Minggu, 18 September 2011

MAHASISWA

: Ganjar A. Sudibyo
berulangkali aku jatuh cinta pada bulan yang rontok
dari wajahmu yang berpaling dan jauh
kunang-kunang bermain cahaya
pohon hilang di dalam gaun
aku jatuh cinta
pada bulan yang rontok
yang sesekali mengatupkan mata
"mari bercinta
mari membuka dada
mari bersembunyi di bawah cahaya
sebelum hujan matang di tubuh kita!"


Jakarta, Sept 2011

Jumat, 16 September 2011

Une Ile


: Kinu 
kita baru saja menciptakan langit
awan tersenyum
melihat kita dari perut yang buncit
entah kenapa tak ada mata lain
selain mata kucing yang jauh di sana
berkali-kali mencoba menewaskan kita
dengan sepuluh cakarnya

bau kerupuk dan metafor
mengelabui kita dalam perahu
mengayuh darisatu sampan ke sampan berikutnya

sesekali kita mengeluh
pada rintik dan jerami
tempat kita menjatuhkan jarum jam

kia bertengkar
saling memaki
dan baling-baling berhenti 
 Jakarta, Sept 2011

Yang Ingin Kukatakan

adalah bahwa
puisi kita satu-satunya cinta yang meradang
sebab tuhan yang mengatakan

Jakarta, Sept 2011

3 Menit Sebelum Berhenti dari Kereta


: Herpinus Simanjuntak

ada yang tak ingin kita lupakan
sebuah nama yang menengok dari belakangmu
yang kau teriakkan berkali-kali
lewat suara yang berasal dari suara
dan kematian yang begitu dekat
seperti musim gandum
hilang sebelum cahaya

s'il vous plait, mounseour!

silahkan tuan!

untuk kedua kalinya kita berbicara mengenai bahasa
yang gaib
yang lekas musnah

a bientot!

selamat jalan!

kita memang tak mesti hidup sekarang
kita mesti berjalan dulu
mencari jalan pulang

Jakarta, Sept 2011

Selasa, 06 September 2011

KEMBANG API

seperti mimpi anak kecil yang bermain
kita terus bermain dan melompat melewati pagar yang ada pada mulut kita
mengajak dunia menjadi bola yang berputar
mengajaknya semakin liar dan nakal

dari kedua mata kita
angin bergerak ke utara
menggiring sepasang burung yang sedang terbakar lautan matahari
menuju sepasang bukit yang terbakar pula

di kaki gunung yang tidak begitu jauh
kita menyaksikan awan bergerak dengan seksama
sesekali kita petik beberapa buah hujan yang tumbuh di atas langit
kita kumpulkan gemuruh
kita jadikan suara di telinga untuk di dengar

kita tak pernah bertanya
kapan doa menjadi lelah
kapan amin menjadi prasangka di atas tengadah
setelah kita tidur
kembali menghadap langit yang mulai reda

Jakarta, Sept 2011

Kamis, 01 September 2011

Puisi Bilingual

A Game

A fish jumps from thy chest
A little funny boy squirms
An old woman sleeps soundly
From the mouth of soaking
a lizard chills
loving the winter in the refrigerator
living a little longer in the ice
trees of lie begin to grow
a fatty goat kept chewing the leaves
a mother down the hill
a blade attached at the hip
a ran and killed sheep
of a green fields
a name to the poem
lie to lie
something that can be said to be free of fifty years ago
merely be an abomination
rivers flowing from the hands of
from the river widens into the estuary
a puzzle began to play


Permainan

Seekor ikan melompat-lompat dari dadamu
Seorang lelaki kecil menggeliat lucu
Seorang wanita tua tidur nyenyak
Dari mulutnya yang kuyup
seekor cicak menggigil
mencintai musim dingin di kulkas
bermukim sedikit lebih lama dalam kebekuan
pohon-pohon kebohongan mulai tumbuh
seekor kambing yang gemuk terus mengunyah daun-daunnya
seorang ibu turun dari bukit
sebuah pisau yang terikat di pinggul
seekor domba berlari dan terbunuh
dari ladang hijau
sebuah nama menjadi puisi
kebohongan menjadi dusta
sesuatu yang dapat dikatakan bebas lima puluh tahun silam
semata-mata menjadi kekejian
dari tangan mengalir sungai
dari sungai yang melebar ke muara
sebuah teka-teki mulai dimainkan
Jakarta, Sept 2011
http://ano3grahgroup.com/puzzle/

Suatu Ketika di Laut Lepas



i
Seketika kita mesti hanyut
Berenang lebih dalam di mana gelombang pesisir yang kacau
Setidaknya pagi ini sampai di pantai
ii 
Seorang anak wanita yang terkapar
Dengan wajah memar
Memeluk boneka yang juga ikut hanyut bersamanya
Serupa buah anggur
Maka ia tersenyum sambil membayangkan
Beberapa yang rontok
Akan matang tepat di atas tangannya
 iii
Sebuah perahu dengan seorang lelaki yang baru saja menghadap ke utara
Wajahnya yang terbenam matahari
Diam-diam mengelupas
Ia keluarkan seekor ular yang baru terbakar
Sebab ia yang habis basah di air laut
Merasa ingin hidup dengan insang yang lunak
Dari seekor ular yang hangus itu
Tumbuhlah sayap yang gagal
Sebuah insang yang menyelinap tumbuh dan membesar

Jakarta, Ogust 2011