Minggu, 24 November 2013

PIANO


Smoke is another name of black and white


Sebuah palindrom sayang, siapa yang meletakkan bajunya di atas pohon berhantu? Pohon berhantu telah lama menyingsing sebuah cerita angker tentang petruk, anatomi yang disusun dari masa ke singgah waktu dimana gedung-gedung menghimpit jalan pulang. Tak ada gunung yang menyusui ketika debu meloloskan ibu jarinya ke salah satu lubang rumah siput. Aku mendengar canting yang dibakar. Liliput bernyanyi tentang semak yang terbakar oleh ingatan. Perang-perang dijatuhkan lewat hologram. Dan aku mendengar sebuah gelang perak yang kita gosokkan ke almari. Minggu ini, dimana baju berganti nama dan kita mesti melupa satu per satu. Ada yang mengupas mangga dan menanam kulitnya di jari manis kita. Kukecup lading berdarah. Pada hujan di langit percuma, seorang anak pria yang berdiri menantang perahu kayu, menyaksikan ikan-ikan telanjang, insang yang lunak, nafas yang mendengar suara jangkrik, ...



2013

Sabtu, 23 November 2013

UNTUK SIAPA ANAK KECIL ITU BERTANYA




Kemungkinan paling pahit pernah membengkak dan kering dengan sebuah luka
Mengamati dengan firasat dan desire
Sebuah jalan yang memungkinkan hujan
Dan kita mesti berteduh di bawah rimbun yang entah,
Mama, hujan itu kapan nyenyak tidurnya?
Suara bensin yang menggilas pagar-pagar mimpi
Suara takbir melonceng dari wadah kubah
Suara anjing dan gugur langit pada tingkat pohon paling atas,
Ma, mereka mengganggu malam kita.

Mama mau mengusir?
Mama punya sejumlah tongkat atau police line?
Mama mengamankan mereka untuk siapa?



2013


NGAMEN PUISI DAN MUSIK



“Mau balon yang mana? Yang besar, sedang, warna-warni, meriah, talinya panjang, bentuk boneka?”

Aku masih punya balon yang kian hari, ia matang di bawah cahaya. Siang itu, aku ngamen musik dan puisi. Pasar yang sepi, kemudian dipenuhi orang-orang yang berkeringat. Mereka mendekat. Mereka-reka apa yang dikatakan oleh matanya, aku seolah sedang meramu jampi penglaris proses menjual dan membeli. Entahlah. Siapa saja boleh menebak. Hanya hati dan akal masing-masing yang berkata, “Itu jawabannya!” “Itu salah!”

Sinar matahari yang tembus di badan rimbun pohon, mulai menggeliatkan waktu. Sejumlah awan beringsut mencari sumber dan cinta di langit lain. Tidak ada yang berteduh. Aku bersyukur jika takdir mengamen seperti menjadi rezeki sehari-hari.

Puisi dan musik live concert, arah matahari mulai menikung. Wajah mereka yang menyaksikan semakin nampak murung dan menyebalkan. Setidaknya ketika ada yang menghibur, mengamen di depan mereka, ekspresi yang tergambar paling tepat seharusnya wajah penasaran, mengernyitkan alis, mengerdipkan kelopak mata yang kuyu oleh beberapa praduga. “Bukan, itu tebakan!”

“Sebuah jalan terbentang. Langit menghapus awan. Aku tidak minum bir. Tapi secangkir kopi yang dituang ke celana kita, seolah membikin gelembung. Dan apa yang kau ramalkan tentang manusia dan sebuah jalan, telah benar-benar terbentang bagai dada telanjang”. Aku mulai dengan sebuah prelude atau interlude. Aku lupa mana istilah yang tepat untuk menjelaskan setidaknya yang dibacakan adalah pembuka, awalan sebagai tanda aku akan serius membaca. “Mengamen!”

Setimentil adalah sebuah kata sifat yang pertama kali melintas bagai guru yang mencambuk kertas ujian. Ada petir dalam puisi, dan nikmat dalam musik. Aku berlari dengan getar di tiap dawai. Ada vibrasi yang gelombang. Tinta hitam telah menulis puisi dengan nyawa yang ia habiskan dengan cinta kata-kata.

“Yuk mampir! Ajak teman-teman, anak-anak yang menggenggam balon, penjajah jeruk manis dan bulat!”

Pengantar yang lebih dalam ini, aku sampaikan dengan tindak laku yang mengencangkan otot-otot tenggorokan. “Yang ngamen seperti saat ini, sudah begitu langka. Apalagi gratis. Memang cinta tak berarti, dan uang bukan apa-apa.”

“Gelombang air susut mencapai suara yang hendak balik ke muara. Seorang wanita menggendong jamu di teteknya. Tulang belakang yang dihisap oleh asap-asap membuat angin, perpanjangan waktu, dan peluh yang dinyatakan dengan ahhh semakin ada.”

Puisi dan musik. Aku ngamen dalam sebidang kertas yang menulis darah atau lubang pikiran yang disiapkan bernafas panjang. Lirik menjadi makin basah, dan kami tidak menyadari.

......

“Bibir kita. bibir yang menghisap darah. Biarkan dada ini meradang merah. Sebab aku tahu yang menjadi gincu pada tabung bibir kita telah memuat mawar yang tumbuh dari benih duri.”

“Aku mau siksa kau dengan sebotol miras yang cabul, sayang! Aku mau congkel daging yang menyempil dan tumbuh seperti bukit yang baru tumbuh itu! Aku mau sendok yang mengarah pada pipa-pipa rahimmu! Boleh aku cium nafas yang sengit dari telur-telur yang suumbunyi dari kita-sebab leher pedangku begitu tajamkah?”

......

Aku menggigil. Demam, orang menyebutnya sebagai penyakit hukuman dari taring harimau yang tiap kali dikikis oleh pemangsa kehidupan. Voldemort. Kata mort yang menjadi konjugasi kata kerja mourir, artinya mati. Aku memelajarinya di beberapa kelas Prancis untuk beberapa tahun saja.

Namun ada yang tak kupahami. Apakah orang-orang Prancis di sana mati dengan penyakit yang mengikat dalam takdir hukuman? Atau matikah mereka oleh sebab-sebab yang aku sendiri tidak tahu artinya. Meregang, tenggorokan mereka terjepit dan gumpalan teriak menjadi semacam dosa yang tak kupahami?

......

Puisi dan musik, di jalan lapang yang tengadah dalam jarak ke jarak, puisi dan musik saat itu kemudian dapat aku bacakan sebagai huruf-huruf kapital yang terpantul keras di ubun-ubun kertas. 

”Mari mengawali puisi dan musik sebelum tanah kita menjadi musim semi, musim gugur daun dari batang-batang yang benci digerogoti, musim dingin milik Vivaldi, atau musim panas yang bekerja di wajah laptop!”

“Mari menggigilkan urat-urat yang kencang pada tafsir yang bebas dan liar seperti kali ini saja, pertama dan terakhir, ada puisi dan musik melintas di canting-canting beras, fermentasi anggur yang dituang di gelas plastik, balon yang merambat ke udara, jual beli yang gratis!”





November, 2013


*bung Jajang R. Kawentar


Senin, 18 November 2013

JEMBATAN TERINDAH



Jalan pintas adalah jalan yang dapat mencapai kepuasan. Aku teringat pada sebuah cerita tentang seorang pria yang ingin terjun dari tempat tinggi. Beberapa polisi sedang menarik rata sebuah matras empuk dan beberapa lagi ada yang melihat sebentar karena takut, dan sisanya merekam setiap langkah, setiap kegalauan, setiap keringat yang sia-sia dihisap awan sebagai pemantik, itu bunuh diri namanya.

Namun tidak denganku yang membayangkan tempat tinggi itu sebagai jembatan terindah menurut hati dan pikirannya yang tercabik-cabik. Aku mampu melihatnya dari pakaian yang dinodai oleh sepasang bibir dengan gincu ungu, dan sebagian lagi seperti terbakar oleh sesuatu. Anggap saja itu intermezo atau pariwara televisi yang berisik dengan reka ulang dan berita. Itu bunuh diri namanya.

Aku, dan jembatan terindah, kami membuat perjanjian palsu sebenarnya. siapa di antara kita yang mematok waktu lebih lama kapan pria itu akan hanyut ke telaga hati dan pikirannya, maka akan dapat hadiah. Terserah matahari atau gelagat pria itu sendiri yang menentukan apa yang pantas dan tidak pantas menjadi kejutan.

Pukul 3 dan gerimis mulai basah. Pikiran kotor orang-orangg menyembul mengingat komponen makna basah ada pada tiap pergulatan saat yang lelah dengan pasrah menutupi mimpinya dengan sekarung ranjang empuk. Itu bunuh diri namanya.

Kalau aku, aku mau kasih si jembatan itu si pria yang terlihat mau terjun tadi. Katakan seperti itu. Maklum kenangan-kenangan yang aku tumpukkan pada televisi hitam putih, sudah terjual bersama botol-botol hangat penghabis waktu saat gairah menjadi peti untuk menyimpan kebahagiaan yang sulit dimiliki tetangga, mama, dan papa.

Tetangga, mama, papa, mereka baik. Mereka suka tersenyum saat melihat burung, mawar, dan sedannya masih tertata rapi seperti kemarin. Benar atau tidak yang menjadi taruhanku di awal sebenarnya adalah mereka yang begitu egois dengan jembatan terindah masing-masing.

Di usia sepuluh, aku kira jembatan terindah mereka adalah anak-anak yang berangkat sekolah, mencium tangan kedua orang tua supaya menjadi doa keselamatan saat mereka hendak pergi dengan sebuah taksi. Di usia lima belas, aku yakin jembatan terindah mereka adalah dialog keuangan yang mesti mereka rapikan sebab anak-anak yang sering bepergian dengan taksi, mesti naik metromini yang menjamin banyak kecelakaan. Dan saat ini, ketika usiaku genap sembilan belas, aku jadi ragu yang menjadi jembatan terindah mereka adalah dirinya sendiri. Dirinya yang bahagia oleh burung, mawar, dan sedan adalah pemusnahan harmonisasi saat orang-orang memulai lomba persaingan dan perseteruan.

Jembatan terindah bagiku adalah saat aku bisa menguasai diri dari bisikan yang terdengar asik dari tembok yang mengepung kamar persegi empat – aku pernah menggunting foto mama papa di sana, menjadi teka-teki saat mau meletakkan pakaian dalam di mesin cuci. Aku tidak bisa mengelak jika bisikan itu berbahaya. Lebih berbahaya dari lututku yang cidera oleh gerigi mobil bus tank-tank yang meledakkan sebuah kilang pasir, dan aku terkena nasib sial itu saat sedang sendiri di kelas. Melamun namanya. Bunuh diri namanya.

Aku berpikir berpikir berpikir, dialog dengan sebuah tempat tinggi tidak mendidikku menjadi pria yang insaf menelan kepalsuan lelaki. Ia tidak tahu jika aku sedang membayangkan tubuhnya dikuliti dan aku menghisap nanah yang encer dari rambutnya, seolah menghisap jelly pada minuman berkaleng yang difermentasi. Makin dihisap, makin tidak sampai di pangkal tenggorokanku, makin aku kesal.

Tempat tinggi itu, ia diterpa angin, ketika seorang pria yang kami jadikan umpan taruhan telah terjun tanpa tanda suara, histeris, atau kebencian yang meluluhkan kakinya menjadi kekecewaan seperti pada tayangan sinetron kebanyakan, dan ia menyimpan kedengkian dan tafsir hidup yang belum diterjemahkan sendiri di kepalanya. Aku melihat huruf-huruf seolah terbakar saat yang meleleh dari dari kepalanya adalah cairan putih, kental, dan licin. Itu bunuh diri namanya.

Satu persatu, kami mengakhirinya dengan tembakan peluru air mata, agar kami pura-pura bersimpati dan kemudian memuntahkan segala item di perut sebagai protes manusia tidak boleh membuang hal-hal yang berharga darinya – nyawa, langkah yang ditahan angin, bangunan-bangunan yang lugu dan kita terhimpit di sana, setidaknya mampu membuat kita tegar.

Aku melangkah lebih jauh, dan yang aku kenakan seolah menjadi merah. Saat itu hujan tiba-tiba menjadi yang paling deras dan paling sesak di ulu hati. Ia menggiring apa yang menyembul dari pria itu menjadi lebih menyebar lalu mencari sumber urat nadi. Aku seolah diajarkan cara menitipkan jembatan terindah menjadi darah.

2013

Minggu, 17 November 2013

MEMBIARKAN ATAU TIDAK MEMBIARKAN




Pesanmu berjalan jauh. Ketika yang kau tutup rapat cuma pintu, aku mesti menangis pada hujan yang turun menggumpal, mesti mematok pisau pada trali jendela yang baru terkelupas. Aku ingin bagaimana jika caramu mengunci rapat, adalah mengunci yang tidak baik, yang luput dari sebotol pil diare . Aku ingin kau mengunci pintu rapat dengan setan-setan golok yang memenuhi kepalamu. Rumah ini lebih ringan dari segala dosa yang kita coba hapus tadi malam. Waktu tidak pernah terlambat memasukkan kosa kata baru ke dalam tubuh anginnya, ke wajah bintangnya

Dan kepala yang dituntun merapat ke wajah pintu, barangkali cuma tembok yang memantulkan silau pagi, air yang menggenang di ujung mata, udara yang disadap oleh tanganmu.

Aku bayangkan lima menit lalu semenjak jantungku melepaskan uratnya satu persatu, aku bayangkan ubin-ubin di depan yang kau tinggalkan bagai nyeri yang terus sakit - menjelaskan ombak seperti perahu yang tenggelam di kilang cuaca,  dan aku belajar menikmatinya hingga kukulum darah, kepergian yang kau banting, dan menyaksikan partikel debu terkecil menggeliat manja, meringkuk tubuhku ke dalam hening dan surga, maka aku saksikan pula kemana aku mesti menyerahkan jantungku, mengingat jalan melemas memerhatikanmu dan segalanya telah menjadi arah.


2013