Kamis, 27 Juni 2013

NGERI MEMIKIRKAN KITA



Sedang di langit
Dan awan-awan kelabu
Datang mengiringi sajak kita yang hujan
Aku membawa sapu tangan dan menjadi gerimis di haluan
Jalan-jalan menuju pangkuanmu tiba-tiba meruntuh
Aku tidak ingin datang sia sia
Sebab usia di sini yang menua
Dan sajak gurun yang bergulir meniti
Pengakuan dan penebusan kita yg akhir
Menggenang di keluasan ketabahan

Sepertinya kita mesti gamang
Dalam bola matamu
Yang menjual kenangan selepas pergi
Dan datang kembali
Aku berjalan tanpa tepi
Lengkungan langit dan awan-awan
Kian meneduh
Pada ikatan tiket perjalanan masa depan

Sudah waktunya
Ketika seorang nabi
Turun menjadi wahyu cinta
Dan kita yang sempat hilang
Sedang sabda yang kadang menunjuk malu-malu
Bahwa kitalah sebenarnya menjadi jantung
Gemuruh dalam detak
Dan aku tidak nyenyak memikirkan kita

Lagit dan awan-awan jingga dalam kantong plastik
Ada rokok super dan pemantik
Ada garam dan gula pasir
Aku rindu pantai pada lukisan bungkus lolipop ini
Kita mesti berbagi jika ingin rasa manis itu
Tidak habis dalam tenggorokan yang memuntahkan hujan-hujan
Dalam kuali saat cinta sudah matang

Namun aku ragu
Mengatakan sebuah lidah di jantung ini
Membikin rasa baru
Dan mengenal yang lama sebagai
Langit dan awan-awan kelabu

Bis kota itu
Di sana kita pernah duduk diam
Menyaksikan bola lampu
Dan jalanan mulai licin sehabis hujan


GUNANYA PERTUNJUKAN MALAM NANTI


suatu malam aku merindukan seorang kekasih
dari kepongahan yang diciptakan sendiri
ketika aku cemas dalam gelisah yang memungut tahun-tahun
menjadi drama singkat
di atas panggung yang mencinta

seorang pemain mesti keluar dari sana
dalam gemas percakapan itu
aku menulis catatan-catatan
ditambah bulan kecil yang mengail wajahku
melekat pada sebuah pertanyaan
lantas seorang pemain yang lihai menggoda
seorang wanita yang diam-diam ingin bersama waktu
dan kegosongan kejujuran yang paling utama
hingga yang lain
beserta tik tok keringat dan perayaan yang dicemburui
dan seorang wanita yang sibuk saat menanti
mesti dipertaruhkan

semut-semut pada wajahku memerah
sari wajah-wajah dalam naskah telah habis
dan percakapan yang memantul dari seorang pemain
dan panggung yang sigap dalam sendiri
akan bermain pada tahun-tahunnya yang panjang



NAMA(MU)




Hanya langit memandang kita
dalam gelembung nista yang membengkak
Aku tidak ingat namamu
Kartu nama yang pernah disimpan di sini
Menjadi kabut dalam sunyi
Aku tidak mengenal namamu
Saat itu aku letakkan sebuah mata pena yang melukai
kertas-kertas yang menyudut pada garis tanganku
Diam-diam menghafal detik yang tidak ingin runtuh dari tik tok
yang sedikit gemetar

Namamu
Ketika hanya rahasia yang menentukan batas gelap
Dan yang kosong
tidak lagi menyebut sesiapa yang mesti diingat
dalam kelam bertubi-tubi

Namamu
Waktu itu hanya bulan yang mendekat pada rumah kita
Angin berisik sesekali menyapu ingatan dalam tubuh tangis
Aku ingin menulis nama-nama kesabaran
yang mengobar lewat ketajaman waktu


KITA SEKALI LAGI



Aku ingin mengerjar mimpimu sayang
Sampai pada keharuan yang pernah kita tulis
sebagai boneka-boneka yang gemar melihat saat tidur
tidak lagi mengobati kerinduan
Aku bermimpi dalam mimpi
Menciptakan sosok dengan puisi dan gambar
Aku terkenang dengan lembayung biru
yang mengalir di atas langit kita
Aku bayangkan sebuah laut sedang tumbuh di sana
Sebuah metafora tentang pelangi yang memuat

gelombang kehidupan antara sajak kini
dengan buih biru dan gelembung yang kadang membuat mimpi ini
terbang ke mana saja di langit
Atau tongkat yang membangunkan kita
pada gerak zaman yang lain
Di sana aku termenung dengan kemurungan
Aku ingin melukis kuda nakal yang berlari pada sepasang mata boneka
Aku menangkap
Aku mengejar jarak yang sudah begitu melaju
Dalam kenang-kenang mendamba
Mimpi kita yang rimba



Rabu, 05 Juni 2013

MENANGIS DALAM KAMAR MANDI





: piyu

Inilah kenangan pada jinjit anak-anak menarikan sebuah pagi dengan kerutan luka di keningmu. Aku ingin membuang kertas foto dan tasbih meretak pada doa kita dengan pengabulan paling sakral kali ini.

Dewi langit dengan kebaikan nafas dan senja yang menguning di timur matamu, kapan kami akan pulang bersemedi dalam gairah waktu dan sepasang kekasih yang sedang membangun kuburnya dengan nama?



2013


HANYA KITA YANG TAHU




menulis wajahmu 

adalah menulis puisi

dalam sepasang kertas

tanpa bait-bait baris

yang meluruskan percintaan

pada sepasang ruangnya

yang sembunyi

dan terdesak






2011

SEPASANG LADING BULAN JUNI




Sepasang lading bulan juni
Menggores-gores lagit yang melupakan air mata kekasihnya
Dan hidup sebagai hujan



2013