Senin, 28 Februari 2011

Perkenalan

selamat sore
perkenalkan saya pikun yang sering mondar-mandir tiap sore di depan warung anda
maaf mengganggu
saya saat ini bingung
anak kelima saya, si buta
dari pagi tadi belum pulang juga
maklum, pagi tadi saya menyuruhnya membeli racun ginjal tikus
di rumah saya ibu-ibu tikus pada gemar kawin
saya khawatir
nantinya si buta malah lupa jalan pulang
apalagi di persimpangan jalan rumah saya ada selokan
lubang
kuburan
tanah kosong
yang katanya mau dibuat gedung-gedung bertingkat
padahal kalau bangunan tersebut resmi dibangun
pasti keluarga saya dipaksa pindah
rumah saya digusur
hak milik tanah dibeli
dan dipindah secara paksa
jadi, saya datang ke warung anda saat ini
mau bertanya apakah anda melihat
atau bahkan sempat berbicara banyak pada si buta
rambutnya gimbal sebahu
pinggangnya agak sedikit menjorok ke dalam
dadanya lebar
mukanya runcing
alis kirinya ada garis putus-putus
kalau dia bicara seka sekali menyebut nama kekasihnya si pincang
dan yang terpenting usianya masih enam belas tahun
karena si buta
istri
adik
orang tua saya ikut ke sana kemari
keliling kampung
masuk ke rumah-rumah warga
bahkan nyelonong ke kantor pak kepala desa
sampai-sampai adik saya
si pikun dikira maling dan hampir dihakimi oleh masa
yang mungkin jumlahnya ribuan atau bahkan ratusan ribu
nah, ketakutan saya tak sampai di sini saja
baru dua jam yang lalu
tetangga saya bilang kalau si buta ditemukan tewas alias tak bernyawa
tulang rusuk kanannya retak
otaknya meleleh keluar akibat kepalanya yang pecah
konon si buta tewas karena ditabrak mobil sedan yang kebut-kebutan
tapi ada juga yang bilang si buta tewas akibat disetrum oleh petir
barangkali juga tiang listrik yang hampir semua kabelnya menyentuh tanah
oh, astaga
apakah anda dari pagi hingga sore ini melihat si buta
atau mungkin sedikit mengenali ciri-ciri anak yang sudah saya sebutkan lima menit yang lalu
tolonglah, kaki saya tak kuat lagi untuk lebih jauh berjalan
anda juga pasti sudah tahu jalan di kampung ini sangat panjang
berkelok
naik turun tanjakan
bahkan kalau dihitung-hitung mencapai dua puluh simpangan
oleh karena itu
selain saya panjang lebar bertanya sekaligus menjelaskan ciri-ciri anak saya si buta
sekalian saya mau beli kopi susu di warung anda
tapi saya maunya gak pake madu lebah
saya punya penyakit gula darah yang melebihi ukuran dari orang biasa
makanya perut saya buncit dan terdapat banyak luka yang tak sembuh di kepala saya
satu lagi
kalau tak salah di warung anda juga menyediakan jasa pijat yang istimewa
pekerjanya di datangkan langsung dari negara tetangga
ya mungkin saja dengan jasa pijat ini
semua kekesalan, kepanikan, ketakutan saya perlahan hilang
semoga!
sekian perkenalan saya pada anda
semoga perkenalan atau informasi yang sudah disampakan
dapat memberikan manfaat sekaligus mendatangkan rejeki yang banyak
amin!
terima kasih atas waktu yang telah disediakan
2011

Sabtu, 19 Februari 2011

no na in nona's no


no
na
no nona
in nona's no
nona no in nona
no nona
in no
nona in no nona
nona in
no
nona
nona's no
no na
no in no
no in na
no nona's
no in no

na
no
na no 
in no na no nona's no

2011

Selasa, 15 Februari 2011

Pengertian Sebuah Makna yang Begitu Dalam

Apalah arti pagi dan rindu yang pernah kita bincangkan pada sebuah telepon genggagm
bila tak banyak yang kita mengerti
untuk sebuah makna, semestinya kita telah lama paham
tanpa mesti berkelahi dan berguling dekat kemaluan yang dilapisi kain selimut

barangkali karena kita terlalu sering merebahkan keras kepala yang begitu menyakitkanlah
seolah ketika pagi dan rindu mulai masuk bersamaan pada mata
lalu ke jantung masing-masing
ada sebuah gejolak yang terus berontak
dan bernyanyi-nyanyi dengan suara yang senantiasa ingin berpelukan
namun begitu lirih dan mengemis-ngemis rintih

padahal tak ada lagi tempat yang lain
yang dapat kita lalui selain lubang sepatu yang hampir dimakan rayap dan kutu
untuk menuju ruang yang menjadi awal mula bertemunya pagi pada rindu

beramsalkan kita
yang dulunya benar-benar tak mampu mengerti
segala pintu masuk yang bertuliskan
"pi, mungkin dua bulan lagi kita akan menjadi sepasang merpati yang baru saja bunting. menahan luapan keringat dan gigil yang bercampur kemesraan. pada kedua tanganmu pi, mimi mau hidup damai dan tinggal lebih lama lagi. sebab baru kali ini, mimi merasa menjadi perempuan yang paling setia"

--2011

Minggu, 13 Februari 2011

Apa Saja yang Tak Luput dari Kami

bila kau lihat segumpal daging menyembul dari selangkangan
yang terluka bekas pelor panas pembunuhan lima tahun lalu
masih ada rasa nyeri
yang diam-diam memukul tubuh kami
hingga malam dan siang berlari
berkali-kali kami menghalangi dentuman yang berdenging

demi pengupingan yang bermuara pada arus pengeras suara
di kamar ini
maka saksikanlah pula
berkilo keringat diperas
lengan baju dikoyak
celanadalam merah dilucuti
lalu pada yang saat itu mati
mengalir ribuan nama kelahiran yang manis
menjadi hilang
tanpa ada yang kembali

seruan ini
seruan yang terkumpul
oleh kusam wajah kami.

retak pada kaca makin bertambah
maka makin banyak pula
lubang dari ingatan kelam kami
ditutup, lalu digali.
sementara lubang yang lain menganga.
teriak kami menguapkan awan panas.
kilang-kilang minyak telah terbakar.
kepulan harapan
dan airmata tumbuh sumbur
merimbun di ladang yang penuh darah

selain garis tahun
yang menggaib di tangan kami
saat itu tak pernah ada
kening putih yang di bawahnya
menggenang air jernih.
ikan-ikan membesar dan lapar
pinus-pinus di hutan hidup di pantai
burung pada riuh
dada kami meradang
kulit kami menguning legam
sedang arah barat dan timur saling menipu
menenggelamkan puncak-puncak rumah
tidak ada keteduhan
bahkan musim salju yang datang minggu depan
barangkali tidak mau turun
barangkali juga di atas sana
musim-musim yang nantinya sampai di sini
merasa cukup tolol untuk berkasih-kasihan

lima tahun kami didera dan
diterkam luka-luka
seribu lubang tertutup dan menganga.
di padang yang penuh penghayatan dan amarah,
lima tahun pada cekung mata yang terus menggali
kami ingin lepas dan berlari

2011

Sabtu, 12 Februari 2011

Tentang Suatu Malam dan Secangkir Kopi

Siapa tak kenal langit merah di bawah dada wanita yang mendekap anaknya
Siapa tak mengenal bunyi jantung dan meriam yang memoncongkan bom-bomnya
Di tengah pemukiman rumah-rumah semut dan ratunya
Siapa tak mengenal terompet dan tarian rumbai yang muncul
pada ledakan pertama kembang dan lidah apinya
Tidak akan mungkin mengenal ibu yang tertelungkup dumakan batu
Tidak akan mungkin mengenal bahwa saat itu juga
ada tiga anak yang ribut di tengah kawah asam
Saling ribut bertikam-tikaman de bawah tajam lading

Sebab tidak ada garam yang muncul
Dari pecahan gula dan air setelah yang tak mengenal itu berani menuang minuman
Serupa kopi, dan air hangat yang tiba-tiba menjadikan cangkirnya penuh
Dapurnya yang putih dijadikan berkabut-kalut

Maka dari sendok dan nampan berpayet bunya melati
Diaduknyalah si kopi agar jadi.

Kemudian yang tak mengenal itu pun mencungkil putih melati di nampannya
“Biar bisa ditabur, dan warnanya jadi lebih cerah
Tak jadi hitam saja.
Bukan kopi namanya kalau tak nikmat dan harum”

Begitu yang tak mengenal itu katakan,
Ia pergi tanpa mencuci sendok yang kotor oleh masalalunya

Sambil santai dan duduk-duduk di kursi panjang depan televise
Dan secangkir kopi cerah yang enak lagi nikmat
Yang tak mengenal itu akhirnya puas
Mencapai waktu antara kopi dan dapur
Yang jauh dari ingatan rupanya tak sama
Menempelkan sepasang pantat yang berat di atas kursi panjang
Depan televise yang tombol-tombol volumenya sudah berkarat

2011