Minggu, 15 Desember 2013

YA(ITU)



Ya
Itu sisi kabut yang tidak terpatahkan
sesekali pantang merubuhkan gedung-gedung atas nama cinta
rohani, iman, dan jiwa

Ya
Itu letupan bibir-bibir yang membebaskan warna gincu
Angin serta awan yang meneduh akan sangsai
Mengadu pada entah saat mereka saksikan
Di tanah kita seribu malaikat memanggul pedang yang dipahat

Ya
Itu
mendengar sembahyang yang menyelinap di rerumpun rumput
Kita tak pernah sepakat menjamu bunga liar
dan menggenang di sisa hujan

Ya
Itu jubah kita kenakan
Dengan menghirup patok-patok yang runtuh
Dalam adegan dan pemain-pemain palsu
Mereka lupa dialog yang dibentuk berangkai huruf
untuk mengatakan
Ya
Itu
Kita di sini tak mau direnggut oleh sekepal tangan tinju
Namun selain itu, yang menyepakati dan enggan bersikukuh
Telah membangun gedung-gedungnya atas nama nafas yang teratur
dan ke mana arah jantung mesti berhenti



2013


ADJIT!



Kau menjatuhkan, Adjit!
Benih luka yang menyebar di kolam-kolam
Ikan-ikan yang riang di balkon lantai dua
Dan camar yang bergantung di tiang listrik akan celaka

Mereka menunggu mataharimu
Dan menguap di bungkus plastik yang berat

Lewat jalan jampi-jampi
Lekas ikat sepatu dengan reranting yang kemilau
Tukarlah sebatang pohon mawar
Yang disimpan di riak wajahmu

Kejam itu, Adjit
Mencelakakan kursi-kursi tempat anak-anak berzirah
Mencengkam bilah-bilah yang teropong oleh garis
Melintang di sekujur kepala yang menulis riwayat
Pasanglah doa-doa di ujung kabel
Biarkan sumbernya hidup dan menyala!



2013


Sabtu, 14 Desember 2013

P A H A (T)



Ia kunjungi bulan yang memberat di dadanya
Sepasang biji yang berkulit dari kantong baju
Ia lempar membentur jalan dan turbin yang pecah

Ia mencari rumah yang berjanji
Menjaga nyala api yang susut di atas kepungan ranjang
Selimut yang terlipat lewat sinyal radio
Dan nina bobok yang melayang-layang

Lantas ia merenung di tangga yang menanam pondasi di pahanya
Urat-urat menetes menjadi tiktok yang leleh di meja makan
Semangkuk sup yang telanjang
Ikan-ikan yang mengerak di perapian
Ia lempar juga di wajahnya yang cermin

Ia berteriak menghadap pisau yang ingin ia tusukkan di lubang hidungnya
Di lubang mulutnya yang mengecup sepasang paha
Sepasang pisau yang mengoles paha
P a h a (t)
!



2013


TANOSS A



aku tidak mungkin minum bir
jika parau yang tengadah di sana
bersuara sedingin pantai yang kelak kita kunjungi lagi

lilin bercahaya dan lampu padam
aku bergerak menyusuri dan menebang hutan-hutan lebat di pinggulmu
aku menumpahkan sekaleng bibit wewangian yang sakral
kelak akan tumbuh seperti hutan yang juga teriak di rahimmu

T
E
R
I
A
K

Lalu aku berjaga
menyimak bulan-bulan yang terkancing rapat



2013


Minggu, 24 November 2013

PIANO


Smoke is another name of black and white


Sebuah palindrom sayang, siapa yang meletakkan bajunya di atas pohon berhantu? Pohon berhantu telah lama menyingsing sebuah cerita angker tentang petruk, anatomi yang disusun dari masa ke singgah waktu dimana gedung-gedung menghimpit jalan pulang. Tak ada gunung yang menyusui ketika debu meloloskan ibu jarinya ke salah satu lubang rumah siput. Aku mendengar canting yang dibakar. Liliput bernyanyi tentang semak yang terbakar oleh ingatan. Perang-perang dijatuhkan lewat hologram. Dan aku mendengar sebuah gelang perak yang kita gosokkan ke almari. Minggu ini, dimana baju berganti nama dan kita mesti melupa satu per satu. Ada yang mengupas mangga dan menanam kulitnya di jari manis kita. Kukecup lading berdarah. Pada hujan di langit percuma, seorang anak pria yang berdiri menantang perahu kayu, menyaksikan ikan-ikan telanjang, insang yang lunak, nafas yang mendengar suara jangkrik, ...



2013

Sabtu, 23 November 2013

UNTUK SIAPA ANAK KECIL ITU BERTANYA




Kemungkinan paling pahit pernah membengkak dan kering dengan sebuah luka
Mengamati dengan firasat dan desire
Sebuah jalan yang memungkinkan hujan
Dan kita mesti berteduh di bawah rimbun yang entah,
Mama, hujan itu kapan nyenyak tidurnya?
Suara bensin yang menggilas pagar-pagar mimpi
Suara takbir melonceng dari wadah kubah
Suara anjing dan gugur langit pada tingkat pohon paling atas,
Ma, mereka mengganggu malam kita.

Mama mau mengusir?
Mama punya sejumlah tongkat atau police line?
Mama mengamankan mereka untuk siapa?



2013


NGAMEN PUISI DAN MUSIK



“Mau balon yang mana? Yang besar, sedang, warna-warni, meriah, talinya panjang, bentuk boneka?”

Aku masih punya balon yang kian hari, ia matang di bawah cahaya. Siang itu, aku ngamen musik dan puisi. Pasar yang sepi, kemudian dipenuhi orang-orang yang berkeringat. Mereka mendekat. Mereka-reka apa yang dikatakan oleh matanya, aku seolah sedang meramu jampi penglaris proses menjual dan membeli. Entahlah. Siapa saja boleh menebak. Hanya hati dan akal masing-masing yang berkata, “Itu jawabannya!” “Itu salah!”

Sinar matahari yang tembus di badan rimbun pohon, mulai menggeliatkan waktu. Sejumlah awan beringsut mencari sumber dan cinta di langit lain. Tidak ada yang berteduh. Aku bersyukur jika takdir mengamen seperti menjadi rezeki sehari-hari.

Puisi dan musik live concert, arah matahari mulai menikung. Wajah mereka yang menyaksikan semakin nampak murung dan menyebalkan. Setidaknya ketika ada yang menghibur, mengamen di depan mereka, ekspresi yang tergambar paling tepat seharusnya wajah penasaran, mengernyitkan alis, mengerdipkan kelopak mata yang kuyu oleh beberapa praduga. “Bukan, itu tebakan!”

“Sebuah jalan terbentang. Langit menghapus awan. Aku tidak minum bir. Tapi secangkir kopi yang dituang ke celana kita, seolah membikin gelembung. Dan apa yang kau ramalkan tentang manusia dan sebuah jalan, telah benar-benar terbentang bagai dada telanjang”. Aku mulai dengan sebuah prelude atau interlude. Aku lupa mana istilah yang tepat untuk menjelaskan setidaknya yang dibacakan adalah pembuka, awalan sebagai tanda aku akan serius membaca. “Mengamen!”

Setimentil adalah sebuah kata sifat yang pertama kali melintas bagai guru yang mencambuk kertas ujian. Ada petir dalam puisi, dan nikmat dalam musik. Aku berlari dengan getar di tiap dawai. Ada vibrasi yang gelombang. Tinta hitam telah menulis puisi dengan nyawa yang ia habiskan dengan cinta kata-kata.

“Yuk mampir! Ajak teman-teman, anak-anak yang menggenggam balon, penjajah jeruk manis dan bulat!”

Pengantar yang lebih dalam ini, aku sampaikan dengan tindak laku yang mengencangkan otot-otot tenggorokan. “Yang ngamen seperti saat ini, sudah begitu langka. Apalagi gratis. Memang cinta tak berarti, dan uang bukan apa-apa.”

“Gelombang air susut mencapai suara yang hendak balik ke muara. Seorang wanita menggendong jamu di teteknya. Tulang belakang yang dihisap oleh asap-asap membuat angin, perpanjangan waktu, dan peluh yang dinyatakan dengan ahhh semakin ada.”

Puisi dan musik. Aku ngamen dalam sebidang kertas yang menulis darah atau lubang pikiran yang disiapkan bernafas panjang. Lirik menjadi makin basah, dan kami tidak menyadari.

......

“Bibir kita. bibir yang menghisap darah. Biarkan dada ini meradang merah. Sebab aku tahu yang menjadi gincu pada tabung bibir kita telah memuat mawar yang tumbuh dari benih duri.”

“Aku mau siksa kau dengan sebotol miras yang cabul, sayang! Aku mau congkel daging yang menyempil dan tumbuh seperti bukit yang baru tumbuh itu! Aku mau sendok yang mengarah pada pipa-pipa rahimmu! Boleh aku cium nafas yang sengit dari telur-telur yang suumbunyi dari kita-sebab leher pedangku begitu tajamkah?”

......

Aku menggigil. Demam, orang menyebutnya sebagai penyakit hukuman dari taring harimau yang tiap kali dikikis oleh pemangsa kehidupan. Voldemort. Kata mort yang menjadi konjugasi kata kerja mourir, artinya mati. Aku memelajarinya di beberapa kelas Prancis untuk beberapa tahun saja.

Namun ada yang tak kupahami. Apakah orang-orang Prancis di sana mati dengan penyakit yang mengikat dalam takdir hukuman? Atau matikah mereka oleh sebab-sebab yang aku sendiri tidak tahu artinya. Meregang, tenggorokan mereka terjepit dan gumpalan teriak menjadi semacam dosa yang tak kupahami?

......

Puisi dan musik, di jalan lapang yang tengadah dalam jarak ke jarak, puisi dan musik saat itu kemudian dapat aku bacakan sebagai huruf-huruf kapital yang terpantul keras di ubun-ubun kertas. 

”Mari mengawali puisi dan musik sebelum tanah kita menjadi musim semi, musim gugur daun dari batang-batang yang benci digerogoti, musim dingin milik Vivaldi, atau musim panas yang bekerja di wajah laptop!”

“Mari menggigilkan urat-urat yang kencang pada tafsir yang bebas dan liar seperti kali ini saja, pertama dan terakhir, ada puisi dan musik melintas di canting-canting beras, fermentasi anggur yang dituang di gelas plastik, balon yang merambat ke udara, jual beli yang gratis!”





November, 2013


*bung Jajang R. Kawentar


Senin, 18 November 2013

JEMBATAN TERINDAH



Jalan pintas adalah jalan yang dapat mencapai kepuasan. Aku teringat pada sebuah cerita tentang seorang pria yang ingin terjun dari tempat tinggi. Beberapa polisi sedang menarik rata sebuah matras empuk dan beberapa lagi ada yang melihat sebentar karena takut, dan sisanya merekam setiap langkah, setiap kegalauan, setiap keringat yang sia-sia dihisap awan sebagai pemantik, itu bunuh diri namanya.

Namun tidak denganku yang membayangkan tempat tinggi itu sebagai jembatan terindah menurut hati dan pikirannya yang tercabik-cabik. Aku mampu melihatnya dari pakaian yang dinodai oleh sepasang bibir dengan gincu ungu, dan sebagian lagi seperti terbakar oleh sesuatu. Anggap saja itu intermezo atau pariwara televisi yang berisik dengan reka ulang dan berita. Itu bunuh diri namanya.

Aku, dan jembatan terindah, kami membuat perjanjian palsu sebenarnya. siapa di antara kita yang mematok waktu lebih lama kapan pria itu akan hanyut ke telaga hati dan pikirannya, maka akan dapat hadiah. Terserah matahari atau gelagat pria itu sendiri yang menentukan apa yang pantas dan tidak pantas menjadi kejutan.

Pukul 3 dan gerimis mulai basah. Pikiran kotor orang-orangg menyembul mengingat komponen makna basah ada pada tiap pergulatan saat yang lelah dengan pasrah menutupi mimpinya dengan sekarung ranjang empuk. Itu bunuh diri namanya.

Kalau aku, aku mau kasih si jembatan itu si pria yang terlihat mau terjun tadi. Katakan seperti itu. Maklum kenangan-kenangan yang aku tumpukkan pada televisi hitam putih, sudah terjual bersama botol-botol hangat penghabis waktu saat gairah menjadi peti untuk menyimpan kebahagiaan yang sulit dimiliki tetangga, mama, dan papa.

Tetangga, mama, papa, mereka baik. Mereka suka tersenyum saat melihat burung, mawar, dan sedannya masih tertata rapi seperti kemarin. Benar atau tidak yang menjadi taruhanku di awal sebenarnya adalah mereka yang begitu egois dengan jembatan terindah masing-masing.

Di usia sepuluh, aku kira jembatan terindah mereka adalah anak-anak yang berangkat sekolah, mencium tangan kedua orang tua supaya menjadi doa keselamatan saat mereka hendak pergi dengan sebuah taksi. Di usia lima belas, aku yakin jembatan terindah mereka adalah dialog keuangan yang mesti mereka rapikan sebab anak-anak yang sering bepergian dengan taksi, mesti naik metromini yang menjamin banyak kecelakaan. Dan saat ini, ketika usiaku genap sembilan belas, aku jadi ragu yang menjadi jembatan terindah mereka adalah dirinya sendiri. Dirinya yang bahagia oleh burung, mawar, dan sedan adalah pemusnahan harmonisasi saat orang-orang memulai lomba persaingan dan perseteruan.

Jembatan terindah bagiku adalah saat aku bisa menguasai diri dari bisikan yang terdengar asik dari tembok yang mengepung kamar persegi empat – aku pernah menggunting foto mama papa di sana, menjadi teka-teki saat mau meletakkan pakaian dalam di mesin cuci. Aku tidak bisa mengelak jika bisikan itu berbahaya. Lebih berbahaya dari lututku yang cidera oleh gerigi mobil bus tank-tank yang meledakkan sebuah kilang pasir, dan aku terkena nasib sial itu saat sedang sendiri di kelas. Melamun namanya. Bunuh diri namanya.

Aku berpikir berpikir berpikir, dialog dengan sebuah tempat tinggi tidak mendidikku menjadi pria yang insaf menelan kepalsuan lelaki. Ia tidak tahu jika aku sedang membayangkan tubuhnya dikuliti dan aku menghisap nanah yang encer dari rambutnya, seolah menghisap jelly pada minuman berkaleng yang difermentasi. Makin dihisap, makin tidak sampai di pangkal tenggorokanku, makin aku kesal.

Tempat tinggi itu, ia diterpa angin, ketika seorang pria yang kami jadikan umpan taruhan telah terjun tanpa tanda suara, histeris, atau kebencian yang meluluhkan kakinya menjadi kekecewaan seperti pada tayangan sinetron kebanyakan, dan ia menyimpan kedengkian dan tafsir hidup yang belum diterjemahkan sendiri di kepalanya. Aku melihat huruf-huruf seolah terbakar saat yang meleleh dari dari kepalanya adalah cairan putih, kental, dan licin. Itu bunuh diri namanya.

Satu persatu, kami mengakhirinya dengan tembakan peluru air mata, agar kami pura-pura bersimpati dan kemudian memuntahkan segala item di perut sebagai protes manusia tidak boleh membuang hal-hal yang berharga darinya – nyawa, langkah yang ditahan angin, bangunan-bangunan yang lugu dan kita terhimpit di sana, setidaknya mampu membuat kita tegar.

Aku melangkah lebih jauh, dan yang aku kenakan seolah menjadi merah. Saat itu hujan tiba-tiba menjadi yang paling deras dan paling sesak di ulu hati. Ia menggiring apa yang menyembul dari pria itu menjadi lebih menyebar lalu mencari sumber urat nadi. Aku seolah diajarkan cara menitipkan jembatan terindah menjadi darah.

2013

Minggu, 17 November 2013

MEMBIARKAN ATAU TIDAK MEMBIARKAN




Pesanmu berjalan jauh. Ketika yang kau tutup rapat cuma pintu, aku mesti menangis pada hujan yang turun menggumpal, mesti mematok pisau pada trali jendela yang baru terkelupas. Aku ingin bagaimana jika caramu mengunci rapat, adalah mengunci yang tidak baik, yang luput dari sebotol pil diare . Aku ingin kau mengunci pintu rapat dengan setan-setan golok yang memenuhi kepalamu. Rumah ini lebih ringan dari segala dosa yang kita coba hapus tadi malam. Waktu tidak pernah terlambat memasukkan kosa kata baru ke dalam tubuh anginnya, ke wajah bintangnya

Dan kepala yang dituntun merapat ke wajah pintu, barangkali cuma tembok yang memantulkan silau pagi, air yang menggenang di ujung mata, udara yang disadap oleh tanganmu.

Aku bayangkan lima menit lalu semenjak jantungku melepaskan uratnya satu persatu, aku bayangkan ubin-ubin di depan yang kau tinggalkan bagai nyeri yang terus sakit - menjelaskan ombak seperti perahu yang tenggelam di kilang cuaca,  dan aku belajar menikmatinya hingga kukulum darah, kepergian yang kau banting, dan menyaksikan partikel debu terkecil menggeliat manja, meringkuk tubuhku ke dalam hening dan surga, maka aku saksikan pula kemana aku mesti menyerahkan jantungku, mengingat jalan melemas memerhatikanmu dan segalanya telah menjadi arah.


2013


Selasa, 24 September 2013

DUNIA


DUNIA


Pada sebuah pantai hijau
Dan langit kuning sebelum kicau burung
Menengah di ujung rambutmu

Pada sebuah pantai hijau
Dan ombak-ombak datang kepada angin
Sepasang embun kering dipindahkan ke matamu

Sebuah pantai lengang di pikiranmu
Dibasahi hujan-hujan api
Tuhan berkata lewat gemuruh
Dan anak-anak pohon itu tumbuh
Menggeliat dekat bulu kakimu
Aku terbangun menghadap tembok
Asap-asap dari jendela berhamburan
Sepasang embunkah itu?

Kau menutup pintu
Mengunci segala jalan berkekasih

Sebuah bus jurusan pantai hijau dalam mimpi
Mengerdil dalam pikiranmu yang jinak setelah awan,
matahari, mendekat dalam rahim yang mulus



2013

Senin, 15 Juli 2013

Sudah Selesai



Aku akan melapangkan
Denyut sinyal yang diterjemahkan
bintang malam ini

Mengenai badai yang putus-putus dan tak sampai
Aku tulis riwayat pertemuan
Aku kenangkan masa itu
Habis dalam pekat puisi
Yang bising setelah tiba di kota

Pertemuan bukan hal-hal yang ajaib
Tentang mengatakan yang bagus akan menjadi kehidupan
Atau yang salah
Menikam nasib dalam ketabahan
Dan relung kegaiban waktu yang ganjil malam ini
Sesekali meredup lewat bintang di kamarmu, an



Minggu, 14 Juli 2013

Breakfast at Tiffany's*



Semisal yang kita pertemukan di sini waktu itu
Bukan kenang-kenang yang berasal dari sumber terkasih
Saat kita memulai menamai benih itu
Sebagai jam-jam yang menderas
Bagai haluan yang tidak ingin ditikungi
Barangkali mestinya kita bertanya hendak
Tumbuh kemana benih itu
Tanpa dada yang menabur keluasan langit
Pada doa dan mantel pertemuan yang kita saksikan
Atau baru saja benih itu mengambil tanganku
Menunjukmu bertanya sesekali tentang kesabaran
Hanya milik yang mencipta segala

1
Tentang pertemuan
Aku menunggu
lalu mengantarmu dengan cemas

2
Kamu membuka kaca jendela
barangkali untuk menyapa pertemuan
dari jarak yang hampir dilupakan
dan aku membawa pertemuan kita
di meja yang raib dalam tulisan

3
Benih pertemuan kemudian berlari setelah tumbuh
Ke tempat kita yang tidak akan menemukan apa saja
Atau saat yang mempertemukan kita
Pada pertemuan yang deras mengamini
yang pasang seperti air mata
cukup untuk mengatup segala gelisah saat kita mempertayakan
cukupkah pertemuan ini melunasi kecemasan

4
Aku akan menjemputmu di pertemuan lain
Waktu dan jarak dari pertemuan
Yang aku pikirkan bukan benih itu akan tumbuh menjadi kesakitan
Atau perpisahan yang sangsi menunggu pertemuan
Dan kita diam memandang jalan dibawa waktu
Tinggal kita mesti memilih
Menghitung yang tidak ada dalam pertemuan

5
Aku sanggup membawa pertemuan itu kemana saja
Saat kamu sudah rapi mengemasi perpisahan
Dan kita menyantapnya setelah sarapan
Dan es krim sudah mencair


Selamat menemu pertemuan

 *sebuah film yang diperankan oleh Audrey Hepburn dan Georges Peppard di tahun 60an

Kamis, 27 Juni 2013

NGERI MEMIKIRKAN KITA



Sedang di langit
Dan awan-awan kelabu
Datang mengiringi sajak kita yang hujan
Aku membawa sapu tangan dan menjadi gerimis di haluan
Jalan-jalan menuju pangkuanmu tiba-tiba meruntuh
Aku tidak ingin datang sia sia
Sebab usia di sini yang menua
Dan sajak gurun yang bergulir meniti
Pengakuan dan penebusan kita yg akhir
Menggenang di keluasan ketabahan

Sepertinya kita mesti gamang
Dalam bola matamu
Yang menjual kenangan selepas pergi
Dan datang kembali
Aku berjalan tanpa tepi
Lengkungan langit dan awan-awan
Kian meneduh
Pada ikatan tiket perjalanan masa depan

Sudah waktunya
Ketika seorang nabi
Turun menjadi wahyu cinta
Dan kita yang sempat hilang
Sedang sabda yang kadang menunjuk malu-malu
Bahwa kitalah sebenarnya menjadi jantung
Gemuruh dalam detak
Dan aku tidak nyenyak memikirkan kita

Lagit dan awan-awan jingga dalam kantong plastik
Ada rokok super dan pemantik
Ada garam dan gula pasir
Aku rindu pantai pada lukisan bungkus lolipop ini
Kita mesti berbagi jika ingin rasa manis itu
Tidak habis dalam tenggorokan yang memuntahkan hujan-hujan
Dalam kuali saat cinta sudah matang

Namun aku ragu
Mengatakan sebuah lidah di jantung ini
Membikin rasa baru
Dan mengenal yang lama sebagai
Langit dan awan-awan kelabu

Bis kota itu
Di sana kita pernah duduk diam
Menyaksikan bola lampu
Dan jalanan mulai licin sehabis hujan


GUNANYA PERTUNJUKAN MALAM NANTI


suatu malam aku merindukan seorang kekasih
dari kepongahan yang diciptakan sendiri
ketika aku cemas dalam gelisah yang memungut tahun-tahun
menjadi drama singkat
di atas panggung yang mencinta

seorang pemain mesti keluar dari sana
dalam gemas percakapan itu
aku menulis catatan-catatan
ditambah bulan kecil yang mengail wajahku
melekat pada sebuah pertanyaan
lantas seorang pemain yang lihai menggoda
seorang wanita yang diam-diam ingin bersama waktu
dan kegosongan kejujuran yang paling utama
hingga yang lain
beserta tik tok keringat dan perayaan yang dicemburui
dan seorang wanita yang sibuk saat menanti
mesti dipertaruhkan

semut-semut pada wajahku memerah
sari wajah-wajah dalam naskah telah habis
dan percakapan yang memantul dari seorang pemain
dan panggung yang sigap dalam sendiri
akan bermain pada tahun-tahunnya yang panjang



NAMA(MU)




Hanya langit memandang kita
dalam gelembung nista yang membengkak
Aku tidak ingat namamu
Kartu nama yang pernah disimpan di sini
Menjadi kabut dalam sunyi
Aku tidak mengenal namamu
Saat itu aku letakkan sebuah mata pena yang melukai
kertas-kertas yang menyudut pada garis tanganku
Diam-diam menghafal detik yang tidak ingin runtuh dari tik tok
yang sedikit gemetar

Namamu
Ketika hanya rahasia yang menentukan batas gelap
Dan yang kosong
tidak lagi menyebut sesiapa yang mesti diingat
dalam kelam bertubi-tubi

Namamu
Waktu itu hanya bulan yang mendekat pada rumah kita
Angin berisik sesekali menyapu ingatan dalam tubuh tangis
Aku ingin menulis nama-nama kesabaran
yang mengobar lewat ketajaman waktu


KITA SEKALI LAGI



Aku ingin mengerjar mimpimu sayang
Sampai pada keharuan yang pernah kita tulis
sebagai boneka-boneka yang gemar melihat saat tidur
tidak lagi mengobati kerinduan
Aku bermimpi dalam mimpi
Menciptakan sosok dengan puisi dan gambar
Aku terkenang dengan lembayung biru
yang mengalir di atas langit kita
Aku bayangkan sebuah laut sedang tumbuh di sana
Sebuah metafora tentang pelangi yang memuat

gelombang kehidupan antara sajak kini
dengan buih biru dan gelembung yang kadang membuat mimpi ini
terbang ke mana saja di langit
Atau tongkat yang membangunkan kita
pada gerak zaman yang lain
Di sana aku termenung dengan kemurungan
Aku ingin melukis kuda nakal yang berlari pada sepasang mata boneka
Aku menangkap
Aku mengejar jarak yang sudah begitu melaju
Dalam kenang-kenang mendamba
Mimpi kita yang rimba



Rabu, 05 Juni 2013

MENANGIS DALAM KAMAR MANDI





: piyu

Inilah kenangan pada jinjit anak-anak menarikan sebuah pagi dengan kerutan luka di keningmu. Aku ingin membuang kertas foto dan tasbih meretak pada doa kita dengan pengabulan paling sakral kali ini.

Dewi langit dengan kebaikan nafas dan senja yang menguning di timur matamu, kapan kami akan pulang bersemedi dalam gairah waktu dan sepasang kekasih yang sedang membangun kuburnya dengan nama?



2013


HANYA KITA YANG TAHU




menulis wajahmu 

adalah menulis puisi

dalam sepasang kertas

tanpa bait-bait baris

yang meluruskan percintaan

pada sepasang ruangnya

yang sembunyi

dan terdesak






2011

SEPASANG LADING BULAN JUNI




Sepasang lading bulan juni
Menggores-gores lagit yang melupakan air mata kekasihnya
Dan hidup sebagai hujan



2013

Jumat, 24 Mei 2013

TENGAH MALAM


dodo arumdono dan abangnya

Mari saling mencari
Jika masih kita tetap berdiri
Saling membaca jalan yang membelah dua
Antara jarak kita yang mengarah jauh
Menohok hujan yang polos
Menggaris cahaya
Menusuk tubuh dengan gerimis yang membikin kita semakin laut dan tenggelam


Minggu, 19 Mei 2013

BUKAN UNTUK SIAPA-SIAPA


ada semacam dada dengan penyakit di punggungnya
satu tahun tumbuh penyakit punggung
satu tahun lagi tumbuh penyakit ganas
dengan warna merah dan putih
maka jadilah merah muda penyakit itu

entah bagaimana aku mesti mengatakan
bahwa penyakit adalah wujud kesepian
dan semesta dengan tubuhnya yang tambun

aku membayangkan penyakit cepat tumbuh
dalam keadaan sedih
lalu penyakit itu
mulai membikin rumahnya sendiri
dengan pelabuhan yang tak sepi dari kapalnya

lantas penyakit itu
mulai menjadi nama
dan simbol kehidupan

tanpa penyakit
kesedihan bukan apa-apa

Rabu, 15 Mei 2013

SUATU MALAM BERSAMA PLATH


Sylvia Plath

Waktu itu aku mengingat namamu
Lewat sepotong bulan yang memerah pipinya

suatu malam
aku datang mencari bulan
Bulan sedang merangkai bunga dalam sebuah wajan
Penuh dengan biji mawar, bauksit, timah, beton dan pilar

aku datang dengan perasaan haru dan bahagia
mengingat saat itu bukan malam apa-apa
bukan malam yang mengingatkanku pada sebuah pelukan yang hampir palsu
diterpa angin, pelukan menjadi gontai

diam-diam aku sapa bulan itu
dengan suara parau yang dikeluarkan pelan-pelan
asap rokok, uap kopi, roti yang gosong,
londrian lima kilogram, dan seprei coklat
mereka berloncatan satu demi satu
saling berlari
menuju mulut dengan bentuk cekung dan lebam

mulut itu
akan tumbuh menjadi sebuah dunia
dengan biji mawar, bauksit, timah, beton dan pilar
 air mengalir
tanah menjadi kokoh dan cahaya
akan muncul dengan pasukannya yang kuning dan hitam

lantas saat itu
bulan diam-diam mengedipkan matanya yang bulat
penuh dengan rasa kantuk
sebab semalam
rindu mendekam dengan kejam dalam tubuhnya

terkadang aku menyadari
melihat sepotong bulan di ujung sana
di ujung pencarian yang membawa jalan pulangku hilang
aku terkenang kisah ksatria yang mejemput seorang putri
dari tawanan penyihir jahat

lantas di tanganku
sepotong kain yang dijahit menjadi jubah hitam
diam-diam lenyap menjadi sebuah tubuh
lindap dalam ruang yang sunyi dan kopong

dalam pencarian ini
sebuah bayangan datang memelukku dari belakang
dengan tangan rapat dan agak memaksa
lantas aku cepat-cepat menuju cermin
aku hanya diam dan kedinginan

di sana pencarian namamu terus dimulai

Sabtu, 04 Mei 2013

ALIH-ALIH



setelah kembali pada kamar siang itu
ketika telpon kita
baru saja terputus
aku melihat sebuah punggung terbelah

sebuah sungai bening dan bukit dengan kehidupan aneh
lalu perahu-perahu yang berlayar menjauh
aku mereka itu manusia dari tuhan yang lain

aku mengambil kamera yang tergeletak suntuk di atas meja
selepas tombol dinyalakan
aku menangkap sebuah gambar hitam yang melengkug di ujung sana

aku kembali mencari gambar dengan posisi yang lain
aku setengah berjingkat dari ubin-ubin
mereka satu-persatu jatuh ke bawah
mereka membikin kepala yang runcing sebelum membentur dasar

aku menemukan hitam dalam bentuk yang sama
hitam dengan wajah yang hancur dan berdarah
dari kasat lubang matanya
hitam yang lain mengalir
hitam yang hanyut mendekati perahu-perahu yang hendak pergi
menemukan tuhan yang baru

lantas di sana
aku mengira ada sebuah anak panah yang menunjukkan
jalan pulang bagi perahu-perahu yang hilang

aku memandang ke arah mereka
hanya ombak yang sesekali menunjukkan puncak
angin beranjak dari tepian pantai yang menyajikan punggung dingin
dan siap dibekukan dalam sekotak lemari pendingin yang baru saja kita pesan
sepuluh menit sebelum kita saling mengucap
: sayang ini milik salah satu di antara kita

kelak bila sayang ini meninggi
mencapai bukit dengan hitam dan merapi
akan kita temukan
sepasang punggung yang sedang berkelahi
yang satu mengalah dan terbelah
sisanya pun mengalah
lalu hancur

sebelum menyentuh dasar
: di sana mereka kembali
 diciptakan lewat sebatang kayu dengan jiwanya yang membara



Sabtu, 27 April 2013

SEBUAH HARMONISASI



fatin, eca, camilla, epot, neno, dan il divo


Jujur saja kekasih
Aku ingin mencintaimu dengan segenap harapan
Ketika pagi-pagi sekali
Kita gelisah dan kadang mengantuk
Sebab semalam kita sibuk berdiskusi
Akan dibawa kemana pagi esoknya

Harapan itu
Terkadang bernyanyi di pikiran kita
Ia menggambar sebentuk lukisan
Dengan warna-warni sepasang kekasih
Sehabis hujan
Mereka duduk di kursi taman
Tumbuhan dan bunga-bungaan menjadikan sebuah kehidupan
Yang menyala-nyala di mata mereka

Serumpun musik hujan
Saat itu baru saja mereda
Tik tok jantung
Dan kegelisahan memenuhi dada mereka yang tidak lagi lapang
Menampung pagi-pagi yang seandainya mesti datang kembali
Membawa harapan
Sepertinya telah menggenapkan kisah cinta kita yang akan abadi


Kamis, 18 April 2013

PERIHAL SARAJEVO DAN PERCINTAAN


oka rusmini

aku menganggap tubuhnya seksi
subur ditumbuhi oleh rambut-rambut halus dan hitam
matanya menjerat rindu mana pun
rindu yang sangsai pada debu kamar
dengan huruf-huruf yang menggantung
dan gampang terbakar

aku membayangkan seratus biji kopi ditanam di tubuhnya
seribu musim dengan salju dan lautan yang meleleh
dan beraroma keringat
biji-biji kopi yang menjadi kehidupan baru
menjadi semesta yang tumbuh dengan usia yang mengerucut
akan menuai seribu tangkai dan seribu daun gugur
yang memeluk erat tengkuknya
yang baru saja sembuh dari rasa sakit

aku sepakat menyebutnya kedinginan

seribu hari ia lupa menyalakan api ditubuhnya
seribu hari ia menyalakan cuaca yang sangat lain dan begitu suntuk
cahaya itu
ia bagi menjadi jari dan mulutnya
dengan seribu hari dan musim-musim yang lebih awet

"Yu, aku minta sajak-sajak sarajevo yang pernah kamu ketik waktu itu
saat pertama kali kita menikahi asap yang abadi
kamu pasti tahu dan tidak lupa.
aku masih menyimpan bahkan kukulum tiap hari asap itu
agar melahirkan anak dalam rupa yang lain.
kita baru saja menang dengan bendera dan semangat masing-masing.
peluh dan kebosanan yang menumpuk pada usia pernikahan ini
adalah korban dari kemesraan kita yang luput dari kemiskinan ide 
dan benda tajam yang senantiasa disita agar rumah yang kita bangun ini
menjadi aman dari nyanyian bianglala yang terus memerhatikan
apa yang baru saja kita pikirkan bersama-sama secara matang.
aku akan terus bersamamu agar mudah bagiku memintamu
mana sajak-sajak sarajevo itu.
akan kutanyakan sudah matangkah ia,
sudah makankah ia,
sudah mandikah ia dari pikiran-pikirannya yang belum juga meledak itu,
sudah sembahyangkah ia pada tuhannya yang berwujud kelabu.
akan kutagih bila ia tetap seperti itu.
sebab aku masih setia pada semesta kita yang kadang memanas dan kadang surut sebelum waktunya
sebelum waktunya kau lahirkan anak kita yang baru."

seribu musim dengan almanak-almanak yang terus bersimpangan
seribu musim awet lainnya
aku terus menganggap tubuhnya sangat seksi
kental dengan percintaan yang magis dan siluet di tubuhnya
menumbuhkan rambut-rambut lain
rambut itu keriting
persis seperti mataku yang diam-diam bergelombang
memandang lurus ke arah tubuhnya
yang tidak hilang dari bayangan mana pun

sudah lama aku cinta padanya!


2013

 

Minggu, 14 April 2013

KARENA SESUNGGUHNYA WANITA DAN AKU


sarah kay


aku mendengar suaramu tadi malam
ketika pertama kali
memasuki rumah dengan cahaya kuning dan asap kebiru-biruan
lantas aku terburu-buru mengikuti pintu mana saja

aku teringat dengan sebatang cerutu yang dipesan
dan diantarkan tadi malam
seseorang yang sedang memerhatikanku dari belakang
ia melihat dengan pandangan aneh dengan mata pertama
lalu kemudian dibukanya mata kedua
persis seperti ketika kita membuka mata selepas berciuman
dengan bibir angin yang baru saja melahirkan tabir-tabir baru
selepas tadi
selepas ketika kamu baru saja mengirimkan paket tanpa nama

apakah demikian
setelah seseorang yang mengantarkan cerutu
dan seseorang lainnya yang memandang kita
dengan tikaman yang memunculkan rahasia pada masing-masing matanya
merupakan cara untuk menguji kesabaran seorang wanita di sini

ia tidak bisa tidur karena angin cemas begitu kencang
ia tidak mengerjakan apa yang ditugaskan oleh gurunya minggu lalu
ia lupa mencuci tangan sebelum tidur dan lupa mencuci wajah
dari bintik-bintik air mata selepas saat itu
ia menerima cerutu dalam kemasan paket tanpa nama

aku melihat wanita itu dalam sebuah cermin
dengan bayangan jelas yang menunjuk ke arahku
ia sepakat mengatakan bahwa wanita ini juga adalah aku
yang juga melupakan cara memecahkan cermin dengan sebuah kepalan
yang dikumpulkan dari banyak jari manis
wanita itu menggunakan mukanya untuk melelehkan isyarat lain
isyarat permohonan peace be with me

ia berjingkatan mencari isyarat lain agar aku paham
bahwa ia tidak ingin aku marasakan sesuatu 
seperti sebuah pernyataan dengan tanda tanya sebagai bukti pertanyaan yang mesti dijawab
melalui sebuah kemalangan yang terus bertahan
agar tidak muncul pertanyaan baru
wanita itu
ia menantikan wajahku yang mengarah dekat padanya
agar aku menjatuhkan tik tok tangis
dalam bentuk yang tiada

aku katakan bahwa aku ingin memeluknya
namun tanganku tumbuh dan bergerak dengan sia-sia



Sabtu, 13 April 2013

SELEPAS SABIT MALAM INI


bli jengki

letih matamu
adalah letih bulan sabit dalam kemarau panjang
kemarau dalam pelukan kita yang terlampau jarang

aku merindukan batas tubuhmu yang ditumbuhi para belukar
sebab selongsong angin yang tidak lagi berpacu
melupakan kelam-kelam sabit
dalam sebotol air mineral



SEBAB TERANG


aku mengira matahari tidak akan terbit di hari minggu
pernah dulu
namun sekarang tidak begitu

demikian saat kita memasrahkan tirai yang terbuka. matahari mendedah mata kita satu per satu. dituangnya arak, dibuatnya perahu dan penumpang dengan sepikul mata lain yang tumbuh menjadi timur

dan barat adalah garis hitam putih di atas kertas gambar. kapan saja kita bisa menghapus dan membikin yang baru

kita tengadah dalam lindap yang memunculkan ruang lain yang gelap. kita meloncat ke dalamnya maka gugurlah mata lain yang pernah tumbuh demikian banyaknya hingga tinggal dua saja

matahari tidak pernah pergi menuju arah lain
sebab terang
senantiasa di sini di atas mata kita
dengan jaring pelangi
dan metamorfosa yang gelisah 

Selasa, 02 April 2013

Mencintai Wanita yang Lenyap Begitu Saja


: Wa Ode Wulan Ratna

dear wanita dengan separuh luka yang mengering di bahunya


aku adalah seorang wanita lain yang mengerjakan hal yang sama denganmu malam-malam. setiap orang-orang tengah tidur bersama bapak ibu dan perempuan simpanan lain, aku pergi. keluar dari apartemen menuju gang-gang yang dilupakan siangnya. menuju sebuah jalan sehabis hujan. lantas aku membawa payung. aku membayangkan hujan saat itu juga akan turun namun sia-sia.

lalu di sebuah tikungan yang kadang menyala lampunya, aku berhenti. membersihkan sepatu dari luka-luka tajam yang mengelupasi alasnya. sampai di sini aku mesti berjalan kaki. aku sangat suka menyanyikan sebuah lagu kebangsaan bekas perang zaman dulu. mengerikan. tapi aku membayangkan ada selongsong peluru memacu jantungku hingga pecah, lalu akan datang wanita lain memberikan persedian jantung lainnya, hingga aku hidup dan bergairah. berulangkali aku mesti berjalan dan mengerjakan hal-hal seperti biasa.



dear antoni


sayang, aku harus pergi pagi-pagi sekali. ada seorang wanita kaya mengajakku minum secangkir kopi di sebuah kamarnya yang masih beraroma parfum cokelat milik mantannya. ia hanya mengatakan mantannya saja. aku paham itu sangat rahasia. barangkali jika aku menolak ajakan semacam itu, aku mungkin tidak akan tinggal lebih lama.

menelusuri tiap biang kerinduan semalam suntuk, membuat darahku menjadi daging dan mengeras. lalu sebagian tulang pelipismu, adalah tumpukan doa-doaku yang tidak pernah turun dalam tengadah. lantas pasti ada cara lain untuk menurunkannya lewat tengadah lain. meski agak memaksa.



dear lili


sayonara. sayang, kamu mesti pergi duluan. aku tidak enak badan. belakangan cuaca menganggapku musuh yang mesti dilumpuhkan. tiap kali haus dan keluar kamar, sekawanan cahaya menusukku dengan cara yang tidak biasa. aku dipaksa menyerah. aku dituduh bersetia dengan matahari lain tanpa sepengetahuan.

menurut berita dua hari yang lalu, telah ditemukan sepasang matahari sedang tamasya di jagad raya. mereka bewarna cerah. begitu katanya. sebelum sampai mereka berpisah jauh mengelilingi jagad raya yang lain, matahari yang satu datang padaku. lewat cahaya kamar yang padam, ia menyentuh keningku. lantas aku menjadi demam dan menggigil selepas ia menarik cahayanya yang cerah.



kavka


aku ingin masuk namun kamu membuang kunci pintunya. kamu sedang marah. kamu memukulku dengan sepasang piring yang hampir belah. dulu sekali, ketika kita masih remaja, kita pernah bersepakat akan selalu baik dan saling menjaga. aku bilang itu bohong.

sebab firasatku yang lemah, aku menjadi tipuan pertamamu yang berhasil. perjajian ini menyekapku menjadi wanita lain. melalaikan segala macam kewajiban. aku melupakan bahwa pernah ada sepasang tangan yang diciptakan untuk mengadu dan bersusah payah. tangan itu punyamu dan punyaku. sayang, kamu pun ingkar. tuhan kesepian. tuhan melihatmu sedang menawan. ini wanita, tuhan bertanya, sampai kapan aku mesti turun tangan.



anji


teruskan sayang. aku masih merindukanmu dengan tik tok jam tanpa lelah. jarak yang jauh telah membuat kita melupakan segalanya yang masig gelap. kita menyebutnya mereka yang tidak bernama. jalan-jalan menuju kepulangan berikutnya hanya nasib.

di sebuah tempat dimana kita menjadi saling rindu, dulu pernah tinggal setangkai bunga harum yang tumbuh di antara taman. tidak ada pengunjung. hanya hujan yang sesekali melenyapkan kabut pertanda pagi.

ia tumbuh layaknya yang tumbuh. menjadi sebentuk apa pun dengan bentuk yang lain. aku mengira bahwa bunga dan candu masih sama. di sebuah foto yang tergeletak di sisi tembok yang lupa dicat, wajahnya memantulkan sebuah ikatan. batin kami beradu. kami berjumpa. namun hanya sekali dan itu saja.



dear wanita dengan separuh luka yang mengering di bahunya


aku masih berjalan. orang-orang tidak memerhatikanku. aku bebas memilih jalan mana yang mesti disinggahi. sepasang kaki yang telanjang sedang mengingat mana saja yang pernah melumat dan dilumat.

aku mestinya sudah sampai. aku ini beruntung. malam tanpa kerinduan lewat begitu saja. Sebagai rasa sayang, aku menyebutnya sebuah kesepian. panorama-panorama yang membikin kita panik. membikin hari-hari panjang.

malam memang sebentar. mungkin aku kehilangan sinyalmu yang kacau. aku menemukan sepasang cahaya yang memerah dari sepasang jendela dengan sebuah gaun yang bergelantungan. aku tidak takut. sebuah keyakinan masih saja tumbuh. aku mengira itu bukan siapa-siapa sebab tidak ada rupa dengan bentuk tubuh yang pucat sepeti punyamu

semacam perasaan yang baru, sepakat saja, baik kamu, aku, mau pun kita kelak menyebutnya melankolia.

aku tidak menemukanmu juga. aku mengira perjalanan masih satu langkah namun salah. hujan lalu turun tapi aku masih tetap salah. aku menjadi sakit. demikian sakitnya membuatku melupakan jalan-jalan yang baru saja disinggahi. lalu kamu diam-diam datang. memelukku dengan sepasang tangan yang ditempa untuk kerinduan dari alam yang berbeda. kamu tidak menjadi sehangat dulu. aku tidak ingin menyadari kamu yang tidak setia memilih wanita lain yang membuatmu meninggalkan kita.

“aku dicintai oleh perasaan yang tidak akan membuatku sakit. tidak membuat demam dan menggigil. menanggalkan segala hal mengenai luka yang sempat membuat kita bertemu. namun tidak dalam bentuk yang sedang berkekasih. kita menjauh. aku terlambat menyampaikannya pada kita yang masih hidup saat itu. sayang, mencintai tidak akan membuatmu bertahan lebih lama untuk mencapai sebuah kerinduan.
jangan lupa. aku tidak ingin menunggumu di sana. mengolah waktu yang sebenarnya akan habis, membuatku tiada.”


-2013

Jumat, 29 Maret 2013

White Sorrow


 we were a lord

tuhan kami yang diberkati
adalah umpama doa dan air suci
yang mengalir dari tirani dan penantian

di kursi ke sekian kali yang menyudut dari perhatianmu yang hampir luput
kami datang dengan kecemasan berbalut harapan
dan sepasang tangan kekasih

sedemikian putih kami memahami harimu yang baru saja tiba
kami sampaikan ada semacam cahaya yang berulang kali meredup dan kadang tiada

tuhan kami yang dikasihi
dengan kecemasan semacam ini
maka menyatulah kami dengan tubuh
tuhan yang masih jauh dari kematian


2013 

Senin, 25 Februari 2013

F I N I T O


Izza

mencintai bilik percintaan
antara hujan, kampus, rumah makan, dan menjelang maret
pada akhirnya membentuk kita menjadi segumpal gumalan
dengan segala dedemit pemantra


2013

G


-G

aku memimpikan perjalanan pulang
dengan riak angin di antara lembut mata
yang saling berbicara dengan bahasa kalbu

rindang tangan ini
pada pukul lima sore
diam-diam ingin memeluk wajahmu yang dipenuhi tetumbuhan
:rimbun dan kebiruan

ketika pulang
aku yang menemani ingatanmu yang tumbuh cepat
adalah kita yang saling memandang lurus
menohok tiang-tiang hujan yang datang berkomplotan
membuat rambut kita yang gerimis makin basah

Piy,
sepulangnya dari sini
aku akan membawamu pergi bersama layar-layar
yang dibawa angin menuju laut lepas

perjalanan memang panjang
kepulangan yang semakin akrab
membuat kita takut dengan kepulangan-kepulangan lain

lantas aku teringat pada langkah kita yang mengacau
: Piy
  lekas pulang


2013

 
 

Rabu, 06 Februari 2013

Semarang on The Way




Selayaknya kembang api yang semalam
Cepat menyala dan terbakar
Lantas aku tidak ingin cepat-cepat menulisi kita
yang mungkin masih lama rampung
meninggalkan segalanya yang masih baru



Semarang, 2012

Sabtu, 02 Februari 2013

MALAM SEMARANG


kapan pergi ke pantai
kapan saja bila angin telah pulang
merapat dengan singgahnya

sebuah singgasana rindu membentang
menekuk jarak yang sudah terbuang

matahari pernah hidup sia-sia
dalam bayangannya yang merapat di belakang rindang wajahmu
aku teringat
sangsai angin membawa kita
menuju gelombang yang lagi-lagi gemetar

ada techno music 
di dalam saku ingatan
ada jalan yang hendak membasuh hujan
nanti

barangkali
sebelum ke pantai
akan kita lepaskan pakaian, kalung, dan warna-warni pelangi
tiada lagi yang disebut manusia

dalam tenggelamnya tubuh kita
entah mereka akan kembali kemana

kepada sajak-sajak fiksi
pembunuhan seorang peneror kepada peneror lainnya
kita saksikan halaman rumah yang sepi

maka keasikan datang
diam-diam menyelinap dari balik kolam 
: cahaya yang bersuara lewat ikan-ikan



Semarang 2013