Jumat, 22 April 2011

Pukul Delapan April

S
esuatu yang paling sabar adalah ketika kita berjalan sendirian. Melihat burung-burung membuat sarang. Mendengar langit bergemuruh, beramai-ramai memanggil hujan. Jatuh perlahan di tubuh. Kita tak akan berlari dan menepi di bawah teras yang luas. Kita lebih merindukan dingin yang mengerat tulang. Berkali-kali bertalu menggigiti pengupingan kita. Meraibkan suara yang memanggil, menjadikan kita dibesarkan oleh mata: sepasang ruh yang kesepian.

Sebelum kita sempat melarikan diri membawa kedua kaki, tanaman kangkung dan teratai yang bernafas lebih lama dari musim tahun depan telah lebih dulu sampai mencegah langkah. Tak ada detak jantung yang ditakuti. Bahkan perpisahan dengan bumi hanya menjadi perumpamaan kelahiran tunggal paling fatal. Sebab kesalahan apa pun sudah tentu bisa dimaafkan kecuali ada yang bersalah dan disakiti.

Kereta api pukul empat sore, melaju kencang. Pemandangan hijau yang basah. Awan yang limbung di atas kawah. Serbuan hujan runtuh menyerbu badan. Pendengaran yang berkabut. Ketulian yang membuat kita melupakan mana daratan yang lembap dan berawa.

Kita bertanya, apakah hidup juga merupakan kejahatan paling konyol. Dimana kita nanti akan dikurung sepertinya tak jadi setumpuk kebebalan yang berupaya ditutupi. Mulut yang mengunci kesetiaan bahwa saksi dan sanksi sangat sulit dibedakan. Barangkali hanya nama dan nama yang terus kita hapal berpuluh tahun, enam puluh delapan rambut dan jenggot bercabang di pinggul dekat urat nadi.

Apakah, akan ada tukang besi selain kita, yang akan menulis bagaimana laut menikahi tiap gadis di malam sempurna. Atau perakit mesin ketik, yang beralih merakit alat perang-perangan untuk dijadikan rudal yang menghanguskan tanah dan cacing-cacing gambut terbakar  │?│

2011

Kamis, 21 April 2011

ASAS FRUSTASI Ayat 5


Aku lebih suka menggulung lidah kalau berbicara masalah cinta. Pagi-pagi sebelum jam tiga sudah bangun. Merapikan selimut suami yang masih ngopi sama teman kencannya si mimpi. Anak-anak kecil yang melukis wajah mereka dengan kencing.

Aku lebih suka mandi dan sabunan agak lama sebelum ke warung menyiapkan materi perkuliahan atau sembari menggosip tentang seorang penyair yang menjual ikan di dalam celana dan sajaknya. Konon fermentasi atau pengawetan dengan butir keringat di tubuhnya lebih aman dan lebih menggemukkan peternak babi yang tengah bisnis jamu MELANGSINGKAN.

Aku lebih suka manyun sambil melototi sejumlah iklan televisi yang menampilkan tubuh telanjang lelaki yang banyak ditempeli janda beranak tiga hingga tujuh kali. Sesekali dari bibir mereka, tumbuh sepasang payudara yang begitu merah dan padat.

Atau ketika seorang penjual roti dengan selai empedu hati dan usus duabelasjari sengaja mondar-mandir dan kakinya yang masih ingin memanjang satu senti tiap hari, aku lebih suka membayangkan ia bekerja di rumahku. Memasak ikan dengan rebusan sabun berkaleng. Sedang ini zaman serba modern bikin sulit kalau sudah waktunya menuju kantor dengan lebar kredit yang makin sempit.

2011

Di Jalan (PETAK) 1 Kebayoran


Kalau luka pisau tak sembuh dari rasa sakit dan nyeri, coba kau basuh dengan segelas air garam yang dikumurkan dekat gigi geraham yang berlubang. Kalau masih tak sembuh dari rasa iritasi dan gatal, cepat panggil pacarmu agar membawa kijang yang bisa ngebut sampai di rumah mantri atau dukun yang sakti di kota sebelah. Kalau luka itu, belum juga terbakar di dalam jeritan yang sepi, jalanmu yang berdampingan dengan sebuah toko rangkaian bunga yang ditulisi “kami sedang berduka dengan nyanyian” akan penuh besok pagi. Salah satu di antara mereka adalah dirimu sendiri. Diri yang ditinggal sepotong daging dengan ucapan “sampai bertemu lain kali”.

2011

Sakit INGATAN


Bertanyalah selagi belum kambuh
Selagi udara masih rindu pada usia
Dan sekantung darah di dalamnya

Tusuk bagian mana pun yang disuka
Selagi pak polisi dan hansip masih menjadi musuh
Selagi maling dan perakit peledak yang gelisah di atas hotel
Selagi banyak bintang dan kembang rontok di jalan

Oi,
Selagi kita mencium aroma ikan yang bertelur di bawah tembakau
Selagi sampai tak ingin mengatakan selamat tinggal
Selagi nanti tak ada saat kita benar-benar ligat
Menunggu dan berpeluk
Mencapai geliat yang padu. padi pada merunduk
Ilmu kita tak akan masuk surga selagi rumah sakit belum resmi tewas
Kemudian bebas dari hijrah kubur yang mawas siksa
2011

SAKIT Ingatan

Seorang lelaki datang ke rumah pacarnya dengan teka-teki. Seorang perempuan berlari, ia berteriak sambil melempar sebuah kail pada semangkuk sup kekasihnya yang tinggal separuh. Seekor ikan berenang-renang di wajahnya. Seorang ibu menghitung jumlah bulan yang tidur di kamar suaminya. Seorang anak memukul teman perempuannya yang tak pandai menendang bola ke dadanya sendiri. Sambil menangis, ia pulang mengunci diri. Dibantingnya cermin yang berdiri. Diinjaknya lantai yang baru saja nyenyak tidur sehari. Seorang nenek yang menyaksikan cucunya yang marah itu tertawa geli namun akhirnya ia kalap. Seekor burung bangkai dilepaskan dari tubuh bangkainya yang hamper mati. selepas itu ia lepaskan tulangnya satu persatu, tulang ditubuhnya yang gemelutuk segera diganti. Seekor ular betina bertelur. Lima ekor anak mereka menetas bergantian. Namun di antara mereka yang malu-malu mengaku jadi ibu cuma satu. Lantaran si anak punya sepasang kaki. Lantaran si anak lelaki yang bicara dengan bahasa mesin dan pemotong bawang bertanya apa aku seorang wanita : subuh hari turun dari gundukan gunung dengan sebakul marmer yang digali dari prasangka : sebuah perasaan yang merambat diam-diam. Menghisap debu. Kepul ombak yang diterjang. Sesampir sajak dan sesajen masa panen di sebuah lumbung di mana tuhannya lebih dulu takut kekeringan ketimbang kematian. Atau sepasang burung pipit dan burung apa saja yang melihat awan siklik berkemas datang dengan sekantung kesakitan.
2011

Sabtu, 16 April 2011

Di Bawah Langit AMPERA


: ayah bayu

Menunggu siapa lagi selain gang dan lorong yang kami umpamakan terus memaki dan berusaha bunuh diri?”

Ada banyak perempuan
Di jalan panglima yang lebar
Tikungan kota dan kawasan kota dekat muara
Paling tidak 
hidup yang berlayar di bawah Ampera
menjadi tempat tinggal paling mencekam 
di sepanjang bangun kami

Pukul tiga pagi waktu matahari
Tak banyak yang lewat
Pintu rumah dikunci
anak-anak kecil yang mengamuk manja dalam mimpi
Meneriaki rumah kami
anjing-anjing menggeliat di gerbang pabrik
listrik menjadi pucat
kerusakan arus terkadang memaksa kami terdampar dan hanyut
entah apakah teluk pun mengenal lautnya yang tak pernah kering

sebongkah batu yang makin larut
menyumbat ususparau kami yang terdengar nyaring
namun terpotong-potong

Ai... 
siapa pun yang memutar jalan di depan pagar kami
Apakah serumpun istri yang menetaskan telur di lingkar kepalanya 
tak kuat sekadar menjadi lindu yang ditunda kehancurannya  
Sedang dingin yang masuk percuma atas kami 
telah menjadi percikan meteor yang jatuh
Kerinduan di tanah
diamdiam berlubang
luput di dalam detak
luput di dalam jantung
luput dari apa pun yang membawa kesepian
mengutuk kami pada khusyuk
dan telungkup doa dengan bergantian

2011

Minggu, 10 April 2011

Palingkan Mana Saja yang Kita Anggap Sebagai Hal yang Merugikan

--mama

Kalau kau mengerti cara menghitung kapal dan induknya lautan
Mari serempak kita melangkah dengan meloncatkan kedua moncong kaki kita lebih jauh
Lebih tinggi di atas langit
Lebih dalam daripada kematian

Kelak, sebelum matahari terbit di Gordon : kota tua yang membuat kata menjadi adil. Kota yang layak menjadikan kata berbicara dari mata ke mata –menuju ke lain arah: arah di mana setumpuk surat menjadi asap-

Kalau kau arungi sesisir pantai dan kenangan di pucuk tembakau
Seribu wajah pelukis dan lukisannya berdiri di sana
-apakah mereka akan bertelur di pundakmu aku tak tahu pasti letak kebenarannya-

Kelak, sebelum matahari memagut keraguan di Gordon : rumah di atas bukit yang meninggikan bebatuan menjadi orang-orangan, kita akan mengenang ada kelembutan di tiap tusukan mereka yang suka berperang.
2011

Jumat, 08 April 2011

Neither Fondness nor Forest

tertanda rasti, pii


--terkadang orang-orang memojokkanku dengan ciuman yang menyebalkan.

Nama-nama berikut akan membantumu mengutuk batu menjadi seorang peri. Mengutuk seekor lalat menjadi sorang pelayan yang menyiapkan sarapan pagi. Meniupkan terompet untuk bangun, menyikat kamar mandi, memotong rumput, mencuci pakaian kulit, memandikan kuda jantan, menimba air laut ke dalam sumur, melubangi sungai menjadi daratan, mendengarkan music dan suara seksofon yang seksi, menulis surat iseng, berkaca sambil senyum sendiri, memberi makan ternak, menggiring kereta kuda, memadamkan lahan gambut dan kopi, memangkas bulu kenangan yang tumbuh subur di pipi



Suatu waktu
bila tak ada telinga yang benar-benar sanggup mendengar dengan mata terpejam, seorang gadis penyihir manis yang bengkak mata kanannya akan datang padamu. Menyihir bola matamu dengan seikat mantra racun tikus, menggelitiki pengupinganmu agar tak ada tanda perang yang meledak di ujung mesiu. Memberikan isyarat penting untuk hari esok tepat jam satu : hutan di rumahmu akan terbakar dan menangis. Menggigit perlahan lehermu dengan sedikit gemas. Kemudian memelukmu seperti tak ingin melepas bumi dari bawah kaki mungilnya.

Atau ketika pada suatu ruangan sumpek yang kehabisan parfum, lolongan anjing dan nakalnya malam tak dapat dihindari lagi. Kamu menjadi iri dan merengek manja membanting tubuh di dekat tangga. Kamu tidak takut luka dan lebam karena sering menyakiti dan disakiti. Itu sudah biasa. Dadamu bicara. Menusuk rumah siput secara paksa.

“aku seorang kompeni yang cantik. Seratus tahun yang tak habis, seratus tahun yang kuhitung dulu, aku sangat laris. Pinggang di tubuhku adalah pulau kelapa yang menyajikan penginapan harga murah. Siapa saja bagi pelanggan, termasuk kamu kalau mau, bisa mencobanya dengan cuma-cuma. Asal sudah buat janji dengan uang transaksi tunai. Bank mana pun di daerah ini tak akan meminjami hutang dengan alasan pribadi. Makanya, sekali-kali kamu mesti mengajakku. Berkencan dengan petugas keamanan, sesungguhnya dapat menangkupkan kedua tanganmu dengan segepok emas.

Dengan begitu, aku bisa dijadikan perempuan mainanmu. Bukankah kamu tak punya masa kecil yang bahagia? Kamu mengenal pagi, tapi kamu juga tak mengenal sekarung kabut yang kenyal dan putih. Jantungmu bisa tak karuan memompa darah. Bulu matamu terkadang merontok tiba-tiba kalau melototi prajurit yang mendorong gerobak gandum lapuk dan merah. Kamu sangat ingin kaya, tetapi lupa pada kepalamu yang mengingat wanita teriris dadu di piring makan.

Aku boleh dikuliti asal kau tahu caranya. Tak sembarang pisau tumpul bisa memotong. Telunjuk dan garis di telapak tanganmu menjadi taruhannya. Kamu akan ikut denganku karena kehabisan darah. Aku akan punya teman yang bisa diajak berdiskusi, bercinta, berbagi setan lelaki lainnya. Aku akan tersenyum dengan melupakan gincu. Aku akan berjalan dengan melepas rusuk yang patah. Aku akan pergi ke pantai dengan sepotong pohon kelapa bungkuk, di tanahku pohon itu mujarab bagi segala rahasia yang begitu takut terbuka menjadi api dan gunung yang sia-sia.”
2011

Kamis, 07 April 2011

Ganjar

-- Ganz
Mengenang petuah tak sama dengan ketika kau meneriaki kata-kata dari dalam kertas. Kertas di tangan kirimu yang sampai pada mata, membayangi kenangan saat itu :

“aku masih meraba, membayangkan seorang kakek dengan cerutu dan gading kesayangannya sedang bermain-main. Padahal seusia itu, memang wajar waktu membuatku keriput. Tapi kau menolak. Cuma kutukan yang membuatku tua dan mengenal seperti apa nikmatnya tanah.

Aku tahu Tuhan itu baik. Bukankah dalam rambutku yang berangka delapan pernah menyimpan gambar-gambar tubuh telanjang? Tujuh puluh tahun sebelum aku berkenalan dengan iblis dan setan, aku masih disebut kanak-kanak. Ibu sangat rajin memandikanku dengan sabun yang kelewat wangi. Bapak juga sering ngomel tak karuan dibuatnya.”

Seorang kakek, dari tubuh itu meluap keramahan yang hidup. Pelukan dadanya selalu bidang.
Seorang kakek, apakah kau marah kalau aku tumbuh dan tua, apakah kau akan mecubit pipiku bila besok menemukanku mencintai bunga yang merah?


--Gie
:
Oh sayang,
Dengarkan aku kali ini saja. Aku mau mengeluh terakhir kalinya.
Tentang tenggorokan dan perasaanku kemarin, sebenarnya tak benar-benar ada. Microphone di hadapanku tak akan pernah menjadi seorang kekasih yang setia. Barangkali aku pernah bilang padamu. Dalam dunia yang aku umpamakan bejana ini, microphone itu sebetulnya hidup dari seorang lelaki yang pandai menyambung kabel.

“suatu sore, tepatnya pukul empat pagi. Lelaki itu menyelinap memasuki perkampungan kami. Dua pasang gadis periang bernama Air dan Nyala telah pergi. Tak ada yang tahu. Kami saling menuduh. Membakar rumah. Berlari dan kadang terjatuh di kaki pohon, menghindar dari tujuh senjata yang konon sakti dan keramat.

Desa kami hangus. Darah menjadi keringat.”


--Pii
Aku tak pernah memaksamu memakai baju kecoklatan.

Cukup dengan nafasmu saja, aku bodoh dan buta. Kamu memang wanita. Di matamu, nasib dan air mata menjadi kawanan gagak yang menyantap kulit. Aku tak suka. Aku akui karena ini menyangkut lekukan dahi yang bertahun-tahun menghadiahiku keberanian, untuk tetap rapi. Melupakan kaos dan celana usang. Menyisir rambut dengan sekilo minyak goring murah. Menanam kancing putih di lubang kemaaluan kemeja.

Aku tak bisa mengatakan, kedua kacamata merah mudamu sangan lucu. Keanehan itu tiba-tiba saja muncul. Lenganmu yang telanjang membawa raib sepuluh celana dalamku. Kamu tersenyum. Menyeka kecemasan dan menukarnya dengan seikat gandum bertuliskan :

“akulah satu-satunya cinta. Dewi laut yang hidup tanpa jantung. Aku menghisap darah. Merokok. Memotong bayam tak rata. Aku tak mengenal asin yang melengkapi matinya sepasang panci dan kuali. Biasa saja. Aku yakin kamu mengerti. Kamu tak lelah. Kamu lelaki. Sepasang merpati tak akan menjadi utuh tanpa menikah dan kawin di depan gereja.

Tapi aku juga menyukai nabi. Dari kepala mereka, pujian dan paksaan berloncatan sebelum meledak. Aku juga akan melahap orang-orang yang sangat takut maut dan suka pada kematian. Sebab dari cucu mereka yang jujur itu, Tuhan pernah kecewa. Lalu diciptakannyalah aku padamu. Demi kesakitan yang akan membunuh kehidupan, kelahiran, aku akan senantiasa datang di sampingmu. Kamu boleh memilih. Tapi kamu tak boleh tak suka. Aku sangat suka memaksa. Bila kamu tak terima, aku akan menempeleng gundukan lemak yang lama berkuasa dengan nyenyak di perutmu!”


--Kita
Doa yang abadi, mi
Doa yang memancar dari bibirmu, bibirku.

Seorang ahli surga pernah murka, memantrai ubun-ubunku agar ketika aku menemukanmu tak berdaya, aku menjadi tersiksa. Kedua cekung alis yang dewasa dari sebatang leher yang matirasa, membuat keadaan terbalik.

Aku dibuatnya sesak. Tolol. Bengong. Jengah. Putus asa.

Harapan yang semula menjadi sepetak bukit bunga, saat ini hanya menjadi sepetak ladang yang gundul tanpa nutrisi. Rasanya, berapa kali pun aku sujud, menggeruskan hidung dan nyawa di atas pengampunan, tetap tak ada fitrah yang berubah. Dunia layar di belakangku tetap menjelma nenek-nenek yang mengunyah sirih di mulutnya. Kelengangan menjadi sangat berbisa. Masalaluku menjadi sangat dekat. Orang-orang hanya menyaksikan dan mendengar, tidak ada yang mengemini. Bulan berganti bulan. Malam juga mendung.

Selain menduga-duga, saat ini usia gagal menyiksaku menjadi pipimu yang takwa. Menyerahkan diri pada panggung tanpa dibayar sama saja dengan mengembalikan waktu pada usia. Aku pasti mati. tapi aku tak pernah yakin, kamu pun ikut mati. aku ingin menyerah. Tapi padamu, aku melarang!
2011