Selasa, 28 Agustus 2012

Puisi Ialah Bahasa Batin yang Berbicara



Puisi ialah bahasa batin yang berbicara melalui siapa-siapa saja dan apa-apa saja yang ia pilih. Misalkan pohon kurma dan seorang wanita yang tengah memeram buah hati di dalam rahimnya. Mereka berdua yang sepakat ini diam-diam menyimpan buah hati yang sangat dikasihi. Bersama-sama melewati sembilan purnama lamanya, mereka berdua saling akur, mengadu nasib di dalam doa, mempertanyakan kembali bahasa-bahasa batin yang telah memilih mereka. Dengan sura yang sulit dimengerti oleh tumbuhan yang hampir habis masa panennya, mereka terkadang menggerutu sendiri. Menyatakan kekesalan dalam berbagai tindakan yang sebenarnya mencelakakan buah hati. Buah hati yang tak pernah memilih dan tak ingin dipilih.
Dari yang jauh dan terpantul di hadapan mereka, sebuah berkah hadir tanpa  terduga. Terbanglah selembar kain bertuliskan poster berhadiah, lengkap dengan lomba berikut prasyaratnya. Bagi siapa saja dan apa saja yang dapat menulis puisi dengan bahasa paling batin, akan mendapatkan pasangan hidup yang selamanya akan menjadi milik pribadi. Termasuk semua keinginan akan dipenuhi.
Salah satu yang memeram buah hati di rahimnya begitu lelah dan tertidur dengan mata meregang. Digenggamnya sebuah pistol plastik dan peluru karet. Ia berharap-harap cemas terhadap sosok siapa saja dan apa saja yang dianggapnya momok itu. Ia kedinginan. Namun pohon kurma yang baik hati memeluknya dengat begitu mesra. Tiba-tiba ia merindukan sebuah pesta di waktu yang dulu. Pernah ia bercinta pada siapa saja dan apa saja yang membuatnya serasa di surga. Surga yang manis dan luar biasa.
Melihat wajah wanita itu, ia pun ikut tertidur. Di dalam tidurnya ia menjelma yang lain. Seperti siapa saja dan apa saja yang tak asing baginya, ia pun menemukan wanita yang ia peluk dengan harap-harap cemas. Wanita yang menjelma siapa saja dan apa saja.
Mereka berdua yang bercengkrama di dalam tidur masing-masing akhirnya mengamuk setelah tahu bahwa merekalah yang selama ini menjadi siapa saja dan apa saja yang lama dinanti. Entah kaget seperti apakah yang mengubah mereka demikian malu dan akhirnya memutuskan bunuh diri. Mereka saling memukul, saling menggigit, saling menggeram, saling merobek. Sebelum sampai pada potongan yang paling akhir dari tubuh mereka, kesepakatan yang sempat mereka kumpulkan bersaa perlahan memudar. Diam-diam hampir mati.
Dari tangannya yang masih berdarah, datanglah puisi sebagai ksatria. Ia menghakimi mereka yang terbongkar menjadi siapa saja dan apa saja. Puisi menjelma menjadi neraka dengan sumbu paling membara. Puisi dapat menghendaki apa pun yang terjadi pada siapa saja dan apa saja.

2012

HANYA KITALAH SATU-SATUNYA



:bara, agus noor, hasan aspahani

Barangkali, dengan memukulimu lewat sejuta pensil runcing dapat menembus lengkung hati yang kian kebal. Namun aku semakin ingin mengusikmu. Yang lelah dan yang mengalir di tubuhku, hanya sebuah tanda tanya yang tak semestinya kau tahu.
Berlarilah kemana saja, sayang! Berlarilah sebelum ombak menjerembabmu di dalam keasingan yang tak akan pernah mengingat ingatannya sendiri. Sedang aku di sini menyaksikanmu dalam kelelahan.
Sejak demikian itu waktu memburuku dengan beringas. Kini gilirannya aku memburumu. Menghujanimu dengan semacam tembakan kecil yang dinamakan cemburu. Menusukmu dengan semacam mata pisau yang nakal, yang pernah melenyapkan segenap dahaga untuk sekedar kembali pada kecintaan lama.
Yang telah berlalu dan yang hampir saja tiba pada masa lalu, aku yakin hanya kita sajalah satu-satunya yang berhasil tetap pongah mencari hidup dengan cara lain, mimpi yang tuntas, dan kemungkinan-kemungkinan yang segera lepas.

2012

IN A HARMONY AND A ROAD


a long road after walking


Sejak awal mencintaimu senantiasa sebatas keasikan : anak-anak bermain hujan, menarik layang-layang basah, bernyanyi dengan keriuhan tanah yang diam-diam menampik mimpi mereka - jatuh perlahan, menipu dedaunan yang sebenarnya telah lebih dulu mencintaimu dengan sepatah ranting di tubuhnya.

Seandainya mencintaimu senantiasa kekosongan dari dalam air yang bergulung-gulung dengan gemetar, mencengkeram tanganku berikut keangkeran dari dalam hatimu : rumah paling merdeka bagi anak-anak yang bermain, aku menukaskan beberapa kepedihan lain lalu menukarnya dengan sebatang peluru mungil, berkali-kali muncul dari lubang pipimu yang putih.

Seperti jarak yang terlampau jauh ditempuh oleh punuk masing-masing orang yang berkekasih, perjalanan mencintaimu belum berhenti. Seperti kita yang kadang menangis dan kembali menutup mulut sendiri, membiarkan tenggorokan terbuka, membangun cabang baru, mencari jalur lain_jalur lebih singkat yang memuncakkan doa-doa lewat tumbuhnya kayu, meranggas di matamu, menjadi anakan air, jatuh berbutir-butir.

Namun akhir dari perjalanan menuju cintamu bagai moksa yang dikendalikan oleh cinta. Lebih dingin dari apa pun yang kelak kita simpan setelah moksa paling akhir. Memantrai cintamu yang berkali-kali membingungkan jalan pulang lewat hatimu sesungguhnya.



Palembang, 2012

Kamis, 16 Agustus 2012

SURAT-SURAT BERLABEL ALAMAT LAINNYA



apa yang baru saja menjadi tantangan di dalam surat selain alamat dan pengaduanmu yang ditulis semalam suntuk ?

demikian kita mengabaikan surat-surat yang datang di tengah meja kerja
seperti gumpalan kertas-kertas buram dan tinta pena yang berjatuhan
demikian kita tak pernah kembali memungut apa yang mesti dibereskan
perahu-perahu terbang yang berkeliaran di depan mata
demikian kita menerjemahkan sebuah pemisah antara waktu 
saban hari dan yang kelak akan kita musuhi

namun apa yang telah usai di antara pemberian salam 
dan ucapan selamat tinggal
bukan saja peringatan perpisahan dan pertemuan yang acapkali
kita kutip pada masing-masing surat harian. kita yang tengadah dan lugu
demikian begitu asik memandang diri dari balik hujan yang berkaca-kaca

maka demikian yang hampir raib di atas surat ini
kita menghapusnya perlahan. mendedahnya kembali, menulis ulang
kita sepakat tidak ada pengulangan paling fasih yang mesti dibawa kabur
atau dilayangkan lewat surat-surat berlabel alamat lain
.

Palembang, 2012

Minggu, 05 Agustus 2012

DARI MARITIM YANG TERBUKA




Setelah lima hari kita berhasil menyatukan cerita-cerita tentang nyamuk yang hinggap di kebun sayur, akhirnya kita rampungkan keinginan-keinginan untuk berbelanja puisi pada sebuah swalayan yang berisik dan menyukai monopoli rumahrumah yang singgah dari negeri yang jauh. Beberapa bintang yang pernah dituliskan melalui sebuah kertas pembungkus permen karet bermotif kupu-kupu, kita simpan baik-baik dalam celana panjang yang kehabisan warna. Setiba musim dingin menurunkan salju merah dan sakura yang tumbuh di pinggiran ranting, tombol-tombol televisi terasa begitu sulit dikendalikan. Sederetan menu sulit terbaca, hingga daftar kenapa berjumlah begitu banya ketimbang mengapa.

Kemudian pukulan-pukulan dari ujung sisir dihantamkan ke lengan kita untuk menciptakan suara-suara lebam. Pisau-pisau begitu tumpul ketika channel-channel mengambang di air yang bernama. Sepasang wanita yang memanggang roti dengan selai alis-alis yang cukup untuk digunting, mengaku telah membereskan ikat-ikat rambutnya dengan sebotol sampo yang tumpah dan berserakan.

Kita akan mengatakan praktis adalah cara paling tepat untuk menghancurkan puisi-puisi yang gagal bertahan sembilan bulan. Kandungan dihargai dengan harga cacian dan murah. Hingga kain dan sebuah canting memiliki banyak bensin untuk melesat,

Kepompong dari sudut tangan kita yang menggemgam remoute control
Menyalakan mesin keheranan,
Menjadi peluk ... peluk dan sayang


2011, Jakarta