Minggu, 11 November 2012

NAMUN BEGITU MAMA ...


kepada mama

ada semacam tanda
semua kesedihan akan menjadi yang paling damai di dekat matamu
rambut yang terikat dengan sebuah kain yang melar
persis seperti ingatan kita yang tumbuh
mengecil, tumbuh, dan kembali pada Zatnya

semacam tanda itu
melubangi pikiran kita yang dilanda tik tok tangis
waktu tidak pernah berhenti
begitu pula tangisan itu yang demikian memanggil nama kita

tanda itu
kita mencoba berkabung di dalamnya
kita mengingat mana yang lebih menyakitkan antara melepas yang telah lama tinggal
atau yang baru saja hendak pergi
jauh dari jangkauan

aku meringkuk di sana
tidak ada sinyal telpon
tidak juga pesan mesra yang datang memanggilku dengan sebuah kesaksian
sayang itu
barangkali akan pupus begitu saja


2012

SEBUAH CATATAN

: agus c noor, el aquila blanca

terkadang
malam tidak benar-benar gelap
di bawah rumpun rumput rindang
cahaya memantul
menerobos celah-celah kecil

aku teringat akan muslihat yang kita lakukan saat itu
seekor kucing
apa bila didekatkan dengan sebatang kayu yang tak lama mati
akan berubah menjadi sesuatu yang lain

tidak perlu pengorbanan atas apa yang akan terjadi nanti
bila memang waktunya
segalanya akan menjadi mulus
muslihat akan menggenapkan namanya menjadi seribu musim yang lebih awet

lalu sepertinya
atas perubahan yang baru saja terjadi
kita telah saling melupakan apa yang pernah kita temukan pada malam itu
keheningan paling abadi
merasuk rongga pintu kehidupan yang baru saja ingin mengubah kehidupan yang baru
namun tidak dari yang hidup kepada yang telah tiada


2012

Sabtu, 10 November 2012

RISALAH : ANGIN RIBUT YANG KELAK DATANG



                                              : ags

dimulai dengan risalah
yang tersembunyi di balik mulut semak
yang menjaga bebatuan di dekat hati kita
seperti air
bergerak menuju liang rumah
hanya rumput dengan simak
menyaksikan yang kedinginan
membenturkan dirinya
pada masing-masing buih yang pecah

“masuk saja sayang. ternyata hari mulai gelap”
ilalang terlihat begitu menghitam di ujung mata
halimun begerak menjauh
melalui ubun-ubun kepala.
hanya kita saja
berupa ingatan yang sukar dilupakan

siluet ciuman itu
dengan sebentuk postur wanita
 diterjang kabut
ilalang tumbuh dan menyebar di tanah kita,
rumah singgah kepada hati

subuh telah tiada
hanya langit yang merah
dan kepucat-pucatan


di sana
semilir suara yang merdu
membentuk cerobong
kita sebut telinga
tinggal sahdu

“tidak perlu sayang!
ketahuilah, angin ribut kelak datang
...

2012

KESIAP UDARA



kesiap udara
yang jauh dari tubuh kita
adalah masing-masing denyut
berkelejotan dalam samadi

kesiap udara
bagian tubuh kita yang lapang
meluap di antara buhulnya yang kehilanagan

...


2012

Rabu, 31 Oktober 2012

Races Bois Boulogne, 1867

oleh : Edouard Manet


kuda itu
berpacu di dalam langkah
lindap dekat senyummu

kuda itu
ada banyak keyakinan yang mekar
di jantungnya. darah mengalir menjadi
air

kuda itu
pada lurus jalur yang mengawasi bagaimana
ia berpacu, terkepung bersama debu
berkelahi dengan perasaannya 
yang cemas

harap berharap muncul
dari sorak dan pengendali yang juga 
ikut luput dengan debu
agar pecah dan ditinggalkan

kuda itu 
seperti berpacu 
dengan detak dan denyut
yang sembunyi

hanya ia 
dan mereka yang berani merekam
sekawanan yang beringas
:buta di antara sorak yang tumbuh
demikian begitu gaduh

kuda itu
yang datang berpacu dengan matahari
:matang di atas
"katakan, bila terbakar dan susut
kuda itu
perjalanan kita berpendar
perlahan meredup
hanya manis sebelum waktu"

2012

Sabtu, 27 Oktober 2012

Sebuah Telur yang Kedinginan, Nanti...

:mas gan

membayangkan tubuhmu 
setengah mati


enam puluh tiga tahun
sebuah risalah gaib
seperti mengatakan
enam puluh tiga tahun
adalah nomor urut saku
persis seperti lorong-lorong kecil
tanda guratan
dekat sekali dengan mata

empat tahun mendatang
:
hei nona
jangan menangis
ini hujan
sudah lama gerimis

waktu langit besok memerah
sebuah telur yang kedinginan dalam wajahmu
akan menetas dan merasa asing
dalam gigil tubuhnya yang terbakar

2012

Kamis, 25 Oktober 2012

Lontar


apa yang menjebakmu di sana
sebuah pisau panjang berkali-kali
menyenggolmu, lalu berlari
menunjuk satu sisi dekat dagumu
melahapnya dengan rasa kantuk dan cemas

ia berlari
menikung dari balik pintu
dan tersandar sendirian
menunggumu kembali menengoknya
dari sudut mata
kembali terasah

sebab yang membuatmu terjebak di sini
sebuah jalan yang girang
memelukmu dari sisi terjauh
menelanmu dengan tubuhnya
mengalir
dan menyatakan, ingatanmu
adalah kekasihnya yang gampang marah
memukul-mukul dahinya
kebetulan tak bisa bening lagi

atas apa yang menjebakmu di sini
sudah sampai
ketika apa yang mesti kau genggam
memotong batinmu yang pecah
dan gemetar
ketika kedinginan menjadi rumah
kelak mengawasimu lewat samadi
ruh tangan yang tak sampai

2012

Tinggal Setengah, Tinggal Separuh


:sapardi 

jangan kau bayangkan
matahari itu
menjadi pertanda
yang membelah ingatan,
kepala, serta tubuh kita,
lalu membuangnya jauh ke sungai

namun siapa yang tahu
dengan membayangkan
meski dengan semua yang kita miliki tinggal setengah
"aku minta milikmu yang separuh itu"
padahal tak ada yang akan menjadi setengah
pun separuh

jangan kau bayangkan
demikian sedikitnya tubuh kita
demikian kurangnya ingatan dan kepala ini
terkadang membayangkan apa saja
kepada dirimu, lalu untuk kita
setengah dan separuh itu
memiliki perjalanan yang panjang
bermuara pada kita
sepenuhnya menyatu

2012

 

Sabtu, 20 Oktober 2012

Techno Remix


wajahmu yang dicintai banyak orang

Remix 1

bintang kecil
gemerlapan
bagai tungku panas di wajahmu


Remix 2

sebab ada sebuah melankoli
berkali-kali memantul di depan kaca
merebut wajahmu


Remix 3

menusuk wajahmu dengan lancipnya
dengan kenangan yang merusak ingatan
wajahmu bagaimana menjadi lebih
cantik, lebih cerah, atau juga pilu
diterpa angin yang setia hinggap
di wajahmu (menelurkan kesetiaan yang baru)
selepas sangsai gerimis malam hari
berloncatan - kemudian
menjadi bintang - wajahmu tak
pernah padam!

2012

Neny

: N.R.

suatu kepedihan
atau pun kehidupan yang berputar di kepala kita
menjadi berat, menjadi sekilas seperti beban
yang kadang kita tarik, kita lindungi dengan
ucapan sayang : sayang yang tiba-tiba
mejadi suatu bingkisan berwarna pink

suatu kepedihan
melalui pandangan yang berat menuju
bangunan tinggi di samping kita
barangkali di sanalah seharusnya
suatu kepedihan
berada di tempat paling kecil yang merendah

sore ini
dengan berbagai kepedihan
bukan saja membuat kita berpikir
dari mata yang tak pernah bicara
dari tangan yang terus berlari
menuju stasiun
tempat kepedihan saudara kita yang ditindas
di bawah rel-rel
menjelma kebisuan dan air mata
bagi dirinya dan kebanyakan Barata

dengan kepedihan
selalu saja dari hati kita
meraung dalam suaranya yang kecil
merobek pipinya yang kenyal
meminum darahnya, demi sebuah
kejayaan yang diam-diam tetap hidup
dan tersakiti

kemudian kepedihan
dihasilkan dari nyawa panjang
mereka yang bergerak
dan mereka yang tidur dengan nyaman
dalam kegelapan paling dingin
sebuah kepedihan bertambah tumbuhnya
menjadi mawar cantik
:

di sini, aku mulai teringat
kepedihan itu
menjadi indah di dekatmu
ia tumbuh seperti kita


2012

Rabu, 19 September 2012

MULUT



: piy

Meski berulang kali
Kita saling menghubungi
Mulut yang kerap kita akrabi
Sebagai penanggal kebisuan
Seperti berlari
Menolak apa yang dulu pernah kita sepakati
Tentang keadaan rumah
Yang kadang gemetar
Melihat kita yang jauh
Dan tak pernah pulang

Setiap sinyal
Mereka menawarkan ini itu
Menawarkan tangkai mawar dan duri
Dari mulut ini
Kita diam-diam mengunci diri
Kita melihat pada masing-masing mata
Seribu tahun tertulis di sana
Takkan membuat kita lenyap di alam usia
Di alam ibu suri merapikan sehelai rambutnya

Tertinggal di meja kayu
Selembar kartu nama
Dengan sebuah almanak berbentuk mulut
Mulut ini yang pernah kita bawa pergi
Dari tempat yang asing
Tempat kita saling diam
Menyakiti apa yang telah sakit
Lalu menyapa kematian
Namun semuanya
Di sini di tempat lain
Kita menyebutnya kamar rahasia


2012

 

Selasa, 28 Agustus 2012

Puisi Ialah Bahasa Batin yang Berbicara



Puisi ialah bahasa batin yang berbicara melalui siapa-siapa saja dan apa-apa saja yang ia pilih. Misalkan pohon kurma dan seorang wanita yang tengah memeram buah hati di dalam rahimnya. Mereka berdua yang sepakat ini diam-diam menyimpan buah hati yang sangat dikasihi. Bersama-sama melewati sembilan purnama lamanya, mereka berdua saling akur, mengadu nasib di dalam doa, mempertanyakan kembali bahasa-bahasa batin yang telah memilih mereka. Dengan sura yang sulit dimengerti oleh tumbuhan yang hampir habis masa panennya, mereka terkadang menggerutu sendiri. Menyatakan kekesalan dalam berbagai tindakan yang sebenarnya mencelakakan buah hati. Buah hati yang tak pernah memilih dan tak ingin dipilih.
Dari yang jauh dan terpantul di hadapan mereka, sebuah berkah hadir tanpa  terduga. Terbanglah selembar kain bertuliskan poster berhadiah, lengkap dengan lomba berikut prasyaratnya. Bagi siapa saja dan apa saja yang dapat menulis puisi dengan bahasa paling batin, akan mendapatkan pasangan hidup yang selamanya akan menjadi milik pribadi. Termasuk semua keinginan akan dipenuhi.
Salah satu yang memeram buah hati di rahimnya begitu lelah dan tertidur dengan mata meregang. Digenggamnya sebuah pistol plastik dan peluru karet. Ia berharap-harap cemas terhadap sosok siapa saja dan apa saja yang dianggapnya momok itu. Ia kedinginan. Namun pohon kurma yang baik hati memeluknya dengat begitu mesra. Tiba-tiba ia merindukan sebuah pesta di waktu yang dulu. Pernah ia bercinta pada siapa saja dan apa saja yang membuatnya serasa di surga. Surga yang manis dan luar biasa.
Melihat wajah wanita itu, ia pun ikut tertidur. Di dalam tidurnya ia menjelma yang lain. Seperti siapa saja dan apa saja yang tak asing baginya, ia pun menemukan wanita yang ia peluk dengan harap-harap cemas. Wanita yang menjelma siapa saja dan apa saja.
Mereka berdua yang bercengkrama di dalam tidur masing-masing akhirnya mengamuk setelah tahu bahwa merekalah yang selama ini menjadi siapa saja dan apa saja yang lama dinanti. Entah kaget seperti apakah yang mengubah mereka demikian malu dan akhirnya memutuskan bunuh diri. Mereka saling memukul, saling menggigit, saling menggeram, saling merobek. Sebelum sampai pada potongan yang paling akhir dari tubuh mereka, kesepakatan yang sempat mereka kumpulkan bersaa perlahan memudar. Diam-diam hampir mati.
Dari tangannya yang masih berdarah, datanglah puisi sebagai ksatria. Ia menghakimi mereka yang terbongkar menjadi siapa saja dan apa saja. Puisi menjelma menjadi neraka dengan sumbu paling membara. Puisi dapat menghendaki apa pun yang terjadi pada siapa saja dan apa saja.

2012

HANYA KITALAH SATU-SATUNYA



:bara, agus noor, hasan aspahani

Barangkali, dengan memukulimu lewat sejuta pensil runcing dapat menembus lengkung hati yang kian kebal. Namun aku semakin ingin mengusikmu. Yang lelah dan yang mengalir di tubuhku, hanya sebuah tanda tanya yang tak semestinya kau tahu.
Berlarilah kemana saja, sayang! Berlarilah sebelum ombak menjerembabmu di dalam keasingan yang tak akan pernah mengingat ingatannya sendiri. Sedang aku di sini menyaksikanmu dalam kelelahan.
Sejak demikian itu waktu memburuku dengan beringas. Kini gilirannya aku memburumu. Menghujanimu dengan semacam tembakan kecil yang dinamakan cemburu. Menusukmu dengan semacam mata pisau yang nakal, yang pernah melenyapkan segenap dahaga untuk sekedar kembali pada kecintaan lama.
Yang telah berlalu dan yang hampir saja tiba pada masa lalu, aku yakin hanya kita sajalah satu-satunya yang berhasil tetap pongah mencari hidup dengan cara lain, mimpi yang tuntas, dan kemungkinan-kemungkinan yang segera lepas.

2012

IN A HARMONY AND A ROAD


a long road after walking


Sejak awal mencintaimu senantiasa sebatas keasikan : anak-anak bermain hujan, menarik layang-layang basah, bernyanyi dengan keriuhan tanah yang diam-diam menampik mimpi mereka - jatuh perlahan, menipu dedaunan yang sebenarnya telah lebih dulu mencintaimu dengan sepatah ranting di tubuhnya.

Seandainya mencintaimu senantiasa kekosongan dari dalam air yang bergulung-gulung dengan gemetar, mencengkeram tanganku berikut keangkeran dari dalam hatimu : rumah paling merdeka bagi anak-anak yang bermain, aku menukaskan beberapa kepedihan lain lalu menukarnya dengan sebatang peluru mungil, berkali-kali muncul dari lubang pipimu yang putih.

Seperti jarak yang terlampau jauh ditempuh oleh punuk masing-masing orang yang berkekasih, perjalanan mencintaimu belum berhenti. Seperti kita yang kadang menangis dan kembali menutup mulut sendiri, membiarkan tenggorokan terbuka, membangun cabang baru, mencari jalur lain_jalur lebih singkat yang memuncakkan doa-doa lewat tumbuhnya kayu, meranggas di matamu, menjadi anakan air, jatuh berbutir-butir.

Namun akhir dari perjalanan menuju cintamu bagai moksa yang dikendalikan oleh cinta. Lebih dingin dari apa pun yang kelak kita simpan setelah moksa paling akhir. Memantrai cintamu yang berkali-kali membingungkan jalan pulang lewat hatimu sesungguhnya.



Palembang, 2012

Kamis, 16 Agustus 2012

SURAT-SURAT BERLABEL ALAMAT LAINNYA



apa yang baru saja menjadi tantangan di dalam surat selain alamat dan pengaduanmu yang ditulis semalam suntuk ?

demikian kita mengabaikan surat-surat yang datang di tengah meja kerja
seperti gumpalan kertas-kertas buram dan tinta pena yang berjatuhan
demikian kita tak pernah kembali memungut apa yang mesti dibereskan
perahu-perahu terbang yang berkeliaran di depan mata
demikian kita menerjemahkan sebuah pemisah antara waktu 
saban hari dan yang kelak akan kita musuhi

namun apa yang telah usai di antara pemberian salam 
dan ucapan selamat tinggal
bukan saja peringatan perpisahan dan pertemuan yang acapkali
kita kutip pada masing-masing surat harian. kita yang tengadah dan lugu
demikian begitu asik memandang diri dari balik hujan yang berkaca-kaca

maka demikian yang hampir raib di atas surat ini
kita menghapusnya perlahan. mendedahnya kembali, menulis ulang
kita sepakat tidak ada pengulangan paling fasih yang mesti dibawa kabur
atau dilayangkan lewat surat-surat berlabel alamat lain
.

Palembang, 2012

Minggu, 05 Agustus 2012

DARI MARITIM YANG TERBUKA




Setelah lima hari kita berhasil menyatukan cerita-cerita tentang nyamuk yang hinggap di kebun sayur, akhirnya kita rampungkan keinginan-keinginan untuk berbelanja puisi pada sebuah swalayan yang berisik dan menyukai monopoli rumahrumah yang singgah dari negeri yang jauh. Beberapa bintang yang pernah dituliskan melalui sebuah kertas pembungkus permen karet bermotif kupu-kupu, kita simpan baik-baik dalam celana panjang yang kehabisan warna. Setiba musim dingin menurunkan salju merah dan sakura yang tumbuh di pinggiran ranting, tombol-tombol televisi terasa begitu sulit dikendalikan. Sederetan menu sulit terbaca, hingga daftar kenapa berjumlah begitu banya ketimbang mengapa.

Kemudian pukulan-pukulan dari ujung sisir dihantamkan ke lengan kita untuk menciptakan suara-suara lebam. Pisau-pisau begitu tumpul ketika channel-channel mengambang di air yang bernama. Sepasang wanita yang memanggang roti dengan selai alis-alis yang cukup untuk digunting, mengaku telah membereskan ikat-ikat rambutnya dengan sebotol sampo yang tumpah dan berserakan.

Kita akan mengatakan praktis adalah cara paling tepat untuk menghancurkan puisi-puisi yang gagal bertahan sembilan bulan. Kandungan dihargai dengan harga cacian dan murah. Hingga kain dan sebuah canting memiliki banyak bensin untuk melesat,

Kepompong dari sudut tangan kita yang menggemgam remoute control
Menyalakan mesin keheranan,
Menjadi peluk ... peluk dan sayang


2011, Jakarta

Selasa, 17 Juli 2012

METROPOLUTAN




Kami terkadang mesti berlari, membawa serta jingkatan yang diam-diam menyelinap di dalam sebuah pengasingan. Jiwa kami yang tak layak huni, berkali-kali gontai. Limbung datang dari tubuh yang mengusung kelap-kelip malam, menyulap dan memantrai kami. Dari ritus ini, tak ada yang namanya kesepian dan kesakralan. Semuanya melunak serempak. Menampar daging kami satu persatu. Kami yang bersuara di atas segala keinginan, telah ditembaki dengan sebatang pelor busuk yang dirampas dari jiwa kami, dari tubuh kami, dari segala ingin yang mengguncang. Kemudian tumbuh menjalar di bawah akar-akar rotan : sumber yang mencari kehidupan. Kelak, suatu hari di mana ruh-ruh mulai bangkit dari pundak kami, bongkahan mesiu melesat dari jantung yang hampir jatuh dari rusuknya, akan kami kejar KAU : tahanan yang semestinya tak pernah kami lukai dengan janji-janji.


Sekayu, 2012


Minggu, 01 Juli 2012

MARI


:buya

Mari
Aku menunjukkan jalan pulang bagimu
Jalan yang kerap kita bungkus rapat tiap malam
Menghalau angin ribut di dalam ketabahannya
sebelum udara-
Kemudian meledakkan meriam-meriam kedinginan

Pada sakunya,

Mari
Aku mencarikan pakaian bagimu
Lubang-lubang kancing yang terpasang kencang
Mengerat dadamu yang berkali-kali demam.

(mari) Aku menuliskan catatan-catatan
Dan beberapa pertanyaan
Ini ingatan yang kadang diam
Berkali-kali menolakkan tubuhku
Berikut tubuhmu
Lalu meriang 

Dan berhadap-hadapan
Berpukul-pukulan,

Mari
Aku mesti pulang
cara mana pun-
cara yang pernah mengantarmu
Sampai pada kematian

(mari) Lain kali bukan semata keputusan
Dari caranya mengantarmu
lihat dulu arah di seberang;
la la la la di tiap mulut gua yang bermuara.
Lain kali bukan pula mari ini
Mari yang sebentar lagi sampai
Dan mesti pulang


Palembang, 2012

Sabtu, 05 Mei 2012

A Pair of Day : Morning and Night


: mama


kita barangkali menciptakan kesedihan
pada tiap waktu yang hampir pagi
langit menjadi pucat dan dingin dengan sebentuk kemurungan
di tubuh kita. lalu kau menyeru :
di atas sana pernah ada sepasang pendekar
yang mencintai bidadari dengan selapang-
lapangnya hati. langit terbentang
membentuk lingkaran yang bersembunyi
di balik kancing baju. langkah kaki ini
tidak pernah lupa menuju jantungmu yang
pernah kita tinggali, selama lima
atau bahkan sepuluh tahun lagi.

kita saksikan embun-embun dan sisa teriakan
menyelinap di dekat koridor kamar
dan jendela yang kita katupkan
pukul enam sore. "Af, sudah begitu lama
kau menanggung pertanyaan yang luput dari mimpi."

kita mengganti jadwal-jadwal bertatap muka.
dari mulut, surat-surat berangka ditelan.
namun aku melupakan sudut paling runcing
dari matamu. mataku tenggelam. dari tenggorokan
hal -hal gaib bermunculan. kita masing-
masing masih menata kesedihan. debu dan halusinasi
beterbangan menjadi bongkah-bongkah keangkeran malam hari.

dengan sedikit gumam yang sangat lucu
aku berangkat dari meja kerja
mengerucut di pundakmu
"esok kita masih hidup bukan?"


2012 mai, Depok

Minggu, 25 Maret 2012

DAWNING YOAKE


AGS


subuh
adalah ketika
hujan menembakkan kepalanya
pada sebidang botol minuman berbusa
lehernya yang menangkap keluasan langit
menjadi cidera tanah
yang sulit disembuhkan

darah tumbuh menjadi akarakar bergetar menjadi airair melebar menjadi segumpal awan hujan kembali melukai diri


Jakarta, 2012



Jumat, 23 Maret 2012

SURAT KILAT


sebelum dewasa
pikirkan hal ini
: ketabahan



apa yang kau harapkan dari ketabahan
sebuah omong kosong mengenai pembicaraan
terputus dan terlupakan

apa yang kau harapkan dari ketabahan
sebuah sinyal dengan teka-teki
yang tak dapat diperbaiki udara malam
                                          sepi dan menyengat

apa yang kau harapkan dari ketabahan
sebuah ketakutan
padamkan lampu
jangan diteruskan!


2012

MENGHUBUNGIMU BERKALI-KALI DEMI SEBUAH HUBUNGAN

Ar


menghubungimu berkali-kali
demi sebuah hubungan

kau takkan 
mati dengan
kematian [saja]
        !


2012 


SONNET






Jadi sekarang
Hanya kami
Yang mengunjungi segalanya yang masih lama
:
Ruang-ruang penyimpanan potongan tangan yang hancur di dalam blender lama
Payung-payung penyunting foto-foto dan epilog pada recorder lama
Wajah-wajah dengan luka kering pada sebotol betadine lama
Handuk-handuk basah di laundry
Keju dan rumah belatung
Sarang laba-laba
Musim dengan serangga penyengat madu
Hujan batu yang sampai pada api
Dan kematian di dalam mantel rahasia
Yang begitu lama


2012
AGS

AZIMUT



Waktu di saku celana nampak habis
Kemudian siang dengan cahaya matahari
Makin menguning

Di antara waktu
Barangkali ada kesunyian
Serupa kesakralan ombak-ombak dengan setumpuk bebungaan
Hanyut dan terbawa arus

Saat itu kita sampaikan
kita telah berpelukan
Dengan rentetan pohon yang gerimis dan basah
Kepala makin teduh
Tubuh menghilang
Lalu hanya sepasang mata
Yang melihat lewat sinyal

Gelombang yang pergi
Dan kesulitan untuk kembali
Menjadi tiada
Kelopak-kelopak daun jatuh
Menjadi lintasan
Dengan keangkeran abadi
dari lukanya yang juga tiada
dan lukanya yang juga abadi


2012, Jakarta

Selasa, 13 Maret 2012

Sabotase



kami mengerjakan yang tidak dekerjakan anak-anak berusia delapan tahun. kami membaca yang tidak dibaca anak-anak berusia lima belas tahun. kamu mengerjakan dan membaca apa yang tidak dikerjakan dan tidak dibaca anak-anak berusia delapan dan lima belas tahun.



maka kemarilah, sayang
kita tak nampak berdiskusi panjang lebar
waktu di saku celana hanya sebotase
dan kita terperangkap di sana

sabotase dalam waktu
bukan masalah yang bisa dibawa pergi ke tempat hiburan

sabotase dalam waktu
adalah masalah kematangan.

sabotase dalam waktu
semisal kita dan buah
maka politik yang di sana
politik yang meringkuk di dalam celana
memakan sebagian dari kita yang memakan banyak buah


2012  

Minggu, 11 Maret 2012

Sylvia




                : Sylvia Plath

Mana yang benar di antara keberpihakan kita
Mengenai laut yang menyongsong kuda-kuda yang melarikan diri
dengan rumput dan seikat surat pos pagi hari
Sungai yang membawa kapal pergi menuju gelombang pasang sebelum pagi

Mana yang benar di antara kepergian yang singgah di kota ini
London, kita menemukan kota dalam kenangan kamus bermata biru
Londres, kita temukan ia pada riak kota yang terekam di antara romantisme Eiffel yang bergemuruh bersama langitnya

Katakan nona
Bila dayung ini sampai pada kematian
yang terkubur pada sebuah rumah terisolasi
Bagaimana dua orang anak yang belum memahami bentuk sebuah roti
yang tercelup bersama tangannya yang tergenang susu
dapat meminta tolong
Terhindar dari Tuhan yang ingin menjemputnya kembali
Namun musim gugur di luar
seolah belum bisa berhenti?


                2012

Minggu, 26 Februari 2012

Dialog di Sebuah Kesempatan

T.S. ELIOT

ada rambut kering
seolah enggan menarik dirinya bersenang-senang



jangan katakan apa pun sayang!
tutuplah dulu jendela di sebelah sana

kita tidak akan mengingat angin berwajah mulus
nongkrong manis di sebuah terminal bus
yang masih kehilangan sopir-sopir beridentitas.

disebabkan pikiran
makanya perjalanan ditanggalkan
sebelum lampu merah resmi
mempercepat tabrakan-tabrakan
yang melarikan diri ke rumah sakit

begini,
sebenarnya ada sebuah laporan mengatakan
perjalanan yang kita lewati kali ini
tidak sepenuhnya membutuhkan sepasang tiket yang belum sempat
dirobek ujungnya oleh seorang petugas
yang bertanggung jawab
mengatur penumpang
yang berdiri, berpelukan, dan berkeringat

"kereta sedang bejalan"

kita perhatikan
di luar jendela
barangkali cuma embun
wajahnya mirip sekali
dengan seorang wanita
yang membagikan tissue toilet
kepada siapa saja
yang ingin melepaskan beban di perut

ia yakin
dari sanalah kerelaan muncul
terekam sebagai salah satu pemikiran
yang mesti ditulis seperti ingatan

yang mesti berhati-hati kepada hati
yang tak bisa pecah
dan tak bisa dihentikan dari proses pembekuan
adalah kita yang tak punya cukup lilin
untuk menyala lebih lama

"di dekatmu sayang
hanya sebuah jendela
yang menutup dirinya lebih jauh
ketimbang sebuah perjalanan
cuma-cuma"

kita tak akan menemukan
rahasia lain yang tergantung lama
di antara tiang lampu jalanan
kasih sayang tak akan pernah
tinggal di bawah cahaya

mereka itu
juga pernah percaya pada cinta,
kekasih wanita
yang sangat rajin meyisir rambut
malam hari
bahkan ketika ikan dan kerang
tertangkap di antara jeram dan muara

sekedar bergurau sayang,
maka tutuplah jendela dan mata kita
kelak yang didapati nanti
adalah kekasih-kekasih wanita lain
sebagai simbol kesuburan
dan ideologi kecintaan

2012

Senin, 20 Februari 2012

Perumpamaan Hujan


ada sebuah perumpamaan
jika sebuah telur dimunculkan sedemikian rupa
dengan kulit yang mudah pecah
maka bayangkan
telur adalah rumah
hujan datang melipat mantel
hujan pergi mengaburkan musim yang masih was-was
hujan tidur membawa jalan yang ditempuh tanpa jarak
hujan asing


hujan
 : sebuah perumpamaan

2012

Sabtu, 11 Februari 2012

WOMAN in Art


:Sulaiman Djaya

entah kenapa dini hari terasa lebih magis dan sakti


sebaiknya
meredalah nama-nama burung
dan wanita yang membakar dadanya
dengan pemantik yang gagal menjadi api
sebelum puisi sampai pada subuh
dan teriakan menjadi pucat dan kedinginan


apa yang meruntuh di sini
sebabnya masih ada rahasia
masih ada nama mereka
yang bermunculan serupa padi
: rumpun rumah paling teduh hingga musim belalang tiba

2012

Keadilan Dengan Cara Sopan


bukannya keadilan itu terlihat kasar
ketika ia tampar muka anak kecil
yang baru saja bangun dari pelukan ibunya

keadilan itu
nampaknya memang suka pada wajah-wajah
yang mesti dilatih untuk dipukuli

keadilan itu hal paling fatal
fatal sebab ia sulit mengendalikan
wajah-wajah empuk yang nyenyak
sewaktu petir merobohkan pohon-pohon
dan oksigen yang bangkit di antara jantung-jantung kering

cuma omong kosong
keadilan sudah diteriaki dimana-mana
di jalan tol dan bis kota
sebelum wanita-wanita bertugas menengadahkan tangan mereka

keadilan yang kikuk dan linglung
ia lupa bagaimana dulu orang prancis
bertahan demi mengangkat namanya
duduk sebanding dengan suara-suara pastur, ksatria,
prajurit, atau pedagang yang membiarkan tubuhnya
kedinginan tanpa celana musim dingin

ya keadilan itu payah!
orang-orang rela mati terjepit di antara
tumpukan kartu kredit dan tuntutan perut buncit

keadilan yang harusnya dianggap sampah
bukan lagi sumpah yang acapkali ditanamkan
agar tumbuh nubuat perdu pada hakekatnya

pada buku-buku sejarah yang dibiarkan hitam putih
keadilan menjadi hukum berat
dan pandangan yang tak bisa dibatasi

2012

Jumat, 10 Februari 2012

Nantilah Kita Pikirkan Bagaimana Kesimpulannya


mestinya jarak tak membuat kita takut pada kegusaran
yang kadang-kadang datang sewaktu subuh. subuh itu cuma
pertanda bahwa kita harus berhenti mencangkuli lahan mimpi.
mimpi anak kita, dan tentang nilai-nilai ujian yang
tak semulus seperti dugaan.

boleh saja menduga hal tersebut menjadi suatu kebaikan. tapi
kita tak akan pernah yakin, siapa yang pertama
kali menciptakan dugaan-dugaan yang baik.

kita tak mengerti
makanya kita diam saja
menonton sinetron dan kartun jam enam sore nyatanya lebih asik
sambil selonjoran. seharian terkurung di alas sandal
membuat kuku-kuku kita terlihat sumpek
dan lebih sering murung

"aku ingin dijadikan minyak peracik parfum bunga-bungaan
 yang kapan saja siap dipanen di pasaran internasional!"

nah,
sudah kita dengarkan jeritan sayup-sayup tak sampai itu?
ketika di telinga
ada saja suara tambahan yang menimpali pikiran kita
merasa bersalah sebab kesibukan agaknya pongah dengan
kecurigaan kita yang suka menduga-duga dan terbiasa
dengan kebaikan-kebaikan yang mengabur
sebelum sampai pada kesimpulan.

2012

Kamis, 09 Februari 2012

Mengenai Jawaban


di sekolah
ketika sedang ujian
apa yang tiba-tiba
kita pikirkan adalah
sepintas rasa cemburu

cemburu pada anak-anak yang
terlampau muda ketimbang usia yang
mematangkan kita.
cemburu itu berawal pada sebuah permainan
yang berloncatan di atas kepala mereka
tak ada yang mesti mereka diskusikan
selain bermain, tertawa melintasi angin,
naik ke atas tangga, mengejar capung
seperti seorang prajurit yang girang menembaki
para perampok dan siapa saja yang
membawa luka di kakinya untuk
ditawarkan dengan kepingan logam

sepintas rasa cemburu
tak ada yang melebihi
rasa cemburu kita pada seorang wanita
yang berjalan dan berkubang
dengan sesuatu yang menyala-nyala di rahimnya
ia mendegar, padahal tak ada yang memanggil
tak ada siapa-siapa selain
dirinya sendiri yang nantinya ia lahirkan
lewat jalan sempit yang kapan saja
tanpa sepengetahuannya rahmat tuhan turun
beserta kematian

di sekolah
kita berpikir mengenai sebuah jawaban
apa dan mesti diapakan

kelak
bila purnama di atas
tertembus mata dan anak panah
yang kita asah
maka akan habis
jawaban yang kita cari.
di dalam kecemburuan
barulah kita memulai ujian baru
2012

CIPULARANG - Sebuah Kepergian


: kekasih, kak vivi, kak fitri, kak rendy, mas arif, mas guri, kak feri, kak candra

aku lebih suka menyebutnya kepergian ketimbang perpisahan

lantas ketika kita membicarakan waktu
kita teringat pada sebuah perjumpaan
yang berjalan sendirian
memanggil ingatan sendiri yang melintas begitu saja di
antara hutan, rumah makan, gunung, dan trotoar

kita mengukur pertemuan
agar kenangan itu dilebarkan
beberapa meter dari pengguna jalan

seketika, kita menghapus jalur
beserta lajur dengan kecepatan konstan
tanpa pernah berhenti
sebab hal yang semestinya tetap berjalan
adalah kenangan kita yang masih saja sendiri

kita pura-pura melirik
kita coba membaca berbagai spanduk
berisi petunjuk-petunjuk lintasan yang jauh
untuk mengitari perjalanan yang dimulai
dari tubuh menuju hati

kita tak memerlukan kunci
untuk mengendarai kendaraan ke sana
kita hanya butuh janji
bahwa penantian memang pantas
kita tuju pada akhirnya

2012

 

Senin, 23 Januari 2012

Tergenang di Sana




:cahaya yang kopong melintas dekat matamu

mengenai langkah yang diperhitungkan menuju hari-hari yang kelam
sebidang kekalahan dan maut yang pernah kita bicarakan
mulai menjadi laut, dan kita tergenang di sana

.





Minggu, 15 Januari 2012

K A M A R


tempat orang-orang yakin
tumbuhan akan hidup seperti kenangan


Januari 2012, Jakarta

Lebam

menulis surat adalah sekumpulan hujan yang ingin tidur di pelupuk matamu. gerimis adalah anak mereka yang kehilangan jati diri setelah bertengkar di dalam kamar. sebelum tidur, mereka tak lupa membacakan mantra-mantra untuk saling menyakiti, saling menikam.

Januari 2012

Kamis, 12 Januari 2012

Pigura





Pigura


Sebuah kecamuk datang dari balik pintu
Soerang lelaki yang kabur dengan sebuah pisau di pundaknya
Mengambil sebuah album kenangan
Berisi pigura wanita-wanita yang dinikahinya sebelum pantai reda
Dan mengamuk di kedua dadanya

“Laman cinta ini pernah ditumbuhi sebuah pohon yang kucuri dari sebuah taman. Kelupaan menghabiskan segala buahnya yang merah dan gurih. Sepasang lebah yang belajar merawat telur di bawah sayap kemudian mati.”

Sebuah kecamuk dalam ingatan berputar melewati waktu yang dituliskan lewat sebuah tangan yang ingin mencabut pisau dengan perlahan. Rasa nyeri menjadi sebentuk kue cokelat dan semangkuk puding kenyal berwarna. Dari jauh sebuah pelangi melesat cepat. Hanya bintang berekor api yang dapat dijumpai, menyerupai asap.

Jakarta, Januari 2012

Teka Teki


kalau kau tau
coba jawab beberapa teka teki
dalam bentuk lingkaran yang melingkari ruas lehermu

sebelum azan dan tirani berteriak di kubah masjid
mari tuliskan pula jawaban itu
 : serumpun doa dari hati hati yang terendam dan basah

Jakarta, Januari 2012

Sebuah Instrumen


: Kiss the Rain

sepeti harapan
angin serupa kepalsuan
yang timbul sehabis hujan meredup
di matamu

Jakarta, Januari 2012

Semarang


: mada

dan kita mesti berpura pura heran tentang gerimis yang datang pada siang hari yang begitu merindukan igau sungai pada batu pada rumah, igau angin mengering pada tiap jemuran, igau atap basah sehabis embun jatuh ke surga, bahkan igau capung dengan sepasang mata helikopter yang bersembunyi persis dekat daun jendela, daun telinga, daun ... dan daun lainnya

Januari 2012

Ippanema


bermain dalam kesepian adalah sebuah kejahatan
atau barangkali juga pesan
yang dilepaskan jarak pada mata yang seketika luntur
tanpa mesti dipanaskan

Januari 2012

Minggu, 08 Januari 2012

Sega



Semoga cinta tetaplah produk yang mesti kita olah di waktu yang dingin sebelum besok, bulan terbit lebih dulu ketimbang matahari beserta ombak.

i

Beberapakali seorang lelaki menembaki gedung-gedung dan mobil merah demi sekarung uang yang pernah ditukarnya di atas meja makan bersama semangkuk ramen dan segelas ocha dingin. Sebuah pesawatterbang terjun bebas lalu mengambil tangannya secara paksa. Dari baling-baling pesawat yang tak tahu sopan itu, munculah sepasang hantu yang mencintai topinya melebihi namanya sendiri yang dulu kerap dipanggil teman-teman sekolahnya sebagai anak bintang : turun dari langit yang masih belia.


ii

Mayat seorang lelaki dengan sepasang paru-paru baru di perutnya berkata dengan ucapan yang aneh. Huruf-huruf braille satu persatu jatuh dari mulutnya. Seekor katak yang menggelembungkan leher beserta suaranya yang pernah merdeka, berloncatan mendekati telinganya yang bosan dengan pabrik-pabrik kecil pembuat gulali. Sepotong kening yang disantukan pada kedua tangannya yang patah mulai berminyak, perlahan mencair, dan menguap.

08 Januari 2012, Jakarta

Rabu, 04 Januari 2012

Perenungan


melalui keindahan yang tiada


Dekat pohon arbey
seorang gadis duduk dan menyaksikan sederetan angin memeluk wajahnya yang lembab
Dilihatnya langit yang kedinginan
Hujan dan gerimis turun dari bukit

Dari tangannya nampak garis-garis yang pucat
Penuh harapan
Jalan pulang selalu memanggil
dalam ingatan. Dari mimpinya yang kadang-kadang datang dengan sepotong kue salju
Ia saksikan sebuah kompor menyala
Semangkuk derita yang gugur perlahan tepat di atas hidungnya yang berdarah
hampir matang, hampir beku

Matanya yang menjerit kelihatan lelah

Kemudian ia melangkah
menjauhi malam yang menyatukan waktu dan sunyi
Dari jiwanya yang diam
Matahari terbit

terbakar menjadi buih-buih yang ingin dilerai
Sedang jiwa yang kosong
Hanyut, namun tak pernah tiba di pantai
                : rumah yang dulu disebutnya tujuan

Seorang kekasih dari sebuah tikungan
berlari menuju puncak pundaknya yang tuli
Menyeru dalam halusinasi
Dinding dan seekor cicak bermain musik
Sebuah kaca yang memantul dekat jendela
tersenyum dan kembali memantulkan apa saja

Seorang gadis berlari tanpa membawa diri
Dari langkahnya muncul sebuah kantung celana robek
Cahaya mulai masuk menusuk kulitnya yang sampai saat ini
masih merindukan pesanan kerinduan cepat saji
yang bermukim di jantungnya yang angker

“usia tak mungkin
hanya sampai pada kematian”

04 Januari 2012, Jakarta

Senin, 02 Januari 2012

Sebuah Petunjuk yang Harus Kaugunakan



: Gan

Membenci cinta berarti membiarkan kukumu tak bisa tumbuh dengan warna putihnya. Waktu memakan usiamu, di bawah kulit yang setengah mati, kau menjadi tua. Besi, pintu rumah, televisi, dan meja kaca akan tetap diam. Mengetuk jiwa mereka masing-masing. Membuka kepala untuk berbicara dengan bahasa yang dulu pernah kau terka sehabis mandi.

Memberi cinta artinya menanam padi dekat lereng. Seorang petani turun dari tidurnya. Menghafal doa-doa baru bagi air, hujan, batu, dan hatinya yang kemarau. Ia berkata sesuatu, namun anaknya yang memiliki luka di gusi tidak bisa ikut berkata. Mengunci mulut dan pita suara adalah harta selama tujuh tahun yang ditimbun di dalam tenggorokan. Lalu seekor jangkrik keluar dengan nyanyian yang membangunkan seorang anak yang baru saja tidur dengan lolipopnya. Bahkan ia mesti melupakan seorang ibu yang dulu bergelut dengan bumi demi kepala dan sekantung darah yang mengalir di sekujur tubuhnya.

Memasuki cinta artinya merendam kedua kaki pada kolam. Ikan-ikan gemuk dan bergigi berenang-renang. Mereka siapkan pusaran air kecil dan menyakitkan. Malam dan siang turun, kereta dan kuda berjalan, waktu akan hidup, dan nama merupakan kesialan bagi harapan yang gagal bertahan.

Maka cinta adalah segala hal yang tak bisa putus di tangan pisau. Sekali pun segala kejahatan masuk kembali dalam mimpi, dan kebaikan layu di ujung tangkai. Mengenai cinta adalah catatan mengenai apa yang dikatakan oleh mereka tidak akan pernah dikalahkan meski laut dan pantai tidak lagi mengajak sepasang kekasih berciuman, meski laut dan awan menjauh dari matahari dan nyala kemerah-merahan.

Jakarta, Januari