Minggu, 19 Oktober 2014

TAK ADA KOTA MALAM INI


Tak ada kota malam ini


Seorang supir taksi memandang ngeri ke sebuah restoran, dan kita sedang berada di sana. Apa yang tak lebih mengerikan dari tatapan supir itu barangkali belum bisa dipahaminya. Kau tengok bulan yang pongah, menghadap semburat langit yang gelap, lalu diconcongkan ke ubun-ubun, itu namanya musibah. Aku membaca bakalan ada nujuman yang datang dan orang-orang akan berteriak panik sebab itu, adalah nasib yang akan membunuh mereka.


Lantas tak ada kota malam ini. Tak ada bintang-bintang dan cahaya yang terang. Percuma saja menyalakan listrik padahal yang akan padam sudah di depan matamu. Alam yang sebenarnya terjadi, jalanan akan dipenuhi oleh malaikat dan mimpi yang gaib soal masa depan. Rumah-rumah menjadi cemas, asap rokok mulai mengkhawatirkan, tapi aku tetap berdiri di hadapanmu, menunggu pesanan dan menghitung pembayaran. 



2014 

AH LADINGKU


Ah, dalam liang matamu, musim sudah berubah menjadi nafsu dalam perburuan yang sengit tentang hutan. Orang-orang berkuda dan mengibaskan cambuk untuk berlari cepat. Aku menemukan tanah-tanah yang terapal oleh jejak, tapi bukan untuk mengingat kemana arahmu. Di hutan, pohon-pohon itu nyinyir dengan senyuman kekal kita yang lekat pada daun. Aku mengenakan rok warna hijau, lalu kutempeli gambar manis wajahmu.

Nafas ini bau sungsang dan akan lenyap bersama kobar api yang tertembus oleh panah. Memburu memang tak pernah disepakati untuk dilarang di tanah ini. Maka aku pula menyimpulkan bahwa menemukan jalan yang lurus untuk mencapai pangkal kaki dan igamu adalah semacam misi, sebuah nasihat yang diturunkan oleh nenek moyang kepada cucunya.

Namun alangkah pedihnya matahari ini merobek lengan dan kulitku. Suara lengking ini tak akan mungkin sampai pada dewa yang meredam perih. Barangkali aku akan bicara pada lading yang kian tumbuh dalam leher. Lading yang tak pernah dimandikan oleh perburuan akan terlihat polos dan tumpul katamu.


Lantas aku mesti bergerak ke bawah pohon untuk mengumpulkan tetes darah, menampungnya di wadah yang kering, lalu diusapkan ke ujung yang belum terasah tajam? Ah ladingku.


2014 

Sabtu, 11 Oktober 2014

ANAFORA



Bunga yang tewas dekat lingkar bibirmu membikin langit takjub pada siang. Keningku yang terbakar seolah ingin bersujud membentur pagi yang kerap tak ingin datang. Cuma sesekali, lau dirampasnya kenanganku tentang namamu. Cuma di situ, ketika kusudutkan segalas cangkir kopi yang mendidih. Aku sodorkan dekat meja makanmu untuk diraih.

Kau paham sekali isi cangkir itu melebihi asap yang tak bisa lepas dari api. Satu kata bisa mewakili perpecahan yang miris soal rasa, the matter of taste, namun kau terlalu cepat pergi hingga menumpahkan sebagian menjadi keringat yang kepalang asin.

Astaga! Kucium aroma tubuhmu saat mulai beringsut. Sungguh jika angin adalah sumber segala hidup, aku bertanya mesti diapakan darahku yang mengalir panjang ini? Digiring ke urat biar sungai tahu jika masih ada kita yang berenang-renang mencapai yang tidak pasti, atau dibelokkan tepat sebelum suara parau berhasil lolos dalam samadi igauku?


Semuanya memang gampang lenyap ketika tak ada yang ingin terlibat menjawab!


2014

Jumat, 10 Oktober 2014

YOY



Baru sejak tadi, ketika di taman, kita bicara soal kafe yang tenang di musim panas.

Jika aku tidak ingin memulainya, berarti kamulah yang harus menjawabnya. Membicarakan sebuah kafe yang tenang di musim panas, membuatku yakin jika cinta dan hujan tidak banyak memiliki kesamaan.

Kamu harus terjatuh dan tergelincir dalam percobaan yang licin ketika pandanganmu yang teduh, menikung tepat ke arah taman. Sedang di sini, aku mencari pundakmu. Yoy, barangkali kamu lihat rupa awan mengemasi yang tergenang di belakangku. Aku cuma bisa bersandar, tertawa sambil mengunyah permen dengan tenang.

Yoy, suasana di kafe memang terkadang membuat kita ingin kembali. Menyeberang saat lampu merah dan berhenti sebelum mencapai tepi parit yang lebar. Yoy, arti kata hati-hati berlaku untuk kita berdua. Kamu boleh katakan jika sendiri mesti diapakan sepimu lalu berdua mesti  dipejamkan kapan matamu.

Yoy, buka saja bajumu. Terakhir kali kamu sempat menawariku iga, biarkan senyum dan duka cita meringkuk mesra dalam genggaman kita. Kenangkan hari ini kita masih sama seperti yang dulu, menggemasi kesalahan yang kerap diungkit menjadi kekesalan sepanjang masa, atau lelucon bertahun-tahun.


2014

Kamis, 09 Oktober 2014

SEORANG GADIS YANG MENUNGGUMU DI LUAR



SEORANG GADIS YANG MENUNGGUMU DI LUAR


Homer, kuketuk pintu kamarmu untuk pertama kali. Yang kutemui malam itu cuma ngeong kucing yang kedinginan. Ia berjalan menginjak lantaimu yang gerimis. Di luar hujan tidak pernah reda. Ngeong kucing itu barangkali akan menjadi cuaca.

Tapi aku tak cukup punya uang untuk membelinya. Sekadar menghadiahimu oleh-oleh selepas berpisah. Homer, katakan satu hal tentang rindu dan riuh pohon yang sama berisiknya dengan denyut nadiku.

Berikan aku satu nafas panjang. supaya hujan yang bakalan lama, tidak jenuh memikirkan siapa yang layak pulang dan siapa yang layak datang.




2014

JEKARDAH



JEKARDAH


Manakah rumahmu, Vito? Aku lupa menanyakanmu siang tadi, lupa mengirim pesan siang tadi, lupa menghubungimu siang tadi. Jekardah, sebuah kota yang lama kita tinggalkan, tapi namanya terus muncul di selembar kertas kosong. Lalu di meja kerja, absen-absen memenuhi tiap ruang yang sempit, mengubah simbol menjadi faal yang fatal. Mana mungkin aku mengingatnya satu persatu.

Di Jekardah, kita tidak mengenal tidur. Jalanan dan gedung adalah cara lain untuk menikmati malam. Kita sembunyi di etalase-etalase makanan, menerobos lampu diskotik, dan nyatanya di Jekardah, suara yang senyap dan raib di saku bajuku telah membikin dije-dije sekarat dengan minuman. Waktu itu candu katamu.

Aku tuangkan desah ciuman yang mabuk malam ini ke loki-loki berukuran sedang. Kau tahu Vito, anggur dalam kepalaku tidak akan tumpah di muaranya yang luber oleh kecupan. Satu persatu degup kencang membuatku semakin lapang menampung segala ingatan tentang kancing baju yang kau lepaskan.

Apakah kita akan menemui satu buket mawar ketika melintas di depan jendela yang menelanjangi tubuh penghuninya tanyamu. Aku tak paham Vito. Perasaanku terlalu antagonis untuk dihubungkan dengan persoalan semacam itu. Hanya getaran gaib, yang mampu sampai dan memberi sinyal kosong di tangan.


Akan aku bawa kau ke sebuah tempat. Dimana pinggul dan paha menjadi peraduan. Sebab aku dan kau sudah begitu dekat dengan kematian. Vito sayangku, bulu matamu adalah sayap yang hidup di remah wajahku.


2014