Kamis, 31 Maret 2011

Kaspia

Mana ada lelaki berpendidikan yang mau mendekati perempuan tambun sepertinya. Selain uang, apalagi. Hanya lelaki tolol dan brengsek yang hanya ingin menikmati uangnya.

“Sudah berapa lama kau mengenalnya”

"Belum lama. Baru dua bulan sebelas hari. Kenapa?”

“Jauhi dia. Kalau perlu pergi dari hidupnya. Kau baru mengenal luarnya. Saat ini kau masih buta. Buta cinta. Buta muka.”

“Memangnya apa yang kau tahu dari lelaki itu?”

“Banyak. Sangat sulit diceritakan. Lagi pula kau tak akan percaya.”

“Ayolah! Jangan membuatku penasaran seperti ini.”

“Yang kupikirkan bukan semata kau adalah sahabatku. Tapi kenapa dengan mudahnya, kau beri ruang masuk untuk lelaki jahanam seperti dia.”

“Aku tak mengerti maksudmu.”

“Kau tak akan mengerti. Dengan seribu satu bukti dan saksi pun, dapat kupastikan kau tetap tidak mengerti. Harusnya kau merasakan hal aneh ketika pergi berduaan dengannya.”

“Apalagi itu? Cepat ceritakan. Kau membuatku takut.”

“Sebelumnya aku pun tak percaya dengan gossip murahan yang akhir-akhir ini kudengar. Sampai suatu hari, kebenaran itu muncul dengan tiba-tiba. Ya, tak semua gosip selamanya menjadi gosip.”

“Pacarku?”

“Jangan menyebutnya pacarmu. Aku muak!”

“Kenapa Win? Jangan merahasiakan masalah ini padaku. Ceritakan apa yang mereka dank au ketahui.”

“Mungkin kau merasa jijik setelah aku membeberkan semuanya padamu. Satu hal yang mesti kau ingat. Di dunia ini tak hanya ada satu lelaki. Masih banyak lelaki yang lebih baik, lebih dapat dihargai bukan karena mukanya yang menjual. Tetapi karena komitmennya yang bisa dibuktikan.”

“Iya aku mengerti. Lalu?”

“Kau tahu kan kalau ibuku sudah lama menjanda?”

“Kalau itu sih, memang iya. Masalahnya apa?”

“Begini. Ibuku pernah bilang, sejak perceraiannya dengan mantan bapakku yang lebih memilih pelacur jalanan yang murahan itu, ia tak pernah keluar rumah. Rasa malu dan rasa sakit hati yang dirasakannya sungguh sangat menyiksa. Apalagi kalau bukan kelakuan bejat bapakku yang kerjanya cuma bisa buat ibu bunting sampai lima kali. Hasilnya, dari kelima anak itu, hanya dua yang dapat bertahan. Secara ekonomi keluargaku bisa dibilang memiliki semuanya. Mulai dari hal sepeleh sampai hal yang seketika bisa membuatmu ingin meledak.

Suatu ketika, bapak menelepon ibu. Katanya sih rindu. Alah gombal! Mana ada pasangan suami istri yang sudah pisah ranjang, tiba-tiba datang menelepon terus bilang rindu. Memangnya ibuku bodoh? Walau pun ibuku tugasnya cuma di dapur, ia masih punya hati dan akal yang bisa difungsikan dengan baik. Spontan saja ibuku marah.”

“Lelaki brengsek! Buat apa kau bilang rindu padaku? Bukankah rindumu sudah lama membusuk.”

“Kau jangan begitu padaku. Bagaimana pun, di tubuh anakmu mengalir darahku. Kalau pun aku brengsek itu karena ulahmu sendiri yang tak bisa memahami lelaki. Tiap pulang kerja bukannya disambut dengan kasih sayang, malah makian. Kerja tak bereslah. Gaji sedikitlah. Memangnya selain aku, siapa yang mau menanggung seluruh beban hidup borosmu?”

“Kau memang pandai. Pandai menipu keadaan. Pandai melipat lidah dengan begitu rapi. Lalu siapa yang saat itu berduaan bersamamu. Menginap di hotel. Tiga hari tak pulang. Kau lupa pada anak istrimu. Kami ini bukan pelayanmu yang hanya membutuhkan nafkah lahir batin.”

“Itu tidak benar. Semua yang kau lihat itu hanyalah pemandangan biasa.”

“Biasa katamu? Kau tahu kalau selama pernikahan, airmataku tak pernah jatuh sekali pun mengeluh. Tapi setelah kejadian itu, semua berubah. Kasih sayang yang kutanam hingga tumbuh akar dan daun dengan subur menjadi sia-sia.”

“Aku lelah.”

“Kau pikir dirimu saja yang merasa lelah. Dengar jahanam! Aku bisa saja membunuh atau mencincang tubuhmu dengan liar. Lalu membakar mayatmu dan membuangnya ke laut. Tapi dimana letak harga diriku?

Susah payah dua puluh lima tahun aku belajar. Demi kesetiaan yang aku percayakan padamu.”

“Bu...”

“Jangan ucapkan sebutan itu pada mantan wanitamu! Aku merasa jijik. Sakit. Bodoh. Hina”

“Kau boleh marah sesukamu. Tapi yang perlu kau ingat adalah aku terpaksa melakukannya. Tanpanya, aku tak akan bisa menyekolahkan ketiga anak kita.”

“Apa kau sudah mati rasa? Selama ini, apa yang telah kau berikan padaku, pada ketiga anakmu? Tidak ada. Semuanya sampah. Entah dari dapur mana kau memungutnya.”

“Cara bicaramu tak berubah. Terserah. Menyesal aku berlama-lama meneleponmu. Kebenaran pun mulai taka da. Keadilan sudah mati. Seperti kebutaanmu yang selalu dipenuhi rasa curiga. Wajar saja akhir hubungan ini sangat kacau.”

“Menyesal? Munafik! Aku muak denganmu!”


“Aku kaget setengah mati. Seorang ibu yang selama ini kukenal penuh kelembutan, bahkan kemarahan tampak selalu padam dari matanya tiba-tiba saja lepas. Hilang kendali.”

“Kau merasa asing?”

“Asing? Asing gimana?”

“Asing dengan fakta yang kau temukan setelah beberapa waktu tak pernah tampak dalam hidupmu.”

“Ya, mungkin saja. Tapi aku tak mau ambil pusing. Ibu tetaplah ibu. Yang memiliki kemauan keras untuk bertahan hidup.”

“Lalu dengan pacarku?”

“Hey! Kau tuli ya? Sudah kubilangkan jangan sebut dia pacarmu di hadapanku!”

“Kau jangan sinis begitu. Kau belum mengenalnya. Dia orang baik. Coba kau perhatikan matanya. Tiap wanita yang menatapnya pasti langsung luluh. Menggelepar. Atau mati saat itu juga.”

“Kau berlebihan. Dengan Tuhan pun kau tak pernah begitu. Tuhanmu pasti cemburu berat. Kau gombal!”

“Hari gini, masih gombal?”

Lah nyatanya lelakimu sendiri seperti itu. Sampai-sampai ibuku kepincut dengan tipuannya.”

“Apa?”

“Ya!”

“Win…”

“Tiga minggu yang lalu, aku tak sengaja melihat ibu merasa begitu senang. Mukanya merah. Senyum tirusnya mengembang persis sebelum petaka menimpa ibu berpisah dari bapak. Kira-kira empat puluh menit aku memperhatikannya tak pernah pergi dari depan kaca. Aku tak begitu yakin apa yang sedang iya rasakan. Hal apa yang bisa membuatnya kembali terlihat muda selain dengan bapak yang dulu. Bapak yang mengasihi ibu.
Aku perlahan masuk. Lalu sedikit menggodanya dengan gemas.

“Duh ibu. Tumben senyum-senyum sendiri. Ada apa bu? Ketiban rejeki nomplok ya?

“Ah kamu ini, bisa saja. Nggak, hanya saja ibu bosan terus terlena karena lelaki brengsek itu!”

“Ibu…”

“Tenang, ibu tahu kalau pilihan ibu sudah sangat tepat.”

Tiba-tiba ibu langsung keluar kamar. Mengambil high heelsnya yang kecoklatan. Ibu sangat suka dengan warna coklat. Katanya warna itu sangat manis dan menantang. Wanita mana saja pasti suka bila lelaki yang dikasihinya memberikan sekotak coklat dengan berbagai bentuk. Lucu. Terkesan romantic.

“Ya ampun, Bu. Ingat usia. Tahun depan usia ibu sudah menginjak empat puluh lima. Ibu tak risih melihat tetangga kita yang suka berceloteh tak karuan melihat ibu seperti ini?"

“Masa bodoh. Memangnya mereka mengerti apa tentang ibu? Toh mereka tak rugi. Ibu juga tak mengganggu mereka.”

“Ibu tak berubah.”

“Bagi wanita, perubahan itu adalah yang merugikan. Bukankah prinsip pun adalah bagian dari hidupnya?
Memang terdengar sangat mudah. Tapi nyatanya, tak semudah membalik telapak tangan. Hanya orang-orang terkasihlah yang memiliki kekuatan untuk mengubah wanita.”

“Apa ibu pernah berubah setelah mengenal bapak?”

“Hampir. Tapi tak jadi untungnya.”

“Maksud ibu?”

“Untung kejadian itu membuatku tak lagi limbung. Wanita yang berduaan dengan bapakmu, barangkali lonte yang diangkatnya jadi pegawai. Maklum, hanya wanita bodoh yang mau dipeluk suami orang tanpa ikatan yang sah. Baik hukum dan agama.”

Aku hanya tersenyum. Benar kata ibu. Jangan pernah menjadi wanita tolol. Apalagi gila harta. Ternyata tak seindah dugaanku. Hidup dikelilingi banyak uang yang melimpah, ternyata bikin buta. Lebih baik buta aksara daripada buta hati. Tapi yang namanya buta, masak ia disuruh milih? Mana ada orang yang mau terlahir buta. Ya Tuhan!


“Win? Win...”

“Iya. Ada apa?”

“Kamu masih mau cerita kan?”

“Tentang lelaki itu?”

“Iya. Siapa lagi? Habis, dari tadi kamu tiba-tiba diam. Matamu berubah merah padam. Kasian tuh, bibir digigitin sampai-sampai girigi gigimu berbekas.”

“Yang benar?”

“Kau ini. Kan cuma kita berdua yang ada di sini. Selain aku, siapa yang dari tadi serius memerhatikan pembicaraan dan raut wajahmu.”

Aku selalu tak sadar dengan apa yang kulakukan dengan bibirku. Apa pun yang aku pikirkan, semua menjadi taka da rasa. Pernah saat itu bibirku yang merah tiba-tiba mengeluarkan cairan merah. Aku mengira cairan itu jus tomat yang tumpah dari mulut. Ternyata yang keluar bukannya jus malah darah. Menyebalkan!

“Kau harus paham. Di saat kondisi wanita mabuk kepayang, lelaki dengan mudah akan menyita perhatianmu. Termasuk harta. Harta di tubuhmu saja bisa ludes dirampoknya. Dengan cuma-cuma!”

“Aku makin takut, Win.”

“Yang kau rasakan sekarang belum ada apa-apanya dibanding setelah kau mendengar cerita dariku. Kau seperti gulali atau nano-nano tiga rasa yang sering dijual di samping stasiun kereta kota ini.”

“Kenapa dengannya?”

“Kau tau kenapa ibuku berlaku begitu? Berdandan dengan make-up berlebihan. Pakaian dengan warna mencolok. Parfum mahal super wangi. Kau tahu kenapa?”

Nggak tahu. Ayolah win langsung saja.”

“Semua itu terjadi karena ulah lelakimu yang genit. Matanya mencuri hati ibuku. Aku meresa kasihan. Pada ibuku, padamu, juga lelakimu. Kenapa kalian berdua mau dan dengan suka rela diploroti habis-habisan oleh lelaki bajingan itu. Apa yang dipunya olehnya? Aku tahu, kamu sahabatku yang baik. Cerdas. Walau pun secara edukasi kamu bukan seorang sarjana. Tapi dengan menunjukkan keluluhanmu pada lelaki itu, sama saja kau menunjukkan kekuranganmu yang begitu naïf. Yang sebenarnya dapat kau tutupi dengan apa yang kau miliki.

Pukul sepuluh malam. Aku pulang ke rumah. Seharian suntuk bekerja membuat lelah. Klien yang protes pelayanan di hotel kurang memuaskan. Sebagai seorang manager, aku merasa dilecehkan. Andai mereka tahu sebenarnya aku tak mengurusi masalah di hotel saja. Tapi apa daya. Mereka juga masa bodoh dengan kehidupanku. Intinya, masalah itu hanya aku yang memiliki.

Aku sangat heran dengan pintu masuk yang tak dikunci. Lampu yang tak dinyalakan. Bau asap rokok. Padahal ibu tak pernah merokok. Apalagi ceroboh membiarkan rumah begitu saja tak dikunci. Kalau pun lampu tak menyala, mungkin ibu sudah tidur di kamar. Aku buru-buru masuk. Khawatir dengan apa yang terjadi di dalam.

Keadaan rumah sepi. Kedua adikku sudah tidur pulas. Tumpukan buku di meja belajarnya berantakan. Mungkin sumpek terus-terusan mengerjakan tugas. Selimut pun tidak pada tempatnya. Untung mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Kupikir hal itu wajar. Anak seusia mereka mengerti apa selain bosan, merengek minta dibelikan mainan.

Aku keluar kamar. Barangkali ibu juga sudah tidur. Apalagi yang dikerjakannya malam begini. Bersih-bersih? Lagi pula ada yang membersihkan. Meja ruang tamu masih bening. Kaca tak berdebu. Udara bersih.
Di dapur, aku bergegas mengambil sebotol air segar dari lemari pendingin. Dengan santainya, aku diam-diam masuk ke kamar ibu. Tapi tertahan oleh suara aneh. Ibu mengerang. Barangkali mengerang kenikmatan. Pintu kamar langsung kubuka.

Ibu tanpa busana. Seorang lelaki ada di atasnya. Kedua bukit ibu yang melar dihisap rakus. Bayi yang kelapan pun akan menghisap putting wanita dengan penuh kasih sayang. Binatang! Jahanam! Lelakikah ia yang telah menancapkan pisau berlendir di tubuh ibuku? Lelaki itukah yang kau pilih, yang sebut-sebut paling setia, yang kau cinta melebihi harga dirimu?

Airmataku tiba-tiba mongering. Ingin ku telan bulat-bulat bumi dan langit. Tapi mulutku tak cukup besar. Petaka, hinaan, fitnah, bahkan kutukan pun datang ke rumah. Jahanam mana yang tega menutuk janda beranak tiga? Ibuku tidur dengan lelaki yang kebuasaannya melebihi binatang di hutan. Kenikmatan seperti apa yang ia cari dari lelakimu? Aku muak. Aku jijik menceritakannya padamu. Karena dengan membuka semuanya, aku pun membuka aib wanita yang rela meminjamkan rahimnya bagi sebuah janin yang kelak menjadi diriku."

“Win, semua yang kau ceritakan tak benar kan? Lelakiku tak mungkin sehina itu. Aku mengenalnya dengan baik. Aku tahu siapa dia. Dari keseharian, gaya bicara, senyuman, dan tingkah lakunya tak mencerminkan ia lelaki seperti itu.”

“Masa bodoh dengan lelakimu. Aku tak mengenalnya. Bagiku lelakimu tak beda dengan binatang. Wujudnya memang manusia. Tapi hatinya iblis dungu. Liar. Gila. Saat ini ibuku dibuatnya terus-menerus gila. Gila pada kenikmatan pisau lelakimu. Aku tahu dimatanya cinta menjadi sampah. Wanita itu mengubur kekagumanku seketika. Lalu siapa aku? Apakah aku ini cinta yang dianggapnya sampah?

Sumpahku barangkali tak bisa dimaafkan. Menjadi wanita memang merugikan. Hidup, komitmen, prinsip luhur yang ditanamkan ibu menjadi sia-sia. Wanita itu sendiri yang melakukannya. Ia jual murah nasehatnya. Tubuh mulus wanita itu, bagiku penuh luka. Bau, dan tak tak enak bila disentuh. Kebiasaan sujud di tangannya tiap pagi sebelum bekerja pun sirna.

Bapak dan ibuku ternyata sama. Manusia mengerikan yang berhati iblis. Bernafsu binatang. Makanya kau jangan heran, akhir-akhir ini aku sangat gemar berceramah. Bukannya aku sok suci. Tapi melihat kondisi keluargaku yang tak beres, aku merasa malu. Aku sendiri pun tak mengerti malu pada siapa. Aku pun membenci tubuh lelaki. Tubuh penuh belatung. Lengket. Bau".

“Win, aku tak pernah melihatmu semarah ini. Aku tahu kamu kecewa. Luka batinmu mustahil sembuh seperti semula. Tapi lelakiku. Win, jagalah aku seperti roh wanita yang mendiami tubuhmu. Aku tak pedulu sesakit apa pun lukamu. Lelaki itu harusnya mati. Tak pantas hidup.”

“Kau tenang saja. Aku tak sama dengan ibuku. Punya nasehat tapi diingkari. Aku masih percaya, Tuhan atau kekuatan gaib mana pun, akan memelihara niat baik samapi niat itu terlaksana. Aku menjagamu. Kamu juga menjagaku. Aku sahabatmu. Kau juga sahabatku.”

“Aku bingung mesti kuapakan lelaki satu itu. Dibunuh?”

“Jangan. Kalau kau membunuhnya, kau sama binatangnya dengan lelakimu.”

Hush! Lagian siapa yang mau membunuhnya dengan tanganku? Bisa-bisa aku pun terkena kutukan sepertimu.”

“Brengsek kau! Kata-katamu jalang juga.”

“Ah ibumu juga jalang kok.”

Hey, jangan memulai!”

“Aku serius! Serius bercanda. Tapi, Kaspia ibumu sekarang dimana?”

“Sudah mati!”

“Kau tak bilang.”

“Buat apa?”

“Aku kan jadi tak enak mendengar ceritamu.”

“Itu biasa.”

“Biasa katamu?”

“Iya. Wanita itu mati dengan sangat mudah. Dua minggu yang lalu dengan sengaja kuselipkan banyak paku ditempat tidurnya. Saat wanita itu berbaring, ia menjerit kesakitan. Aku membiarkannya berteriak. Meraung di siang bolong. Satu jam berlalu. Tepat pukul dua belas, tak ada lagi suara. Suasana menjadi dingin. Tubuhnya menyembulkan darah. Amis dan pekat.”

“Astaga! Kau kejam!”

“Aku? Kau bilang kejam?”

“Ibumu sendiri dibunuh.”

“Mau apalagi? Nasi tak mungkin jadi padi. Terlanjur sakit hati. Wanita itu lebih baik mati!”


Sekayu, Maret 31 2011

Jumat, 25 Maret 2011

Yoshiki San


Lalu tak ada gadis yang berjalan mengitari matamu
Kecuali nampak air
Dari seberang kolam yang bening

Masturbia
Di antara lubang angina
Rambutmu menjadi gelombang yang panik

Bulan kelima mengarat dibibirmu
Kemudian mongering

suara yang muncul
dengan rapat dan mendesis
adalah tuak sepanjang lima loki dari tanganmu
hinggap pada masing-masing kuku yang berkeringat

Ketika itu rumput
Yang malu-malu membelai wajahmu
Menyelinap masuk lewat usus

Tak ada yang lebih paham
Mengenai jalan sempit
yang bermuara pada lorong becek
pada lambungmu
sebab ia mendekat
maka dikoyaknyalah kulitmu perlahan
agar hilang pedih
sampai tiba darah mengental
membusung di dadamu yang terbakar

2011

http://3.bp.blogspot.com/_rJVT53UElYs/SncxtbCUv5I/AAAAAAAACks/YOeRYK-U9Cg/s1600-h/Yoshiki+(21).jpg

Selasa, 22 Maret 2011

Fermentasi Pukul 19.24

mama

tiga ruang berdarah menekuk tepat pada rindang matamu
saat itu tak pernah engkau lupa
bagaimana terburu-buru berkemas menuju waktu
yang sudah sepuluh tahun tiba dengan terbuka
dan telentang memeluk langit
serupa wajah yang mengembang
di antara panas pemanggang

seketika matahari yang berlepasan dari kancing kemejamu
berlarian dan berloncatan
menuju lekuk bukit hidung yang tercatat telah tujuh kali
menerbitkan almanak-almanak gaib

demi kesepian yang memanggil engkau berdiam dalam tungku
serta kesakralan yang sekiranya paling lincah sekali pun
engkau akan percaya malam ini
kekasih yang engkau tinggalkan diam-diam di atas kematian
dulu sempat memiliki rindu
dari perih lipatan tangan yang mengerami kedua telapak tangannya
engkau pergi mengutuk malam
engkau berjalan dan gentayangan
2011

Kamis, 17 Maret 2011

Tak Lain Sebab Aku Sayang Padamu


Nasihatku
Bukan semata-mata menyuruhmu meringkuk sendirian tanpa mengenal api yang disulut malam hari


Kalau kau mau pulang
Keluarkan dulu semua yang masih lekat pada gigimu
Termasuk janji yang kemarin kau sangkutkan pada pipa cerutu
Bukannya sudah kubilang
Kau bisa tolol bahkan menjadi seribu kali lipat lebih tolol dari seribu keturunanmu

Begini sajalah,
Biar lebih mudah dan lebih cepat diserap
Pukul dua belas tepat nanti
Tengoklah sebentar telepon genggammu
Dari sebuah pesan yang sampai itulah
Aku sampaikan bahwa cicak-cicak nakal
yang melubangi jalan pulang yang melingkar di mulutmu
Telah menghalangiku dengan begitu kejam
Sederetan tembok-tembok penyekat mengikat leherku dengan erat
Aku dilarang berlari menuju rumahmu
Padahal kalau pun mau dihitung
Akulah yang lebih lama hapal alamat jalan rumah ketujuhmu

Walau pun aku bukanlah yang pertama
dan satu-satunya yang berada di samping rumahmu waktu itu
Setidaknya cukuplah bagi nasihatku ini
Membuatmu paham maksud hati

Jangan kau toleh lagi yang masih lekat pada gigimu!

Kalau ada kaca
Coba sekali-kali
Kau perhatikan aku

Tak ada manusia yang merasa lebih kesepian kecuali bagi mereka yang kurang perhatian
Makanya, pulanglah dengan matamu yang garang
Sebab itu sangat membantuku ngomel dan melototimu nanti di rumah

Jangan coba-coba lari
Kalau kau memang lelaki yang berani bertaruh demi cintaku
Maka datanglah
Dan lemparkan semua janji yang masih lekat pada gigimu
2011

Sabtu, 12 Maret 2011

A LA LUZ DE

a la luz de

E laluna
Engkau yang paham bahasa tubuh
Aku ingin menggeliat di wajahmu
Sebagai mata, aku ingin masuk serupa cahaya
Terang retina, terang yang menembus lubang jantungmu
Entah seperti napas mana yang paling kau sukai
Tapi konon
Dari merah lesung pipimu
Ada sebuah tanda sedalam lubang sumur
Sebab gelap, aku tak ingin masuk lagi
Kecuali engkau, E laluna
Menyalakan lampu-lampu neon
Apa pun warnanya engkau boleh memilih
Dengan cahaya mana pun
E laluna, engkau tetap memijar
menyala-nyala di hadapanku

2011

http://2.bp.blogspot.com/_0to2WKdaZko/S_pQkM_FWlI/AAAAAAAAAOA/8wFT68oP3Hg/s1600/lampu-pijar.jpg

Jumat, 04 Maret 2011

Replika

Barangkali malam sabtu
Ada banyak kelelawar keluar jendela
Di antara kota yang mati
Dan lenyap dalam peta
Seorang anak duduk menepi
Memeluk tubuhnya sendiri
Sebatang korek di keranjang
Namun lembap
Masih begitu terasa hangat

Bubuk mesiu di permukaan
Sesekali menyembul malu-malu
Dinyalakannya api
Tapi cahaya naik dan surut
dari mata mengalir sumber air
Langit beramsal lensa yang cekung
Kantung mata yang lebam
Tak bedanya seperti rumah-rumah kayu
Yang dimakan rayap
Namun sebuah ruang yang masih kosong
Dan nampak mungil
Tak cukup lebar untuk dimasuki
Kecuali beban udara
Melenguh, dan bernapas

--maaf,
Saya ini dulunya angin
Sebelum tidur
Orang-orang biasa berdoa
Kuil dan dupa terbakar
Dari mulut
Berbagai ingin, dan murka memancar
Menunjuk ke arah awan yang bergerak
Seorang dewa tertegun
Maka atas nama kesaksian di kota ini
Saya rela hidup untuk ditampar

Hingga kulit menipis
Sinyal ombak mengerut
Saya yang dibiarkan cepat busuk
Pasti nanti datang dewa memeluk
kemudian lupa
bahwa tak ada lagi suara
yang minta diberkati
diburu dengan kejam
sampai akhir lusa--
2011

Kamis, 03 Maret 2011

Gombal

menyimpan sebidang dada pada sebuah nama dapat membuat kita kesepian

Kesepian macam ini
Ketika larut datang pada sepi
Mengusap-usap hidung kita
Dengan mesra udara masuk
Pembuluh tapis, segenap itu juga
Perlahan menyapu sesisir ombak
Yang ikut tergerai dari pantai yang jauh
Hingga tiba-tiba sampai pada kamar kita
Yang belum sempat diberi warna merah jambu
Padahal sepasang cermin sudah saling barhadapan
Memburu mata kita
Bayangan lalu jatuh
Satu persatu pecah
Namun tak jauh dari bekas langkah kita duapuluh menit yang lalu
Kemudian ada suara
Angin mengetuk-ngetuk
Pintu dan jendela terbuka
Saling berpeluk
Kita memandang masing-masing mata
Ini tangan
Dan demi jantung yang pernah kita tusuk bersama
Hingga bocor dan berdarah

Nama kita melingkar serupa putting
sepasang cincin yang lekat dan mampat
Makin sempit di tubuh
Ini waktu
Mungkin sudah begitu dingin dan subuh
Atau
Ini laron yang gemar pada lampu
Kita mengalir pada tik toknya
Sampai menangkap mimpi paling aneh

O serbuk yang dahulu mengenal mantera jenis apa pun
Mata yang mana mesti kita benamkan di atas tanah dan kuburan
Agar tumbuh di atasnya tunas yang dipanah
Atau pagi bisa nyangkut berkali-kali
Dari salah satu ranting di puncaknya
Menengok kita tiap hari
2011