Jumat, 24 Mei 2013

TENGAH MALAM


dodo arumdono dan abangnya

Mari saling mencari
Jika masih kita tetap berdiri
Saling membaca jalan yang membelah dua
Antara jarak kita yang mengarah jauh
Menohok hujan yang polos
Menggaris cahaya
Menusuk tubuh dengan gerimis yang membikin kita semakin laut dan tenggelam


Minggu, 19 Mei 2013

BUKAN UNTUK SIAPA-SIAPA


ada semacam dada dengan penyakit di punggungnya
satu tahun tumbuh penyakit punggung
satu tahun lagi tumbuh penyakit ganas
dengan warna merah dan putih
maka jadilah merah muda penyakit itu

entah bagaimana aku mesti mengatakan
bahwa penyakit adalah wujud kesepian
dan semesta dengan tubuhnya yang tambun

aku membayangkan penyakit cepat tumbuh
dalam keadaan sedih
lalu penyakit itu
mulai membikin rumahnya sendiri
dengan pelabuhan yang tak sepi dari kapalnya

lantas penyakit itu
mulai menjadi nama
dan simbol kehidupan

tanpa penyakit
kesedihan bukan apa-apa

Rabu, 15 Mei 2013

SUATU MALAM BERSAMA PLATH


Sylvia Plath

Waktu itu aku mengingat namamu
Lewat sepotong bulan yang memerah pipinya

suatu malam
aku datang mencari bulan
Bulan sedang merangkai bunga dalam sebuah wajan
Penuh dengan biji mawar, bauksit, timah, beton dan pilar

aku datang dengan perasaan haru dan bahagia
mengingat saat itu bukan malam apa-apa
bukan malam yang mengingatkanku pada sebuah pelukan yang hampir palsu
diterpa angin, pelukan menjadi gontai

diam-diam aku sapa bulan itu
dengan suara parau yang dikeluarkan pelan-pelan
asap rokok, uap kopi, roti yang gosong,
londrian lima kilogram, dan seprei coklat
mereka berloncatan satu demi satu
saling berlari
menuju mulut dengan bentuk cekung dan lebam

mulut itu
akan tumbuh menjadi sebuah dunia
dengan biji mawar, bauksit, timah, beton dan pilar
 air mengalir
tanah menjadi kokoh dan cahaya
akan muncul dengan pasukannya yang kuning dan hitam

lantas saat itu
bulan diam-diam mengedipkan matanya yang bulat
penuh dengan rasa kantuk
sebab semalam
rindu mendekam dengan kejam dalam tubuhnya

terkadang aku menyadari
melihat sepotong bulan di ujung sana
di ujung pencarian yang membawa jalan pulangku hilang
aku terkenang kisah ksatria yang mejemput seorang putri
dari tawanan penyihir jahat

lantas di tanganku
sepotong kain yang dijahit menjadi jubah hitam
diam-diam lenyap menjadi sebuah tubuh
lindap dalam ruang yang sunyi dan kopong

dalam pencarian ini
sebuah bayangan datang memelukku dari belakang
dengan tangan rapat dan agak memaksa
lantas aku cepat-cepat menuju cermin
aku hanya diam dan kedinginan

di sana pencarian namamu terus dimulai

Sabtu, 04 Mei 2013

ALIH-ALIH



setelah kembali pada kamar siang itu
ketika telpon kita
baru saja terputus
aku melihat sebuah punggung terbelah

sebuah sungai bening dan bukit dengan kehidupan aneh
lalu perahu-perahu yang berlayar menjauh
aku mereka itu manusia dari tuhan yang lain

aku mengambil kamera yang tergeletak suntuk di atas meja
selepas tombol dinyalakan
aku menangkap sebuah gambar hitam yang melengkug di ujung sana

aku kembali mencari gambar dengan posisi yang lain
aku setengah berjingkat dari ubin-ubin
mereka satu-persatu jatuh ke bawah
mereka membikin kepala yang runcing sebelum membentur dasar

aku menemukan hitam dalam bentuk yang sama
hitam dengan wajah yang hancur dan berdarah
dari kasat lubang matanya
hitam yang lain mengalir
hitam yang hanyut mendekati perahu-perahu yang hendak pergi
menemukan tuhan yang baru

lantas di sana
aku mengira ada sebuah anak panah yang menunjukkan
jalan pulang bagi perahu-perahu yang hilang

aku memandang ke arah mereka
hanya ombak yang sesekali menunjukkan puncak
angin beranjak dari tepian pantai yang menyajikan punggung dingin
dan siap dibekukan dalam sekotak lemari pendingin yang baru saja kita pesan
sepuluh menit sebelum kita saling mengucap
: sayang ini milik salah satu di antara kita

kelak bila sayang ini meninggi
mencapai bukit dengan hitam dan merapi
akan kita temukan
sepasang punggung yang sedang berkelahi
yang satu mengalah dan terbelah
sisanya pun mengalah
lalu hancur

sebelum menyentuh dasar
: di sana mereka kembali
 diciptakan lewat sebatang kayu dengan jiwanya yang membara