona's no
nona no in nona
no nona
in no
nona in no nona
nona in
no
nona
nona's no
no na
no in no
no in na
no nona's
no in no

na
no
na no 
in no na no nona's no

2011

Selasa, 15 Februari 2011

Pengertian Sebuah Makna yang Begitu Dalam

Apalah arti pagi dan rindu yang pernah kita bincangkan pada sebuah telepon genggagm
bila tak banyak yang kita mengerti
untuk sebuah makna, semestinya kita telah lama paham
tanpa mesti berkelahi dan berguling dekat kemaluan yang dilapisi kain selimut

barangkali karena kita terlalu sering merebahkan keras kepala yang begitu menyakitkanlah
seolah ketika pagi dan rindu mulai masuk bersamaan pada mata
lalu ke jantung masing-masing
ada sebuah gejolak yang terus berontak
dan bernyanyi-nyanyi dengan suara yang senantiasa ingin berpelukan
namun begitu lirih dan mengemis-ngemis rintih

padahal tak ada lagi tempat yang lain
yang dapat kita lalui selain lubang sepatu yang hampir dimakan rayap dan kutu
untuk menuju ruang yang menjadi awal mula bertemunya pagi pada rindu

beramsalkan kita
yang dulunya benar-benar tak mampu mengerti
segala pintu masuk yang bertuliskan
"pi, mungkin dua bulan lagi kita akan menjadi sepasang merpati yang baru saja bunting. menahan luapan keringat dan gigil yang bercampur kemesraan. pada kedua tanganmu pi, mimi mau hidup damai dan tinggal lebih lama lagi. sebab baru kali ini, mimi merasa menjadi perempuan yang paling setia"

--2011

Minggu, 13 Februari 2011

Apa Saja yang Tak Luput dari Kami

bila kau lihat segumpal daging menyembul dari selangkangan
yang terluka bekas pelor panas pembunuhan lima tahun lalu
masih ada rasa nyeri
yang diam-diam memukul tubuh kami
hingga malam dan siang berlari
berkali-kali kami menghalangi dentuman yang berdenging

demi pengupingan yang bermuara pada arus pengeras suara
di kamar ini
maka saksikanlah pula
berkilo keringat diperas
lengan baju dikoyak
celanadalam merah dilucuti
lalu pada yang saat itu mati
mengalir ribuan nama kelahiran yang manis
menjadi hilang
tanpa ada yang kembali

seruan ini
seruan yang terkumpul
oleh kusam wajah kami.

retak pada kaca makin bertambah
maka makin banyak pula
lubang dari ingatan kelam kami
ditutup, lalu digali.
sementara lubang yang lain menganga.
teriak kami menguapkan awan panas.
kilang-kilang minyak telah terbakar.
kepulan harapan
dan airmata tumbuh sumbur
merimbun di ladang yang penuh darah

selain garis tahun
yang menggaib di tangan kami
saat itu tak pernah ada
kening putih yang di bawahnya
menggenang air jernih.
ikan-ikan membesar dan lapar
pinus-pinus di hutan hidup di pantai
burung pada riuh
dada kami meradang
kulit kami menguning legam
sedang arah barat dan timur saling menipu
menenggelamkan puncak-puncak rumah
tidak ada keteduhan
bahkan musim salju yang datang minggu depan
barangkali tidak mau turun
barangkali juga di atas sana
musim-musim yang nantinya sampai di sini
merasa cukup tolol untuk berkasih-kasihan

lima tahun kami didera dan
diterkam luka-luka
seribu lubang tertutup dan menganga.
di padang yang penuh penghayatan dan amarah,
lima tahun pada cekung mata yang terus menggali
kami ingin lepas dan berlari

2011

Sabtu, 12 Februari 2011

Tentang Suatu Malam dan Secangkir Kopi

Siapa tak kenal langit merah di bawah dada wanita yang mendekap anaknya
Siapa tak mengenal bunyi jantung dan meriam yang memoncongkan bom-bomnya
Di tengah pemukiman rumah-rumah semut dan ratunya
Siapa tak mengenal terompet dan tarian rumbai yang muncul
pada ledakan pertama kembang dan lidah apinya
Tidak akan mungkin mengenal ibu yang tertelungkup dumakan batu
Tidak akan mungkin mengenal bahwa saat itu juga
ada tiga anak yang ribut di tengah kawah asam
Saling ribut bertikam-tikaman de bawah tajam lading

Sebab tidak ada garam yang muncul
Dari pecahan gula dan air setelah yang tak mengenal itu berani menuang minuman
Serupa kopi, dan air hangat yang tiba-tiba menjadikan cangkirnya penuh
Dapurnya yang putih dijadikan berkabut-kalut

Maka dari sendok dan nampan berpayet bunya melati
Diaduknyalah si kopi agar jadi.

Kemudian yang tak mengenal itu pun mencungkil putih melati di nampannya
“Biar bisa ditabur, dan warnanya jadi lebih cerah
Tak jadi hitam saja.
Bukan kopi namanya kalau tak nikmat dan harum”

Begitu yang tak mengenal itu katakan,
Ia pergi tanpa mencuci sendok yang kotor oleh masalalunya

Sambil santai dan duduk-duduk di kursi panjang depan televise
Dan secangkir kopi cerah yang enak lagi nikmat
Yang tak mengenal itu akhirnya puas
Mencapai waktu antara kopi dan dapur
Yang jauh dari ingatan rupanya tak sama
Menempelkan sepasang pantat yang berat di atas kursi panjang
Depan televise yang tombol-tombol volumenya sudah berkarat

2011

Minggu, 30 Januari 2011

Semisal Ucapan Good Morning



Semisal suara keindahan dan suara pagi
Memanggil burung yang lindap di balik daun
Dan ranting, semisal udara ditempa
Embun dan butir air yang dingin, semisal itulah
Tujuh langit purnama muncul dari gelombang mimpi
Semisal itulah gelombang tujuh batu samudera
Menepis-nepis pantai dan pohon kelapa

Semisal air yang mengasihi asin laut
Dan licin kulit ikan, semisal danau-danau
Ditumbuhi bebatuan yang panjang
Dan karang, semisal itulah
Nama dan penghujung angka berawal dari almanac
Menyimpan banyak symbol dan menyembunyikan tekateki

Semisal apa yang kita terka
Mengenai penciptaan dan penciptanya
Maka semisal tubuh dan tangan dibolakbalik
Lalu datang kembali masamasa kekacauan yang lampau
Gunung dan api terus memompa daratan yang kering
Awan dan hujan mengisi lubang palung yang dalam
Tanah dan akar menggaligali dekat sumber
Ini bunga dan mahkota yang masih merah
Dan berbukubuku
Menelungkupkan kita yang begitu ingin dilahirkan
Lewat lorong gelap di bawah putik

dan pusar
Semisal kita nanti tumbuh
Maka semisal penciptaan awal dan akhirlah
Segala semisal yang diumpamakan
Berawal menjadi kesejatian

2011

Senin, 10 Januari 2011

The Measurement of What You Read




Engkau membaca kertas dan cahaya
Yang bersimpangan jaraknya
Antara jauh dan bentuk yang kasar
Barangkali bayangan akan menipumu
Dari balik mata yang kopong
Dan tanpa retina yang berarti
Engkau tak mungkin melihat dan merasa
Bahwa cahaya dan kertas
Tak pernah menjadi nyata

Sedangkan di depan microphone
Barusaja engkau lantangkan
Makna yang berpusing berkeliling
Apa yang sebenarnya sedang dibacakan

Serupa kekosongan
Tidak ada suatu apapun
Yang bisa dibawa menjadi bukti yang pasti
Engkau saat ini buta
Membaca segala ranah dan benda benda
Yang terkadang sederhana dan asing

2011
 http://www.ces.fas.harvard.edu/conferences/futurism/images/ppl/ScappettoneJennifer.jpg

Kamis, 06 Januari 2011

Sajak Penjual Buah

Sajak Penjual Buah


Bagaimana daun manggis itu berdarah
Kini menjadi urusan saya juga.
Tak bisa begitu dan tak bisa dibiarkan begitu saja
Tiba tiba jumlah buahnya bertambah
Tiba tiba yang putih ada sepuluh
Tiba tiba yang jingga ada enam
Tiba tiba yang merah pun jadi sepuluh

Bayangkan saja betapa ajaibnya
Yang menjadikan buah manggis itu diheran herankan
Bukanlah siapa dan apa yang nanti menjadi dampak
Dan wabah yang bakal dijangkit pada penduduk
Lanjut usia, tetapi efek pada pikiran yang dipaksa
Dan dipukul pukul sebab dikira berbahaya
Bagi siapa saja yang pernah mempermasalahkannya

"Nah kamu!
Ayo ikut saya
Ini, cobalah barang sedikit buah manggis ajaib
Konon, warnalah yang membuatnya sakti mandraguna
Segala penyakit ingatan dan bala bisa ditolak mentah
Segala keraguan segala rasa heran
Bisa dihapuskan dengan jaminan
Kamu makan ini buah manggis
Kamu dapat untung hilang segala penyakit
Saya pun dapat uang!"

2011

Rabu, 05 Januari 2011

Sebuah Renungan Berangka 00.41


Sebuah Renungan Berangka 00.41


agar kau mengerti
berdirilah di depan cermin itu.
perhatikan berapa banyak
kelahiran yang menuntut
kegelisahan dan
menukarnya dengan seputing dada
terbelah. agar kau
mengerti bagaimana perlahan
kura-kura bersembunyi diamdiam
di bawah kurungan cuaca
berdirilah di depan cermin itu.
hitung berapa lama kura-kura
mampu bertahan tanpa
kembali mengenalkan
waktu dan berjuang keras
mendongakkan kepala untuk bernafas.
mengertilah kau
bahwa ruang pun
butuh sedikit ruang lagi
agar dapat menaruh nyawa
untuk hidup bertaruh pada waktu

2011

Selasa, 04 Januari 2011

Epitaf di Tahun Sebelas

Epitaf di Tahun Sebelas


epitaf

atas nama wanita
yang sepuluh tahun silam
pernah menjadi puteri seorang adam
dan ibunya Eva,
hari ini telah berpulang
menuju rumah yang teduh
di bawah langit
di atas bumi
wanita itu digantung
demi kesaksian yang menyatakan
tak ada surga bagi anak adam dan eva
yang lainnya.
Tak ada neraka
Bagi cucu anak adam dan eva
Setelahnya. Kecuali
Kematian yang begitu lapang
Menyusut di bagian liang
Yang berpetak dan persegi.


--

Mengenang basah sesudah itu
Mengenang tanah merah
Yang melumat hancur tubuhnya
Hingga langkah ke tujuh
Adam dan Eva benar-benar pergi
Lenyap menjadi sepasang kekasih
Yang dikutuk turun menyerahkan
Wanitanya demi
Kehidupan yang berlangsung
Tanpa ada kematian
Yang terjadi berulangkali
Setelah pergolakan
Antara Tuhan dan mereka
mereda

2011