Rabu, 06 Juli 2011

21.15

: piy
dari sepucuk surat dan dingin tembaga, seorang ibu dengan sebakul derita menggali liang di matanya

"untuk anak-anakku kalau tumbuh dewasa"

begitulah katanya ketika kami bersiap-siap membagi mimpinya dan mimpi anaknya agar bisa bangun dan merayapi tugu batu di tengah kepalanya yang kopong dan jingga

"barangkali ibu juga tak mau sia-sia. mengenai hal menggali seperti ini, ibu sudah terlatih sejak kecil dalam buaian. ibu masih ingat saat itu hujan turun sendirian. daun masih tumbuh di batang"

sebab itulah kenangan berbicara dengan panjang. dengan sabar ditelannya tubuh kami perlahan. wajah kami tenggelam. tangan kami melambai, memeluk angin, menggendong segenap gemuruh di langit yang tengah gerimis

--tahoen Dua Nol Sebelas