Selasa, 17 Juli 2012

METROPOLUTAN




Kami terkadang mesti berlari, membawa serta jingkatan yang diam-diam menyelinap di dalam sebuah pengasingan. Jiwa kami yang tak layak huni, berkali-kali gontai. Limbung datang dari tubuh yang mengusung kelap-kelip malam, menyulap dan memantrai kami. Dari ritus ini, tak ada yang namanya kesepian dan kesakralan. Semuanya melunak serempak. Menampar daging kami satu persatu. Kami yang bersuara di atas segala keinginan, telah ditembaki dengan sebatang pelor busuk yang dirampas dari jiwa kami, dari tubuh kami, dari segala ingin yang mengguncang. Kemudian tumbuh menjalar di bawah akar-akar rotan : sumber yang mencari kehidupan. Kelak, suatu hari di mana ruh-ruh mulai bangkit dari pundak kami, bongkahan mesiu melesat dari jantung yang hampir jatuh dari rusuknya, akan kami kejar KAU : tahanan yang semestinya tak pernah kami lukai dengan janji-janji.


Sekayu, 2012


Minggu, 01 Juli 2012

MARI


:buya

Mari
Aku menunjukkan jalan pulang bagimu
Jalan yang kerap kita bungkus rapat tiap malam
Menghalau angin ribut di dalam ketabahannya
sebelum udara-
Kemudian meledakkan meriam-meriam kedinginan

Pada sakunya,

Mari
Aku mencarikan pakaian bagimu
Lubang-lubang kancing yang terpasang kencang
Mengerat dadamu yang berkali-kali demam.

(mari) Aku menuliskan catatan-catatan
Dan beberapa pertanyaan
Ini ingatan yang kadang diam
Berkali-kali menolakkan tubuhku
Berikut tubuhmu
Lalu meriang 

Dan berhadap-hadapan
Berpukul-pukulan,

Mari
Aku mesti pulang
cara mana pun-
cara yang pernah mengantarmu
Sampai pada kematian

(mari) Lain kali bukan semata keputusan
Dari caranya mengantarmu
lihat dulu arah di seberang;
la la la la di tiap mulut gua yang bermuara.
Lain kali bukan pula mari ini
Mari yang sebentar lagi sampai
Dan mesti pulang


Palembang, 2012