Sabtu, 27 April 2013

SEBUAH HARMONISASI



fatin, eca, camilla, epot, neno, dan il divo


Jujur saja kekasih
Aku ingin mencintaimu dengan segenap harapan
Ketika pagi-pagi sekali
Kita gelisah dan kadang mengantuk
Sebab semalam kita sibuk berdiskusi
Akan dibawa kemana pagi esoknya

Harapan itu
Terkadang bernyanyi di pikiran kita
Ia menggambar sebentuk lukisan
Dengan warna-warni sepasang kekasih
Sehabis hujan
Mereka duduk di kursi taman
Tumbuhan dan bunga-bungaan menjadikan sebuah kehidupan
Yang menyala-nyala di mata mereka

Serumpun musik hujan
Saat itu baru saja mereda
Tik tok jantung
Dan kegelisahan memenuhi dada mereka yang tidak lagi lapang
Menampung pagi-pagi yang seandainya mesti datang kembali
Membawa harapan
Sepertinya telah menggenapkan kisah cinta kita yang akan abadi


Kamis, 18 April 2013

PERIHAL SARAJEVO DAN PERCINTAAN


oka rusmini

aku menganggap tubuhnya seksi
subur ditumbuhi oleh rambut-rambut halus dan hitam
matanya menjerat rindu mana pun
rindu yang sangsai pada debu kamar
dengan huruf-huruf yang menggantung
dan gampang terbakar

aku membayangkan seratus biji kopi ditanam di tubuhnya
seribu musim dengan salju dan lautan yang meleleh
dan beraroma keringat
biji-biji kopi yang menjadi kehidupan baru
menjadi semesta yang tumbuh dengan usia yang mengerucut
akan menuai seribu tangkai dan seribu daun gugur
yang memeluk erat tengkuknya
yang baru saja sembuh dari rasa sakit

aku sepakat menyebutnya kedinginan

seribu hari ia lupa menyalakan api ditubuhnya
seribu hari ia menyalakan cuaca yang sangat lain dan begitu suntuk
cahaya itu
ia bagi menjadi jari dan mulutnya
dengan seribu hari dan musim-musim yang lebih awet

"Yu, aku minta sajak-sajak sarajevo yang pernah kamu ketik waktu itu
saat pertama kali kita menikahi asap yang abadi
kamu pasti tahu dan tidak lupa.
aku masih menyimpan bahkan kukulum tiap hari asap itu
agar melahirkan anak dalam rupa yang lain.
kita baru saja menang dengan bendera dan semangat masing-masing.
peluh dan kebosanan yang menumpuk pada usia pernikahan ini
adalah korban dari kemesraan kita yang luput dari kemiskinan ide 
dan benda tajam yang senantiasa disita agar rumah yang kita bangun ini
menjadi aman dari nyanyian bianglala yang terus memerhatikan
apa yang baru saja kita pikirkan bersama-sama secara matang.
aku akan terus bersamamu agar mudah bagiku memintamu
mana sajak-sajak sarajevo itu.
akan kutanyakan sudah matangkah ia,
sudah makankah ia,
sudah mandikah ia dari pikiran-pikirannya yang belum juga meledak itu,
sudah sembahyangkah ia pada tuhannya yang berwujud kelabu.
akan kutagih bila ia tetap seperti itu.
sebab aku masih setia pada semesta kita yang kadang memanas dan kadang surut sebelum waktunya
sebelum waktunya kau lahirkan anak kita yang baru."

seribu musim dengan almanak-almanak yang terus bersimpangan
seribu musim awet lainnya
aku terus menganggap tubuhnya sangat seksi
kental dengan percintaan yang magis dan siluet di tubuhnya
menumbuhkan rambut-rambut lain
rambut itu keriting
persis seperti mataku yang diam-diam bergelombang
memandang lurus ke arah tubuhnya
yang tidak hilang dari bayangan mana pun

sudah lama aku cinta padanya!


2013

 

Minggu, 14 April 2013

KARENA SESUNGGUHNYA WANITA DAN AKU


sarah kay


aku mendengar suaramu tadi malam
ketika pertama kali
memasuki rumah dengan cahaya kuning dan asap kebiru-biruan
lantas aku terburu-buru mengikuti pintu mana saja

aku teringat dengan sebatang cerutu yang dipesan
dan diantarkan tadi malam
seseorang yang sedang memerhatikanku dari belakang
ia melihat dengan pandangan aneh dengan mata pertama
lalu kemudian dibukanya mata kedua
persis seperti ketika kita membuka mata selepas berciuman
dengan bibir angin yang baru saja melahirkan tabir-tabir baru
selepas tadi
selepas ketika kamu baru saja mengirimkan paket tanpa nama

apakah demikian
setelah seseorang yang mengantarkan cerutu
dan seseorang lainnya yang memandang kita
dengan tikaman yang memunculkan rahasia pada masing-masing matanya
merupakan cara untuk menguji kesabaran seorang wanita di sini

ia tidak bisa tidur karena angin cemas begitu kencang
ia tidak mengerjakan apa yang ditugaskan oleh gurunya minggu lalu
ia lupa mencuci tangan sebelum tidur dan lupa mencuci wajah
dari bintik-bintik air mata selepas saat itu
ia menerima cerutu dalam kemasan paket tanpa nama

aku melihat wanita itu dalam sebuah cermin
dengan bayangan jelas yang menunjuk ke arahku
ia sepakat mengatakan bahwa wanita ini juga adalah aku
yang juga melupakan cara memecahkan cermin dengan sebuah kepalan
yang dikumpulkan dari banyak jari manis
wanita itu menggunakan mukanya untuk melelehkan isyarat lain
isyarat permohonan peace be with me

ia berjingkatan mencari isyarat lain agar aku paham
bahwa ia tidak ingin aku marasakan sesuatu 
seperti sebuah pernyataan dengan tanda tanya sebagai bukti pertanyaan yang mesti dijawab
melalui sebuah kemalangan yang terus bertahan
agar tidak muncul pertanyaan baru
wanita itu
ia menantikan wajahku yang mengarah dekat padanya
agar aku menjatuhkan tik tok tangis
dalam bentuk yang tiada

aku katakan bahwa aku ingin memeluknya
namun tanganku tumbuh dan bergerak dengan sia-sia



Sabtu, 13 April 2013

SELEPAS SABIT MALAM INI


bli jengki

letih matamu
adalah letih bulan sabit dalam kemarau panjang
kemarau dalam pelukan kita yang terlampau jarang

aku merindukan batas tubuhmu yang ditumbuhi para belukar
sebab selongsong angin yang tidak lagi berpacu
melupakan kelam-kelam sabit
dalam sebotol air mineral



SEBAB TERANG


aku mengira matahari tidak akan terbit di hari minggu
pernah dulu
namun sekarang tidak begitu

demikian saat kita memasrahkan tirai yang terbuka. matahari mendedah mata kita satu per satu. dituangnya arak, dibuatnya perahu dan penumpang dengan sepikul mata lain yang tumbuh menjadi timur

dan barat adalah garis hitam putih di atas kertas gambar. kapan saja kita bisa menghapus dan membikin yang baru

kita tengadah dalam lindap yang memunculkan ruang lain yang gelap. kita meloncat ke dalamnya maka gugurlah mata lain yang pernah tumbuh demikian banyaknya hingga tinggal dua saja

matahari tidak pernah pergi menuju arah lain
sebab terang
senantiasa di sini di atas mata kita
dengan jaring pelangi
dan metamorfosa yang gelisah 

Selasa, 02 April 2013

Mencintai Wanita yang Lenyap Begitu Saja


: Wa Ode Wulan Ratna

dear wanita dengan separuh luka yang mengering di bahunya


aku adalah seorang wanita lain yang mengerjakan hal yang sama denganmu malam-malam. setiap orang-orang tengah tidur bersama bapak ibu dan perempuan simpanan lain, aku pergi. keluar dari apartemen menuju gang-gang yang dilupakan siangnya. menuju sebuah jalan sehabis hujan. lantas aku membawa payung. aku membayangkan hujan saat itu juga akan turun namun sia-sia.

lalu di sebuah tikungan yang kadang menyala lampunya, aku berhenti. membersihkan sepatu dari luka-luka tajam yang mengelupasi alasnya. sampai di sini aku mesti berjalan kaki. aku sangat suka menyanyikan sebuah lagu kebangsaan bekas perang zaman dulu. mengerikan. tapi aku membayangkan ada selongsong peluru memacu jantungku hingga pecah, lalu akan datang wanita lain memberikan persedian jantung lainnya, hingga aku hidup dan bergairah. berulangkali aku mesti berjalan dan mengerjakan hal-hal seperti biasa.



dear antoni


sayang, aku harus pergi pagi-pagi sekali. ada seorang wanita kaya mengajakku minum secangkir kopi di sebuah kamarnya yang masih beraroma parfum cokelat milik mantannya. ia hanya mengatakan mantannya saja. aku paham itu sangat rahasia. barangkali jika aku menolak ajakan semacam itu, aku mungkin tidak akan tinggal lebih lama.

menelusuri tiap biang kerinduan semalam suntuk, membuat darahku menjadi daging dan mengeras. lalu sebagian tulang pelipismu, adalah tumpukan doa-doaku yang tidak pernah turun dalam tengadah. lantas pasti ada cara lain untuk menurunkannya lewat tengadah lain. meski agak memaksa.



dear lili


sayonara. sayang, kamu mesti pergi duluan. aku tidak enak badan. belakangan cuaca menganggapku musuh yang mesti dilumpuhkan. tiap kali haus dan keluar kamar, sekawanan cahaya menusukku dengan cara yang tidak biasa. aku dipaksa menyerah. aku dituduh bersetia dengan matahari lain tanpa sepengetahuan.

menurut berita dua hari yang lalu, telah ditemukan sepasang matahari sedang tamasya di jagad raya. mereka bewarna cerah. begitu katanya. sebelum sampai mereka berpisah jauh mengelilingi jagad raya yang lain, matahari yang satu datang padaku. lewat cahaya kamar yang padam, ia menyentuh keningku. lantas aku menjadi demam dan menggigil selepas ia menarik cahayanya yang cerah.



kavka


aku ingin masuk namun kamu membuang kunci pintunya. kamu sedang marah. kamu memukulku dengan sepasang piring yang hampir belah. dulu sekali, ketika kita masih remaja, kita pernah bersepakat akan selalu baik dan saling menjaga. aku bilang itu bohong.

sebab firasatku yang lemah, aku menjadi tipuan pertamamu yang berhasil. perjajian ini menyekapku menjadi wanita lain. melalaikan segala macam kewajiban. aku melupakan bahwa pernah ada sepasang tangan yang diciptakan untuk mengadu dan bersusah payah. tangan itu punyamu dan punyaku. sayang, kamu pun ingkar. tuhan kesepian. tuhan melihatmu sedang menawan. ini wanita, tuhan bertanya, sampai kapan aku mesti turun tangan.



anji


teruskan sayang. aku masih merindukanmu dengan tik tok jam tanpa lelah. jarak yang jauh telah membuat kita melupakan segalanya yang masig gelap. kita menyebutnya mereka yang tidak bernama. jalan-jalan menuju kepulangan berikutnya hanya nasib.

di sebuah tempat dimana kita menjadi saling rindu, dulu pernah tinggal setangkai bunga harum yang tumbuh di antara taman. tidak ada pengunjung. hanya hujan yang sesekali melenyapkan kabut pertanda pagi.

ia tumbuh layaknya yang tumbuh. menjadi sebentuk apa pun dengan bentuk yang lain. aku mengira bahwa bunga dan candu masih sama. di sebuah foto yang tergeletak di sisi tembok yang lupa dicat, wajahnya memantulkan sebuah ikatan. batin kami beradu. kami berjumpa. namun hanya sekali dan itu saja.



dear wanita dengan separuh luka yang mengering di bahunya


aku masih berjalan. orang-orang tidak memerhatikanku. aku bebas memilih jalan mana yang mesti disinggahi. sepasang kaki yang telanjang sedang mengingat mana saja yang pernah melumat dan dilumat.

aku mestinya sudah sampai. aku ini beruntung. malam tanpa kerinduan lewat begitu saja. Sebagai rasa sayang, aku menyebutnya sebuah kesepian. panorama-panorama yang membikin kita panik. membikin hari-hari panjang.

malam memang sebentar. mungkin aku kehilangan sinyalmu yang kacau. aku menemukan sepasang cahaya yang memerah dari sepasang jendela dengan sebuah gaun yang bergelantungan. aku tidak takut. sebuah keyakinan masih saja tumbuh. aku mengira itu bukan siapa-siapa sebab tidak ada rupa dengan bentuk tubuh yang pucat sepeti punyamu

semacam perasaan yang baru, sepakat saja, baik kamu, aku, mau pun kita kelak menyebutnya melankolia.

aku tidak menemukanmu juga. aku mengira perjalanan masih satu langkah namun salah. hujan lalu turun tapi aku masih tetap salah. aku menjadi sakit. demikian sakitnya membuatku melupakan jalan-jalan yang baru saja disinggahi. lalu kamu diam-diam datang. memelukku dengan sepasang tangan yang ditempa untuk kerinduan dari alam yang berbeda. kamu tidak menjadi sehangat dulu. aku tidak ingin menyadari kamu yang tidak setia memilih wanita lain yang membuatmu meninggalkan kita.

“aku dicintai oleh perasaan yang tidak akan membuatku sakit. tidak membuat demam dan menggigil. menanggalkan segala hal mengenai luka yang sempat membuat kita bertemu. namun tidak dalam bentuk yang sedang berkekasih. kita menjauh. aku terlambat menyampaikannya pada kita yang masih hidup saat itu. sayang, mencintai tidak akan membuatmu bertahan lebih lama untuk mencapai sebuah kerinduan.
jangan lupa. aku tidak ingin menunggumu di sana. mengolah waktu yang sebenarnya akan habis, membuatku tiada.”


-2013