Minggu, 26 Februari 2012

Dialog di Sebuah Kesempatan

T.S. ELIOT

ada rambut kering
seolah enggan menarik dirinya bersenang-senang



jangan katakan apa pun sayang!
tutuplah dulu jendela di sebelah sana

kita tidak akan mengingat angin berwajah mulus
nongkrong manis di sebuah terminal bus
yang masih kehilangan sopir-sopir beridentitas.

disebabkan pikiran
makanya perjalanan ditanggalkan
sebelum lampu merah resmi
mempercepat tabrakan-tabrakan
yang melarikan diri ke rumah sakit

begini,
sebenarnya ada sebuah laporan mengatakan
perjalanan yang kita lewati kali ini
tidak sepenuhnya membutuhkan sepasang tiket yang belum sempat
dirobek ujungnya oleh seorang petugas
yang bertanggung jawab
mengatur penumpang
yang berdiri, berpelukan, dan berkeringat

"kereta sedang bejalan"

kita perhatikan
di luar jendela
barangkali cuma embun
wajahnya mirip sekali
dengan seorang wanita
yang membagikan tissue toilet
kepada siapa saja
yang ingin melepaskan beban di perut

ia yakin
dari sanalah kerelaan muncul
terekam sebagai salah satu pemikiran
yang mesti ditulis seperti ingatan

yang mesti berhati-hati kepada hati
yang tak bisa pecah
dan tak bisa dihentikan dari proses pembekuan
adalah kita yang tak punya cukup lilin
untuk menyala lebih lama

"di dekatmu sayang
hanya sebuah jendela
yang menutup dirinya lebih jauh
ketimbang sebuah perjalanan
cuma-cuma"

kita tak akan menemukan
rahasia lain yang tergantung lama
di antara tiang lampu jalanan
kasih sayang tak akan pernah
tinggal di bawah cahaya

mereka itu
juga pernah percaya pada cinta,
kekasih wanita
yang sangat rajin meyisir rambut
malam hari
bahkan ketika ikan dan kerang
tertangkap di antara jeram dan muara

sekedar bergurau sayang,
maka tutuplah jendela dan mata kita
kelak yang didapati nanti
adalah kekasih-kekasih wanita lain
sebagai simbol kesuburan
dan ideologi kecintaan

2012

Senin, 20 Februari 2012

Perumpamaan Hujan


ada sebuah perumpamaan
jika sebuah telur dimunculkan sedemikian rupa
dengan kulit yang mudah pecah
maka bayangkan
telur adalah rumah
hujan datang melipat mantel
hujan pergi mengaburkan musim yang masih was-was
hujan tidur membawa jalan yang ditempuh tanpa jarak
hujan asing


hujan
 : sebuah perumpamaan

2012

Sabtu, 11 Februari 2012

WOMAN in Art


:Sulaiman Djaya

entah kenapa dini hari terasa lebih magis dan sakti


sebaiknya
meredalah nama-nama burung
dan wanita yang membakar dadanya
dengan pemantik yang gagal menjadi api
sebelum puisi sampai pada subuh
dan teriakan menjadi pucat dan kedinginan


apa yang meruntuh di sini
sebabnya masih ada rahasia
masih ada nama mereka
yang bermunculan serupa padi
: rumpun rumah paling teduh hingga musim belalang tiba

2012

Keadilan Dengan Cara Sopan


bukannya keadilan itu terlihat kasar
ketika ia tampar muka anak kecil
yang baru saja bangun dari pelukan ibunya

keadilan itu
nampaknya memang suka pada wajah-wajah
yang mesti dilatih untuk dipukuli

keadilan itu hal paling fatal
fatal sebab ia sulit mengendalikan
wajah-wajah empuk yang nyenyak
sewaktu petir merobohkan pohon-pohon
dan oksigen yang bangkit di antara jantung-jantung kering

cuma omong kosong
keadilan sudah diteriaki dimana-mana
di jalan tol dan bis kota
sebelum wanita-wanita bertugas menengadahkan tangan mereka

keadilan yang kikuk dan linglung
ia lupa bagaimana dulu orang prancis
bertahan demi mengangkat namanya
duduk sebanding dengan suara-suara pastur, ksatria,
prajurit, atau pedagang yang membiarkan tubuhnya
kedinginan tanpa celana musim dingin

ya keadilan itu payah!
orang-orang rela mati terjepit di antara
tumpukan kartu kredit dan tuntutan perut buncit

keadilan yang harusnya dianggap sampah
bukan lagi sumpah yang acapkali ditanamkan
agar tumbuh nubuat perdu pada hakekatnya

pada buku-buku sejarah yang dibiarkan hitam putih
keadilan menjadi hukum berat
dan pandangan yang tak bisa dibatasi

2012

Jumat, 10 Februari 2012

Nantilah Kita Pikirkan Bagaimana Kesimpulannya


mestinya jarak tak membuat kita takut pada kegusaran
yang kadang-kadang datang sewaktu subuh. subuh itu cuma
pertanda bahwa kita harus berhenti mencangkuli lahan mimpi.
mimpi anak kita, dan tentang nilai-nilai ujian yang
tak semulus seperti dugaan.

boleh saja menduga hal tersebut menjadi suatu kebaikan. tapi
kita tak akan pernah yakin, siapa yang pertama
kali menciptakan dugaan-dugaan yang baik.

kita tak mengerti
makanya kita diam saja
menonton sinetron dan kartun jam enam sore nyatanya lebih asik
sambil selonjoran. seharian terkurung di alas sandal
membuat kuku-kuku kita terlihat sumpek
dan lebih sering murung

"aku ingin dijadikan minyak peracik parfum bunga-bungaan
 yang kapan saja siap dipanen di pasaran internasional!"

nah,
sudah kita dengarkan jeritan sayup-sayup tak sampai itu?
ketika di telinga
ada saja suara tambahan yang menimpali pikiran kita
merasa bersalah sebab kesibukan agaknya pongah dengan
kecurigaan kita yang suka menduga-duga dan terbiasa
dengan kebaikan-kebaikan yang mengabur
sebelum sampai pada kesimpulan.

2012

Kamis, 09 Februari 2012

Mengenai Jawaban


di sekolah
ketika sedang ujian
apa yang tiba-tiba
kita pikirkan adalah
sepintas rasa cemburu

cemburu pada anak-anak yang
terlampau muda ketimbang usia yang
mematangkan kita.
cemburu itu berawal pada sebuah permainan
yang berloncatan di atas kepala mereka
tak ada yang mesti mereka diskusikan
selain bermain, tertawa melintasi angin,
naik ke atas tangga, mengejar capung
seperti seorang prajurit yang girang menembaki
para perampok dan siapa saja yang
membawa luka di kakinya untuk
ditawarkan dengan kepingan logam

sepintas rasa cemburu
tak ada yang melebihi
rasa cemburu kita pada seorang wanita
yang berjalan dan berkubang
dengan sesuatu yang menyala-nyala di rahimnya
ia mendegar, padahal tak ada yang memanggil
tak ada siapa-siapa selain
dirinya sendiri yang nantinya ia lahirkan
lewat jalan sempit yang kapan saja
tanpa sepengetahuannya rahmat tuhan turun
beserta kematian

di sekolah
kita berpikir mengenai sebuah jawaban
apa dan mesti diapakan

kelak
bila purnama di atas
tertembus mata dan anak panah
yang kita asah
maka akan habis
jawaban yang kita cari.
di dalam kecemburuan
barulah kita memulai ujian baru
2012

CIPULARANG - Sebuah Kepergian


: kekasih, kak vivi, kak fitri, kak rendy, mas arif, mas guri, kak feri, kak candra

aku lebih suka menyebutnya kepergian ketimbang perpisahan

lantas ketika kita membicarakan waktu
kita teringat pada sebuah perjumpaan
yang berjalan sendirian
memanggil ingatan sendiri yang melintas begitu saja di
antara hutan, rumah makan, gunung, dan trotoar

kita mengukur pertemuan
agar kenangan itu dilebarkan
beberapa meter dari pengguna jalan

seketika, kita menghapus jalur
beserta lajur dengan kecepatan konstan
tanpa pernah berhenti
sebab hal yang semestinya tetap berjalan
adalah kenangan kita yang masih saja sendiri

kita pura-pura melirik
kita coba membaca berbagai spanduk
berisi petunjuk-petunjuk lintasan yang jauh
untuk mengitari perjalanan yang dimulai
dari tubuh menuju hati

kita tak memerlukan kunci
untuk mengendarai kendaraan ke sana
kita hanya butuh janji
bahwa penantian memang pantas
kita tuju pada akhirnya

2012