Minggu, 15 Desember 2013

YA(ITU)



Ya
Itu sisi kabut yang tidak terpatahkan
sesekali pantang merubuhkan gedung-gedung atas nama cinta
rohani, iman, dan jiwa

Ya
Itu letupan bibir-bibir yang membebaskan warna gincu
Angin serta awan yang meneduh akan sangsai
Mengadu pada entah saat mereka saksikan
Di tanah kita seribu malaikat memanggul pedang yang dipahat

Ya
Itu
mendengar sembahyang yang menyelinap di rerumpun rumput
Kita tak pernah sepakat menjamu bunga liar
dan menggenang di sisa hujan

Ya
Itu jubah kita kenakan
Dengan menghirup patok-patok yang runtuh
Dalam adegan dan pemain-pemain palsu
Mereka lupa dialog yang dibentuk berangkai huruf
untuk mengatakan
Ya
Itu
Kita di sini tak mau direnggut oleh sekepal tangan tinju
Namun selain itu, yang menyepakati dan enggan bersikukuh
Telah membangun gedung-gedungnya atas nama nafas yang teratur
dan ke mana arah jantung mesti berhenti



2013


ADJIT!



Kau menjatuhkan, Adjit!
Benih luka yang menyebar di kolam-kolam
Ikan-ikan yang riang di balkon lantai dua
Dan camar yang bergantung di tiang listrik akan celaka

Mereka menunggu mataharimu
Dan menguap di bungkus plastik yang berat

Lewat jalan jampi-jampi
Lekas ikat sepatu dengan reranting yang kemilau
Tukarlah sebatang pohon mawar
Yang disimpan di riak wajahmu

Kejam itu, Adjit
Mencelakakan kursi-kursi tempat anak-anak berzirah
Mencengkam bilah-bilah yang teropong oleh garis
Melintang di sekujur kepala yang menulis riwayat
Pasanglah doa-doa di ujung kabel
Biarkan sumbernya hidup dan menyala!



2013


Sabtu, 14 Desember 2013

P A H A (T)



Ia kunjungi bulan yang memberat di dadanya
Sepasang biji yang berkulit dari kantong baju
Ia lempar membentur jalan dan turbin yang pecah

Ia mencari rumah yang berjanji
Menjaga nyala api yang susut di atas kepungan ranjang
Selimut yang terlipat lewat sinyal radio
Dan nina bobok yang melayang-layang

Lantas ia merenung di tangga yang menanam pondasi di pahanya
Urat-urat menetes menjadi tiktok yang leleh di meja makan
Semangkuk sup yang telanjang
Ikan-ikan yang mengerak di perapian
Ia lempar juga di wajahnya yang cermin

Ia berteriak menghadap pisau yang ingin ia tusukkan di lubang hidungnya
Di lubang mulutnya yang mengecup sepasang paha
Sepasang pisau yang mengoles paha
P a h a (t)
!



2013


TANOSS A



aku tidak mungkin minum bir
jika parau yang tengadah di sana
bersuara sedingin pantai yang kelak kita kunjungi lagi

lilin bercahaya dan lampu padam
aku bergerak menyusuri dan menebang hutan-hutan lebat di pinggulmu
aku menumpahkan sekaleng bibit wewangian yang sakral
kelak akan tumbuh seperti hutan yang juga teriak di rahimmu

T
E
R
I
A
K

Lalu aku berjaga
menyimak bulan-bulan yang terkancing rapat



2013